Penerjemah : Chu


Beberapa hari kemudian di Sekolah Kedokteran Huzhou.

Xie Qingcheng sedang berada di ruangan kantornya.

“Waahhh Profesor Xie aku salah! Aku benar-benar salah! Aku tidak punya hati! Aku tidak layak menjadi seorang mahasiswa! Aku mengecewakan kepercayaanmu! Mengecewakan partai dan harapan negara terhadapku, aku tidak akan pernah meninggalkan kelas lagi, waahhh…”

Xie Qingcheng duduk didepan meja, pulpennya meluncur di atas kertas saat dia membuat tanda ceklis pada daftar nama. Tanpa mengangkat pandanganya, ia berkata, “Baiklah kamu boleh pergi.”

Anak laki-laki itu pergi sambil menangis tersedu-sedu dengan ingus yang keluar dari hidungnya.

Dia (xqc) punya banyak cara untuk menghadapi mahasiswa bermasalah; mahasiswa jurusan kedokteran klinis ini bersikap angkuh ketika memasuki ruangan, tetapi pada akhirnya dia (mahasiswa) keluar dengan air mata yang mengalir di wajahnya? Sebelum dia pergi, dia bahkan membungkuk beberapa kali kepada Xie Qingcheng dan berjanji, dengan suara tersendat karena isak tangis, bahwa dia akan membuka lembaran baru dan berperilaku baik, bahwa dia tidak akan pernah bolos kelas lagi, dan bahkan jika dia melakukannya, itu tidak akan terjadi pada kelas Profesor Xie.

Xie Qingcheng menutup buku catatan dan melipat jarinya di depan dirinya sendiri.

Semua mahasiswa laki-laki yang bermasalah dengan sikap yang malas terhadap pembelajaran telah berjanji kepadanya bahwa mereka akan meluruskan diri di masa depan. Dia juga memiliki keyakinan He Yu tidak bisa berhasil menangani semua mahasiswa perempuan di dalam daftar dan dia benar-benar akan kalah di babak ini.

Duduk tegak di kursi kantornya, dia merasa bahwa kemenangan sudah dekat dan dengan demikian mulai dengan acuh tak acuh merenungkan bagaimana dia akan melatih kekalahan Xueba kecil.

Setelah dia mempertimbangkannya untuk sementara waktu, teleponnya berdering dengan tiba-tiba.

“Halo.”

“Profesor Xie, ini aku.” Yang meneleponnya adalah seorang mahasiswi jurusan ilmu forensik tahun pertama.

Seperti He Yu, dia adalah seorang Xueba. Meskipun dia muncul di daftar nama yang perlu diajak bicara oleh He Yu, dia adalah salah satu murid Xie Qingcheng yang paling disiplin.

Xie Qingcheng dengan sengaja memasukkan namanya kedalam daftar.

Sebagai seorang wanita pasif yang telah mempelajari mayat kaku dan dingin lebih banyak daripada Dior dan Chanel. Dia telah mendapatkan izin khusus untuk tidak menghadiri kelas tanpa alasan lain, selain itu ratu es yang mulia ini dapat mempelajari materi pelajaran lebih cepat dengan belajar sendiri daripada menghadiri kelas.

Dewi akademis semacam ini biasanya agak tidak ramah. Dia jarang berinteraksi dengan teman sekelasnya dan tidak selalu mendengarkan apa yang profesor katakan, tapi dia sangat menghormati Xie Qingcheng.

Pertama, karena Xie Qingcheng berada di puncak profesinya dan menimbulkan apresiasi dari gadis xueba karena lebih hebat dari dirinya. Kedua, karena saat dia (gadis xueba) pertama kali mengajukan belajar mandiri, sekolah menolak pengajuan dirinya dan hanya mengalah saat Xie Qingcheng berbicara untuknya dan mengatakan bahwa sebuah institusi dalam mengajar siswa harus sesuai dengan bakat mereka sehingga mendapatkan rasa terima kasihnya (gadis xueba).

“Profesor Xie, seorang anak laki-laki bernama He Yu datang mencariku.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia tidak langsung mencoba meyakinkanku untuk segera fokus pada studiku. Dia mengatakan bahwa kamu yang mengirimnya padaku jadi dia meminta berbincang dengan tulus dan dia merencanakan minum teh denganku besok.”

“Kamu bisa pergi, tapi jangan dengarkan apapun yang dia katakan.”

“Aku tahu, tentu saja aku akan membantumu disepanjang jalan ini”, gadis xueba berkata “Tapi Profesor Xie, dia dari Universitas Huzhou sebelah, bukan dari Sekolah Kedokteran kita. Bagaimana kamu bertemu dengannya? Apa dia kerabatmu?”

“Seorang putra dari kenalan dekat”, kata Xie Qingcheng. “Ayahnya pernah membantuku dimasa lalu, jadi aku membantu untuk mengajari anaknya sebuah pelajaran saat dia mengalami masalah.”

Ini juga merupakan kebenaran. Jika bukan karena He Jiwei, dia mungkin tidak akan merawat He Yu begitu lama.

“Oh”, gadis xueba itu tidak mengajukan lebih banyak pertanyaan dan berkata “Untuk kasus ini, serahkan padaku. Aku tentu tidak akan mengecewakanmu. Aku sebentar lagi akan belajar, jadi akan kututup teleponnya.”

Xie Qingcheng mengakhiri panggilannya dan memasukkan ponselnya kedalam saku sebelum mengemas bahan ajarnya dan kembali ke asramanya.

Tentu saja, Xie Qingcheng tahu kalau He Yu bukanlah orang yang mudah dihadapi. Dia melihat dengan matanya yang dingin sebagai seorang pengamat saat gadis yang tidak antusias itu kembali ke kelas satu persatu, jumlahnya terus bertambah satu persatu. Di hari Kamis, kesebelas gadis yang ada didalam daftar kecuali untuk gadis xueba dengan menyesal menyesuaikan perilaku mereka dan kembali duduk di dalam kelas.

Dan gadis xueba adalah yang terakhir.

Pada Kamis malam, gadis xueba itu memegang buku pertanyaan (hasil pekerjaannya), datang untuk meminta nasihat Xie Qingcheng. Setelah dia (xqc) mengiyakannya, ia bertanya “Apa He Yu sudah berbicara dengamu?”

“Sudah”, dengan rambutnya yang diikat kuncir kuda, gadis yang rapi dan kompeten itu menjawab, “Kami bertemu dua kali dalam satu minggu dan mempunyai waktu untuk minum teh di sore hari.”

Tapi setelah mengatakan ini, dia ragu-ragu sebentar sebelum berkata, “Tapi dia… dia tidak berbicara denganku tentang melewatkan kelas atau apapun mengenai itu. Dia benar-benar membawaku keluar untuk berjalan-jalan dan berbicara tentang perasaanku.”

Xie Qingcheng sedikit mengernyit.

Hari ini sudah hari kamis namun dia masih belum membicarakan masalah yang ada?

Masih ada tiga hari lagi sebelum minggu ini berakhir. Apa yang sebenarnya He Yu rencanakan….

Saat dia tersesat dalam pikirannya, gadis xueba itu terbatuk pelan, “Profesor Xie.”

“Hm”, dia mengangkat pandanganya dan meliriknya dengan tatapan kosong.

“Aku punya sebuah pertanyaan untukmu.”

“Silakan.” Xie Qingcheng mengambil pulpen yang akan dia gunakan untuk menjawab soal (buku pertanyaan) dari meja.

Tetapi saat mendapati pertanyaan yang dia (gadis xueba) ajukan, dia (xqc) meletakkan tutupnya kembali pada pena—

Dia mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembelajaran. “Um, apa He Yu dari kelas penulisan naskah dan penyutradaraan 1001 di Universitas Huzhou?”

Hanya seorang chauvinis pria yang keras seperti Xie Qingcheng yang akan gagal memahami maksudnya bahkan setelah dia mengajukan pertanyaan seperti itu. Dia mengerutkan kening dan menilai gadis yang cakap di depannya. Kenapa dia menanyakan ini padanya?

Pada akhirnya, dia (xqc) hanya bisa mengangguk kaku. “Ya. Ada apa?”

“Tidak apa-apa,” katanya tegas, lalu membentangkan buku catatannya, dan berhasil mengalihkan perhatian Xie Qingcheng. “Profesor Xie, ini adalah masalah yang berkaitan dengan bidangmu yang telah aku kumpulkan selama seminggu ini. Tolong bantu aku menjawabnya.”

.

Hari Minggu datang dalam sekejap mata.

Gadis Xueba mengiriminya pesan. “Profesor Xie, apa kamu bebas malam ini? Aku telah menghabiskan sepanjang hari untuk berpikir dan menyadari sesuatu. Bisakah aku mendiskusikannya denganmu?”

Jadi, pada pukul 18:30, Xie Qingcheng tiba di pintu kantornya pada waktu yang telah disepakati.

Kantornya berada di ujung lorong yang berkelok-kelok di Gedung Pengajaran lantai 5. Saat dia berjalan menyusuri koridor panjang, dia sama sekali tidak mengenali mahasiswi yang berdiri di samping pegangan tangga.

Setelah tiba di pintu kantornya, dia mulai menggali kunci untuk membuka pintu, secara otomatis mengabaikan gadis yang berdiri sangat dekat. Bahkan ketika pihak lain membuka mulutnya dan memanggil “Profesor Xie,” reaksi pertamanya bukanlah melirik wanita muda ini, melainkan melihat sekeliling dalam upaya untuk menemukan mahasiswi dengan rambut lurus dan tidak ditata yang selalu mengenakan kaos putih dan jeans.

“…Profesor Xie, aku di sini.”

Xie Qingcheng berbalik. “….”

Setelah beberapa saat, tanpa sadar dia mundur selangkah, di mana bagian belakang kepalanya membentur pintu keamanan aluminium kantornya dengan keras. Menarik napas kesakitan yang tajam, dia membawa tangan ke kepalanya yang terbentur dan menyipitkan matanya.

“Profesor! Apa kamu baik-baik saja?”

“…Aku baik-baik saja.”

Kepalanya yang terbentur memang baik-baik saja, tetapi penampilan gadis di hadapannya adalah masalah yang jauh lebih besar.

Gadis xueba tidak terlihat seperti dirinya yang biasanya.

Dia membiarkan rambutnya terurai dari ekor kudanya yang biasa dan meminta penata rambut untuk membuatnya bergelombang (bervolume); wajahnya didandani dengan halus dan dia mengenakan gaun putih bersih yang tipis, kakinya yang ramping tampak seolah-olah diukir dari batu giok, membentuk garis lurus yang diakhiri dengan sepasang sepatu hak satin hitam. Sepatu hak tinggi itu memiliki gesper perak yang melingkari pergelangan kakinya yang halus dan menonjolkan kukunya yang berwarna nude pink.

Xie Qingcheng harus memastikannya beberapa kali sebelum akhirnya dia menyimpulkan tanpa keraguan bahwa ini bukan barang palsu, tetapi asli.

Sakit kepalanya tiba-tiba meningkat saat dia mulai merasakan firasat yang samar.

Benar saja, gadis xueba segera mengungkapkan alasannya untuk datang dalam apa yang dia katakan selanjutnya. “Profesor Xie, um, aku datang ke sini untuk memberitahumu bahwa aku pergi untuk bertemu dengan He Yu lagi. Kali ini, dia berbicara padaku tentang kembali ke kelas, tetapi dia juga memberi tahuku tentang kesepakatan di antara kalian berdua.”

“….”

“Profesor Xie, aku sangat menghormatimu, tetapi aku tidak berpikir itu hal yang baik untuk mengambil keuntungan dari seseorang ketika mereka berada dalam posisi yang sulit. Itu bukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh seorang panutan yang baik.”

Tangan Xie Qingcheng, yang hendak mengambil kunci dan membuka pintu, berhenti. “… Apa yang He Yu katakan padamu?”

“Dia menceritakan semuanya padaku. Dia mengatakan pengakuannya berakhir dengan kegagalan, dan kamu ingin dia berlatih lebih banyak dan memberinya beberapa tantangan yang sangat sulit.”

Xie Qingcheng mengangkat tangannya untuk menggerakkan jari-jarinya yang ramping dan anggun melalui poninya. Rambutnya yang semula rapi menjadi kusut dan berantakan, dengan beberapa helai gelap bahkan berjatuhan.

Dengan mata bunga persiknya yang dingin dan tajam, dia menatapnya melalui rambutnya yang acak-acakan. Dengan tsk, dia membuang muka dan berkata, “Ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan.”

Setelah jeda, dia melanjutkan:

“… Lupakan saja. Kamu bisa kembali.”

Tapi gadis xueba tidak pergi, dia menatap dengan intens disertai kegigihan xueba sejati. “Laoshi, kamu perlu menempatkan dirimu pada posisi He Yu dan berhenti mempersulitnya saat ini. Juga, aku benar-benar berpikir bahwa kamulah yang salah di sini. Aku harap kamu dapat meminta maaf kepada He Yu di masa depan ketika ada kesempatan.”

……….

He Yu menggunakan racun darahnya padanya ya?

Ekspresi Xie Qingcheng mendingin. Di bawah poninya yang berantakan, tatapannya sangat tajam. “Aku memintamu untuk kembali. Apa kamu mengerti?”

“Aku mengerti. Tapi sebelum aku kembali, aku ingin jujur ​​padamu, Profesor. Aku sudah memberi tahu He Yu tentang perjanjian pribadi kita.”

Xie Qingcheng: “….”

“Aku tidak punya pilihan lain. Dia tulus padaku, dan aku juga tidak ingin berbohong padanya. Fakta bahwa kamu memasukkanku ke dalam daftarnya sehingga kamu bisa menang, aku benar-benar tidak bisa merahasiakannya lagi untukmu.”

Pengkhianat kecil ini bahkan tidak lupa membungkuk sopan pada Xie Qingcheng di akhir.

“Tolong maafkan aku.”

Selesai berbicara, gadis kecil itu berbalik dan melangkah dengan anggun, dengan pegas kecil di langkahnya yang belum pernah dilihat Xie Qingcheng selama dia mengenalnya.

Xie Qingcheng hanya merasakan sakit kepalanya yang mengamuk, tetapi dia tidak ingin berdebat dengan mahasiswi itu, jadi dia hanya menggertakkan giginya dan berkata dengan suara rendah, “He…Yu.”

Sebuah bayangan bergerak.

Suara langkah kaki terdengar dari tempat yang agak jauh di depannya.

Dan kemudian—

“Profesor Xie, kamu mencariku?”

Xie Qingcheng tiba-tiba mengangkat kepalanya, rambutnya menjadi lebih berantakan saat tatapannya tertuju ke arah suara itu.

Yang mengherankan, apa yang dilihat di hadapannya adalah seorang anak laki-laki jangkung dengan tangan di saku dan ransel tersampir di satu bahu, ekspresinya tidak terganggu dan acuh tak acuh. Di bawah dahinya yang lebar dan jelas, sepasang mata almond yang menghina terlihat dari bawah bulu mata yang diturunkan dan sebuah sudut mulut melengkung dalam senyuman yang samar.

He Yu sebenarnya bersembunyi di balik pilar besar bergaya gothic di ujung koridor selama ini. Gadis xueba tidak tahu; Xie Qingcheng juga tidak tahu.

Ketika gadis xueba telah berjuang keras melawan ketidakadilan atas namanya, ketika Xie Qingcheng telah dilawan dengan sangat teliti oleh mahasiswi ini sehingga dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun, He Yu sebenarnya telah bersandar di sana dengan tangannya yang dengan santai dimasukkan ke dalam sakunya, mendengarkan dari balik pilar gothic terkutuk yang cukup besar di mana itu membutuhkan tiga orang untuk mengepungnya.

Apakah dia ini manusia brengsek?

Dengan wajah pucat dan tatapan tajam yang bisa membunuh, Xie Qingcheng berkata, “Kamu—”

“Oh, kamu tidak bisa menyalahkanku.” He Yu mengangkat tangannya dan membuat gerakan diam, matanya yang sedikit menyipit benar-benar menunjukkan kualitas jahat yang tidak dapat dideteksi oleh orang lain. Dia mengamati Xie Qingcheng dari atas ke bawah, lalu tertawa dingin. “Kamu punya seseorang untuk membantu merencanakan melawanku terlebih dahulu, bekerja sama untuk memastikan aku tidak bisa menang. Jika aku menggunakan metode yang sama untuk melawanmu, itu tidak akan merendahkanku, kan?”

Xie Qingcheng: “….”

Dia sudah kalah. Berbicara lebih jauh hanya akan membuatnya kehilangan wajahnya sendiri.

Maka, Xie Qingcheng mengatupkan giginya dan tidak berbicara lebih jauh.

Beberapa saat kemudian, Xie Qingcheng akhirnya berkata, “Bagaimana kamu menipunya? Lihat saja dia dalam pakaian itu, apa seperti itu seharusnya penampilan seorang mahasiswi? Minidres atasan halter1.”

“Apa yang salah dengan itu?” He Yu bergerak lebih dekat, melangkah tepat di sebelah Xie Qingcheng dengan satu tangan di sakunya dan tangan lainnya di sekitar tali tasnya. Satu-satunya perbedaan dengan dia lebih dekat adalah cara dia menurunkan bulu matanya untuk melihat ke bawah ke arah Xie Qingcheng menjadi lebih jelas.

“Kalau begitu katakan padaku, bagaimana seharusnya seorang mahasiswi terlihat?”

Dia menekan lebih dekat, seolah dia akan memakukannya ke pintu.

“Kaos putih, jeans, kuncir kuda tinggi, dan tanpa riasan?”

“Dokter Xie,” dia menghela nafas, “Sebenarnya, aku sudah lama ingin memberitahumu tentang ini: aku bukan satu-satunya yang sakit, kamu juga harus diperiksa… kamu terlalu suka mengendalikan, apa kamu tidak tahu tentang ‘kanker pria lurus’? Tahun berapa sekarang, dan kamu masih berpikir bahwa tidak pantas bagi seorang gadis untuk mengenakan gaun halter?”

Dia mengambil satu langkah lebih dekat, hampir membungkuk sehingga mereka saling berhadapan.

Di antara dua orang yang berlainan jenis kelamin, jarak semacam ini akan tampak sangat sugestif, tetapi karena keduanya adalah laki-laki dan keduanya bukan gay, jarak ini malah mengambil kualitas yang agresif dan invasif.

Informasi semacam ini tidak perlu secara khusus diungkapkan dengan kata-kata agar dapat meresap secara alami dan langsung ke dalam daging dan tulang Xie Qingcheng.

Jadi, Xie Qingcheng dipaksa oleh He Yu untuk bersandar di pintu yang sedingin es. Pada titik ini, dia akhirnya kembali ke akal sehatnya, menemukan posisi ini sangat tidak nyaman. Tidak ingin membuang kata-kata lagi dengannya, Xie Qingcheng mengulurkan tangan untuk menekan dada He Yu yang lebar dan kokoh.

“Lupakan saja. Aku tidak akan menyia-nyiakan penjelasan denganmu, minggir.”

Selesai berbicara, dia (xqc) mendorongnya ke belakang dengan keras, lalu menggosok pergelangan tangan kanannya. Menurunkan lengannya, dia menatap tajam padanya (He Yu), lalu dengan murung berjalan keluar dari tempat He Yu menghalangi jalannya seolah bentangan dinding yang kokoh.

“…Tunggu sebentar, Xie Qingcheng.”

Setelah (xqc) berjalan beberapa puluh meter jauhnya, He Yu berbalik lagi dan dengan santai memanggil dari belakangnya.

Ekspresi Xie Qingcheng sudah sangat gelap, tetapi dia berdiri di sana dengan muram sejenak, sebelum berbalik ke belakang, wajahnya pucat pasi. “Apa?”

He Yu melambaikan daftar nama yang dia ambil dari tasnya. “Kamu kalah dalam babak ini.”

Tapi dia tidak meninggalkannya begitu saja. Berbicara demikian, degenerasi2 ini memasukkan daftar itu kembali ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan sesuatu yang dilapisi kertas pembungkus merah muda.

He Yu mendongak, meliriknya dengan acuh saat dia perlahan membuka pita yang mengikat paket itu. Dia berkata perlahan, “Profesor, meskipun kamu sedang bermain permainan pelatihan denganku, kamu juga harus menerima hukuman jika Anda3 kalah. Kalau tidak, bukankah itu terlalu membosankan?”

“….”

“Beri tahu aku, sebagai profesor, anggota generasi senior, dan mantan dokter pribadiku, bagaimana aku harus menghukummu karena melanggar aturan seperti ini? Apa yang harus aku lakukan untukmu agar memberimu sedikit pelajaran?”

Saat kalah dari seseorang, kamu tidak harus kehilangan sikap anggunmu, jika kamu bersedia memasang taruhan, maka kamu harus menerima kerugianmu.

Xie Qingcheng berkata tanpa ekspresi, “Apa yang kamu inginkan.”

“Sayang sekali, aku belum memutuskan.”

He Yu berkata dengan hangat.

“Kamu hanya bisa berhutang padaku untuk saat ini — Ketika aku sudah memikirkan sesuatu, kamu dapat membayar semuanya sekaligus.”

“Sekaligus?”

“Mm. Aku pikir kamu akan kalah dariku lagi di masa depan.”

Xie Qingcheng merasa agak sulit untuk mengendalikan emosinya. “He Yu, jangan terburu-buru.”

“Aku tidak akan berani.” He Yu tersenyum dan berkata seperti itu, bahkan ketika dia sangat “berani” menggunakan tatapan menantang untuk melihat Xie Qingcheng dari atas ke bawah. “Tapi, sebaiknya kamu tidak curang lagi di masa depan, Profesor Xie. Keterampilanmu kurang, jadi jika kamu melakukan sesuatu, sangat mudah bagiku untuk mengetahuinya.”

Nada suaranya masih halus dan sopan.

Tetapi ketika dia berbicara, dia sudah merobek kertas pembungkus merah muda itu.

Itu adalah sepotong cokelat, meskipun bentuknya bengkok — tidak terlihat seperti dibeli, melainkan dibuat dengan kikuk oleh beberapa amatir.

“Bukankah kamu bertanya bagaimana aku bisa berkomunikasi dengannya? Sebenarnya, itu tidak banyak — aku hanya mengundangnya keluar untuk minum teh sore dua kali, dan pergi ke kelas membuat cokelat dengannya hari ini. Dia tidak punya banyak teman di sekolah, mahasiswa lain semua berpikir dia aneh dan antisosial, tapi sebenarnya dia cukup mudah bergaul. Hanya saja tidak ada yang benar-benar mengajaknya ketika mereka pergi keluar untuk bersenang-senang.”

Saat dia berbicara, dia mematahkan sepotong cokelat dengan sekejap, menggigit sepotong kecil mentega coklat di antara deretan gigi putih salju.

Kemudian, dia berjalan melewati Xie Qingcheng, tas bahunya tersampir di bahunya.

Saat mereka melewati satu sama lain, anak sekolah ini bahkan tidak melirik Xie Qingcheng, menatap lurus ke depan melalui mata almond saat dia mengambil cokelat ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan.

“Sangat manis.”

Xueba pergi segera setelah dia selesai berbicara, meninggalkan Xie Qingcheng dengan pemandangan punggungnya yang sopan diterangi oleh matahari terbenam.

.

Pada saat ini.

Di sebuah vila di suatu tempat di Huzhou, di bawah sinar senja yang miring.

Sepatu hak tinggi wanita itu berbunyi taptaptap di atas bata balkon, gaun merahnya melewati kaki pria itu.

“Eksekutif Duan.” Dia duduk di sebelah pria itu, sambil tersenyum, dia menyalakan sebatang rokok untuknya.

“Apa kamu sudah menghancurkan semua yang ada di rumah Liang Jicheng?”

“Semuanya sudah dibersihkan.”

Duan-laoban tersenyum dan menerima rokok yang dia nyalakan, dan merokok. Wanita itu menyapu rambutnya yang panjang bergelombang dan membungkuk untuk ciuman, tetapi Duan-laoban memalingkan wajahnya, malah mengendus di sisi lehernya.

“Berapa banyak orang yang tidur denganmu hari ini? Aku bisa mencium baunya padamu.”

“Bukankah itu semua untukmu?” Wanita itu berkata dengan malas, “Kapan kita bisa pergi ke Universitas Huzhou? Aku lelah tidur dengan anggota dewan direksi, barang-barang tua yang berminyak.”

“Anggota dewan itu sudah tua, namun Eksekutif Huang belum tua? Kamu sepertinya sangat menyukainya.”

Wanita itu menggulung rambutnya dengan genit melalui ujung jarinya. “Eksekutif Huang berjiwa muda, jadi dia menua seperti anggur yang enak. Meskipun….” Dia tersenyum, “Aku lebih menyukaimu, Eksekutif Duan….”

Duan-laoban mengangkat satu jari dan menempelkannya ke bibirnya yang lembut saat dia berkata dengan lembut, “Jika kamu terus melanggar aturan seperti ini, aku harus berbicara dengan Eksekutif Huang-mu. Coba tebak — jika dia tahu, apa menurutmu dia akan marah?”

Sedikit kaku, wanita itu memaksakan senyum. “Aku hanya bercanda denganmu. Selalu sangat serius.”

Duan-laoban mengangkat tangan untuk membelai rambutnya dan berkata dengan ekspresi dingin, “Lakukan saja apa yang seharusnya kamu lakukan. Setelah kecelakaan dengan Rumah Sakit Jiwa Cheng Kang, aku dapat mengatakan bahwa orang-orang menjadi gelisah dan merasa tidak aman. Kamu terus saja bermain dengan hamster-hamster itu untuk sementara waktu — setelah peretas kita menerima peralatan yang mereka pesan dari Amerika, kita akan dapat mulai menunjukkan kepada tikus-tikus itu siapa bosnya.”

Dia mengangkat dagu wanita itu, memeriksa wajahnya.

Dia berkata dengan suara lembut dan lambat, “Ketika saatnya tiba, detail teknis akan bergantung pada para peretas, tetapi untuk membersihkan kandang hamster di Universitas Huzhou, itu akan bergantung pada kamu dan dia.”

Cahaya dari lampu menyinari wajah lembut dan cantik wanita itu.

–Dia memang instruktur Universitas Huzhou, Jiang Liping!

“Kamu bisa menjadi sekejam yang kamu mau.” Duan-laoban membelai pipinya dengan jari-jarinya. “Aku tahu kamu telah mengalami banyak ketidakadilan tahun-tahun ini…. Setelah kita selesai, kamu tidak perlu lagi berada di antara gerombolan hamster tua itu….”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Teater mini:

Xie Xue: Wah, kamu salah dari awal, kamu seharusnya memberi dia daftar mahasiswa laki-laki.

Xie Qingcheng: Kenapa?

Xie Xue: Karena dia tidak akan pernah mau untuk merayu seorang pria.

He Yu: (tersenyum) Meimei, kamu berbicara terlalu awal.

[meatbun berterima kasih kepada pembaca sebelum jam 5 sore-]

Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Tali pada gaun atau atasan tanpa lengan diikat di belakang di leher, membiarkan bahu dan punggung telanjang.
  2. Kehilangan kualitas fisik, mental, atau moral yang dianggap normal dan diinginkan; menunjukkan bukti penurunan.
  3. Kamu formal.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments