PenerjemahOnnaKaneshiro
Editor: Chu


Xie Qingcheng dan He Yu yang terakhir meninggalkan auditorium.

Saat mereka keluar, mereka melihat kerumunan mahasiswa sedang digiring menuju asrama oleh para guru dan polisi. Speaker publik di Universitas mengumumkan suara : “Seluruh mahasiswa, harap tetap tenang dan jangan berkeliaran sendirian. Jika di antara kalian sedang berada di daerah terpencil, segera hubungi guru, teman sekamar, dan teman sekelasmu. Silakan kembali ke asrama masing-masing dengan tertib.”

Walaupun begitu, suara pengumuman tidak bisa meredam keributan yang dibuat oleh para mahasiswa itu sendiri.

Di luar, mata semua orang terpaku pada ponsel mereka sendiri atau Gedung ikonik Universitas — Menara Radio dan Televisi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Huzhou.

Gedung tinggi itu telah dibangun oleh Universitas, dikhususkan untuk mahasiswa bagian penyiaran dan dibuat sangat mirip seperti stasiun televisi sungguhan, dengan badan menara yang seluruhnya diterangi oleh lampu.

Namun, saat ini, seorang peretas telah mengambil alih kontrol sistem dan membuat warna menara menjadi merah mencolok, membuatnya terlihat seperti pedang berlumuran darah yang telah ditancapkan dengan keras ke tanah, dengan garis tebal teks yang diproyeksikan di atasnya yang mungkin bisa dilihat dengan jelas bahkan dari beberapa kilometer jauhnya.

W,
Z,
L,
Permainan kematian “Jatuhkan saputangan” dimulai sekarang.

Selain menara siaran, sinyal dari semua ponsel di Universitas Huzhou telah diblokir oleh perangkat lunak Peretas. Semua orang masih bisa menggunakan ponsel mereka, tetapi layar pop-up kecil yang muncul tidak bisa ditutup.

Dalam kegelapan malam, ribuan jendela kecil ini mengubah kampus Universitas Huzhou menjadi sungai bintang yang berpijar. Sayang sekali bahwa masing-masing bintang ini berkelap-kelip dengan gambar yang sangat aneh.

Xie Qingcheng melihat ke ponselnya lagi untuk menemukan bahwa kalimat dalam video itu sama dengan yang ada di menara.

Semuanya tertulis: W, Z, L, permainan kematian “Jatuhkan saputangan” dimulai sekarang.

Namun di dalam video, di bawah setiap huruf ada sekelompok boneka elektronik yang terlihat sangat aneh. Boneka-boneka kecil itu duduk melingkar, dengan boneka gadis yang menyeringai dan bergoyang berdiri di luar lingkaran dengan sapu tangan merah di tangannya, seperti permainan “Jatuhkan saputangan” yang dimainkan anak-anak. 1

Di belakang huruf “W”, boneka perempuan itu sudah meletakkan saputangan di belakang salah satu boneka laki-laki di dalam lingkaran. Boneka anak laki-laki kecil itu berlari ketika boneka gadis itu mengejarnya dengan senyum terpampang di wajahnya.

Tiba-tiba!

Ketika boneka perempuan di belakang huruf W mengejar boneka laki-laki itu, dia dengan riang meraih kepala boneka laki-laki elektronik itu dengan senyum cerah dan memelintirnya!

Beberapa detik kemudian, semua ponsel di Universitas mulai memutar file suara dari lagu anak-anak secara bersamaan. “Jatuhkan, jatuhkan, jatuhkan saputangan, letakkan di belakang punggung temanmu, jangan ada yang memberi tahu dia.”

Speaker dari ponsel yang tak terhitung jumlahnya mengubah lagu anak-anak menjadi paduan suara yang menggema di seluruh kampus.

Setelah melihat adegan ini, semua mahasiswa menjadi lebih ngeri dan khawatir saat mereka berdesakan. Beberapa dari mereka bahkan tidak mau kembali ke asrama, berpikir bahwa lebih aman bagi semua orang untuk tinggal bersama di luar, mahasiswa yang berhati lemah (penakut) sudah mulai terisak-isak. Ponsel berdering tanpa henti di semua tempat, tumpang tindih dengan suara lagu anak-anak — panggilan ini semua dari orang tua mahasiswa. Peristiwa ini menyebabkan keributan besar, terutama di era komunikasi digital ini berita tentang apa yang terjadi di Fakultas Ilmu Komunikasi dengan cepat menyebar ke berbagai platform media sosial dan menarik banyak perhatian.

“Halo Mom! Aku baik-baik saja… tapi aku takut….”

“Wahhhh Ayah! Aku dengan teman sekelasku! Mm! Aku tidak akan lari kemana-mana wahhhh….”

Di tengah kekacauan ini, Xie Qingcheng juga langsung menghubungi Xie Xue. Setelah mengetahui bahwa dia ada di rumah membuat pangsit dengan Bibi Li, dia menghela nafas lega. Dia (Xqc) menjelaskan situasinya kepadanya secara sederhana, menyuruhnya untuk memikirkan keselamatannya dan tinggal di rumah, dan membuatnya berjanji untuk melaporkan keadaannya (Xie Xue) setiap satu jam.

Kemudian dia menutup telepon tanpa bicara lebih banyak kata dengannya.

Setelah dia mengakhiri panggilan, dia melihat He Yu menatapnya dengan tenang. Saat mata mereka bertemu, He Yu mengalihkan pandangan.

“….”

Baru pada saat itulah Xie Qingcheng menyadari bahwa tidak ada satupun yang menaruh rasa khawatir pada He Yu.

Hampir semua orang telah menerima pesan dari keluarga atau teman mereka, tetapi ponsel He Yu tetap tidak berbunyi dari awal sampai akhir, seperti genangan air yang tergenang, sama seperti ekspresi pemuda itu sendiri.

Xie Qingcheng baru saja akan mengatakan sesuatu ketika lagu “jatuhkan saputangan” berakhir, dan sebuah gambar besar tiba-tiba melintas di ponsel semua orang. Saat gambar ini muncul, mereka berdua mendengar seorang petugas polisi di sebelah mereka menggumamkan “Sial!” dengan pelan.

Segera setelah itu, suara marah kapten petugas polisi itu juga terdengar dari pager2. “Sialan! Itu foto yang diambil polisi sebagai barang bukti di TKP! Bagaimana mereka mendapatkannya!!”

Ini menarik perhatian semua orang.

Foto tersebut tidak disensor sama sekali.

Isi foto itu benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat mengganggu. Ini menampilkan tubuh seorang pria yang telah dicekik sampai mati di tempat tidur besar, lidahnya menjulur keluar dari mulutnya, benar-benar telanjang kecuali sepasang sepatu hak tinggi merah di kakinya.

Kamar dengan tempat tidur besar ini adalah pemandangan yang sangat familiar bagi semua mahasiswa — bukankah ini hotel yang dioperasikan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi?

Setiap awal tahun ajaran, banyak orang tua mendaftarkan anaknya ke kampus dan memilih untuk menginap di hotel ini. Lingkungan hotel cukup baik, dan siapa pun yang memiliki kartu mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi bisa mendapatkan diskon. Setelah menyambut lonjakan orang tua pada awal semester, bisnis berlanjut menjadi langganan tetap dari mahasiswa dan kekasih mereka.

Kali ini, ketika seruan “Sialan” naik dan turun di antara kerumunan, sebagian besar dari mereka berasal dari mahasiswa laki-laki, ini karena mahasiswi lebih agak pemalu, banyak dari mereka (mahasiswi) sudah menangis menutupi wajah mereka dan memalingkan muka dari gambar mengerikan ini. Para mahasiswa laki-laki relatif lebih toleran terhadap gambar yang menjengkelkan semacam ini, dan begitu banyak mahasiswa laki-laki juga menyadari bahwa itu adalah tempat di mana mereka sering berguling-guling di seprai dengan pacar mereka. Sialan!, sarang kesenangan itu sekarang telah menjadi tempat pembunuhan! Bagaimana mereka bisa menyewa kamar di tempat itu lagi — hanya melihat ranjang yang sama akan membuat mereka layu (merujuk ke penis).

Tuan Muda He belum pernah ke hotel seperti ini, dia juga tidak punya pacar untuk menyewa kamar untuk malam itu. Oleh karena itu, dia mengerutkan alisnya, tidak menyadari mengapa ada frustrasi seksual bercampur dengan alarm dalam teriakan “sialan” yang diucapkan oleh para pemuda di sekitarnya.

Namun, dia telah memperhatikan detail lain dalam foto. Tidak dapat berbuat apa-apa tentang fakta bahwa dia dan Xie Qingcheng baru saja bertengkar lagi, dia berbalik untuk melihat langsung ke Wajah Xie Qingcheng.

Dan melihat kecurigaan yang sama yang dia rasakan tercermin dalam tatapan Xie Qingcheng—

Rumah Sakit Jiwa Cheng Kang.

Motode pembunuhan ini secara halus mengingatkan pada kasus dari Rumah Sakit Jiwa Cheng Kang.

Pertama, adalah pakaiannya — walaupun kedua korban tidak diragukan lagi adalah pria, mereka berdua mengenakan pakaian atau aksesoris wanita setelah kematian. Liang jicheng telah mengenakan pakaian wanita lengkap, sementara mayat ini mengenakan sepatu hak tinggi merah.

Kedua, adalah musiknya. Baik He Yu maupun Xie Qingcheng tidak bisa melupakan lagu yang dinyanyikan Jiang Lanpei dengan tenang di kantor saat dia memotong-motong tubuh. Pada saat mereka mengira Xie Xue telah dibunuh, mereka telah mendengar dari kamar sebelah suara yang menakutkan dari wanita gila yang bernyanyi dengan lembut, “Jatuhkan, jatuhkan, jatuhkan saputangan, letakkan di belakang punggung temanmu, jangan ada yang memberi tahu dia….”

Ketiga, adalah tiga huruf “WZL” sangat cocok dengan yang disebutkan dalam pesan misterius yang sebelumnya mereka lihat di gua di Neverland.

Karena semakin banyak mahasiswa secara bertahap menyadari kesamaan dengan cara Jiang Lanpei melakukan pembunuhannya, bisikan penuh ketakutan menyapu kerumunan.

“…Jiang Lanpei….”

“Ya, dia menyanyikan lagu ‘jatuhkan saputangan’ saat dia membunuhnya, aku membacanya di koran….”

“Bukankah sepatu hak tinggi merah itu mirip dengan sepatu yang dikenakan Jiang Lanpei di foto yang diterbitkan di surat kabar?”

“Ya Tuhan, aku pernah mendengar bahwa sepatu melambangkan energi jahat3, itu juga bisa berarti ‘mengirim seseorang ke kematiannya’….”

Seorang mahasiswa yang kemungkinan besar menjadi sangat ketakutan sehingga kehilangan kendali dan berteriak keras, “Ini benar-benar Jiang Lanpei! Hantu pendendam Jiang Lanpei kehabisan darah!”

Dengan teriakan itu, kerumunan meledak menjadi hiruk-pikuk.

Seperti yang dikatakan He Yu kepada Xie Qingcheng sebelumnya: bahwa karena apa yang telah dialami Jiang Lanpei dan cara dia menemui ajalnya, di beberapa titik setelah kematiannya yang tragis, desas-desus mulai beredar di antara para mahasiswa yang mengklaim bahwa “selama kamu menuliskan nama bajingan itu (orang yang dibenci) dan penyebab kematiannya, dan menandatanganinya dengan nama ‘Jiang Lanpei’, maka hantu pendendam wanita itu akan datang dan merenggut nyawanya.”

Foto ini sekarang tidak diragukan lagi sesuai dengan cerita hantu kampus semacam ini. Dikombinasikan dengan penyebarannya di ponsel yang tak terhitung jumlahnya, para mahasiswa tidak bisa tidak merasa sangat terganggu.

Melihat pemandangan di depan mereka menjadi semakin tidak teratur, polisi dan guru yang bertugas menjaga mahasiswa yang dievakuasi mengangkat pengeras suara di tangan mereka dan berteriak:

“HARAP TENANG!!! Semua mahasiswa! Berhenti berkumpul di sini dan ikuti gurumu kembali ke asramamu! Kami akan memastikan bahwa kalian semua aman!”

Para mahasiswa digiring ke depan terlepas dari keadaan mereka, tetapi mata mereka tetap tertuju pada foto korban pembunuhan.

Karena mereka terlalu terlindungi dalam kehidupan sehari-hari mereka, ambang toleransi mahasiswa untuk gambar semacam ini sangat rendah. Setelah benar-benar menyaksikan adegan berdarah dan menakutkan semacam ini, mereka tiba-tiba mendapati diri mereka tidak dapat mengalihkan pandangan. Mereka secara bersamaan merasa ngeri dan takut, namun semakin takut mereka, semakin mereka ingin melihat; dan semakin mereka melihat, semakin hiruk pikuk mereka.

Mengawasi para pengungsi adalah pekerjaan yang sangat sulit dari awal, namun pada saat ini, gambar di ponsel semua orang berubah sekali lagi.

Gambar korban pembunuhan menghilang, dan konten yang mengambil alih layar kembali ke “WZL permainan kematian ‘jatuhkan saputangan’ telah dimulai.”

Tapi dibandingkan dengan sebelumnya, ada sedikit perbedaan pada gambar.

Di belakang huruf “W”, nama korban “Wang Jiankang” telah diketik dengan tepat. Orang-orang elektronik kecil yang menjatuhkan saputangan di sebelah namanya telah menjadi gelap, semua anak-anak yang tersenyum bermain game membeku di tempat, dengan video berhenti di bingkai di mana kepala anak laki-laki kecil itu telah dipelintir.

Dan di bawah “W, Wang Jian kang,” anak-anak elektronik di belakang huruf “Z” yang sebelumnya diam dan tidak bergerak sekarang mulai berputar dengan cepat. Gadis elektronik kecil itu menyeringai ketika dia berlari mengelilingi lingkaran sambil memegang saputangan merah dan kemudian melambat di belakang seorang “teman”, bersiap setiap saat untuk menjatuhkan saputangan….

Permainan pembunuhan kedua sudah dimulai.

Xie Qingcheng dan He Yu bertemu mata satu sama lain, keduanya memikirkan kalimat “WZL akan segera dibunuh” yang mereka lihat di buku tamu di Neverland.

Pada saat itu, keduanya mengira WZL adalah singkatan dari nama satu orang; mereka tidak pernah curiga bahwa itu sebenarnya huruf pertama dari nama tiga orang ….

W, Wang Jiankang telah meninggal.

Siapa yang bisa menjadi Z?

Tiba-tiba, ponsel He Yu berdering.

He Yu membeku karena terkejut setelah melihat nama penelepon, dia berhenti sejenak sebelum menjawab panggilan dengan agak canggung. “…Ayah.”

He Jiwei baru saja meninggalkan bandara ketika dia melihat berita tentang video dan kasus pembunuhan di Fakultas Ilmu Komunikasi yang dikirimkan sekretarisnya kepadanya. “Apa yang terjadi di kampusmu? Apa yang dilakukan keamanan kampus, bagaimana mereka bisa membiarkan hal seperti ini terjadi?”

He Yu tidak menjawab.

He Jiwei berkata, “Di mana kamu sekarang?”

“Dekat pintu masuk auditorium fakultas.”

“Aku akan meminta Kepala Li mengirim seseorang untuk menjemputmu.”

“Tidak perlu.” He Yu melihat sekelilingnya — orang-orang berkumpul seperti ikan sarden dalam kaleng, belum lagi, Xie Qingcheng berdiri di sebelahnya. Jika mobil polisi datang dan membawanya pergi sekarang, maka bahkan jika Xie Qingcheng tidak mengatakan apa-apa, dia mungkin akan memandangnya dengan lebih rendah di masa depan. “Tidak perlu, mobil polisi tidak akan bisa mengemudi di sini. Aku akan kembali ke asramaku sebentar lagi.”

“Tapi bagaimana jika sesuatu terjadi—” Pada titik ini, He Jiwei mendengar suara kacau di latar belakang di sisi He Yu. Dia berhenti dan mendesah, “Apa kamu memiliki kenalan dekat4 denganmu sekarang?”

He Yu melirik Xie Qingcheng.

Dia tidak tahu apakah pria ini bisa dianggap sebagai kenalan dekatnya.

Atau jika hal-hal di antara mereka berdua masih seperti yang telah mereka sepakati sebelumnya — yaitu, bahwa mereka berdua hanya pernah memiliki hubungan dokter-pasien yang sederhana dan yang jelas sudah berakhir.

“Halo? HeYu, apa kamu mendengarkan?”

He Yu baru saja akan mengatakan sesuatu ketika dia mendengar suara seorang anak laki-laki di ujung sana. “Ayah! Pelan-pelan, aku meninggalkan sesuatu di pesawat, aku harus memberi tahu awak pesawat.”

“…..” Setelah mendengar ini dari ujung telepon, mata He Yu agak mendingin. “Tidak apa-apa, Ayah, ada seseorang yang kukenal di sini.”

Saat dia mengatakan ini, dia melirik Xie Qingcheng.

“aku bersama Dokter Xie.”

“Xie Qingcheng?”

“Mm…”

“Apa yang kamu lakukan dengannya, apakah dia merawatmu?”

Sebenarnya, He Yu juga tidak yakin.

Sejak saat itu di hotel, Xie Qingcheng terus mengganggunya tanpa terlihat berusaha serius untuk menjernihkan kondisi mentalnya.

Tapi entah bagaimana, kondisinya tampaknya telah meningkat pesat karena perhatiannya tidak lagi sepenuhnya terfokus pada apa yang terjadi dengan Xie Xue.

Dia tidak menyadarinya sampai sekarang — dia tidak memiliki banyak kepercayaan pada Xie Qingcheng akhir-akhir ini, selalu merasa bahwa Xie Qingcheng terlibat dalam schadenfreude5 dan memberinya waktu yang sulit. Tetapi pada saat ini, dia tiba-tiba menyadari bahwa mungkin ini adalah jenis perawatan yang diberikan Xie Qingcheng kepadanya.

Selain gejala fisiologis, Ebola Psikologis juga berdampak signifikan pada kondisi mental pasien. Xie Qingcheng tidak setuju dengan aliran pemikiran yang hanya mengandalkan obat-obatan untuk pengobatan, melainkan dia lebih menekankan pada membimbing dan membangun dunia batin pasien. Tidak salah menyebutnya sebagai orang yang cenderung idealisme.

Ini juga mengapa Xie Qingcheng tidak cocok untuk konsultasi jangka pendek dan lebih cocok untuk menjadi pengasuh jangka panjang. Seorang terapis seperti dia biasanya tidak akan berulang kali menekankan, “Kamu sakit, jadi ayo kita bicara, apa ada yang kamu pikirkan.”

Dia akan lebih sering menggunakan metode yang terjerat dalam kehidupan sehari-hari — yang paling sulit dideteksi — untuk mengintervensi kondisi mental pasien. Dia selalu ingin pasien merasa bahwa mereka adalah orang normal.

Ketika berbicara tentang psikoterapi, ada saat-saat ketika seseorang tidak bisa melihat betapa spesial atau dangkalnya kata-kata dokter ketika mereka berinteraksi dengan pasien.

Pada akhirnya yang bisa dilihat orang adalah tingkat kenyamanan yang diperoleh pasien, dan bagaimana kondisi psikologis mereka berubah.

He Yu menemukan bahwa baru-baru ini, karena dia sering bertengkar dengan Xie Qingcheng, itu secara praktis memeras otaknya untuk menemukan cara mengatasi batu sandungan yang dia tempatkan di jalannya, dia benar-benar berhasil bergerak cukup jauh dari bawah bayangan yang dilemparkan oleh cinta pertamanya yang gagal.

Karena kesadarannya ini, pikirannya mengembara untuk sementara, saat dia mengangkat matanya untuk menatap Xie Qingcheng: “….”

He Jiwei berkata, ”Kenapa kamu tidak berbicara lagi? Apa ada yang salah sekarang?”

“Tidak.” He Yu berdehem dengan lembut dan mengalihkan pandangannya dari Xie Qingcheng, “Ya, dia merawatku.”

“Xie Qingcheng itu … sebelumnya, kami ingin mempertahankannya tetapi dia tidak mau tinggal dan menolak tawaran kami — sekarang dia bersikeras untuk menjadi sukarelawan.”

He Yu hampir tidak bisa menjelaskan bahwa dia telah menggerogoti Dokter Xie di hotel dalam gejolak dan memprovokasi dia sampai dia (xqc) tidak tahan untuk hanya berdiri dan menonton, itulah sebabnya dia merawatnya sambil lalu… Dia hanya bisa dengan canggung berkata, “Dia … dia hanya merawatku sesekali. Itu bukan seperti dulu.”

He Jiwei berhenti sejenak. “Baiklah, kalau begitu kamu harus mengikutinya. Jangan kembali ke kamarmu sendiri, tidak ada yang aman tentang sekelompok anak kecil yang berkerumun bersama. Ikuti Dokter Xie-mu, dan kembalilah bersamanya ke asramanya.”

He Yu berkata! “… Ayah, itu agak tidak pantas.”

“Bagaimana tidak pantas? Dia sudah merawatmu sejak kamu masih kecil, dia tidak keberatan membantu dengan hal sekecil itu.”

“Dia bukan dokterku lagi.”

“Jangan mencampuradukkan — kemauan baik orang ada selain dari pekerjaan, bukan? Kalau tidak, kenapa dia terus merawatmu dari waktu ke waktu? Ditambah lagi, saat bersama keluarga kita dia tidak pernah membuat masalah, jadi kenapa kamu harus begitu dingin dan jelas dalam mempertimbangkan segalanya? Jika kamu terlalu malu untuk bertanya, maka berikan ponselnya pada dia, aku akan berbicara dengannya.”

Suara adik laki-laki He Yu datang dari ujung ponsel sekali lagi. “Ayah, kenapa kamu berjalan begitu cepat? Siapa itu? He Yu?”

“Aku mengerti.” Begitu He Yu mendengar suara itu, dia tidak ingin mendengar lagi. “Aku menutup telepon sekarang.”

Setelah dia mengakhiri panggilan, He Yu memandang Xie Qingcheng lagi dan terbatuk pelan. “Uummm….”

Xie Qingcheng berkata, “Ayahmu ingin kamu kembali bersamaku.”

“…Jadi kamu dengar.”

Xie Qingcheng membuat suara persetujuan, dia dan He Yu berjalan di depan bersama orang banyak. Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi telah ditutup sekarang, jadi Xie Qingcheng tidak mungkin kembali ke Sekolah Kedokteran Huzhou, tapi dia bisa kembali ke asrama Xie Xue. Dia baru saja berbicara dengan Xie Xue tentang hal itu, dan dia tahu kode kunci elektroniknya.

Dengan mudah, mereka berdua mengikuti gelombang orang yang penuh sesak kembali ke asrama. Xie Qingcheng membuka pintu.

“Masuk.”

Dengan lampu ruang tamu menyala, suasana domestik di dalam apartemen menghilangkan rasa tekanan yang tidak menyenangkan dari luar. Meskipun serangan teror masih berlangsung, di lingkungan seperti ini, lebih terasa seperti menyaksikan api dari seberang sungai, seperti menonton film tentang polisi yang melawan penjahat, itu tidak begitu menyesakkan lagi.

Belum lagi, karena ini adalah rumah Xie Xue, hal pertama yang menyambut mereka saat mereka masuk adalah meja teh yang penuh dengan junk food (makanan ringan) dan boneka beruang teddy.

Serta dua wadah cup mie Neoguri6 yang belum dibuang.

He Yu: “….”

Xie Qingcheng: “….”

Sangat sulit untuk tetap takut.

Xie Qingcheng menutup pintu dan melonggarkan kancing pertama kemejanya, lalu mulai membantu membersihkan apartemen Xie Xue dengan ekspresi suram di wajahnya.

He Yu melihat ke ruang tamu, di mana hampir tidak ada ruang baginya untuk berdiri. Meskipun dia pernah ke tempat Xie Xue sebelumnya, dia selalu merapikan tempat itu sebelum mengundangnya.

Dia tidak pernah bisa membayangkan bahwa ruangan itu benar-benar terlihat seperti ini sebelum dirapikan — secara praktis sebanding dengan pusat daur ulang.

Untuk sesaat, dia benar-benar merasa bahwa ini lebih mengejutkan daripada foto-foto adegan pembunuhan Wang Jiankang, sangat sulit untuk menghubungkan ruangan kotor ini dengan penampilan segar dan bersih Xie Xue yang biasa.

Dia bersandar di ambang pintu untuk waktu yang lama dengan tangan terlipat di belakang punggungnya sebelum dengan hati-hati mengajukan pertanyaan. “… Apakah dia biasanya seperti ini?”

“Dia selalu seperti ini.” Xie Qingcheng sudah lama terbiasa bertingkah seperti ayahnya. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia mengambil beruang hitam yang dilempar Xie Xue ke lantai, menepuknya hingga bersih, dan meletakkannya kembali ke dalam almari.

He Yu: “….”

“Pergi, rebus air dan buat dua cangkir teh.”

“Oke.”

Saat He Yu membuat teh, dia menemukan bahwa Xie Xue telah meninggalkan dua set peralatan minum teh di wastafel. Daun yang tertinggal di saringan adalah teh hitam, yang tidak disukai Xie Xue.

Sesuatu melintas samar di benaknya, tetapi dia belum terlalu memikirkannya ketika dia mendengar Xie Qingcheng berkata kepadanya dari ruang tamu, “Ambil teh Tibet di rak ketiga lemari teh, aku akan meminumnya….”

He Yu menyetujui, fokus untuk menemukan teh Tibet yang diinginkan “Eksekutif Xie” di lemari Xie Xue yang diisi dengan makanan ringan dan minuman daripada memikirkan lebih banyak tentang kantong teh hitam dan dua set peralatan teh itu.

Kamar dirapikan dengan sangat cepat. Xie Qingcheng terlihat sangat kaku, angkuh, dan menyendiri, seolah-olah dia sepenuhnya terputus dari dunia manusia, tetapi dalam kenyataannya, ini hanya satu lapisan dari dirinya.

Tidak mungkin seorang pria yang telah membesarkan adik perempuannya — delapan tahun lebih muda — melalui suka dan duka sejak dia sendiri masih remaja, bisa menjadi seseorang yang mudah ditangani.

Pada saat He Yu selesai menyeduh teh dan berjalan keluar dengan nampan di tangannya, Xie Qingcheng sedang membungkuk dan memungut tumpukan buku terakhir yang dilemparkan di atas karpet.

Sosoknya sangat indah saat dia membungkuk — kakinya sangat lurus dan panjang, dan pinggangnya sempit, ketika dia mengulurkan tangan, pakaiannya terentang kencang, dan garis pinggangnya yang ramping dan kuat dapat dengan mudah terlihat melalui kemejanya.

Melihat bahwa He Yu telah datang, dia menegakkan tubuh dan membawa buku-buku di tangannya kembali ke rak buku, dan kemudian berbalik untuk menatapnya. Dia mengangkat dagunya sedikit, menunjukkan bahwa Sekretaris kecil He harus meletakkan teh Tibetnya di atas meja teh bersih yang sekarang berkilau.

Sekretaris He : “Aku membuat aroma dingin dari ladang bersalju7 untukmu. Itu yang kamu inginkan, kan?”

“Mm.”

Setelah Eksekutif Xie selesai meletakkan semuanya dan mencuci tangannya, dia duduk di sofa dan mengendurkan kerahnya.

Meskipun ada tembok yang memisahkan mereka, mereka masih bisa mendengar suara orang banyak di luar di antara suara sirene. Faktanya, jika Xie Qingcheng memalingkan wajahnya sedikit ke samping, dia bahkan akan dapat melihat menara merah darah itu, seperti pedang penghakiman, melalui jendela ruang tamu.

Sementara itu, di ponselnya, gadis kecil yang menjatuhkan sapu tangan masih berlari berputar-putar di belakang huruf “Z”.

Xie Qingcheng bertanya, “Peretas?”

He Yu berkata, “Tentu. Mereka menargetkan perangkat elektronik seluler di area ini dan menara radio dan televisi.”

Mungkin karena dia merasa sangat kesal karena ponselnya dan Xie Qingcheng memutar video ini secara bersamaan, dan mungkin juga karena dia memiliki sifat kompetitif sebagai sesama Peretas, dia membuka ponselnya sambil berbicara dan mulai mengetik beberapa perintah dalam kode.

“Agak menarik, mereka menggunakan peralatan terbaru dari Amerika Serikat; aku pernah mengalaminya sekali sebelumnya”. Tak lama kemudian, He Yu berkata dengan lembut, “Peralatan ini memiliki jangkauan transmisi yang sangat luas, tetapi ada bug: sebenarnya cukup mudah untuk melepaskan diri dari kendalinya.”

Dia menatap dengan teguh pada kode pemecah sandi di layar, mencoba menembus sistem pertahanan lawannya.

Beberapa menit kemudian.

Benar saja, ponsel He Yu terdiam.

Sekarang ponselnya tidak lagi menerima transmisi sinyal lawan, dia dengan sembarangan melemparkannya ke samping.

“Sesederhana itu?”

“Aku harus mengatakan bahwa keahlianku tidak bisa dikatakan dalam golongan garis bawah.” He Yu, yang merupakan salah satu dari lima peretas teratas di web gelap, berkata dengan rendah hati, ” Mereka seharusnya tidak menggangguku.”

“Lalu bisakah kamu menghentikan transmisi ke seluruh area ini?”

He Yu tersenyum kecil. “Tidak. Tanpa peralatan yang tepat, aku tidak bisa sampai ke titik itu. Belum lagi, ini berada di bawah yurisdiksi polisi, melibatkan diriku sendiri mungkin akan membuatku diselidiki sebagai tersangka. Aku juga tidak akan melindungi ponselmu, mari kita simpan untuk menonton video.”

Dia ada benarnya, jadi Xie Qingcheng setuju.

He Yu duduk menghadap Xie Qingcheng dan bertanya, “Ngomong-ngomong, apa kamu mengenal Wang Jiankang itu?”

Xie Qingcheng adalah seorang profesor di Sekolah Kedokteran Huzhou, dan Wang Jiankang kemungkinan besar akan menjadi anggota staf Universitas Huzhou. He Yu hanya bertanya dengan santai, dan setelah Xie Qingcheng menyesap teh “aroma dingin ladang bersalju”, memejamkan mata, bersandar di sofa, dan berkata, “Ya.”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Mari kita lihat berapa banyak gadis kecil seperti Xie Xue, cantik dan rapi di luar sementara tinggal di tempat yang berantakan seperti kandang babi [doge]~

Teater mini:

He Yu: … Jika aku tahu bahwa tempatmu berantakan seperti ini, aku mungkin tidak akan menyukaimu sejak awal.

Xie Xue: ? Sejujurnya, bukankah kamu tahu cara merapikan?

He Yu: Aku tidak pandai dalam hal itu. Di rumah, aku selalu memiliki pelayan untuk membersihkan.

Xie Xue: Aku bahkan lebih buruk. Di rumah, selalu Ge-ku yang membersihkan rumah.

He Yu: Bagaimana bisa keadaanmu bahkan lebih buruk dari Ge-mu? Kamu pikir kamu bisa menikah dengan sikap seperti ini?

Xie Xue: Bagaimana bisa kamu tidak pernah mempelajari kebajikan seorang pria? Kamu pikir kamu bisa menjadi Gong tanpa tahu bagaimana melakukan pekerjaan rumah tangga?

He Yu: Kamu berani mengatakan itu, kamu bahkan tidak tahu cara membuat nasi goreng.

Xie Xue: Seperti “nasi goreng dengan ham” yang kamu buat? Apa bagusnya?

He Yu: Bubur ayam yang aku buat sangat enak.

Xie Xue: Kamu membuatnya mengikuti resep! Ditambah aku tidak bisa memilikinya, itu tidak masuk hitungan!

He Yu: Kamu tidak akan bisa membuatnya bahkan jika kamu mengikuti resepnya.

Xie Xue: Pfft! Aku belum pernah melihat gong di keluarga kami8 tidak berguna seperti kamu, kamu tidak tahu cara menyapu lantai atau mencuci pakaian, kamu bahkan membutuhkan Ge-ku untuk pergi ke dapur untuk merebus pangsit untukmu, kamu ingin memasuki keluarga kami seperti ini? Apakah kamu berencana untuk membuat Ge-ku bangun di pagi hari untuk membuatkan kamu sarapan di masa depan? Bisakah kamu benar-benar melakukan sesuatu yang begitu kejam?

He Yu: Ya, aku bisa.

Xie Xue:… Sialan, Gong selir.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Mirip dengan permainan “bebek, bebek, angsa”- pemain duduk melingkar dengan pemetik berjalan di luar lingkaran yang menjatuhkan saputangan di belakang salah satu pemain, yang kemudian harus mengejarnya di sekitar lingkaran, dll.
  2. Perangkat elektronik, biasanya dikenakan pada seseorang, yang menerima pesan dan memberi sinyal kepada pengguna dengan bunyi bip atau getar.
  3. “Sepatu” diucapkan dengan cara yang sama seperti “jahat” dalam energi jahat.
  4. 熟人 secara harfiah “orang yang akrab” – seseorang yang lebih dekat daripada seorang kenalan tetapi tidak cukup dari lingkup teman.
  5. Rasa senang, gembira, atau puas yang muncul setelah melihat atau mendengar kabar seseorang yang sedang mengalami kesulitan, kegagalan atau kehinaan.
  6. Merk Mie Instan Korea.
  7. Ini adalah nama sebenarnya dari teh yang diterjemahkan secara harfiah.
  8. Keluarga Meatbun.,.?!
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments