Penerjemah : Chu


Pada saat itu juga.

Di gimnasium1 dalam ruangan Universitas Huzhou di mana para mahasiswa telah mendirikan beberapa baris stan penjual sementara, suasananya ramai dengan kebisingan dan kegembiraan yang tidak biasa.

Ini adalah salah satu tempat yang paling sedikit dikunjungi oleh peserta acara eksplorasi kampus, tetapi karena hujan di luar, acara luar ruangan tidak mungkin dilanjutkan. Dengan demikian, sejumlah besar mahasiswa yang berpartisipasi telah datang untuk berkumpul di sini.

“Oh, lihat, ada kotak surat untuk pengakuan di sini.”

“Jadi ada di sini? Aku akhirnya menemukannya, aku sudah lama mencari.”

Sekelompok mahasiswi yang tersenyum mengerumuni kotak surat berbentuk kapsul, berebut untuk menuliskan nama penerima surat pengakuan mereka dan memasukkannya ke dalam kotak.

Itu adalah kotak surat yang khusus disiapkan untuk orang-orang pemalu yang takut menderita kematian karena malu, memungkinkan mereka untuk menghindari kecanggungan dalam mengirimkan surat cinta secara pribadi. Itu didirikan setiap tahun selama acara eksplorasi kampus dan sangat populer di kalangan mahasiswa.

Xie Xue duduk di sudut, minum susu hangat saat dia selesai menulis surat. Setelah menyegel surat itu dalam amplop putih bersih, dia memeriksanya dengan cermat sebelum menuliskan nama laki-laki yang diam-diam dia cintai, coretan demi coretan.

Senyum puas menyebar di wajahnya saat dia bangkit dan berjalan ke kotak surat kapsul. Namun, saat dia hendak menyetorkan surat pengakuannya, setetes darah tiba-tiba jatuh dari atas, menghiasi permukaan amplop.

Xie Xue mulai terkejut.

“Ah, Xiao-jiejie, hidungmu berdarah…” Melihat ini, seseorang di sebelahnya segera mengeluarkan sebungkus tisu dari tasnya, “Ini, bersihkan hidungmu, cepat.”

Xie Xue buru-buru mengangkat kepalanya saat dia menutupi hidungnya dengan tisu, “Terima kasih, terima kasih.”

Bagaimana dia bisa begitu sial, tiba-tiba mimisan?

Sudah lama sejak mimisan terakhirnya. Sekarang dia memikirkannya, terakhir kali itu terjadi, saat dia masih kecil.

“Suratmu… aku akan ambilkan yang lain untukmu.”

“Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa! Aku hanya menulisnya secara acak! Hanya untuk bersenang-senang! Tidak penting! Tidak penting!” Khawatir seseorang akan melihat nama di amplop dan menertawakannya, Xie Xue buru-buru membolak-balik, memasukkan surat bernoda darah ke dalam slot surat dengan gerakan terburu-buru sebelum berbalik dan berlari tanpa melihat ke belakang, sambil memegangi hidungnya.

Baru pada saat itulah mahasiswa yang berdiri di dekat kotak surat menyadari, “Eh? Aku pikir itu Xie-laoshi.”

Setelah berlari agak jauh, Xie Xue berpikir dia harus menelepon kakaknya dan bertanya apa penyebab ketika kamu tiba-tiba mimisan.

Namun, meskipun menghabiskan beberapa waktu mencoba meneleponnya, yang dia dapatkan hanyalah, “Halo, pengguna yang Anda panggil perangkatnya dimatikan. Tolong hubungi kembali nanti.”

Xie Xue: “….”

Ahh. Mungkinkah kakaknya sudah kembali ke asramanya dan pergi tidur?

.

Xie Xue tidak pernah berpikir bahwa kakak laki-lakinya sebenarnya tidak tertidur sama sekali; bahwa karena dia telah menggantikannya sebagai rubah berekor sembilan, dia sebenarnya telah terperangkap oleh He Yu di sebuah pulau selama beberapa jam.

Adapun tindakan He Yu, pada akhirnya, dia tertangkap basah oleh kakak laki-lakinya.

Saat ini, kedua pria ini berdiri di tepi danau, keduanya dengan tangan tersangkut di saku dan mata mereka agak dingin saat mereka saling memandang.

Xie Qingcheng sedang menunggu penjelasan He Yu.

“…Refleksi bulan di air adalah pemandangan yang indah untuk dilihat.” He Yu akhirnya berbicara, tidak tergesa-gesa, “Bulan sangat indah malam ini. Apa kamu mengerti maksudku?”

“Bicaralah dengan normal.”

“Aku juga menganggapmu sangat cantik dan ingin berkencan denganmu.”

“Miliki rasa malu, sialan!.” Xie Qingcheng menyemburkan sedikit abu rokok, “Aku di sini bukan untuk main-main denganmu.”

Perlahan, senyum He Yu memudar. Mungkin karena dia tahu bahwa tidak ada cara baginya untuk menipu yang lain, dia akhirnya melepas topeng sembrononya, ekspresinya menjadi gelap, “… Melihat kamu sudah mendengarku, apa lagi yang harus aku jelaskan”

Menatap mata tajam Xie Qingcheng yang sangat dingin, dia berhenti dan menghela nafas sebelum berusaha meluruskan semuanya dengan istilah (kata-kata) sederhana.

“Baiklah. Aku punya seseorang yang aku suka. Aku awalnya berencana untuk mengaku padanya, tapi dia tidak datang. Sekarang, apa kamu mengerti apa yang aku maksud?”

Xie Qingcheng memiliki perasaan yang samar-samar bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi pada saat ini, dia tidak dapat memahaminya dengan baik.

Perhatiannya tertuju pada fakta bahwa He Yu memiliki gadis yang disukainya.

“Seseorang di kampusmu?”

“Ya.”

“Siapa?” ​​

He Yu tersenyum, “Itu bukan urusanmu.”

Xie Qingcheng meluruskan kakinya, lalu perlahan berjalan mendekati He Yu. Meskipun dia lebih pendek dari He Yu, karena dia berdiri di tempat yang lebih tinggi, pada saat itu, dia tetap bisa melihatnya dari atas, mata bunga persiknya seolah-olah dibekukan dengan apa yang tampak seperti kilau cahaya bulan.

“He Yu, apa kamu tahu penyakit apa yang kamu miliki?”

He Yu berkata dengan acuh tak acuh, “Ebola psikologis.”

“Lalu apa yang kamu lakukan untuk mencoba berkencan dengan seseorang sebelum kamu benar-benar pulih dan mengendalikan gejalamu?”

He Yu terdiam dalam sekejap.

Sepertinya dia sudah lama mengantisipasi reaksi seperti itu dari Xie Qingcheng.

Melihat ke belakang, dia berkata dengan lembut, “Bukankah kamu yang pernah berkata bahwa aku harus menjalin hubungan dengan orang lain dan membangun jembatan ke masyarakat? Kamu mendorongku untuk berinteraksi dengan orang lain, berteman dan menemukan kasih sayang, untuk pergi dan mencari cinta. Belum lagi, bukankah kamu mengatakan sebelumnya bahwa aku bahkan belum mulai berkencan? Bahwa aku akan selamanya menjadi iblis kecil?”

“Aku mengatakan itu karena marah.” Mata Xie Qingcheng setajam pisau, “Kamu sangat pintar, kamu seharusnya bisa membedakan kata mana yang benar dan mana yang salah.”

“Terima kasih telah menganggapku begitu tinggi,” kata He Yu, “tetapi aku juga baru berusia sembilan belas tahun. Aku tidak secerdas yang kamu kira.”

Xie Qingcheng berkata dengan ekspresi serius, “Kamu sebaiknya lebih berhati-hati, He Yu. Tahukah kamu berapa banyak orang yang menjadi depresi setelah putus cinta? Bahkan orang biasa pun bisa kehilangan akal karena cinta, sangat menderita dan berada di antara hidup dan mati. Yang kamu butuhkan adalah keadaan pikiran yang stabil dan tenang. Setelah semua hasil labmu kembali normal, kamu dapat berkencan dengan siapa pun yang kamu inginkan, dan itu tidak ada hubungannya denganku. Aku bahkan tidak akan repot-repot bertanya.”

He Yu tiba-tiba teringat senyum lesung pipit Xie Xue.

Agak lucu bahwa Xie Qingcheng tidak tahu orang yang dia sukai adalah Xie Xue. Dia tidak tahu, namun dia sudah bereaksi seperti ini. Jika dia tahu bahwa orang yang semula dia rencanakan untuk dijebak di pulau ini adalah adik perempuannya yang tercinta, dia mungkin akan menampar wajahnya dengan kejam.

Xie Qingcheng berkata, “Beberapa tahun terakhir ini, apa kamu pernah bisa untuk melakukan kontrol penuh atas emosimu? Jika tidak, lalu apa hakmu untuk berbicara tentang menyukai seseorang?”

He Yu bertemu dengan tatapan mata gelap Xie Qingcheng, “Fakta bahwa aku membuat keputusan seperti itu sejak awal berarti aku pikir aku bisa mengendalikan diri.”

“Kamu benar-benar terlalu sombong.”

“Sombong?” He Yu mengulangi, lalu bertanya dengan lembut, “Dokter Xie, dalam sembilan belas tahun ini, apa aku pernah menyakiti seseorang?”

“….”

“… Aku hanya menyukai seseorang, itu saja.”

“….”

“Tapi aku tidak mendapatkan hak seperti itu, kan?”

Xie Qingcheng berkata, “Kamu tidak tahu bagaimana penyakit ini akan bermanifestasi di masa depan. Belum lagi, kamu adalah pasien dengan varian racun darah, kamu—”

“Profesor Xie.” He Yu dengan tenang menyela pidato Xie Qingcheng, “Kamu bukan lagi dokter pribadiku. Aku tahu kamu kesepian di usia paruh baya, bahwa kamu tidak bisa tidur karena kesepian, jadi sangat normal jika kamu suka mencampuri urusan anak muda. Tapi sejujurnya, aku pikir masalahku ini tidak ada hubungannya denganmu.”

Diprovokasi oleh nada bicara He Yu, Xie Qingcheng juga menjadi agak marah, “…Apa kamu pikir aku ingin mencampuri urusanmu? Aku hanya melakukan ini untuk menghormati ayahmu. Belum lagi, aku mengobati penyakitmu selama tujuh tahun; hampir tidak masuk akal untuk tidak merasa prihatin terhadap seekor anjing yang telah kamu pelihara selama tujuh tahun, apalagi manusia.”

He Yu menundukkan kepalanya sambil tersenyum, sambil menggesekkan ujung lidahnya ke giginya, “Ah, sayang sekali aku bukan anjingmu, kalau begitu.”

“….”

“Sudah larut. Aku tidak ingin terus berdiri di sini untuk memberi makan nyamuk. Apa kamu naik ke perahu atau tidak?” He Yu melepaskan rantai besi yang mengunci perahu pada tempatnya dan berkata kepada Xie Qingcheng dengan nada sedikit mengejek, “Punggungmu pasti sakit setelah duduk begitu lama. Apa aku perlu turun untuk membantumu?”

Pada akhirnya, mereka berdua berpisah dengan cara yang buruk sekali lagi.

Setelah kembali ke asramanya, Xie Qingcheng mandi dan memikirkan hal-hal untuk dikatakan. Pada akhirnya, meskipun agak terlambat, dia tetap menghubungi nomor He Jiwei.

“Oh, ini Dokter Xie. Lama tidak bicara, lama tidak bicara.” He Jiwei secara mengejutkan agak sopan ketika berbicara dengan Xie Qingcheng, “Kebetulan sekali, aku baru saja berpikir untuk meneleponmu.”

“Apa Eksekutif He juga membutuhkan sesuatu dariku?” Xie Qingcheng merasa sedikit terkejut.

“Benar. Aku ingin bertanya tentang kejadian di Rumah Sakit Jiwa Cheng Kang.”

“….” Xie Qingcheng menyadarinya.

He Jiwei menghela nafas berat, “Beberapa hari terakhir ini aku berhasil mendapatkan gambaran umum tentang apa yang terjadi. Anak laki-laki He Yu itu benar-benar membuatku terlalu khawatir. Aku mendengar bahwa kamu bersamanya ketika dia mendapat masalah.”

“Ya.”

“Para petugas di kantor polisi mengatakan padaku bahwa kamu terus-menerus menjaganya hari itu. Aku benar-benar harus berterima kasih.”

Tampaknya He Yu belum menceritakan keseluruhan cerita kepada He Jiwei.

Xie Qingcheng tidak suka diberi ucapan terima kasih tanpa alasan yang jelas, jadi dia memberi He Jiwei gambaran kasar tentang apa yang terjadi selama insiden Cheng Kang. Tentu saja, dia tidak menyebutkan racun darah. Setelah mendengarkannya, He Jiwei terdiam beberapa saat, “…Jadi itulah yang terjadi. Bocah kecil itu. Ah….”

Setelah beberapa saat mempertimbangkan, Xie Qingcheng berkata, “Eksekutif He, kamu memperlakukanku dengan baik di masa lalu, jadi meskipun aku tidak lagi bekerja dengan keluarga He, aku masih memperhatikan kondisinya ketika aku melihatnya. Yang ingin aku tanyakan adalah: Bagaimana keadaan He Yu dengan kondisinya dalam beberapa tahun terakhir?”

“Berkat kamu, dia menjadi jauh lebih baik. Saat itu, bukankah kamu mengatakan bahwa setelah dia mencapai tahap itu, dia harus mandiri? Awalnya aku agak khawatir, tetapi siapa yang menyangka bahwa dia benar-benar dapat mengendalikan dirinya dengan cukup baik. Dia kadang-kadang mendapat suntikan atau minum obat ketika dia merasa tidak enak badan, tetapi dia tidak memiliki masalah lain.”

“Lalu, apa dia sangat bergantung pada obat-obatan?”

“Itu….” Sedikit ragu-ragu, He Jiwei memaksakan tawa, “Kamu tahu betul bahwa ibunya dan aku sama-sama sangat sibuk dengan pekerjaan kita, jadi sejujurnya, tidak mungkin bagi kita untuk terlalu memperhatikan berapa banyak obat yang dia minum… Menurut pembantu rumah tangga, itu tidak terlalu buruk, dia tidak menggunakan semua itu. Kenapa? Apa dia bertingkah aneh?”

“…Tidak.” Xie Qingcheng ragu-ragu untuk sementara waktu, karena dia tidak bermaksud untuk membocorkan rencana kencan He Yu kepada He Jiwei. “Bukan apa-apa kok. Aku hanya bertanya, itu saja.”

He Jiwei berkata, “Jika kamu mau, kamu dapat kembali kapan saja. Bagi He Yu, dokter sepertimu adalah yang paling cocok. Tidak ada orang lain sepertimu.”

“Eksekutif He, kamu pasti bercanda.” Xie Qingcheng berkata, “Aku telah meninggalkan sistem perawatan kesehatan begitu lama, bahkan izin medisku telah kedaluwarsa.”

“Yah, kamu hanya seorang mahasiswa ketika kamu datang pada kami … Ah, lupakan saja.. Karena kamu tidak mau, maka aku tidak akan menyebutkannya lebih jauh. Namun, Dokter Xie, mengingat kamu dan He Yu sekarang tinggal cukup dekat satu sama lain, bisakah aku menyusahkanmu untuk membantu menjaga He Yu sedikit di waktu luangmu? Dia tampak dewasa, tetapi pada kenyataannya, dia masih sangat muda. Dia sering bertindak berdasarkan emosinya dan melakukan beberapa hal yang terburu-buru berdasarkan dorongan hati. Ibunya dan aku benar-benar tidak dapat merawatnya, jadi ada kalanya kami benar-benar khawatir tentang dia.”

He Jiwei berbicara demikian, lalu menambahkan, “Meskipun begitu, jika Dokter Xie tidak punya waktu, maka tidak perlu memaksakan diri.”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Lagipula, dia adalah pasienku untuk waktu yang sangat lama.” Xie Qingcheng berkata, “Belum lagi, dia adalah putra Eksekutif He. Ini semua adalah hal yang harus aku lakukan.”

Mereka berdua mengobrol lebih lama tentang topik kosong sebelum menutup telepon.

Xie Qingcheng bersandar ke kursi, mengulurkan tangan untuk memijat pelipisnya — Baginya, He Yu adalah pasien yang unik, yang terjerat dalam jaringan hubungan pribadi yang sangat rumit.

Tetapi setelah semua dikatakan dan dilakukan, He Yu telah dewasa; dia bahkan mungkin tidak mendengarkan apa yang dikatakan He Jiwei. Ada hal-hal tertentu yang benar-benar di luar kendalinya.

Dia hanya bisa mengamati untuk saat ini.

Dengan kepala yang sakit, Xie Qingcheng mengeringkan rambutnya dan berganti pakaian bersih. Bahkan jika He Yu benar-benar tidak cocok untuk berkencan, jika dia mengaku, siapa yang tahu apakah gadis yang malang itu akan mengatakan ya.

Dia hanya harus menunggu dan melihat.

Dengan pemikiran ini, Xie Qingcheng mengambil buku tamu yang dia ambil dari Utopia Rahasia dan mendorong pintu untuk turun, di mana dia memanggil taksi dan pergi ke departemen kepolisian setempat.

.

“Kapsul pengakuan tahun ini terlalu berat ya….”

“Berapa banyak surat cinta di sana?”

“Apa semua orang begitu pemalu dan tidak mau mengatakannya langsung? Ah….”

Setelah acara eksplorasi kampus berakhir, segelintir mahasiswa yang bertugas membersihkan tempat kejadian sedang memindahkan perlengkapan kegiatan, salah satunya adalah kotak surat pengakuan yang besar.

“Hei! Jangan menginjak kakiku. Aiyo!!”

Karena tergesa-gesa, salah satu mahasiswa tersandung ke lantai, kotak surat pengakuan jatuh bersamanya. Tutup plastik murah retak hingga terbuka karena benturan dan surat-surat di dalamnya tumpah keluar dengan deru di seluruh permukaan lintasan karet sintetis. Dengan embusan angin malam, surat-surat yang terbang itu bertebaran ke segala arah, seolah-olah mereka telah menumbuhkan kaki.

Mahasiswa itu menjadi pucat karena khawatir. “Oh tidak!”

Ini semua adalah surat pengakuan dari para pemuda dan pemudi yang bahkan belum sampai ke tangan penerimanya; bagaimana mereka bisa kehilangan surat-surat iu? Para mahasiswa buru-buru membersihkan debu dari tubuh mereka dan mengejar mereka (surat) seperti mengejar anak babi.

Tapi ada terlalu banyak surat yang tertiup angin; mereka berdua benar-benar tidak bisa mendekati semua surat dan menggantinya menjadi mengangkat suara mereka, berteriak untuk mahasiswa yang lewat agar membantu. Semua mahasiswa juga sangat antusias, membantu menyudutkan dan mengejar surat-surat itu, meraihnya dengan genggaman dari setiap sudut dan celah.

Ketika He Yu lewat, dia kebetulan melihat pemandangan seperti ini.

Karena dia adalah tuan muda kaya yang hangat, baik, dan lembut serta panutan yang sempurna di depan orang lain, tentu saja dia harus membantu xuezhang dan xuejie-nya mengambil semua “surat cinta yang melarikan diri”.

“Terima kasih, terima kasih banyak!”

Xuejie sangat sibuk sehingga dia bahkan tidak melihat ke atas, membungkuk lagi dan lagi.

Gadis di sampingnya mencubitnya, berbisik, “Ini He Yu!”

“AH!!” Xuejie berteriak, melihat ke atas. Benar saja, itu adalah He Yu. Jantungnya langsung berdetak dengan kecepatan 800 mph, dia tergagap, “Ha-hai xuedi….”

He Yu tersenyum dan memberikan surat-surat itu padanya sebelum melanjutkan untuk membantu mengambil lagi.

Ada surat yang tersangkut di semak-semak di samping lapangan basket. He Yu berjalan mendekat dan mengambil amplop putih bersih itu, mengibaskan debu hanya untuk tiba-tiba membeku —

Ada noda darah di surat itu.

Di bawah noda darah, deretan kata-kata yang ditulis dengan sangat indah masih terlihat.

“Untuk Wei Dongheng.”

Wei Dongheng adalah idola kelas di Kelas 1 dari kelompok senior di jurusan drama dari fakultas seni rupa, serta seseorang yang He Yu sudah kenal sejak lama.

Di antara lingkaran sosial pebisnis kaya di Huzhou, mereka adalah dua nama yang paling sering disebutkan ketika berbicara tentang subjek tuan muda dari keluarga berpengaruh. Alasan untuk ini tidak lain adalah fakta bahwa Tuan Muda He dan Tuan Muda Wei sangat mirip dalam banyak hal; bahkan ulang tahun mereka di hari yang sama, meskipun mereka lahir di tahun yang berbeda. Namun, hasil didikan kedua tuan muda ini benar-benar berbeda — dalam lingkaran sosial ini, Tuan Muda He terkenal terpelajar dan halus, sementara Tuan Muda Wei terkenal sombong dan tidak bermoral.

Keluarga Wei adalah keluarga militer aristokrat (bangsawan). Namun, mungkin karena salah satu makam leluhur mereka sayangnya telah direnovasi menjadi klub malam atau semacamnya, dengan orang-orang yang muncul dan menari di kuburan setiap malam, mereka berhasil memunculkan seorang yang merosot seperti Wei Dongheng.

Sejak kecil, Wei Dongheng menghabiskan hari-harinya dengan balapan jalanan, bolos kelas, dan menghidupkan mesin dengan preman-preman yang tidak bereputasi, menimbulkan banyak masalah bagi Keluarga Wei. Jika bukan karena seberapa berpengaruh bisnis besar mereka, keluarga mereka mungkin sudah lama diaduk ke dalam panci rebusan kotoran. Namun berkali-kali orang tua di lingkaran itu berteriak, “Lihat He Yu! Kemudian lihat dirimu sendiri! Apa gunanya kamu?!” dalam kemarahan yang dipermalukan persis sama dengan berapa kali anak-anak mereka membalas, “Lihatlah Wei Dongheng! Kemudian lihat anakmu! Apa aku buruk?!” dengan air mata di mata mereka.

Seluruh Universitas Huzhou tahu bahwa Wei Dongheng sangat liar. Ketika kampus memberikan kesempatan audisi kepada mahasiswa drama, Wei Dongheng tidak ikut. Alasan mengapa dia mengambil jurusan drama adalah karena jurusan itu adalah jurusan di Fakultas Seni Rupa yang memiliki persyaratan kelulusan terendah; singkatnya, dia di sana hanya untuk mengikis ijazah.

He Yu berpikir dengan acuh tak acuh–

Gadis tunanetra mana yang akan menulis surat cinta untuknya?

Saat dia bersiap-siap untuk mengembalikan amplop itu, dia berhenti, tiba-tiba merasa ada yang tidak beres.

Dia melirik amplop itu sekali lagi…

Untuk Wei Dongheng… Untuk Wei Dongheng…

Kemudian, dia membeku.

Tulisan tangan.

Kata-kata ini… dia tidak akan pernah salah mengartikannya.

Dia merasa seperti dipukul oleh pukulan tak terlihat dan mengejutkan—

Ini adalah tulisan tangan Xie Xue!

“Ya ampun, apa yang terjadi? Apa surat-suratnya jatuh?” Pada saat ini, sekelompok mahasiswa laki-laki yang telah menyelesaikan permainan bola basket mereka muncul dari lapangan sambil menyeka keringat mereka. Salah satu dari mereka melirik sembarangan dan melihat surat di tangan He Yu.

Senyum segera muncul di wajah mahasiswa itu ketika dia berbalik dan berkata, “Tuan Muda He, kamu mendapatkan panen besar lagi tahun ini!”

Seorang mahasiswa melangkah keluar dari lapangan basket. Dia memiliki tinggi yang sama dengan He Yu, dengan wajah yang jujur ​​dan terhormat, rambutnya diputihkan dan diwarnai dengan warna perak, dan lima tindikan di telinganya. Dia mengenakan ekspresi sembrono dan sulit diatur persis seperti bajingan.

Itu adalah Wei Dongheng, pria itu sendiri.

Mata Wei Dongheng dan He Yu bertemu.

Wei Dongheng mengangguk lebih dulu. “Tuan Muda He.”

He Yu juga mengangguk, tetapi kata-kata “untuk Wei Dongheng” terus berayun maju mundur di depan matanya, setiap baris dan guratan yang membawa familiar itu berkembang.

Biasanya, Wei Dongheng tidak tertarik dengan surat cinta konyol ini, tapi karena surat ini ada di tangan He Yu, dia setidaknya harus melihat sekilas. Pada akhirnya, dia melirik sedikit, dia melihat noda darah di amplop itu.

Wei Dongheng mengerutkan alisnya. “Surat ancaman?”

He Yu tampak sangat acuh tak acuh — bahkan gerakan bibirnya sangat kecil. “… Sepertinya begitu, haruskah aku memberikannya untukmu?”

“Aku tidak tertarik dengan surat cinta, semuanya harus dibuang ke tempat sampah; aku yakin Tuan Muda He dapat memahami keputusanku ini dengan baik. Tapi ini pertama kalinya aku menerima surat ancaman, aku harus menerimanya dan membaca dengan benar.” Tersenyum pada He Yu, Wei Dongheng mengambil surat itu dari tangan He Yu. “Terima kasih.”

Karena kebiasaan, He Yu menjawab dengan lembut, “Tidak masalah.”

Setelah Wei Dongheng pergi, waktu yang sangat lama berlalu sebelum He Yu berhasil menjernihkan pikirannya secara perlahan.

Dia masih tidak berani percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah benar-benar surat pengakuan Xie Xue kepada Wei Dongheng. Melihat ke belakang, dia kebetulan melihat dua gadis yang bertanggung jawab atas kotak surat kapsul menatapnya dan Wei Dongheng dengan penuh semangat. Jadi, He Yu berjalan kembali ke arah mereka.

“Permisi, bolehkah aku bertanya tentang surat berlumuran darah itu ….”

“Oh, unicorn Xie-laoshi yang menulisnya.”

“Ya, itu dia, mungkin karena musim gugur jadi kering, dan hidungnya mulai berdarah saat dia sedang menulis. Akulah yang memberinya tisu.”

“…Oke.” Setelah beberapa saat, He Yu berkata pelan, “Terima kasih.”

Malam itu, He Yu kembali ke kamarnya, dan setelah mandi, dia berbaring di tempat tidur, tidak bisa tidur semalaman.

Xie Xue juga mengenal Wei Dongheng selama ini.

Ketika mereka masih muda, Tuan Muda Keluarga Wei akan datang untuk bermain. Xie Xue juga akan ada di sana, dan mereka akan selalu bekerja sama untuk mengincar Wei Dongheng. Saat itu, dia mengira Xie Xue tidak menyukai bocah arogan ini, yang menganggap dirinya lebih tinggi dari surga.

Tetapi pada saat itu, tidak ada dari mereka yang menyadari: jika kamu benar-benar tidak peduli dengan seseorang, lalu mengapa kamu berusaha keras dan repot-repot untuk menargetkan mereka?

Saat SMA, Xie Xue dan Wei Dongheng bersekolah di sekolah yang sama.

Ketika Xie Xue di tahun kedua, Wei Dongheng di tahun pertama.

Ketika Xie Xue di tahun ketiga, Wei Dongheng di tahun pertama.

Kemudian, ketika Xie Xue lulus, Wei Dongheng masih di tahun pertama.

Pelawak ini benar-benar menggunakan fakta bahwa dia telah dua kali tidak naik kelas, dia berada di kelas sama selama tiga tahun, untuk menjadi legenda di lingkaran mereka, dan bahkan menganggap dirinya yang memegang posisi idola di tahun (kelas) pertama selama tiga tahun berturut-turut, menganggap dirinya cukup mengesankan.

Dia adalah pelanggar aturan abadi — Ketika Xie Xue bertugas di pintu sekolah, Wei Dongheng berjalan acuh tak acuh melewatinya untuk makan barbekyu di luar sekolah untuk makan siang — yang bertentangan dengan aturan. Dia dengan marah memperingatkannya untuk tidak melakukannya hanya untuk mendapati dia (Wei Dongheng) mengabaikannya, dan untuk kelompok penjahat yang mengikutinya berkeliling untuk mengejeknya.

“Wei-ge, apa ini saozi kecil kami? Dia benar-benar sangat ketat denganmu, dia mengambil poin darimu dan mengancammu jika kamu berani keluar! Oh, aku sangat takut, hahahaha.”

“Saozi, kamu tidak hanya sangat pendek, tetapi kamu juga sangat berdada rata.”

“Wei-ge! Gadis kecil ini benar-benar akan menulis di buku catatannya bahwa kamu melanggar peraturan! Kenapa kamu tidak membujuknya?”

Geng preman bersiul dan mencemooh, mengenakan ban lengan tugas merah sekolah, Xie Xue menjadi sangat marah hingga matanya mulai berlinang air mata. Dia berlari ke sosok Wei Dongheng yang angkuh saat dia (Wei Dongheng) berjalan pergi dengan ranselnya tersampir di satu bahu, berdiri berjinjit saat dia (Xie Xue) berteriak dengan marah, “Wei Dongheng! Kamu sampah! Kamu orang yang paling menjengkelkan di alam semesta!!”

Tetapi meskipun dia mengatakan dia adalah orang yang paling menjengkelkan di alam semesta, mengapa dia datang ke Fakultas Seni Rupa Universitas Huzhou untuk menjadi dosen setelah lulus dari universitas?

Dia berada di peringkat teratas di kelasnya dan memiliki nilai yang sangat bagus; dia jelas bisa mencoba untuk mendapatkan pekerjaan di Akademi Drama Yanzhou, di mana bayarannya lebih baik dan departemennya jauh lebih bergengsi. Tetapi saat itu, dia mengatakan kepada He Yu melalui WeChat bahwa dia kurang percaya diri dan dengan demikian memutuskan untuk menerima tawaran di Universitas Huzhou yang agak kurang menantang.

He Yu bukannya tidak percaya saat itu.

Xie Xue selalu menjadi orang yang sangat berani. Selain Xie Qingcheng, dia belum pernah melihat orang yang lebih berani darinya. Mengapa orang seperti ini kurang percaya diri untuk melamar pekerjaan?

Baru sekarang dia akhirnya mengerti bahwa Xie Xue sebenarnya mengejar Wei Dongheng, yang telah diterima di Universitas Huzhou.

Dan dia benar-benar tidak sadar, menolak tawaran dari universitas luar negeri terkemuka hanya untuk mengejarnya.

–Betapa menggelikan.

He Yu berbaring di tempat tidurnya sepanjang waktu.

Dia terus berpikir seperti ini, diam-diam dan mati rasa, sepanjang malam, sampai langit mulai cerah dengan datangnya fajar.

“He Yu, ada kelas di pagi hari, apa kamu sudah bangun? Ayo sarapan.” Teman sekamarnya mendesaknya pergi dari balik tirai.

He Yu setuju dan bangkit.

Tetapi setelah duduk sebentar, dadanya tiba-tiba berkontraksi dengan rasa sakit yang tajam, yang dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya.

“….” Dia menopang dahinya yang agak dingin dengan tangan dan mengambil pil dari meja samping tempat tidur, berkata dengan suara rendah, “Aku tidak enak badan, kamu duluan saja.”

.

He Yu merasa tidak enak badan, tapi malam Xie Qingcheng juga tidak lebih baik.

Pada saat dia sampai di kantor polisi, dia sudah merasa sedikit tidak enak badan.

Dia tidak yakin apakah dia kedinginan di pulau itu atau sesuatu, tetapi Xie Qingcheng terus merasa pusing, yang disertai dengan dengungan samar di telinganya.

Dia menyerahkan buku kecil dengan pesan mencurigakan kepada seorang petugas polisi yang sedang bertugas dan memberi mereka penjelasan tentang apa yang terjadi sebelum berbalik untuk pergi.

Namun, dia hanya berhasil sampai ke tangga sebelum dia tiba-tiba roboh.

“Xie-ge?”

Dia menoleh dengan susah payah, melihat bahwa itu adalah Chen Man, yang sedang membantu rekan kerjanya mengangkut beberapa file.

“Xie-ge.” Saat Chen Man berlari, Xie Qingcheng tiba-tiba diliputi rasa pusing yang hebat; hanya setelah Chen Man meraih pinggangnya, dia bisa menstabilkan dirinya sendiri.

Chen Man memandangnya dengan cemas. “Apa yang salah?”

“Entahlah, tiba-tiba aku merasa sedikit pusing.”

“Wajahmu terlihat sangat merah juga, coba aku lihat. Aiya, kenapa kamu sangat panas?” Dengan tergesa-gesa menopangnya agar tetap tegak, Chen Man berbalik untuk berteriak pada rekan kerjanya, “Um, Xiao-Zhou, bantu aku mengerjakan tugasku sebentar, aku akan membawa seseorang ke rumah sakit!”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Akan ada pembaruan lain di malam hari — Terima kasih dan teater mini akan disimpan untuk malam hari….


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

 

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Ruang olahraga – ruangan atau gedung yang dilengkapi untuk senam, permainan, dan latihan fisik lainnya.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments