Penerjemah : Chu


Rumah sakit kantor polisi tidak memiliki banyak peralatan diagnostik dan sebagian besar berisi persediaan untuk mengobati luka luar, jadi Chen Man akhirnya membawa Xie Qingcheng ke rumah sakit.

Chen Man bergegas bolak-balik, mendaftar di perawatan darurat di malam hari, mengambil obat, dan menunggu hasil tes darah, sementara Xie Qingcheng bersandar di kursi logam sedingin es di rumah sakit, beristirahat dengan mata tertutup.

Setelah beberapa saat, Chen Man kembali dari jendela layanan dengan laporan pemeriksaan yang baru dicetak di tangan.

Ditulis pada laporan ini adalah sebaris teks yang membuat Chen Man bertanya-tanya apakah matanya buta — alergi mangga.

“Kawan, di usiamu, bukankah seharusnya kamu tahu apa yang membuatmu alergi?” Dokter perawatan darurat malam mendorong kacamatanya ketika berkata kepada Xie Qingcheng, “Kamu benar-benar terlalu ceroboh — lihat saja hasil tesmu, betapa mengerikannya.”

Mengacungkan pena dengan angkuh saat berbicara, dokter itu meresepkan banyak obat dalam tulisan yang tidak dapat dibaca.

“Kami biasanya memberikan suntikan antihistamin (anti alergi) kepada pasien dengan reaksi serius seperti itu, tetapi mengingat tingkat keparahan kondisimu saat ini, itu perlu menerimanya selama tiga hari berturut-turut. Jika kamu terlalu sibuk dengan pekerjaaan, ada jenis infus baru larutan garam yang akan mengatasinya selama satu malam. Lihat dan putuskan opsi mana yang kamu inginkan.”

Xie Qingcheng tidak menyukai suntikan antihistamin, dan tidak ingin pergi ke rumah sakit tiga hari berturut-turut bahkan lebih.

“Aku akan menerima infusnya,” katanya.

Dengan demikian, mereka berdua memasuki ruang infus.

Xie Qingcheng memiliki konstitusi yang rapuh, dan cenderung merasa pusing dan mual jika kecepatan infus terlalu tinggi, jadi dia sendiri yang memperlambat infus setelah perawat pergi.

Chen Man menyibukkan diri dengan cepat mengurus prosedur administrasi, dan kemudian duduk di sebelah Xie Qingcheng.

Xie Qingcheng menutup matanya; setelah menatap profilnya sebentar, Chen Man berkata pelan, “Ge, bukankah kamu selalu menghindari makan mangga?”

Merasa sangat tidak beruntung, Xie Qingcheng berkata, “Aku benar-benar kurang beruntung dan menjadi buta, oke?”

Chen Man sudah terbiasa dikutuk tanpa alasan yang jelas. Kakak laki-lakinya adalah mentee ayah Xie Qingcheng; karena itu, dia telah mengenal Xie Qingcheng sejak kecil dan akrab dengan kepribadian da-ge ini. Saat da-ge ini kehilangan muka, sebaiknya kamu berpura-pura tidak melihatnya; jika kamu berani mengoceh tentang hal itu, maka kamu pasti akan berakhir seperti dia sekarang — benar-benar dikunyah.

Chen Man menghela nafas, “Duduklah, aku akan menuangkan air panas untukmu.”

Dia kembali dengan sangat cepat dan mengulurkan cangkir kertas berisi air panas ke ujung jari Xie Qingcheng yang agak dingin. “Ge, kamu harus minum.”

Baru saat itulah Xie Qingcheng membuka matanya untuk mengambil cangkir dan minum beberapa teguk.

“Jadi siapa yang menipumu untuk makan mangga?” Chen Man menatapnya dengan lemah dan berkata dengan lembut, “Ini benar-benar terlalu tidak bermoral.”

Setelah menghabiskan air, suara Xie Qingcheng tampaknya akhirnya sedikit menghangat, “Itu adalah balasan.”

Bukankah itu pembalasan?

Dia pikir.

Setiap kali dia bertemu dengan He Yu, tidak ada hal baik yang terjadi.

Tentu saja Xie Qingcheng tahu bahwa dia memiliki alergi mangga, dan sangat parah. Selain kulitnya terbakar dan memerah, dia juga akan mengalami demam tinggi. Dia sudah tahu sejak dia berusia tujuh atau delapan tahun bahwa dia harus menghindari buah ini seolah-olah itu adalah senjata biologis; bahkan adik perempuannya, yang sangat mendambakan mangga sehingga dia benar-benar akan ngiler karenanya, harus mengakomodasi dirinya — demi kesehatan dan keselamatannya, dia sama sekali tidak akan pernah membawa makanan rasa mangga ke rumah mereka.

Sudah lama sekali dia lupa seperti apa rasanya mangga. Pada saat He Yu mengeluarkan kue di Neverland, hari sudah terlalu gelap baginya untuk melihat jenis isian buah, jadi dia memakan mousse mangga dengan mengira itu adalah kue persik.

Xie Qingcheng menghela nafas, “Aku akan tidur sebentar. Apa kamu terburu-buru untuk kembali?”

“Oh.” Chen Man berkata dengan tergesa-gesa, “Tidak, aku tidak terburu-buru. Aku akan menemanimu.”

Xie Qingcheng benar-benar terlalu lelah dan terlalu sakit. Karena itu, dia menurunkan bulu matanya, bersandar ke kursi, dan tertidur.

AC agak dingin di ruang infus, dan pasien mudah kedinginan selama proses menerima infus. Mendapati Xie Qingcheng mengerutkan kening dalam tidurnya seolah penanda jika dia tidak senang dengan suhu, Chen Man bangkit dan melepas seragamnya, menyampirkan jaket biru laut di atas tubuh Xie Qingcheng.

Merasakan kehangatan, alis Xie Qingcheng perlahan menjadi halus. Dengan matanya tertuju pada fitur pahatannya yang indah, Chen Man merasa bahwa waktu tidak berlalu terlalu lambat sama sekali….

“Waktunya untuk mengganti kantong infus.”

Lama waktu yang tidak diketahui berlalu, seorang perawat ruang gawat darurat datang.

Perawat ini mengambil alih untuk shift berikutnya, tetapi begitu dia berjalan dan melihat bahwa itu adalah Xie Qingcheng, dia langsung tercengang–

Dia adalah rekan lama Xie Qingcheng di Rumah Sakit Pertama Huzhou, tetapi hubungan mereka tidak terlalu baik. Setelah melihat bahwa dia adalah pasien yang menerima transfusi IV, ekspresinya sedikit menjadi gelap saat tatapannya melesat bolak-balik antara Xie Qingcheng dan Chen Man, berhenti pada seragam polisi yang menutupi bahu Xie Qingcheng selama beberapa detik.

Tanpa sadar, Chen Man berkata dengan sangat sopan, “Ya, terima kasih.”

Perawat itu tertawa tanpa humor sambil berkata dengan nada cibiran, “Tidak masalah. Jadi, siapa orang ini bagimu?”

“…Ku….” Wajah Chen Man tanpa sadar memerah. “Temanku.”

“Ah, temanmu.” Perawat itu tersenyum, “Pak, kamu sedang dalam posisi menangani banyak masalah, membawa temanmu ke sini di tengah malam dan mengawasinya dengan cermat.”

“….” Chen Man menemukan kata-katanya sedikit … aneh, tapi dia tidak mempedulikannya. Selesai mengganti kantong infus, perawat itu pergi, mengeluarkan ponselnya dalam perjalanan, untuk mengirim pesan ke dalam obrolan grup dengan rekan-rekannya.

Itu sudah tengah malam ketika Xie Qingcheng menerima kantong infus pertama. Setelah menghabiskan tiga kantong dan diatur di kecepatan paling lambat, pada saat dia bangun, itu sudah pagi.

Dia memiliki konstitusi alergi — dia pulih dengan lambat dan reaksinya intens (keras), jadi bahkan setelah melepas jarum infus, dia masih merasa sangat tidak enak badan. Jadi, Chen Man berkata kepadanya, “Ge, pakai jaketku untuk saat ini, jangan sampai masuk angin.”

Merasa lemah, Xie Qingcheng bersenandung setuju dan berjalan keluar sambil masih mengenakan jaket seragam Chen Man.

Pada jam ini, lobi rumah sakit sudah dipenuhi gelombang demi gelombang orang; Bagaimanapun, Rumah Sakit Pertama Huzhou adalah rumah sakit tersibuk sejak awal. Chen Man mengambil laporan medis untuk menerima resep oral, dan meminta Xie Qingcheng menunggu di area yang tidak terlalu ramai.

Xie Qingcheng bersandar ke dinding dengan mata tertutup. Setelah beberapa saat, dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat —

Seseorang berhenti di depannya.

Berpikir itu adalah Chen Man, Xie Qingcheng membuka matanya. “Semua sudah selesai?”

Berbicara demikian, dia tidak melihat pada pendatang baru dan hanya berdiri tegak. “Terima kasih untuk hari ini. Sekarang ayo pergi.”

“… Xie Qingcheng.”

Setelah mendengar suara ini, kepala Xie Qingcheng terangkat.

Wajah tampan dan halus dengan fitur yang jelas muncul di depan matanya.

Orang yang berdiri di depannya adalah pelaku utama yang menyebabkan dia jatuh ke dalam keadaan ini — He Yu.

He Yu menatapnya. “Kenapa kamu di sini?”

Ekspresi Xie Qingcheng segera berubah menjadi sangat tidak menyenangkan.

Belum lagi, mereka baru saja bertengkar di pulau itu malam sebelumnya. Tampaknya sejak Xie Qingcheng dan He Yu bersatu kembali, setiap kali mereka bertemu mereka akan terlibat pertengkaran. Pada akhirnya, He Yu telah tumbuh menjadi orang dewasa yang matang; dia tidak menemukan Xie Qingcheng seseram yang dia kira ketika dia masih kecil, dia juga tidak terlalu menghormatinya lagi. Dia sudah belajar bagaimana menentang pria ini dari segala macam sudut pandang yang berbeda, membuat pria ini merasa tidak nyaman sambil memuaskan dirinya sendiri.

Xie Qingcheng dengan tegas menolak membiarkan seorang anak muda menertawakannya. Dengan demikian, wajahnya berangsur-angsur menajam dengan dingin sementara pinggangnya diluruskan sampai dia benar-benar tegak, sehingga dia tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. “Bukan apa-apa. Aku punya urusan yang harus diurus.”

Dia menatap He Yu. “Dan kenapa kamu ada di rumah sakit?”

Saat dia berbicara, tatapannya meluncur ke bawah, jatuh ke tas obat yang dipegang He Yu.

He Yu memindahkan tas di belakangnya tanpa mengedipkan mata dan menjawab dengan lembut, “Teman sekamarku sakit, jadi aku membelikan obat untuknya karena lebih mudah bagiku untuk mengemudi.”

“…..”

“….”

Dua pasang mata saling menatap, kedua belah pihak menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya.

Setelah beberapa saat, He Yu berkata, “Jaket yang kamu kenakan….”

Baru pada saat itulah Xie Qingcheng menyadari bahwa seragam Chen Man masih tersampir di bahunya, berlapis di atas kemeja putih bersalju, jaket polisi benar-benar cukup mencolok. Tidak heran He Yu bisa segera melihatnya di tengah keramaian yang ramai.

“Ini milik temanku.”

“Kamu sedang menunggunya?”

Xie Qingcheng menganggukkan kepalanya dengan acuh tak acuh. He Yu saat ini dalam suasana hati yang buruk. Surat cinta Xie Xue telah memberinya kejutan besar sehingga dia tidak bisa lagi menekan gejala penyakitnya dengan obatnya yang biasa, jadi dia datang ke rumah sakit untuk mengambil resep baru. Sejujurnya, ketika dia melihat Xie Qingcheng sebelumnya, dia tidak benar-benar ingin memperhatikannya, tetapi setelah mengingat bahwa Xie Qingcheng adalah kakak laki-laki Xie Xue, dia merasa bahwa dia setidaknya harus bertanya padanya sedikit ketika dia tidak sengaja bertemu di rumah sakit.

Sampai sekarang, dia juga tidak ingin mengatakan banyak hal lain kepada Xie Qingcheng, apalagi bertemu temannya. Dia berkata, “Kalau begitu aku pergi dulu. Masih ada hal lain yang harus aku urus.”

Jadi, He Yu pergi, begitu saja.

Xie Qingcheng sedikit mengernyit saat dia melihat punggung He Yu perlahan menghilang. Dia tahu bahwa ketika penyakit He Yu memburuk, beberapa obat yang dia gunakan hanya dapat diresepkan di rumah sakit tingkat provinsi. Mungkinkah….

“Xie-ge.” Pada saat itu, Chen Man kembali, menyela pikiran Xie Qingcheng.

“Aku sudah mendapatkan obat yang diresepkan. Aku akan mengantarmu pulang.”

Dia memperhatikan tatapan Xie Qingcheng dan mengikutinya, tetapi He Yu sudah menghilang ke kerumunan yang ramai.

Chen Man bertanya, “Ada apa?”

“Tidak ada,” jawab Xie Qingcheng.

Apa lagi yang bisa dia katakan?

Bahwa dia bertemu pelakunya?

Xie Qingcheng berkata, “Ayo pergi.”

“Oh, oke. Ge, hati-hati di tangga.”

Setengah jam kemudian, mereka tiba di asrama fakultas tunggal Departemen Ilmu Kedokteran Huzhou dengan mobil Chen Man. Chen Man menggantung jaket seragamnya di rak pakaian di samping pintu dan kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan obat. Dia menyerahkannya kepada Xie Qingcheng, memperhatikan saat dia perlahan selesai meminumnya.

“Ge.” Chen Man berpikir sejenak dan berkata, “Apa kamu baru saja bertemu dengan seorang kenalan di rumah sakit?”

“….”

“Juga, seorang perawat datang tadi malam untuk mengganti kantong infus, tapi sikapnya agak aneh.”

Kali ini, Xie Qingcheng menanggapinya. “Apa perawat itu memiliki wajah yang panjang, tahi lalat di bawah bibirnya, dan terlihat berusia sekitar tiga puluh atau empat puluh tahun?”

“Ya.”

“Itu Perawat Zhou. Dia dulu mengikuti dokter yang lebih tua,” kata Xie Qingcheng. “Tidak apa-apa, dia dan aku hanya tidak akur.”

Setelah minum obatnya, Xie Qingcheng mulai merasa lelah lagi, dan berbaring di sofa.

Setelah memikirkannya sebentar, dia menemukan bahwa terlepas dari apakah itu mantan rekan kerja di Rumah Sakit Pertama Huzhou atau He Yu, mereka berdua sangat menyebalkan baginya. Ketika dia kesal dia suka merokok, terutama karena dia bahkan tidak bisa menyentuh pemantiknya semalaman, karena dia terjebak di ruang infus sepanjang waktu. Sekarang, dia mengangkat lengannya dari posisinya di atas matanya dan berkata kepada Chen Man, “Beri aku rokok.”

Chen Man menjadi pucat karena ketakutan. “Kamu tidak boleh merokok! Hasil tesmu — lihat itu—”

“Lihat apa? Aku yang dokter atau kamu yang dokter? Rokok!”

“Aku tidak punya, aku tidak akan memberikannya padamu!”

“Jadi, apa kamu tidak memilikinya atau tidak akan memberikannya padaku?”

“Aku tidak mau, aku tidak—” Chen Man tergagap.

Xie Qingcheng menariknya ke depan melalui kerahnya, dengan akurat mencari dan mengambil sebungkus rokok Liqun1 dari saku seragam polisinya. Dia memutar matanya saat dia membukanya dan mengeluarkan sebatang rokok, memegangnya di antara giginya.

Chen Man: “….”

Xie Qingcheng berkata, “Korek.”

Chen Man menghela napas dalam-dalam, benar-benar di ujung talinya, dan berkata, “Xie-ge, sungguh buruk bagimu untuk terus seperti ini. Jika Bibi dan Paman tahu ….”

Dia telah menyebut orang tua Xie Qingcheng dengan tidak sengaja, tetapi melihat betapa jeleknya ekspresi Xie Qingcheng, Chen Man tidak berani berbicara lebih jauh. Sebaliknya, dia bergumam pelan, “Maaf.”

Dia dengan sangat enggan menyerahkan korek api kepada Xie Qingcheng, memandang tanpa daya saat dia (xqc) perlahan-lahan meracuni dirinya sendiri tepat di depan matanya.

Xie Qingcheng mengisap rokoknya beberapa kali, tangannya yang ramping dan pucat menjuntai dari tepi sofa saat dia menengadahkan kepalanya ke belakang untuk menatap langit-langit dengan ekspresi kosong di matanya.

Kemudian, dia memberi tahu Chen Man, “Kamu sibuk untuk terburu-buru sepanjang malam, dan aku menghalangi pekerjaanmu. Terima kasih. Kamu bisa pergi dan kembali dulu.”

“Bagaimana ini bisa disebut menghalangi….”

Tapi Xie Qingcheng tidak bisa terus-menerus bergantung pada Chen Man yang sibuk, dan bersikeras, “Kembalilah dan istirahatlah.”

Di luar pilihan, Chen Man memikirkan semuanya dan berkata, “Ge, aku mengkhawatirkanmu. Aku merasa reaksi alergimu terhadap mangga pasti telah direncanakan oleh beberapa bajingan jahat. Jika ada yang mencoba mengganggumu, katakan padaku. Aku seorang perwira polisi sekarang, dan aku bisa menjaga— ”

“Kamu bisa apa?” Xie Qingcheng akhirnya mengalihkan pandangannya dan menatap pemuda yang wajahnya masih memegang sentuhan kepolosan kekanak-kanakan. Mengangkat tangannya, dia menarik topinya dengan keras sampai menutupi matanya. “Kamu bilang kamu bisa, tapi kamu bahkan tidak punya banyak bunga di pundakmu2, jadi apa yang bisa kamu lakukan? Aku memberitahumu untuk kembali dan melakukan tugas polisi sipilmu dengan benar. Jangan pamer ketika tidak ada yang terjadi. Kakakmu sudah pergi, dan kamu satu-satunya anak laki-laki yang tersisa di keluarga, jadi jangan terlalu membuat khawatir orang tuamu.”

“…Mengerti….”

Chen Man menundukkan kepalanya dalam diam.

Xie Qingcheng bersandar ke bantal lembut sekali lagi karena kelelahan, seluruh tubuhnya tampak agak lesu. “Sekarang, kembali.”

Chen Man hanya bisa pergi. Anak ini adalah anak yang baik, tetapi dia terlalu ceroboh, terlalu tidak sabar dalam segala hal yang dia lakukan. Xie Qingcheng tahu mengapa dia menjadi polisi. Kakaknya telah meninggal dalam operasi anti-geng, jadi dia ingin membalas dendam untuk saudaranya. Tapi anak konyol itu terlalu bodoh dan selalu kurang kemampuan, jadi dia akhirnya dikirim ke kantor polisi setempat saja, dan bukan tim investigasi kriminal tempat saudaranya berasal. Xie Qingcheng dapat mengatakan bahwa sejujurnya, di dalam hatinya, dia tidak pernah melupakannya.

Tapi Xie Qingcheng berpikir ini yang terbaik.

Sebelumnya, saudaranya terlalu dekat dengan orang tua Xie Qingcheng sendiri, tersapu lebih dalam dan lebih dalam, selangkah demi selangkah. Akibatnya, dia sudah merasakan penyesalan terhadap keluarga Chen Man.

Sekarang, Chen Man adalah seorang perwira polisi sipil tingkat dasar dan menghabiskan hari-harinya menangkap pencuri, menemukan anjing kakek yang hilang, dan hal seperti ini — adalah skenario terbaik. Idealnya, dia tidak akan pernah dipromosikan lebih tinggi sepanjang hidupnya.

Xie Qingcheng jatuh tertidur karena pusing yang berlangsung, sampai dia dibangunkan oleh nada dering ponselnya keesokan paginya.

“Halo.”

Telepon itu dari Xie Xue, wanita muda yang menelponnya selagi dia (Xie Xue) sedang mandi di asramanya, “Hei, Ge.. eh? Ada apa dengan suaramu?”

“Bukan apa-apa, aku tidak memperhatikan ketika aku sedang makan dan makan mangga.”

Xie Xue: “Apa??!! Kamu alergi dan kamu masih—”

“Aku sudah bilang aku tidak memperhatikan. Kenapa kamu menelponku?”

“Oh, tidak apa-apa,” kata Xie Xue, “Aku hanya memberitahumu bahwa setelah kelas hari ini, ada perjalanan musim gugur; aku akan ke Nanshi.”

Xie Qingcheng batuk beberapa kali, tubuhnya sangat panas sehingga dia merasa seolah-olah sedang dibakar oleh api. “Kalau begitu pergilah. Tetap aman di jalan dan jangan pergi ke tempat terpencil dengan siapa pun sendirian. Sudah kubilang, kamu beruntung di Rumah Sakit Cheng Kang. Jika—”

“Oke sudah, aku mengerti. Jangan khawatir! Wah, jaga dirimu juga.”

Kedua bersaudara itu bertukar beberapa kata lagi sebelum Xie Xue menutup telepon, khawatir dia mengganggu istirahat Xie Qingcheng.

Setelah mengakhiri percakapan mereka, dia merenung sebentar, lalu mengirim pesan suara ke He Yu–

…..

Xie Qingcheng tertidur lagi.

Dia adalah seseorang yang sangat pandai merawat orang lain, tetapi tidak terlalu pandai merawat dirinya sendiri. Setelah Chen Man membawanya kembali, selain minum dua pil, dia hanya merokok segenggam rokok. Sampai sekarang, dia masih belum makan. Penyakit itu membuatnya merasa sakit dan dia tidak ingin memasak, jadi bagaimanapun juga, dia tertidur tanpa melakukan apa-apa.

Kali ini, dia tidur entah berapa lama. Dalam kesadarannya yang kacau, Xie Qingcheng mendengar bunyi klik samar dari kunci, kesadarannya seperti layang-layang melayang di udara, ditarik kembali dari mimpinya seolah-olah pada tali.

Dia tidak membuka matanya, tetapi dia tahu bahwa seseorang telah datang.

Dalam keadaan linglung, dia mengira itu adalah Xie Xue. Hanya Xie Xue yang memiliki kunci asramanya.

Bukankah dia harus melakukan perjalanan musim gugur? Sangat tidak pantas bagi dosen baru untuk melewatkan acara seperti ini di universitas. Mengapa dia datang ke sini…

Meskipun memikirkan hal ini, Xie Qingcheng tetap saja berbalik, mencoba untuk menghindari diganggu oleh suara adiknya dan juga secara tidak sadar ingin meringkuk di bawah selimut.

Sayangnya, dia membalik-balik tetapi masih tidak menemukannya (selimut), saat itulah dia menyadari bahwa dia telah berbaring di sofa sejak dia sampai di rumah; dia bahkan belum membuka kancing mansetnya. Tepat saat dia mengerutkan alisnya karena kesal, kehangatan tiba-tiba turun di atasnya.

Orang yang memasuki rumahnya berjalan mendekat, menatapnya sebentar, dan meletakkan selimut musim panas tipis di atasnya.

Xie Qingcheng ingin membuka matanya tetapi dia benar-benar terlalu lelah. Hanya ada bayangan kabur dari seorang pemuda jangkung yang terpantul di antara bulu matanya yang bergetar sebelum kelopak matanya yang berat menutup sekali lagi.

Pada saat dia bangun lagi, hari sudah senja. Seseorang dengan rajin mengepel lantai asramanya, dan jendelanya telah dibuka untuk membiarkan udara segar masuk. Angin sepoi-sepoi bertiup melalui tirai, kain kasa putih bersalju berkibar di bawah sinar matahari terbenam.

Xie Qingcheng sedikit menyipitkan matanya. Dia menjulurkan tangan dari bawah selimut musim panas yang dihangatkan oleh panas tubuhnya, menutupi matanya dengan punggung tangannya.

Ada suara pria lain yang berbicara di dalam ruangan, seolah-olah dia sedang menelepon. “Mm… oke. Kalau begitu aku akan datang dalam beberapa hari. …Jangan khawatir tentang itu, kamu tidak meminta banyak waktu, dan aku juga ingin mendapatkan pengalaman yang tidak terkait dengan jurusanku, itu tidak masalah sama sekali.”

“Yakinlah, Feng-jie, aku sudah meminta cuti, aku tahu ini sulit bagimu, tidak akan ada yang lain.”

“Mn, ya, kalau begitu aku akan menutup telepon sekarang.”

Xie Qingcheng yang sakit-sakitan akhirnya menyadari bahwa ini adalah suara milik He Yu.

Xie Qingcheng duduk tegak, berbalik dengan tersentak ke arah suara itu.

He Yu baru saja menyelesaikan panggilannya dan keluar dari dapur. Dia membawa nampan kayu di tangannya saat dia berjalan ke sisinya, lalu meletakkannya di atas meja teh.

Ada mangkuk besar Mino3 di atas nampan, diisi sampai penuh dengan bubur ayam. Sup ayam telah direbus untuk waktu yang sangat lama, berubah menjadi putih susu yang menggugah selera. Dimasak dalam kaldu ayam, nasi telah mengambil rasanya, dengan setiap butir telah menyerap sup yang kaya dan seperti susu yang menyelimutinya. Potongan ayam seputih salju mengapung di dalamnya, dan beberapa biji wijen putih yang harum dan renyah telah ditaburkan di atasnya.

“…Kamu sudah bangun? … Karena kamu sudah bangun, … kamu harus makan ini selagi panas. Aku membuatnya mengikuti resep online.”

Dia berhenti sejenak, lalu berkata, “Aku melihat hasil lab dan resep medis di mejamu.”

“….”

“Kamu pergi ke ruang gawat darurat tadi malam untuk infus. Benar kan.”

Dengan tangan menempel di dahinya, Xie Qingcheng menghabiskan beberapa saat menenangkan diri sebelum duduk di sofa.

Setelah memastikan bahwa suaranya tidak akan terdengar menyedihkan seperti teriakan yang pecah, dia akhirnya berbicara sekali lagi. “Bagaimana kamu bisa berakhir di sini?”

He Yu tampaknya tidak dalam kondisi terbaik. Dia terlalu tenang, tenang sampai pada titik di mana ketenangannya tampak membawa sentuhan kegelapan yang tak terlukiskan di dalamnya.

Meskipun Xie Qingcheng sakit, dia masih bisa merasakan keanehannya. Dia melihat ke sepanjang garis pergelangan tangan He Yu dan menemukan bahwa ada perban yang melilit pergelangan tangan pemuda itu; dia melihat lebih jauh, menemukan bahwa mata almond yang telah diturunkan selama ini tampak sedikit merah.

Xie Qingcheng memikirkan sekali lagi obat yang dia dapatkan di rumah sakit.

Tapi sebelum dia sempat bertanya, He Yu membungkuk, meraih bahu Xie Qingcheng untuk mendorongnya ke sofa di belakangnya4. Dia menatap pria yang bersandar di sofa dan berkata, “Xie Qingcheng, jika kamu memiliki alergi mangga yang parah, lalu kenapa kamu memberi tahuku bahwa tidak ada yang salah di rumah sakit?”

“…Xie Xue memberitahumu?”

“Ya. Dia menyuruhku datang untuk mengunjungimu, mengatakan bahwa kamu tidak enak badan, bahwa suaramu serak ketika berbicara dengannya.”

“….”

Anak laki-laki itu memperhatikannya dengan seksama. “Akulah yang memberikannya padamu. Akulah yang membuatmu berakhir seperti ini. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku, kenapa kamu tidak datang mencariku, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya padaku di rumah sakit?”

“… Tidak perlu. Kamu tidak bermaksud melakukannya, kamu tidak tahu aku alergi mangga.” Xie Qingcheng berbicara dengan nada yang sangat tenang dan dingin, “aku hanya dapat menemukan orang lain.”

Tetapi kata-kata ini tidak memuaskan He Yu; sebaliknya, sesuatu yang sedikit berbahaya muncul di matanya saat dia menatap Xie Qingcheng. “…aku tidak percaya bahwa aku cukup keji sehingga aku akan mencuci tangan dari masalah ini dan mengabaikannya setelah menempatkan seseorang dalam keadaan seperti itu.”

“……”

“Jadi, apa sebenarnya aku bagi kalian?”

“….”

Kalian?

Xie Qingcheng mengerutkan alisnya — Selain dia, siapa lagi yang ada di sana?

Tapi He Yu tampaknya tidak dalam suasana hati yang baik, jadi Xie Qingcheng tidak mengorek lebih jauh.

He Yu terdiam beberapa saat. Mungkin karena dia juga merasa bahwa dia sedikit berlebihan, dia perlahan-lahan menegakkan tubuh dan berkata, “…Tidak apa-apa.”

Dia bangkit dan menuangkan secangkir air untuk Xie Qingcheng, lalu merapikan hasil tes Xie Qingcheng, melihat jumlah reaksi alergi mengerikan yang tercetak di atasnya, dia menghela nafas.

“Jika tidak ada yang lain, aku akan pergi sekarang.”

Karena naluri yang lahir dari melayani sebagai dokternya selama tujuh tahun, Xie Qingcheng menghentikannya. “He Yu.”

“Apa?”

Xie Qingcheng sedikit mengernyit. “Apa sesuatu terjadi padamu?”

“Tidak.”

“Lalu ada apa dengan perban di pergelangan tanganmu? Dan obat yang kamu bawa di rumah sakit untuk—”

He Yu mengenakan jaket seragamnya dan berkata tanpa menoleh ke belakang, “Aku sudah memberitahumu tentang obatnya. Itu untuk seorang teman. Pergelangan tanganku karena kompormu terlalu berantakan, aku tidak sengaja membakar diriku sendiri saat membersihkan.”

Dia meluruskan lengannya, dan perban itu tersembunyi di balik lengan lebar jaket seragamnya.

He Yu terdiam beberapa saat lagi. Kemudian, seolah-olah dia benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan, dia berhenti sejenak dan berkata:

“Aku masih memiliki sesi belajar mandiri malam, jadi aku akan pergi sekarang. Ingatlah untuk menghubungi Xie Xue dan katakan padanya aku datang.”

Xle Qingcheng setuju, tetapi ketika melihatnya, dia masih merasa ada sesuatu yang samar-samar tentang dirinya.

Setelah beberapa pemikiran, dia bertanya, “Bahkan Xie Xue melakukan perjalanan musim gugur; kenapa kamu tidak pergi?”

Pemuda itu berhenti sejenak sambil mengikat tali sepatunya. Dari sudut Xie Qingcheng, dia tidak bisa melihat seluruh wajahnya dengan jelas, hanya sebagian dari rahangnya yang tajam dan anggun setengah tersembunyi dalam kegelapan.

“Itu terlalu membosankan, banyak yang berasal dari jurusan drama (akting). Aku tidak memiliki kesamaan dengan mereka, jadi aku tidak ingin berpartisipasi.”

He Yu mengikat tali sepatunya dengan tarikan, mendorong pintu hingga terbuka, dan pergi sebelum Xie Qingcheng sempat menanyakan hal lain.


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Tuhan tahu berapa banyak sampah kuning5 yang ada di pikiranku ketika aku menulis bab ini, hehe… hehehe, teater mini hari ini, izinkan aku menjelaskan cara khusus membaca bab ini kepada semua teman kami, semoga semua teman mengambil hasil lab alergi mangga, dan secara otomatis menggantinya dengan hasil lab tes kehamilan–

Di rumah sakit.

He Yu: Ada apa denganmu?

Xie Qingcheng (memakai jaket Chen Man): Tidak ada.

Di rumah.

Ketika He Yu melihat hasil lab dan mengetahui istrinya hamil tetapi tidak memberitahunya, dan bahkan berusaha untuk menggugurkan anak itu, ditambah yang pergi ke rumah sakit bersamanya adalah saingan cintanya.

Penyakit mental He Yu meningkat — dia mendorong pria itu ke sofa, membungkuk untuk bergumam mengancam di telinganya, “Kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu hamil anakku??”

Xie Qingcheng: ……

He Yu: “Apa menurutmu aku tidak akan bertanggung jawab? Apa aku orang yang seperti itu bagimu, ya?!”

Ehehehe. Alergi mangga apa! Tidak ada alergi mangga! Hasil lab adalah untuk tes kehamilan! Percayalah. Kembali dan baca lagi dengan pikiran ini, kalian bisa membuka sebuah gerbang baru menuju melodrama.. eheh, ehehehe.. nanti alur cerita seperti itu akan muncul lagi, tapi saat itu, itu benar-benar bukan alergi mangga, tapi He Yu terlalu buas dan membuatnya demam6. lalu Chen Manman akan membawanya ke rumah sakit, lalu He Yu menemui mereka… slurp.. slurp. Aku tidak tahu malu, tidak tahu malu.

(Meatbun berterima kasih pada pembaca sebelum jam 5 sore)

Terima kasih bwaobeis, aku akan terus membuat masalah—


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Merek rokok populer.
  2. Jumlah bunga pada tanda pangkat petugas polisi (tali di bahu seragam mereka) menunjukkan peringkat mereka.
  3. Keramik dari provinsi Mino, Jepang
  4. Kabedon.
  5. Konten cabul.
  6. Fakta menyenangkan: kiasan abadi di danmei adalah Shou harus demam karena terlalu keras ditiduri oleh gong mereka.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments