Penerjemah : Chu


Xie Qingcheng berbalik. Kebetulan sekali, apakah pemakaman sedang mengadakan obral besar-besaran hari ini? Bagaimana bisa semua orang datang ke kuburuan hari ini.

Beberapa orang yang berdiri di hadapannya adalah rekan-rekan masa lalunya di Sekolah Kedokteran Huzhou.

Sejujurnya, meskipun dia menyebut mereka sebagai rekan, mereka tidak terlalu diperhitungkan, mereka adalah murid Qin Ciyan yang sebagian besar berada di bedah saraf dan dengan demikian tidak di departemen (jurusan) yang sama dengan Xie Qingcheng.

Xie Qingcheng berkata, “Lama tidak bertemu.”

Di antara para dokter ini ada Perawat Zhou yang mengganti larutan garam (kantong infus) Xie Qingcheng di unit perawatan darurat malam itu.

Seperti yang diharapkan, Perawat Zhou benar-benar tidak bisa bertatap muka dengan Xie Qingcheng. Dia memiliki temperamen yang agak pemarah dan orang yang sangat terus terang, jadi setelah memelototinya untuk sementara waktu dia masih tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata, “Xie Qingcheng, apa maksudmu dengan ini? Apa… apa yang kamu lakukan, datang ke Makam Qin-laoshi?”

“….”

“Cepat dan pergi dari sini. Orang sepertimu seharusnya tidak pantas menghormati makam Qin-laoshi.”

Xie Qingcheng berkata, “Aku tidak berniat memberi hormat, aku hanya kebetulan lewat.”

“Kamu—!”

Setelah mendengar orang ini berbicara seperti itu, para dokter lain yang berdiri juga tidak bisa menahan diri.

Salah satu dari mereka mencibir, “Profesor Xie pasti memiliki kehidupan yang santai di Sekolah Kedokteran Huzhou, kan?”

“Sedemikian rupa sehingga kamu memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan di kuburan; menjadi dosen benar-benar lebih mudah daripada dokter.”

Xie Qingcheng memandang mereka tanpa perasaan. “Ada apa, semuanya? Apa aku melakukan kejahatan atau melakukan sesuatu yang salah? Jika kalian ingin menjadi Qin Ciyan, silakan saja dan lakukan sendiri. Tidak perlu berharap semua orang mengikuti jejaknya.”

“Xie Qingcheng!” Mendengar ini, Perawat Zhou merasa lebih tidak bisa berkata-kata, wajahnya yang seperti kuda semakin tegang, “Apa kamu tidak memiliki rasa malu!”

Xie Qingcheng menjawab, “Aku tidak tercerahkan, aku memiliki kesadaran yang rendah.”

“…Pergi, cepat pergi!”

“Itu benar! Dan jangan biarkan kami melihatmu di sini lagi!”

Para dokter muda tidak bisa mengendalikan emosi mereka, hampir di ambang ingin mencekik Xie Qingcheng sampai mati di tempat itu, keributan semakin keras sehingga salah satu penjaga kuburan datang.

Penjaga kuburan dengan pakaian abu-abu buru-buru menghentikan pertikaian. “Apa yang kalian lakukan, ingatlah untuk bersikap khusyuk dan hormat! Dan kecilkan suara!”

Saat dia berbicara, dia menunjuk ke sebuah plakat di kejauhan.

Kemudian, dia dengan penuh arti mengucapkan, “Bertingkah seperti ini akan mengganggu mereka yang sedang beristirahat; jika kalian memiliki dendam atau hutang, selesaikan di luar. Setelah kalian keluar dari kuburan, kalian dapat membuat suara sebanyak yang kalian mau, jadi berhenti berteriak ketika kalian berada di sini!”

Mata putih besar Perawat Zhou hampir keluar dari wajahnya. “Siapa yang ingin melihatnya lagi di kuburan? Hanya melihat wajahnya membuatku merasa seperti tersedak amarah.”

Xie Qingcheng menjawab dengan dingin, “Melihat wajah bodohmu juga membuatku merasa sangat tidak beruntung.”

“Xie Qingcheng, kamu—!”

“Xie-ge!” Pada saat ini, Chen Man selesai memberi hormat kepada saudaranya dan, setelah mendengar keributan di sisi ini, dia segera bergegas. “Apa yang sedang terjadi?”

Karena dia mengenakan seragam polisi lengkap, orang-orang di sekitar mereka secara tidak sadar menjadi tenang.

Perawat Zhou segera menyipitkan matanya seolah dia sudah memastikan sesuatu.

Itu polisi muda itu lagi, orang yang tinggal di sisi Xie Qingcheng sepanjang malam saat itu….

Chen Man bertanya, “Ada apa?”

“Tidak ada.” Mata bunga persik Xie Qingcheng menyapu wajah setiap dokter secara berurutan. Kemudian, dia memberi tahu Chen Man, “Ayo pergi.”

“Oh.” Chen Man menduga bahwa beberapa konflik mungkin muncul di antara mereka, tetapi Xie Qingcheng mungkin tidak ingin membuang waktu untuk membicarakannya, jadi dia berkata, “Xie-ge, hati-hati, di sini baru saja hujan dan tanahnya licin.”

Saat keduanya bersiap untuk pergi dari mereka, Perawat Zhou benar-benar tidak tahan lagi dengan rasa jijiknya. Memikirkan apa yang terjadi di Rumah Sakit Pertama Huzhou terakhir kali, dan melihat punggung Xie Qingcheng yang prima, gelombang kebencian yang hebat melonjak di dadanya. Dia juga tidak tahu apa yang dia pikirkan, tetapi melihat kedekatan hubungan Chen Man dan Xie Qingcheng, dia meludahi Xie Qingcheng:

“Xie Qingcheng, ketika ada desas-desus yang beredar di rumah sakit bahwa kamu adalah seorang homoseksual, aku bahkan berbicara untukmu. Tapi sekarang sepertinya Profesor Xie memang mampu, untuk memikat bahkan seorang polisi ke tempat tidurmu. Dengan seorang petugas polisi kecil tidur denganmu di malam hari dan siap membantumu di siang hari, melayanimu dan melindungimu, kamu pasti aman sekarang. Kamu tidak perlu khawatir tentang mendapatkan—”

“Omong kosong macam apa yang kamu katakan!”

Kali ini Chen Man yang marah; dia bahkan tidak menunggu Perawat Zhou selesai berbicara sebelum dia bersiap untuk melawannya.

Xie Qingcheng meraih Chen Man. “Biarkan saja dia bicara.”

“Tapi caranya mengutukmu seperti ini—”

“Ayo pergi, Chen Man. Kamu masih mengenakan seragam, pikirkan posisimu,” Xie Qingcheng memperingatkan dia dengan ekspresi dingin. Seperti percikan air ke wajah, pengingat ini menyadarkan Chen Man sedikit. Dadanya naik-turun, dia memelototi orang-orang itu sekali lagi dengan rahang terkatup sebelum akhirnya meninggalkan kuburan bersama Xie Qingcheng.

Di dalam mobil dalam perjalanan kembali, Chen Man masih sangat marah, terus-menerus mengutuk.

“Bagaimana mereka bisa menghinamu seperti itu ….”

“Xie-ge, tidak ada yang salah dengan keputusanmu untuk memulai pertengkaran dengan mereka di sana….”

“Apa hak mereka untuk memerasmu secara emosional seperti ini, apa hak mereka berbicara denganmu seperti ini….”

Tapi Xie Qingcheng agak tenang, seolah-olah dia tidak mendengar apa yang mereka katakan sama sekali, seolah-olah tidak ada yang terjadi, seolah-olah dia tidak bertemu siapa pun.

Chen Man berseru, “Ge, kenapa kamu tidak marah sama sekali!”

“Kenapa aku harus marah.”

“Mereka, mereka membicarakanmu seperti itu—”

“Mereka adalah murid terakhir Qin Ciyan, dan Perawat Zhou terlebih lagi — dia dipekerjakan secara pribadi oleh Qin Ciyan. Sangat normal bagi mereka untuk tidak senang ketika melihatku.”

“Mereka bahkan berkata, kamu dan aku, aku… aku.”

“Gay?”

“….”

“Ini tidak seperti aku gay. Orang bisa mengatakan apa pun yang mereka suka, itu tidak akan mempengaruhiku.” Saat Xie Qingcheng berbicara, dia mengangkat dan membuka kunci ponsel yang hampir tidak dia lihat sepanjang pagi.

Karena dia akan pergi ke kuburan, dia mengatur ponselnya ke mode silent, jadi baru sekarang dia menyadari bahwa He Yu telah mengiriminya pesan.

He Yu bertanya, “Aku sudah kembali ke kampus hari ini. Kapan mengenai kesepakatan kita akan dimulai?”

Xie Qingcheng sedikit mengernyit.

Dia tiba-tiba teringat ciuman penuh gairah yang terjadi dalam kekacauan kamar hotel.

Mau tidak mau dia merasa sedikit tidak nyaman saat dia mengingat bagaimana rumor bahwa dia gay telah dimulai saat dia masih di Sekolah Kedokteran Huzhou. Itu juga berkat bocah He Yu ini. Itu karena He Yu datang ke rumah sakit untuk menemukannya pada saat itu. Anak laki-laki itu terlalu tinggi; meskipun hanya seorang siswa sekolah menengah, dia sudah melesat hingga hampir 180 cm. Dia tidak mengenakan seragam sekolahnya, jadi dia benar-benar membodohi Perawat Zhou muda yang belum menikah saat itu. Berpikir bahwa dia adalah seorang pria muda berusia dua puluh tahun, dia berlari untuk meminta nomor teleponnya, tetapi sialnya He Yu ini — agar tidak menyakiti perasaan Perawat Zhou, untuk menghindari agar wanita itu tidak malu, siapa yang tahu apa yang sebenarnya ada di otak bocah itu. Dia tersenyum dan berkata, “Ah, tapi aku pacarnya Dokter Xie, aku menunggunya pulang kerja.”

Memikirkannya saja membuat Xie Qingcheng merasa agak kesal, jadi dia menghela nafas sambil mengunci ponselnya lagi, enggan untuk membalas pesan He Yu.

“Aku akan tidur sebentar.” Dia memberi tahu Chen Man, “Aku masih ada kelas di sore hari.”

Chen Man masih menggerutu, tetapi ketika dia mendengar kata-kata tak terduga Xie Qingcheng, dia diam.

“Oh, kalau begitu tidur, Ge. Aku akan membangunkanmu ketika kita sudah sampai.”

Jadi Xie Qingcheng tidur.

Cahaya yang tersebar tumpah di antara cabang-cabang pohon untuk jatuh melalui jendela, mengalir di atas wajah Xie Qingcheng yang terdefinisi dengan sempurna dan garis elegan dari lehernya yang ramping, menerangi kulit pucatnya sebelum akhirnya terkubur di bawah kemejanya yang rapi dan dirancang dengan baik ….

Segala sesuatu tentang pria ini memberikan rasa kedamaian, ketenangan, dan kekuatan.

Untuk beberapa alasan, ketika Chen Man memikirkan kata-kata vulgar yang telah dimuntahkan Perawat Zhou pada mereka di kuburan, ketika dia mengatakan Xie Qingcheng telah membawa polisi ke tempat tidur, jantungnya berdetak kencang, dengan perasaan yang sangat halus muncul di sela rasa kemarahannya….

Dia menyapu garis pandangnya pada alis, mata, dan jembatan hidung Xie Qingcheng, akhirnya mendarat di bibir sedingin es Xie Qingcheng. Ketika Xie Qingcheng terjaga, kata-kata yang keluar dari bibir itu jarang ramah, dan bahkan nadanya akan selalu sangat kaku, tetapi sekarang setelah dia menutup matanya dalam tidur, itu tampak sangat lembut.

Mengamatinya, Chen Man berangsur-angsur menjadi terpesona, kehangatan napasnya tampaknya sedikit lebih panas dari biasanya.

.

Universitas Huzhou.

Kampus di awal musim gugur tidak lagi dibarengi dengan suara jangkrik yang riuh, tetapi seolah-olah terganggu oleh hiruk-pikuk yang menyelimuti dunia manusia, daun-daun kering semuanya berjatuhan berturut-turut, berderak di bawah kaki para mahasiswa yang lewat. Jadi, dengan cara itulah daun dari cabang-cabang pohon itu jatuh ke tanah.

Ketika He Yu kembali dengan membawa barang bawaannya, dia sangat beruntung bertemu dengan Xie Xue, yang sedang bersandar di pintu toko kecil di dekat gerbang universitas dengan kepala dimiringkan ke atas.

“…Ada apa denganmu?”

Awalnya dia ingin pergi ke arah lain dan berpura-pura tidak melihatnya, tapi kemudian dia merasa tidak perlu melakukannya. Dia belum mengaku padanya (Xie Xue), sementara Wei Dongheng belum tentu sudah menerima perasaannya (Xie Xue). Jadi, mereka berdua setidaknya bisa terus berinteraksi sebagai teman untuk saat ini.

Xie Xue menempelkan tisu ke hidungnya dan berbicara dengan sengau, “Aku tidak tahu, mungkin karena musim gugur yang kering, dan hidungku berdarah lagi, ah… Oh, kamu sudah kembali. Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya??”

“… Apa gunanya memberitahumu sebelumnya? Lihatlah dirimu, jika kamu terus-menerus mengalami mimisan, maka kamu harus memeriksakannya. Ambil cuti dan aku akan pergi denganmu ke rumah sakit.”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, itu bukan masalah besar.”

He Yu berkata, “Apa maksudmu itu bukan masalah besar? Ketika aku sakit di masa lalu, kamu juga berjanji untuk pergi bersamaku ke rumah sakit; tidak bisakah kamu menganggap ini sebagai balas budi??”

Xie Xue terdiam sejenak, seolah mimisan telah melemahkan IQ-nya. “Sudah terlalu lama, aku bahkan tidak ingat lagi….”

He Yu menghela nafas, lalu mengeluarkan sebungkus tisu dan memberikannya padanya. “Aku sudah terbiasa. Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa masuk universitas dan menjadi dosen dengan ingatanmu itu.”

Dia melihat Xie Xue menutupi hidungnya dengan tisu bersih. “…Apa kamu sudah memberi tahu kakakmu tentang mimisanmu?”

“Kakakku sibuk, aku tidak akan mengganggunya.”

Pada saat ini, Xie Xue melihat seseorang berjalan dari jauh; orang itu melambai padanya dari kejauhan, dan wajah Xie Xue tiba-tiba berubah menjadi memerah.

Sebelum He Yu memperhatikan pendatang baru itu, dia (Xie Xue) mengulurkan tangan dan mendorongnya (He Yu) sedikit dengan tangannya yang bebas, “Um, bukankah kamu baru saja kembali? Pergilah dan rapikan barang bawaanmu. Jangan khawatir! Jika aku mimisan lagi, aku akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya, dan jika itu benar-benar masalah serius, aku akan menghubungimu. Aku ada rapat kerja sebentar lagi, jadi aku akan pergi sekarang.”

He Yu berkata, “…Baiklah, silakan.”

Jadi, Xie Xue pergi.

He Yu menemukan perilakunya agak aneh, tapi dia tidak terlalu memikirkannya saat dia menyeret barang bawaannya ke asramanya sendirian.

Dia tidak berencana memberi tahu Xie Xue tentang perasaannya sekarang. Setelah semua kejadian baru-baru ini, terutama ketika dia kehilangan kendali dan secara paksa mencium Xie Qingcheng di hotel, dia menyadari bahwa meskipun dia belum sepenuhnya kehilangan semua akal sehat, dia memang masih seorang pasien dengan kondisi yang berpotensi berbahaya.

Dia tidak bisa memastikan apakah dia akan selalu bisa mempertahankan kondisinya saat ini di masa depan.

Bagaimana jika dia menjadi lebih gila?

Oleh karena itu, mungkin yang dikatakan Xie Qingcheng benar–

Dia pertama-tama harus menguasai dirinya dan melakukan yang terbaik untuk mencapai kondisi stabil yang akan disetujui Xie Qingcheng. Pada saat itu, masih belum terlambat baginya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Xie Xue.

Bagaimanapun, dia sudah menunggu selama bertahun-tahun; tidak ada salahnya untuk menunggu sedikit lebih lama lagi. Selain itu, He Yu menduga bahwa bajingan seperti Wei Dongheng tidak akan benar-benar bersama dengan Xie Xue.

Ketika He Yu kembali ke asramanya, semua teman sekamarnya kebetulan sedang keluar. Dia menghabiskan beberapa waktu untuk membongkar barang bawaannya, lalu duduk untuk beristirahat untuk melihat bahwa dia memiliki pesan yang belum dibaca di ponselnya.

Itu dari Xie Qingcheng.

Setelah membiarkan pesan He Yu sepanjang hari, Xie Qingcheng akhirnya berkenan untuk memberinya jawaban:

“Jam 6 sore, tunggu aku di depan Laboratorium ketiga sekolah kedokteran.”

Dia perlu menghormati kesepakatannya dengan Xie Qingcheng dan mulai menerima apa yang disebut “pelatihan” dari pihak lain.

.

Jam 6:00.

He Yu tiba di luar laboratorium utama sekolah kedokteran tepat waktu.

Tapi dia menunggu hampir setengah jam sebelum Xie Qingcheng akhirnya muncul.

Profesor Xie mungkin baru saja selesai mengajar kursus khusus dan mengenakan jas lab putih salju yang rapi. Cuaca di awal musim gugur di kota Huzhou masih diselimuti panas dan kelembaban yang berkepanjangan, jadi sekarang setelah kelasnya berakhir, dia membuka kancing jas putihnya, memperlihatkan blazer abu-abu muda dan celana panjang yang dirancang dengan baik.

Dengan sapuan dari kartu identitas karyawan yang tergantung di lehernya terdengar bunyi bip, Xie Qingcheng berjalan keluar dari pintu geser gedung utama. Mantelnya berkibar ke udara dengan angin yang lewat, yang secara refleks dia blokir dengan papan tulis di tangannya tanpa menghentikan langkahnya, saat dia menuruni tangga laboratorium yang tinggi, auranya memperlihatkan kedamaian dan ketenangan.

He Yu memperhatikannya dengan dingin dengan satu tangan melingkari tali tasnya dan tangan lainnya dimasukkan ke dalam sakunya.

“Kesadaran waktu Anda1 benar-benar kurang.”

“Kelas dimulai terlambat tadi.” Xie Qingcheng berkata, “Apa kamu sudah menunggu lama? Ayo makan bersamaku dulu.”

Makanan di kantin sekolah kedokteran sangat enak, jauh lebih baik daripada makanan di kantin Universitas Huzhou. Profesor Xie dan He Yu berjalan ke sana.

Jam makan malam sudah lewat pada saat ini, jadi hanya ada beberapa stasiun makanan yang masih buka, dan segelintir mahasiswa yang datang terlambat tersebar di seluruh kantin yang luas.

Xie Qingcheng menggesek kartu identitas karyawannya di salah satu jendela pesanan dan kemudian kembali ke mejanya dengan tanda terima yang ditulis oleh bibi kantin di tangannya.

Sementara mereka menunggu makanan mereka, sepasang mahasiswa laki-laki berjalan di samping mereka — yang mengejutkan, mereka berpegangan tangan. Xie Qingcheng bahkan tidak menyadarinya pada awalnya, tetapi kemudian, setelah mereka berdua duduk berseberangan dan mengobrol sebentar, yang lebih tinggi dari keduanya mencondongkan tubuh ke depan dan dengan lembut mencium pipi mahasiswa yang berkulit putih itu dengan lembut.

Xie Qingcheng: “….”

He Yu: “….”

Setelah bertemu dengan pasangan gay ini, dua pria heterofobia homofobik bergerak serempak. Tanpa menunggu yang lain bereaksi, keduanya berdiri dan pindah ke meja paling jauh di samping.

He Yu: “Kenapa kamu juga–‘”

“Aku tidak tahan.”

“…Bukankah kamu seorang dokter?”

“Filosofi medisku dan kehidupan pribadiku adalah dua hal yang berbeda.” Xie Qingcheng mendorong salah satu bir yang dia ambil dari lemari es ke arah He Yu, lalu membuka kalengnya sendiri dengan pop, busa putih salju menggelegak ke luar. Dia menyesap dan berkata, “Kenapa pria jantan bersama dengan seseorang dengan jenis kelamin yang sama… bukankah itu sangat aneh?”

He Yu juga membuka birnya dan menyentuhkan kalengnya ke kaleng Xie Qingcheng. “Harus aku katakan, Dokter Xie, aku benar-benar menyetujui beberapa idemu. Seorang teman sekelas gay bahkan pernah mengaku kepadaku sebelumnya. Dia memberiku karangan bunga mawar yang besar.”

“Lalu apa?”

“Aku mematahkan tulang keringnya.”

“….”

Bibi ruang makan menjulurkan kepalanya keluar dari jendela pesanan dan berteriak sekuat tenaga, “Nomor 19 sudah siap — dua hotpot kering2, datang dan ambil segera!”

Xie Qingcheng berdiri dan pergi dengan slip pesanan.

Dari dua hotpot kering, satunya berwarna merah cerah, diisi sampai penuh dengan ayam potong dadu yang ditumis dengan cabai kering, di campur paprika surga, dan merica Sichuan3. Paprika yang renyah, dan potongan ayam yang tersembunyi di dalam lautan cabai goreng, ditaburi potongan bawang hijau cincang yang berkilau dan lembut, sementara irisan bawang putih yang digoreng dengan api besar dengan lembut mengeluarkan aroma yang sangat menggugah selera dari tempat mereka berbaring di atas gunung ayam dan cabai kering.

Ini adalah pesanan Xie Qingcheng.

Adapun yang lain, meskipun namanya disebut hotpot kering itu tidak pedas sama sekali. Itu adalah panci berisi iga babi yang telah dicampur dengan dadih yang difermentasi dan bubuk bawang, iga babi digoreng sampai renyah di luar dan berair di dalam. Irisan jamur tiram raja yang montok diiris dengan pola menetas melintang yang melengkung ke dalam, sementara irisan daun bawang yang diiris dengan berani mengeluarkan cairan harum dari jamur dan daging. Meskipun cahaya di ruang makan tidak terlalu terang, hidangan panas, aromatik, dan hangat ini memiliki kilau lembut yang menggugah selera, belum lagi aroma bawang putih dan dadih kacang fermentasi yang sepertinya mengalir melalui lubang hidung seseorang langsung ke perut.

Xie Qingcheng mendorong panci iga goreng ini ke arah He Yu.

He Yu: “….”

Xie Qingcheng meliriknya. “Kamu tidak menyukainya?”

He Yu berkata, “Aku tidak terlalu suka makanan yang digoreng. Juga, aku alergi terhadap dadih kacang yang difermentasi.”

Dia tersenyum, “Apa kamu menggunakan kesempatan ini untuk membalasku karena memberimu makan mangga?”

“…Ada kenalan dekatku4; dia lebih tua sedikit darimu dan memesan ini setiap kali dia datang ke sini. Aku pikir kalian semua anak laki-laki akan menyukai hal semacam ini. Jangan memakannya jika kamu alergi, pesanlah sesuatu yang lain.”

 He Yu berkata sembarangan, “Kenalan yang mana? Apa aku mengenalnya?”

“Kamu tidak mengenalnya. Dia yang menemaniku di rumah sakit, tetapi kamu tidak bertemu dengannya saat itu.”

Tepat ketika Xie Qingcheng selesai berbicara dan hendak meletakkan ID karyawannya, ponselnya tiba-tiba mulai berdering. Dia melirik layar dan meletakkan sumpitnya. “… Bicara tentang Cao Cao dan Cao Cao muncul5. Biarkan aku menerima panggilan ini.”

“Halo, Xie-ge — Aku di dekat sekolahmu sekarang, apa kamu sudah selesai dengan kelas?” Suara Chen Man terdengar datang dari telepon. Itu tidak terlalu jelas, tapi He Yu samar-samar bisa mendengar beberapa dari apa yang dia katakan.

Xie Qingcheng melirik He Yu. “Aku dengan seorang pasien. Aku harus berbicara dengannya sedikit malam ini, kenapa kamu ada di sini?”

Chen Man berhenti selama beberapa detik. “A-Aku baru saja pulang kerja dan kebetulan lewat. Kamu tidak sengaja meninggalkan buku catatanmu di mobil pagi ini, jadi aku ingin mengembalikannya padamu. Aku tidak akan mengganggumu jika kamu sedang sibuk.”

He Yu sebenarnya agak tertarik dengan Cao Cao ini. Dia pasti tertarik pada siapa pun yang berhasil memiliki hubungan yang stabil dengan Xie Qingcheng, jadi dia berpikir sebentar dan berkata, “Tidak apa-apa karena dia sudah ada di sini, mari kita makan malam dengannya. Lagipula aku tidak bisa makan panci tumis ini, dan bukankah kamu mengatakan bahwa dia menyukainya?”

“Kamu tidak keberatan?”

“Aku tidak keberatan.”

Jadi Xie Qingcheng memberi tahu Chen Man di mana mereka berada.

He Yu kembali ke jendela pemesanan dan memesan sepanci bubur seafood berbumbu ringan dan beberapa kaleng bir lagi. Saat dia selesai memesan, Chen Man bergegas ke kantin membawa tas kertas dengan buku catatan Xie Qingcheng di dalamnya.

He Yu memasukkan satu tangan ke dalam sakunya dan tiga bir di tangannya yang lain saat dia berjalan dengan agak apatis kembali dari jendela pemesanan dengan pandangan lurus ke depan dan tasnya tersampir di bahunya.

Mereka bertemu di depan meja makan Xie Qingcheng dan saling memandang.

Kedua pemuda itu menarik perhatian — Chen Man sangat segar dan cerah, sementara He Yu sangat cantik dan anggun — dengan tipe wajah yang akan membuat mata siapa pun berhenti ketika mereka melihatnya.

Ketika mata mereka bertemu, mereka berdua membeku sesaat.

He Yu merasa bahwa Chen Man tampak agak akrab, dan Chen Man sepertinya merasakan hal yang sama.

Tapi tak satu pun dari mereka bisa mengetahui di mana mereka pernah bertemu sebelumnya.

Chen Man adalah orang yang sangat ramah. Setelah kembali sadar, dia tersenyum pada He Yu terlebih dahulu. Sementara itu, He Yu selalu bersikap terpelajar dan berperilaku baik di depan orang lain — untuk membuat perbandingan yang agak tidak pantas, jika kalian menukar jenis kelaminnya dan menempatkannya di lingkungan kuno, Tuan Muda He akan menjadi seperti wanita muda dari beberapa perkebunan kaya, seseorang yang tidak akan kehilangan rasa kesopanannya dengan mudah — jadi dia juga memberi Chen Man senyum sopan.

“Halo.”

“Halo, petugas”

Chen Man mulai terkejut. “Kamu mengenalku?”

He Yu berkata, “Profesor Xie menyebutmu sebelumnya.” Juga, aku melihat Xie Qingcheng mengenakan jaket seragammu di rumah sakit.

Xie Qingcheng memandang mereka berdua yang berdiri di sana seperti seorang permaisuri yang bertemu dengan selir berpangkat rendah dalam beberapa drama harem, dan mengerutkan alisnya. “Ayo duduk, kenapa kalian berdua hanya berdiri di sana?”

Sebagai seorang perwira polisi, Selir Chen memiliki sifat sederhana sebagai pelayan publik. Dia tersenyum ketika dia berkata, “Kawan, silakan duduk.”

Terbiasa berada dalam pengaturan bisnis dengan orang tuanya sejak muda, Permaisuri He mengikuti kesopanan dan pengaturan kapitalisme, jadi dia juga tersenyum. “Tuan, setelah Anda.”

Petugas polisi sipil itu tiba-tiba dipanggil Tuan, dan agak tidak terbiasa — menggaruk-garuk kepalanya, dia dengan hati-hati duduk.

Kaum borjuis6 tiba-tiba dipanggil kawan, tetapi tetap menerimanya dengan tenang– sambil tersenyum, dia juga duduk.

Tak satu pun dari mereka memperkenalkan diri secara rinci.

Interaksi sosial di zaman modern seperti itu. Saat bertemu teman dari teman, orang sering tidak menyebutkan nama lengkapnya. Ini adalah semacam penghalang yang dibuat oleh kebiasaan umum karena keduanya mengerti bahwa mereka hanya berbagi makanan bersama, dan tidak akan berinteraksi pada tingkat yang lebih dalam. Jadi tidak perlu memberikan nama lengkap.

Tapi ini sama sekali tidak mencegah kedua pemuda itu melakukan percakapan ramah.

Lagi pula, mereka seumuran dan memiliki banyak topik bersama. Ditambah lagi, He Yu datang dengan mentalitas “Aku harus melihat orang aneh macam apa yang bisa kenal dekat dengan Xie Qingcheng” jadi dengan alur percakapan, kedua orang yang bahkan tidak tahu nama satu sama lain ini akhirnya berakhir mengobrol dari game ke bintang olahraga, dan dari bintang olahraga ke kejuaraan.

Menjelang akhir obrolan mereka, kedua pemuda gagah ini Chen Man dan He Yu saling tersenyum. Kapitalis dan komunis memiliki interaksi yang sangat ramah dan bersahabat — hampir seolah-olah Partai Nasionalis China dan Partai Komunis China telah sepakat untuk menghadirkan front persatuan.

Kesenjangan generasi antara mereka berdua dan Xie-dage mungkin juga seperti Lembah Celah Besar Afrika Timur, karena dia tidak dapat berkontribusi bahkan satu kalimat pun.

“Hahahaha benar, tendangan itu benar-benar luar biasa”

“Penutupan total — itu benar-benar sangat jarang”

“Apa kamu melihat pertandingan melawan Inggris?”

“Aku mendapat tugas hari itu, tapi aku menonton tayangan ulangnya….”

Pria paruh baya itu mulai muak dengan kedua anak muda itu. “Apa kalian berdua akan makan atau tidak?”

Chen Man segera bereaksi — menyadari bahwa dia mengobrol terlalu menyenangkan dengan orang seusianya sendiri, dia buru-buru memberikan sekaleng bir kepada Xie Qingcheng. “Ge, minumlah”

He Yu menundukkan kepalanya tanpa mengedipkan mata dan menekan jarinya dengan ringan ke pelipisnya, menyembunyikan senyum mengejek yang tercetak di sudut mulutnya.

Tentu saja dia sengaja melakukannya.

Melihat Chen Man menemani Xie Qingcheng ke rumah sakit, hubungan mereka pasti cukup baik. Ketertarikan He Yu pada kepribadian petugas polisi ini telah terguncang, jadi dia ingin melihat orang seperti apa yang bisa tahan dengan pria kabapakan seperti Xie Qingcheng.

Sekarang, dia bisa melihat bahwa dia memang anak kecil yang bodoh dengan kepribadian yang sangat cerah.

Sekarang Chen Man mulai khawatir meninggalkan Xie Qingcheng dalam suasana dingin dan tidak berani mengobrol dengan He Yu lebih jauh. Sebaliknya, dia mulai mengoceh dengan santai ke Xie Qingcheng.

Mereka hampir selesai makan, dan He Yu berpikir tidak ada lagi yang bisa dibicarakan, jadi dia berkata sambil tersenyum, “Profesor Xie, bisakah kita bicara tentang urusan kita? Aku akan pergi begitu kita selesai.”

Xie Qingcheng juga tidak berniat untuk menahannya, jadi dia memberikan He Yu daftar nama. “Ini adalah beberapa mahasiswa yang sering bolos kelas. Aku akan memberimu waktu seminggu untuk berbicara dengan mereka masing-masing dan melihat apa perilaku mereka berubah setelah minggu ini.”

He Yu mengambil daftar itu dan memeriksanya. “Kenapa mereka semua perempuan?”

“Untuk Laki-laki ada di daftarku.”

He Yu memeriksa daftar itu dengan hati-hati.

Xie Qingcheng berkata, “Jumlah mahasiswa dalam daftarku sama dengan milikmu. Aku juga akan berbicara dengan mereka selama minggu ini. Aku akan menghadiri kuliah minggu depan — jika hasilmu kurang dariku, kamu kalah. Jika kamu kalah, kamu harus melakukan pekerjaan kasar untukku.”

He Yu berkata, “Bukankah akan sangat sulit bagiku untuk berhasil? Karena Anda7 dosennya, bukankah mereka akan datang jika kamu mengancam akan mengeluarkan mereka?”

“Bagaimana itu disebut pelatihan jika mudah untuk berhasil? Kamu mungkin juga akan memintaku untuk memberimu susu.”

He Yu tidak ingin membuang waktu lagi untuk berdebat dengannya. Seorang xueba tidak takut tantangan, jadi dia dengan santai memasukkan catatan itu ke dalam tasnya. “Aku akan pergi kalau begitu, kamu akan melihat hasilnya dalam satu minggu.”

Dia kemudian mengangguk dengan sangat sopan pada Chen Man dan berkata sambil tersenyum, “Nikmati waktu makanmu, petugas — mungkin aku akan bertemu denganmu lagi kapan-kapan.”

Setelah He Yu pergi, Chen Man bertanya kepada Xie Qingcheng, “Ge, apa dia seorang pasien? Dia tampak sangat ceria.”

“…Dia hanya memiliki masalah kecil, dia ditolak oleh gadis yang disukainya. Ayahnya mengkhawatirkannya dan ingin aku memberinya bimbingan.”

Chen Man langsung tercengang. “Ah? Dengan wajah tampan, dia masih ditolak? Standar gadis itu terlalu tinggi….”

“Apa gunanya wajah tampan.” Saat menyebutkan masalah hubungan, Xie Qingcheng memikirkan Hangshi; ketika dia memikirkan Hangshi, dia memikirkan ciuman buta He Yu; dan ketika dia memikirkan ciuman itu, dia merasa agak tidak nyaman. Dia berkata kepada Chen Man dengan ekspresi dingin, “Lihat saja perilakunya, dia bahkan tidak tahu cara mendapatkan uang atau menghidupi keluarga.”

Untuk beberapa alasan, Chen Man terdiam sejenak sebelum dia berkata sambil tersenyum, “Ge, aku bisa mendapatkan uang, dan aku bisa menghidupi keluarga.”

Xie Qingcheng tidak mengambil hati untuk pernyataan ini sama sekali, hanya menganggapnya sebagai semacam dorongan kompetitif (perbandingan) yang aneh antara anak-anak muda yang tampan. “Bagus, sekarang pergi dan temukan pasanganmu saat kamu masih muda.”

Chen Man: “….”

Xie Qingcheng berkata, “Makan sayuranmu.”

“Oke.”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Hiks Hiks.… Aku kebanjiran begitu banyak komentar kemarin, aku sangat berterima kasih kepada kalian semua.

Teater mini:

Selir Chen: Game favoritku adalah xxx, xxx, dan xxxx.

Permaisuri He: Aku bermain xxx juga, menonton beberapa video xxx, karakter mana yang kamu sering gunakan?

Chen Man: Aku paling suka menggunakan karakter pembunuh Li Bai8!

Xie-ge: … Bukankah Li Bai seorang penyair9?

Akhir dari Percakapan Lintas Generasi ini —

[Meatbun berterima kasih kepada pembaca sebelum jam 5 sore]

Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Kamu formal.
  2. Tumis ala Shicuan.
  3. Sajian ayam ala Chongqing.
  4. 熟 Secara harfiah “orang yang akrab”– seseorang yang lebih dekat daripada seorang kenalan tetapi tidak cukup dalam lingkup teman. Tapi tidak sampai dalam kategori pacar.
  5. Mirip dengan “berbicara tentang iblis (dan dia memang muncul)” dalam bahasa Inggris; Cao Cao adalah panglima perang dinasti Han yang terkenal dan penjahat di Romance of the Three Kingdoms. Hmm… Xie-ge dua bocil dikatain iblis semua :’.
  6. Kaum menengah ke atas.
  7. Kamu formal.
  8. Li Bai adalah salah satu juara kelas Assassin di Honor of Kings, permainan yang sangat mirip dengan League of Legends di segi gameplay dan popularitas kecuali di seluler.
  9. Li Bai tokoh sejarah : penyair Dinasti Tang.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments