Penerjemah : Chu


Susu yang tidak murni itu ditolak.

Sementara itu, takeout yang dipesan Xie Qingcheng hanya terdiri dari dua roti kukus — satu roti daging dan satu roti vegetarian.

He Yu tidak suka makan roti daging karena dia merasa isinya terlalu berminyak, tetapi jika kalian memberinya roti sayuran, dia akan merasa daun sayurannya belum dicuci bersih — sikapnya persis seperti Selir (Nyonya) tuan tanah kaya raya di era Republik. Pada akhirnya, Bossman Xie membuka lemari es dengan ekspresi dingin dan melalui banyak usaha, menggali sekantong wonton dari kedalaman kulkas.

Bossman Xie bertanya kepada Selir (Nyonya) He, “Tetangga sebelahku yang membuat ini. Ini adalah kantong terakhir. Semuanya alami dan bebas pengawet — hanya ini yang tersisa, mau atau tidak?”

Melirik mata bos ini, Selir He tahu bahwa patriark jantan ini telah menghabiskan kesabarannya yang terakhir.

Lagipula, alasan dia datang ke sini adalah untuk bersantai, jadi jika dia benar-benar membuat Xie Qingcheng kesal, itu juga tidak akan ada gunanya baginya.

Karena itu, He Yu tersenyum, wajahnya yang cantik dan tampan itu secara tak terduga menunjukkan sedikit kecanggungan — meskipun itu pura-pura.

“Kalau begitu, aku harus merepotkanmu.”

Adegan berikutnya sama saja dengan mimpi buruk bagi sukarelawan yang menjadi kenyataan.

Warga lansia yang kesepian yang seharusnya menjadi subjek penghiburan, Dokter Xie, memasang ekspresi muram dengan bibirnya yang terkatup rapat saat dia mengawasi panci berisi air mendidih di atas kompor listrik dengan sendok kayu di tangannya.

Sementara itu, mahasiswa sukarelawan yang datang untuk membagikan penghiburan, He Yu, dengan sangat hati-hati berdiri sejauh mungkin dari pandangan Xie Qingcheng. Tempat seorang pria bukan di dapur1, jadi dia melihat ke atas dan ke bawah ruangan dengan tenang, acuh tak acuh, seolah-olah dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.

Ketika He Yu di sekolah menengah, dia datang ke sini beberapa kali dengan Xie Xue. Li Ruoqiu masih ada saat itu, dan foto pernikahan dia dan Xie Qingcheng telah dipajang di ruangan ini.

Sekarang, gambar-gambar itu sudah menghilang.

Tapi sepertinya itu bukan hanya foto Li Ruoqiu, karena ada beberapa area lain dengan bekas foto lama yang ternyata telah dihapus lebih awal. Itu tidak jelas kecuali dia memeriksanya dengan cermat, jadi He Yu berpikir bahwa mungkin foto-foto itu sudah hilang ketika dia berkunjung di sekolah menengah; hanya saja perhatiannya saat itu terfokus pada Xie Xue, dan dia tidak melihat sekeliling dengan hati-hati.

“Apa kamu ingin cuka?” Xie Qingcheng bertanya padanya.

“Ya.” He Yu berkata, “Aku akan menambahkannya sendiri.”

Di dalam ruangan sangat sunyi, tapi potongan suara dari rumah sempit tetangga di Gang Moyu bisa terdengar dari balik tembok. Manusia di bumi seperti sel-sel dalam tubuh, gerakan mereka tidak sinkron satu sama lain — semua sel direplikasi pada waktu yang berbeda, dan semua orang hidup menurut ritme mereka sendiri. Ketika rumah tangga di sebelah timur sedang mencuci piring dan menggosok sumpit, rumah tangga di sebelah barat hanya menyalakan kompor mereka dengan percikan yang terdengar.

Bersandar di samping bingkai jendela, He Yu melihat seekor bunglon merangkak di atas ambang jendela.

Dia mengulurkan tangan. Anehnya, bunglon tidak takut padanya dan membiarkannya membelai kepalanya.

Beginilah aura He Yu — hewan berdarah dingin selalu memiliki kedekatan dengannya dan tidak akan pernah lari; mungkin itu karena mereka melihatnya sebagai kerabat.

Tapi hewan favorit Xie Xue adalah hewan berdarah panas, sedangkan hewan yang paling dia takuti adalah serangga dan reptil.

Jika Xie Xue melihat bunglon ini, dia pasti akan berteriak ketakutan dan mengusirnya. Saat He Yu mengelus kepala bunglon, bunglon itu menyipitkan matanya dalam kenikmatan.

He Yu berpikir, mungkin dia dan Xie Xue benar-benar terlalu berbeda dalam beberapa hal, sehingga dia (Xie Xue) tidak menyukainya, tetapi lebih menyukai Wei Dongheng.

Saat ini, saat dia berdiri di tempat Xie Xue menghabiskan masa kecil dan remajanya, jejak dia (Xie Xue) pernah tinggal di sini, yang awalnya akan meredakan suasana hatinya (He Yu) tetapi sekarang malah menjadi semak duri yang subur.

Akarnya menancap jauh ke dalam bumi, cabang-cabangnya menusuk tinggi ke langit.

Jika bidang semak berduri tumbuh subur di hati seseorang, maka dunia di sekitar mereka hanya akan membuat mereka sakit juga.

He Yu mulai merasa agak tidak nyaman, jadi dia diam-diam mengucapkan selamat tinggal pada bunglon dan menjauh dari ambang jendela Xie Xue.

Setelah mengangkat wonton, Xie Qingcheng berbalik untuk menemukan bahwa di beberapa titik tanpa sepengetahuannya, mahasiswa sukarelawan He Yu telah berbaring di tempat tidurnya sendiri dan bahkan menutupi wajahnya dengan bantal.

Xie Qingcheng: “… Apa yang kamu lakukan. Apa kamu bahkan sudah mandi sebelum berbaring di tempat tidurku?”

He Yu tidak menjawab, menutupi wajahnya dengan bantal, seolah berusaha menyembunyikan dirinya seperti bunglon.

Xie Qingcheng berkata, “Kamu tidak akan menjawab?”

“….”

“Jika kamu masih tidak mau bergerak, aku akan menganggapmu telah dicekik sampai mati dan menelepon kamar mayat untuk membawamu pergi.”

Setelah beberapa detik hening, kemungkinan besar karena dia ingin menghindari kemalangan dikirim ke kamar mayat, He Yu akhirnya mengangkat tangan dan menarik bantal ke bawah sedikit untuk mengungkapkan setengah dari profilnya. Mata almondnya menatap Xie Qingcheng dari balik bantal dengan ekspresi yang sangat menghina. “Tempat tidurmu bau tembakau.”

Xie Qingcheng meletakkan mangkuk. “Jika kamu tidak suka baunya, maka berhentilah berbaring di sana dan ayo makan. Semakin cepat kamu selesai makan, semakin cepat kamu bisa pergi. Aku ingin istirahat.”

“Terakhir kali aku datang ke sini, bau tembakau tidak begitu kuat.”

“Itu sudah berabad-abad yang lalu.”

Memang.

pikir He Yu.

Kembali ketika Li Ruoqiu masih ada, Xie Qingcheng tidak merokok.

Saozi mungkin tidak mengizinkannya. Xie Qingcheng adalah orang yang agak dingin, tetapi dia memiliki rasa tanggung jawab yang kuat, terutama dalam hal tugasnya sebagai seorang pria. Jika istrinya tidak menyukai sesuatu, dia pasti akan menemukan cara untuk menenangkannya (menuruti istrinya).

Saat He Yu berbaring di tempat tidur Xie Qingcheng, melihat profil samping Xie Qingcheng yang acuh tak acuh, dia tidak bisa tidak mengingat bagaimana pertama kali dia mengunjungi rumahnya, Li Ruoqiu tersenyum saat dia menyiapkan makanan ringan dan teh untuknya. Saat dia duduk dan menunggu, dia secara tidak sengaja melirik tempat tidur besar yang setengah tersembunyi di balik tirai kain kasa. Pada saat itu, dia memiliki perasaan aneh di hatinya karena dia tidak bisa membayangkan bagaimana Xie Qingcheng akan terlihat tidur dengan seorang wanita.

Apakah ada saat-saat ketika wajah Xie Qingcheng yang tenang dan tegas itu juga akan ternoda oleh keinginan (nafsu)?

Xie Qingcheng mengerutkan kening. “Apa yang kamu pikirkan?”

He Yu dengan elegan berkata, “Misteri kehidupan.”

“….”

“Xie-ge, kamu tidak pergi kencan perjodohan lain setelah itu?”

“Aku tidak berencana menikah lagi.”

“Kamu baru berusia tiga puluhan.” He Yu berkata perlahan. “Apa kamu tidak kesepian?”

Xie Qingcheng meliriknya, tidak peduli. “Jangkauan pertanyaanmu sangat luas, Dokter Pacific2.”

He Yu tersenyum.

Itu mungkin hanya karena Xie Qingcheng apatis terhadap seks.

“Apa kamu mau makan wonton atau tidak? Jika tidak, aku akan membuangnya.”

He Yu sebenarnya lapar, jadi dia akhirnya bangun untuk duduk di meja kecil atas perintah Xie Qingcheng.

Kursi yang diduduki Xie Qingcheng adalah kursi yang digunakan Xie Xue ketika dia masih muda. Itu kecil dan rendah, sangat tidak nyaman untuk He Yu dengan tinggi 189 cm. Xie Qingcheng melemparkan sebotol cuka dan sendok ke pemuda itu, lalu dengan dingin menambahkan, “Apa kamu mau oto3?”

He Yu tidak repot-repot bertengkar dengannya. Dia memalingkan wajahnya dan tersenyum sedikit, terlihat sangat patuh, tetapi kekejaman yang membara di matanya mengungakapkan niat provokatifnya saat dia berkata, “Kalau begitu, Dokter, kenapa kamu tidak menyuapiku saja?”

“….”

“Ya?” Saat dia berbicara, dia mengembalikan sendok perak ke Xie Qingcheng.

Xie Qingcheng, dengan ekspresi dingin, berkata, “Enyahlah dan makan sendiri.”

Tapi wonton memang agak terlalu panas. He Yu mendiamkannya terlebih dulu, jadi dia mengangkat ponselnya dan mengetuknya sebentar.

Xie Qingcheng tidak bisa menahan dorongan sifat kebapakannya dan berkata, “Jika kamu akan makan, maka makanlah. Jangan bermain-main.”

He Yu bahkan tidak mengangkat kepalanya saat jari-jarinya melayang di atas layar. “Ini bukan permainan.”

Xie Qingcheng melihat ke bawah ke layar untuk menemukan bahwa itu memang bukan permainan, melainkan semacam kode yang bergerak dengan cepat.

“Apa itu.”

“Aku sedang berlatih, ini adalah instruksi peretasan.”

“Bukankah itu seharusnya menggunakan komputer?”

“Aku mengaturnya sendiri, ponselku dapat melakukan semua yang bisa dilakukan komputer.” He Yu berkata dengan lembut.

Xie Qingcheng tidak terlalu tertarik dengan hal semacam ini, dia juga tidak memahaminya dengan baik, tapi dia memiliki gambaran yang kabur tentang keahlian He Yu; dia mungkin sangat kompeten. Tapi He Yu hanya menggunakannya untuk menyerang firewall (pertahanan) orang lain sebagai jenis permainan yang membutuhkan konsentrasi penuh; dia tidak pernah melakukan sesuatu yang terlalu di luar batas.

“Dua menit.”

Pada akhirnya, He Yu menekan tombol konfirmasi dan data membeku di layar bypass (jalan pintas) situs web terkenal. Dia mengangkat pergelangan tangannya untuk memeriksa arlojinya.

“Kecepatannya cukup bagus kali ini, mungkin karena aku sedang terburu-buru untuk makan wonton.” Sambil tersenyum, dia menutup halaman itu lagi. Dia hanya ingin bermain-main dengan firewall mereka dan tidak tertarik sama sekali pada data di dalamnya, seperti pencuri eksentrik yang hanya suka membuka segala macam kunci canggih, tapi tidak mau repot-repot mencuri setelah kuncinya dibobol.

Xie Qingcheng: “….”

He Yu meletakkan ponselnya. Pada titik ini, wonton berada pada suhu yang sempurna, jadi dia menundukkan kepalanya dan mulai memakannya dengan santai.

Wonton buatan tangan sangat sulit ditemukan di toko-toko; He Yu dengan sangat damai menghabiskan seluruh mangkuk tetapi masih merasa tidak puas, jadi dia berbalik untuk melihat Xie Qingcheng.

“Untuk apa kamu menatapku? Tidak ada kode di wajahku.”

“Aku ingin mangkuk lain.”

“Apa menurutmu ini adalah permainan unboxing hadiah? Mangkuk lain? Seorang tetangga membungkusnya dan memberikannya kepadaku, dan apa yang baru saja kamu makan adalah kantong terakhir. Tidak ada lagi.”

“Lalu apakah kamu tahu cara membuatnya?”

“….” Xie Qingcheng mengambil sebatang rokoknya dan kemudian membiarkannya menjuntai dari mulutnya, bergumam ketika dia berkata, “Bahkan jika aku bisa membuatnya, aku tidak akan membuatnya untukmu.”

Dengan itu dia menyalakan pemantik api, memutar kepalanya sedikit untuk menyalakan rokok yang diselipkan di antara bibirnya.

He Yu mengerutkan kening sangat dalam. “Xie Qingcheng, kapan tepatnya kamu berakhir dengan kecanduan tembakau yang begitu serius? Tidak bisakah kamu berhenti? Ruangan ini awalnya kecil, dan sekarang setelah kamu mengisinya dengan asap, aku bahkan hampir tidak bisa bernapas.”

“Ini rumahmu atau rumahku?” Xie Qingcheng menarik rokok dan menghembuskan asapnya ke arah He Yu tanpa rasa sopan sedikit pun, lalu menatapnya melalui kabut abu-abu yang samar. “Kamu makan pangsit yang aku buat, duduk di kursiku, dan berbaring di tempat tidurku dengan bantal di wajahmu, namun kamu masih menunjukkan permintaan padaku. Jika kamu tidak bisa bernapas, kamu bisa kembali — villa keluargamu penuh dengan tanaman, udaranya pasti sangat segar. Pintunya di arah sana.”

“….” He Yu dibuat terdiam.

Xie Qingcheng mengibaskan abu rokok. “Apa kamu akan pergi?”

“Jika tidak, maka pastikan untuk mencuci mangkukmu. Kamu cukup sopan saat berada di rumah orang lain, jangan malas-malasan di sini.”

“….”

Baik, itu hanya mencuci mangkuk.

Tuan muda ini adalah seseorang yang pernah tinggal di luar negeri, jadi sepertinya dia tidak tahu cara mencuci mangkuk.

Dengan suara air mengalir di latar belakang, Xie Qingcheng menghabiskan sebatang rokok sambil bersandar di jendela.

Dia awalnya cukup lelah, tetapi setelah terlibat keributan dengan He Yu, dia secara bertahap kehilangan rasa lelah itu. Setelah kelelahannya hilang, dia merokok, jadi dia benar-benar merasa lebih terjaga sekarang daripada sebelumnya. Dia menilai penampilan He Yu saat mencuci mangkuk di depan wastafel; pemuda itu tidak memiliki poni, jadi dahinya yang tampan terlihat dengan cara yang sangat menyegarkan, meskipun saat ini, saat dia menunduk untuk menggosok mangkuk, beberapa helai rambut menjuntai di atas alisnya. Kulit pemuda itu kenyal dan halus, dan meskipun pencahayaannya redup, profilnya masih tampak memancarkan cahaya lembut.

Dia tampak sangat muda dan halus, sehingga orang hanya bisa mencium bau degenerasi binatangnya jika mereka sangat dekat.

Dan dia sangat pintar.

Xie Qingcheng berpikir sambil menatapnya.

Jika mahasiswa seperti ini tidak memiliki penyakit mental, dia seharusnya benar-benar tak terkalahkan, mendapatkan gadis mana pun yang dia inginkan. Siapa yang tahu gadis macam apa itu yang benar-benar berani menganggapnya kurang.

“Kamu harus mengganti keranmu, air yang keluar sangat kecil.”

Setelah Tuan Muda He selesai merendahkan diri untuk mencuci mangkuk wonton, menurunkan lengan baju yang dia gulung untuk tugas ini, dia mematikan keran dan menyeka jari-jarinya yang masih meneteskan air.

Xie Qingcheng berkata, “Kami tidak sering datang ke sini akhir-akhir ini, jadi ku rasa tidak perlu repot-repot untuk menggantinya.”

Tuan muda berpikir ini bukan masalah besar dan berkata, “Kalau begitu lain kali aku akan meminta Lao Zhao menemukan seseorang untuk menggantinya bersama dengan lampu milikmu ini….”

“Ada apa dengan lampunya,” kata Xie Qingcheng, ekspresinya masam.

“Itu terlalu redup, membuatnya tampak seperti rumah hantu di sini. Jika itu terlalu redup, kamu bahkan tidak akan bisa membedakan siapa yang berdiri di depanmu”.

Xie Qingcheng menjadi marah karena penghinaannya; dia mulai mengoceh saat dia meletakkan sumpit setelah makan.

Jadi, dia mengejek. “Ini bukan rumahmu.”

“Selain itu, orang buta yang salah mengira seseorang untuk orang lain adalah kamu, bukan? He Yu.”

“….”

Saat dia (xqc) mengatakan ini, He Yu mendapati dirinya tidak dapat berkata-kata.

Mengira Xie Qingcheng sebagai seorang wanita di hotel Hangshi, menjepitnya, dan menciumnya dari meja sampai ke tempat tidur benar-benar kenyataan yang sulit diterima oleh He Yu.

Suara He Yu mengecil. “Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan membicarakan ini lagi.”

Xie Qingcheng memutar mata ke arahnya. “Apa kamu pikir aku mau? Itu hanya karena aku tidak bisa membuatmu tutup mulut.”

Tepat ketika kecanggungan terjadi, terdengar suara ketukan di pintu. Untuk membebaskan dirinya dari kecanggungan ini, Selir (Nyonya) He berdeham dan benar-benar berhasil mengeluarkan nada yang agak hormat, “Aku akan membuka pintunya.”

“Halo, saya dari pengiriman Shunfeng Express, apakah ini alamat Tuan Xie?”

He Yu membuka pintu.

Seorang pemuda sedang mengusap keringatnya di luar. “Um, apakah ini Tuan Xie? Anda membuat janji hari ini, mengatakan bahwa Anda memerlukan sesuatu untuk dikirim, dan meminta saya untuk mengambilnya di sini.”

He Yu berbalik dan berkata dengan agak sopan, “Tuan Xie, Shunfeng ada di sini untuk mengambil barangmu.”

“….” Teringat, Xie Qingcheng mengambil sebuah kotak dari barang-barang yang dia bawa dan berjalan. “Itu benar, aku memiliki sesuatu yang perlu dikirim.”

“Ini adalah kebutuhan dasar sehari-hari, untuk dikirim ke Suzhou. Silakan periksa slip pesanan.”

“Baiklah, tidak masalah!”

Setelah petugas pengiriman memeriksa bahwa tidak ada masalah dan hendak mengemasnya, He Yu, yang berdiri di dekatnya dengan tangan bersilang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Tunggu.” Dia menghentikan petugas pengiriman untuk menyegel kotak itu, membukanya, dan mengeluarkan pakaian di dalamnya untuk dilihat.

Keheningan yang mematikan terjadi.

He Yu, yang beberapa saat yang lalu menjadi penurut dan hormat, mengangkat kaos itu dan perlahan-lahan menoleh, mengeluarkan aura kegelapan. “Xie Qingcheng.”

Tanpa perubahan ekspresi, Xie Qingcheng berkata, “Ada apa.”

He Yu menjawab, “…. Kamu menjual kembali kaos yang aku pinjamkan di Xianyu4?”

“Kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu tidak menginginkannya lagi. Bahkan sebagai pakaian bekas, baju milikmu ini diperebutkan dengan harga 5000¥. Jika aku menyimpannya, itu hanya akan menjadi kain perca.” Xie Qingcheng mengakui dengan tenang. “Apa masalahnya?”

“Apa maksudmu, apa masalahnya? Apa kamu tidak tahu bahwa aku memiliki germaphobia5 mental? Bahkan jika aku akhirnya merusak barang-barangku, aku tidak ingin memberikannya kepada orang asing.”

Xie Qingcheng berkata dengan acuh tak acuh, “Itulah salah satu penyebab penyakit mentalmu bermanifestasi. Ini adalah kesempatan sempurna bagimu untuk mengatasinya.”

Saat dia berbicara, dia meraih kotak itu dan menyerahkannya ke tangan petugas pengiriman yang kebingungan. “Kirim! Pembeli mengatakan dia akan membayar biaya pengiriman saat barang tiba.”

“Xie Qingcheng!”

Si petugas pengiriman barang ragu-ragu dan melihat ke kedua sisi. “Lalu … apakah saya mengirimkannya atau tidak?”

Selir (Nyonya) He: “Jangan kirimkan.”

Sang patriark: “Kirim.”

Petugas pengiriman itu kembali menyeka keringatnya. “…Ke-kenapa kalian berdua tidak membahasnya?”

“Tidak ada yang perlu didiskusikan.” Otoritarianisme Xie Qingcheng muncul sekali lagi. “Jika aku mengatakan kirim, maka kirimkan.”

Setelah dia selesai berbicara, dia menatap si petugas pengiriman barang dengan tatapan tajam. “Dengan cepat. Akulah yang memesannya.”

Tidak banyak orang yang bisa menangani belati di mata Xie Qingcheng, jadi petugas pengiriman itu dengan patuh menerima pesanan dan dengan cepat melanjutkan perjalanannya.

Meninggalkan He Yu, yang tampak seperti memiliki awan tebal yang menggantung di atas kepalanya karena barang-barang pribadinya telah dijual, dan Xie Qingcheng, yang dalam suasana hati yang baik karena dia baru saja menghasilkan lima ribu yuan.

“Kamu tidak bahagia? Ayo pergi, aku akan mentraktirmu camilan tengah malam.”

Setelah berdiri di sana sebentar, He Yu tidak tahan lagi. Wajahnya kosong, dia mengambil tasnya dari tempat tidur, menabrak Xie Qingcheng dengan bahunya, dan berjalan keluar pintu tanpa melihat ke belakang.

“Kamu bisa makan sendiri!” Dia menggertakkan giginya. “Jangan menghabiskan lima ribu yuan yang kamu hasilkan dari menjual bajuku dalam sekejap mata. Simpan itu! Jika kamu tidak punya cukup makanan, hubungi aku dan aku akan datang dan membawa makanan secara pribadi untukmu!”

Melemparkan kata-kata kasar ini di belakangnya, pemuda itu meninggalkan rumah Xie Qingcheng dengan tas tersampir di bahunya.

Sopir telah menunggu di luar gang untuk sementara waktu; He Yu menggerakkan kakinya yang panjang dan merunduk ke dalam mobil, dan dengan ekspresi mendung, menyuruh pengemudi menutup jendela. Dia bahkan tidak melirik pemandangan ramai biasa di luar jendela.

Sopir: “Tuan Muda, apakah Anda merasa tidak sehat? Apakah Anda membutuhkan saya untuk membawa Anda ke rumah sakit?”

“Tidak perlu.” Dengan ekspresi cemberut, He Yu bersandar di kursi. “Aku tidak ingin melihat siapa pun mengenakan jas lab putih hari ini.”

Ponselnya bergetar ketika seorang pria mengenakan jas lab putih mengiriminya pesan, “Senin depan, datang bekerja untukku di kantorku.”

Dengan mengusap wajahnya, Tuan Muda He segera mematikan ponselnya.


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Xiao-He, Gong muda yang terus-menerus menjadi feminin (Shou).

Xie-ge, bos besar Shou yang terus-menerus dikira sebagai Gong.

[Meatbun berterima kasih kepada pembaca sebelum jam 5 sore-]

Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Kutipan Mencius mengatakan pria harus menghindari penyembelihan hewan agar tidak peka terhadap kekerasan (bukan berarti pria tidak boleh memasak).
  2. Singkatan dari Samudera Pasifik.
  3. Sepotong kain atau plastik diikatkan di leher seseorang untuk menjaga pakaian mereka tetap bersih saat makan.
  4. Xianyu : aplikasi penjualan kembali, ditulis di sini sebagai 咸鱼 (ikan asin), sementara yang sebenarnya adalah 闲鱼 (ikan menganggur)
  5. Germaphobia adalah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menggambarkan ketakutan patologis terhadap kuman, bakteri, mikroba, kontaminasi, dan infeksi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments