Penerjemah : Chu


Mengingat dia hidup dalam masyarakat yang diatur dan terikat oleh hukum, tentunya He Yu tidak bisa melemparkan Xie Qingcheng ke semak-semak untuk menyiksanya demi balas dendam.

Tetapi bagaimanapun juga, tidak ada cara bagi mereka untuk pergi, jadi pada akhirnya keduanya menerima nasib mereka dan kembali ke perkemahan.

Saling menatap, mereka hanya bisa melakukan percakapan kosong.

Dari sini terlihat bahwa mungkin Adam dan Hawa tidak benar-benar saling mencintai. Mungkin itu hanya karena mereka tidak punya pilihan lain. Lagi pula, mereka hampir tidak bisa menghabiskan seluruh waktu mereka berbicara dengan ular di pohon.

Xie Qingcheng berkata, “Iblis kecil.”

Selain Xie Qingcheng, tidak ada orang lain yang pernah menyebut He Yu “Iblis kecil”.

Belum lagi, setiap kali dia memanggilnya seperti itu, biasanya itu berarti bahwa pada saat ini, Xie Qingcheng bermaksud untuk melakukan percakapan yang layak dengannya.

He Yu berbalik. “Mm?”

” … Luka di tanganmu, sudah sembuh?”

“Sudah sembuh.” He Yu tersenyum, “Dokter Xie, untuk apa kamu mengkhawatirkan luka di tanganku? Hari itu di pos polisi, kamu sepertinya setengah tergoda untuk menikamku lagi.”

” … Kamu tahu bahwa aku benar-benar tidak ingin mendengar orang lain membicarakan masa lalu.”

“Lalu apa kamu tahu bahwa aku benar-benar berusaha meminta maaf padamu hari itu?”

“….” Xie Qingcheng mendongak.

Ekspresi He Yu tetap tersenyum, tetapi dia menatapnya dengan mata dingin dan acuh tak acuh, “Begitulah caraku berbicara, Xie Qingcheng. Hari itu, aku tidak kekurangan ketulusan, aku juga tidak seperti yang kamu katakan — berbicara layaknya seorang kapitalis. Sejak aku masih kecil, selalu kamu yang menuntut agar aku mengendalikan emosiku. Mungkinkah sudah terlalu lama sejak kamu meninggalkan pekerjaan sehingga kamu lupa apa yang pernah kamu katakan secara pribadi padaku?”

Beberapa saat hening.

Kemudian, Xie Qingcheng berkata, “Memang benar sudah lama sejak aku meninggalkan pekerjaanku.”

“Sudah empat tahun.”

Xie Qingcheng berkata, “…Aku masih belum sempat bertanya padamu dengan benar. Bagaimana kondisimu?”

“Jauh lebih baik.”

Berbicara demikian, He Yu tersenyum sekali lagi, “Kamu tidak perlu khawatir. Terlepas dari bagaimana aku melihatmu sebagai pribadi, aku selalu sangat menyetujui filosofi medismu. Instruksi yang kamu berikan padaku, aku selalu mengingatnya setiap saat.”

Mendapati ekspresi acuh tak acuh dari pemuda itu, Xie Qingcheng berkata, “Itu bagus. Penyakitmu menuntutmu untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Tidak peduli dokter apa yang kamu miliki, yang paling penting adalah pola pikirmu sendiri.”

He Yu terdiam seolah terpikirkan sesuatu, lalu menundukkan kepalanya dan tersenyum, “Tunggu, kata-katamu ini, kenapa itu terdengar begitu akrab?”

“Ah.” Dia berhenti, rasa dingin memancar dari matanya, “Sekarang aku ingat. Kata-kata ini, kamu mengatakannya padaku sebelumnya. Aku masih ingat, Dokter Xie.”

“Itu adalah hari ketika kamu pergi ….”

Hari ketika Xie Qingcheng berhenti.

Satu hari sebelumnya, setelah He Yu dan Xie Xue selesai membaca di perpustakaan, hujan mulai turun. He Yu telah membuka payung dan mengantar Xie Xue pulang.

“Terima kasih telah mengantarku sejauh ini.”

“Tidak apa.”

“Apa kamu ingin masuk dan duduk sebentar? Meskipun rumahku agak kecil….”

“Apa aku tidak akan mengganggu?”

“Tentu saja tidak. Aku hanya khawatir kamu akan merasa tidak nyaman.” Xie Xue tersenyum sambil menarik tangan He Yu, menuntunnya menuju gang tempat rumahnya berada.

Xie Qingcheng tidak ada di rumah, tetapi Li Ruoqiu ada di rumah.

Duduk di depan meja, wanita itu sedang mengirim pesan kepada seseorang di ponselnya, dengan senyum tak tertahankan di wajahnya. Dia bahkan tidak melihat ke atas ketika adik iparnya masuk ke rumah, hanya berkata sambil lalu, “Xie Xue, kamu kembali.”

He Yu jarang berinteraksi dengan Li Ruoqiu. Saat dia memasuki rumah, dia dengan sangat sopan berkata, “Li-sao, maaf atas gangguannya.”

Li Ruoqiu mulai terkejut mendengar suaranya dan mengangkat kepalanya, “…Ah, tamu yang terhormat, cepat, duduk.”

Dia bangun dengan tergesa-gesa dan berbalik untuk membuatkan teh untuknya.

He Yu tersenyum, “Saozi, tidak perlu terburu-buru seperti ini. Aku baru saja mengantar Xie Xue pulang, jadi aku akan segera pergi.”

“Bagaimana itu bisa diterima? Duduklah, aku akan mengambilkan makanan ringan untuk kalian.”

Dia berbalik dan pergi.

Xie Xue berkata dengan cepat, “Saozi orang yang cukup baik, dan sangat antusias. Jika kamu menolaknya, dia akan benar-benar marah.”

Memang, Li Ruoqiu adalah wanita yang berkemauan keras; He Yu bisa tahu berdasarkan beberapa pertemuan singkat yang dia alami dengannya. Belum lagi, wanita biasa seperti apa yang mau menikah dengan pria dingin dan patriarki seperti Xie Qingcheng?

Dia mengambil tempat duduk… Rumah-rumah tua di gang-gang Huzhou sangat sempit. Yang ini khususnya adalah studio yang telah dipartisi1 dengan tirai. Seorang anak laki-laki sekolah menengah telah mencapai pubertas dan mencapai percepatan pertumbuhannya; dia sudah mengerti baik hal-hal yang seharusnya dan tidak seharusnya dia ketahui.

Ini adalah pertama kalinya dia memasuki wilayah pribadi Xie Qingcheng. Tatapannya berkedip-kedip di seluruh perabotan ruangan, dan berhenti sejenak di ranjang ganda yang setengah tersembunyi di balik tirai kasa, semacam perasaan aneh muncul di hatinya.

Sulit baginya untuk membayangkan Xie Qingcheng dan Li Ruoqiu melakukan hal semacam itu.

He Yu dengan sangat sopan mengalihkan pandangannya.

“Ini tehnya, ini ada makanan ringannya juga, aku tidak tahu apa kamu terbiasa makan hal semacam ini.” Li Ruoqiu mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sambil tersenyum, membawakan sepoci teh panas dan kue-kue kecil; bahkan ada sepiring buah potong di atas nampan. “Cobalah, aku membuat kue ini sendiri.”

“Saozi, kamu benar-benar terlalu repot (berlebihan).”

Li Ruoqiu tertawa dengan tangan menutupi mulutnya, matanya dengan pintar menilai He Yu dan Xie Xue secara bergantian.

Meskipun usia kedua anak ini agak jauh, remaja laki-laki ini tumbuh sangat cepat. Ditambah lagi, He Yu tidak mengenakan seragam sekolahnya hari ini — sebagai gantinya, dia mengenakan kemeja hitam berkerah tinggi bergaya musim gugur, jeans, dan topi baseball. Tingginya yang sudah mendekati 180 cm, sama sekali tidak membuatnya terlihat seperti anak SMP.

Ketika dia duduk di sebelah Xie Xue, yang beberapa tahun lebih tua darinya, tinggi dan penampilan mereka sebenarnya cukup serasi.

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan itu.

Xie Xue: “….”

He Yu: “….”

Li Ruoqiu: “….”

Setelah beberapa menit, tidak dapat menahan diri, Li Ruoqiu tertawa terbahak-bahak, dan melambaikan tangan. “Kalian berdua bisa mengobrol, kalian berdua bisa mengobrol, aku akan mengunjungi Bibi Li sebentar.”

“Ah,” kata Xie Xue, “Saozi—”

Tapi Li Ruoqiu sudah keluar dari ruangan.

Dengan senyum alis bergoyang (seperti gerakan mengangkat alis) yang dia berikan pada mereka sebelum pergi, bahkan seorang idiot pun akan tahu apa yang dia pikirkan. Xie Xue segera merasa sedikit canggung, wajah kecilnya tampak memerah.

“Um, He Yu, maafkan aku, kakak iparku sangat suka menonton drama idola, dan semakin dia menonton, semakin besar kemungkinan dia untuk terlalu memikirkan sesuatu.”

“Tidak apa-apa.” He Yu menunduk dan minum seteguk teh hangat. Kesalahpahaman Li Ruoqiu membuatnya cukup senang, jadi dia tersenyum dan berkata, “Aku tidak keberatan.”

Dia sangat menyukai Xie Xue sejak awal; Li Ruoqiu tidak salah paham sama sekali.

“Oh ya, kakakmu tidak bekerja besok, tapi dia datang ke rumahku untuk mengurus beberapa urusan. Apa kamu ingin ikut dengannya? Setelah dia selesai, aku akan mengajakmu keluar untuk barbekyu.”

Mendengar bahwa akan ada makanan, Xie Xue dengan senang hati setuju.

Namun, malam itu, ketika He Yu tiba di rumah, dia menemukan lampu di ruang tamu menyala. Ketika dia masuk, Lü Zhishu sedang duduk di dalam membaca koran.

He Yu sedikit terkejut.

Lü Zhishu dan He Jiwei jarang ada di rumah. Keluarga He memiliki dua vila permanen, satu di Huzhou dan yang lainnya di Yanzhou, dengan satu di Yanzhou sebagai tempat tinggal utama. He Yu hanya pernah tinggal di sana sebelum dia berusia lima tahun, setelah itu dia dibawa ke Selatan. Adik laki-lakinya tidak sama — adiknya harus belajar, dan terbiasa membuat keributan dengan teman-teman playboynya yang kaya di daerah itu. Dia mengalami serangan jantung setiap kali dia melihat kakak laki-lakinya (He Yu) yang unggul di semua bidang, jadi dia (adik laki-lakinya) hanya tinggal di kediaman utama.

Saudaranya tinggal di seberang Sungai Yangtze, dan ketika orang tua mereka punya waktu, tentu saja mereka lebih bersedia untuk tinggal bersama adik laki-lakinya yang berharga, polos, dan imut. Kecuali ada urusan penting yang harus diurus, mereka sangat jarang datang untuk tinggal bersamanya.

“… Kenapa kalian kembali?”

“Baru saja melakukan perjalanan bisnis.” Lü Zhishu meletakkan koran dan berkata kepada putra sulungnya, “Duduklah, ada sesuatu yang ingin disampaikan padamu.”

Setelah siswa kelas sembilan itu melepas ransel dan sepatunya, dan berjalan ke dalam ruangan, ibunya menatapnya.

He Yu melihat ke arah mereka. “Silahkan.”

Lü Zhishu menuangkan segelas anggur merah untuk dirinya sendiri, menyesapnya, lalu berkata, “Besok adalah hari terakhir Dokter Xie datang untuk merawatmu. Setelah itu, dia tidak akan lagi menjadi dokter pribadi keluarga kita.”

Tidak menyangka akan menjadi seperti ini, He Yu membeku.

Setelah waktu yang lama, dia mendengar dirinya sendiri berkata, tampaknya tenang, “… Kenapa begitu tiba-tiba?”

“Mm. Aku tidak memberitahumu sebelumnya karena aku takut kamu akan membuat keributan jika kamu tahu.”

“… Kenapa?”

Lü Zhishu tidak menjawab pertanyaannya secara langsung, sebaliknya mengatakan, “Kami sudah dalam proses menyelesaikan tagihan medis. Besok, begitu dia datang untuk melapor padaku, dia juga akan mengucapkan selamat tinggal padamu. Adapun setelah itu—”

Dia menyesap anggur lagi. “Kamu harus berhenti berinteraksi dengan keluarga mereka.”

“….”

“Apa kamu mengerti maksudku? Kita bukan anggota kelas yang sama. Ketika Lao Zhao menjemputmu sore ini, dia memberitahuku bahwa kamu bersama saudara perempuannya, mengunjungi rumah Dokter Xie di gang Moyu.” Lü Zhishu menghela nafas, “Sejujurnya, kamu membuatku sangat kecewa. Ibu Mencius pindah tiga kali,2 dalam memilih lingkungan tempat tinggal. Semua orang tua berharap putra mereka dapat dikelilingi oleh teman yang cocok.”

Dia menilai sosok anak laki-laki itu, yang sudah tinggi dan besar, dan mengalihkan pandangannya ke atas untuk mendarat di wajah He Yu, yang sudah sangat tampan.

“Terutama teman wanita.”

Ruang tamu menjadi sunyi untuk waktu yang lama.

Kemudian, He Yu bertanya, “Apa ini niat Dokter Xie?”

“Mengundurkan diri adalah niatnya. Membuatmu menjaga jarak dari keluarga mereka adalah milikku.” Lü Zhishu berbicara dengan jujur ​​saat dia tersenyum dan berjalan ke arah He Yu, mendongak saat dia mengangkat tangannya untuk meratakan kembali pinggiran rambutnya (He Yu).

“Tapi aku rasa Dokter Xie juga mengerti niatku. Dia juga tidak ingin mempertahankan koneksi yang berlebihan setelah pekerjaannya selesai. Dia orang yang sangat rasional; itu salah satu alasan kenapa ayahmu dan aku sangat menghargai dan mempercayainya….”

“….”

“Jika kamu tidak percaya padaku, kamu bisa bertanya padanya sendiri besok.”

…..

Keesokan harinya, Xie Qingcheng datang.

Setelah menandatangani dan menyerahkan surat-surat terakhirnya pada He Yu, dia memeriksa kesehatannya, dan kemudian berkata dengan lembut kepada anak laki-laki yang berbaring di kursi medis, “Ibumu seharusnya sudah memberitahumu.”

He Yu: “….”

“Mulai besok, aku tidak akan bersama keluargamu lagi.”

“Jika nanti kamu merasa tidak enak badan, jangan mengalihkan perhatianmu dengan menyakiti diri sendiri seperti yang kamu lakukan dulu. Selain itu, dokter mana pun yang datang untuk merawatmu nanti, ingatlah bahwa yang terpenting adalah pola pikirmu sendiri.”

Seperti yang diharapkan, ketika dokter muda itu mengucapkan kata-kata ini, dia tidak membawa emosi pribadinya ke dalamnya—

Lü Zhishu benar. Bagi Xie Qingcheng, batas antara He Yu dan dirinya selalu sangat jelas. Keluarga mereka berasal dari dunia yang sama sekali berbeda; He Yu adalah tuan muda dari Keluarga He, putra He Jiwei.

Dan dia hanyalah seorang dokter yang disewa keluarga mereka.

Dan juga bukan hal baik bagi He Yu untuk selalu mengandalkan dokter untuk meringankan penderitaan mentalnya.

Xie Qingcheng sangat tenang karena dia memahami ini dengan sangat jelas.

Dia memberi pasien perawatan, dukungan, dan dorongan mental yang kuat, tetapi ketika mengucapkan selamat tinggal, dia tidak bernostalgia sama sekali. Saat menangani hubungan dokter-pasien, dia selalu melakukannya dengan cara yang jernih dan bersih. Jadi, pada akhirnya, dia hanya berkata, “… Baiklah, Iblis kecil. Semoga kamu cepat sembuh.”

Anak laki-laki yang baru saja mencapai pubertas menekan kemarahan di dalam hatinya, dan menatapnya. “… Kamu tidak punya hal lain yang ingin kamu katakan padaku?”

“….”

Dia menunggu sebentar, tetapi Xie Qingcheng tidak menjawab.

He Yu berkata, “Baiklah. Jika tidak, maka aku akan melakukannya.”

“….”

“Xie Qingcheng, dalam beberapa tahun terakhir ini, aku telah melewati banyak dokter. Mereka menyuruhku minum obat, memberiku suntikan, dan menatapku dengan ekspresi yang mengatakan bahwa aku adalah pasien tunggal dan unik. Kamu satu-satunya yang berbeda.”

“Memang benar bahwa aku sangat tidak menyukaimu, tapi aku telah menangkap setiap kata yang kamu katakan.”

“Karena kamu adalah satu-satunya yang memperlakukanku seperti seseorang yang harus berintegrasi ke dalam masyarakat. Kamu mengatakan padaku bahwa minum obat dan mendapatkan suntikan bukanlah hal yang paling penting, dan yang paling penting adalah membuat hubungan dengan orang lain dan membangun hati yang kuat — itulah satu-satunya cara agar aku bisa terus bertahan.”

He Yu berhenti sebentar. “Dokter Xie, kita tidak terlalu dekat, tapi aku….”

“….”

“Aku….”

Pada titik ini, He Yu mendapati dirinya tidak dapat melanjutkan untuk waktu yang lama. Dia menatap lekat-lekat wajah Xie Qingcheng melalui mata almondnya.

“Aku pikir kamu melihatku sebagai orang normal dengan perasaan, bukan hanya sebagai pasien.”

“Aku melihatmu sebagai orang normal dengan perasaan.”

“Lalu kamu pergi begitu tiba-tiba, begitu saja?” Tubuh anak laki-laki sekolah menengah itu sudah matang, dan ketika dia marah, auranya sebenarnya cukup menakutkan, karena sudah mengeluarkan rasa tekanan yang nyata. “Apa hubungan antara dua orang normal seperti ini?”

Xie Qingcheng terdiam beberapa saat. “He Yu. Aku tahu kamu mungkin menganggap ini tiba-tiba, dan seharusnya aku memberitahumu lebih awal, tetapi orang tuamu dan aku sudah membicarakan masalah ini, terutama ayahmu. Dia tidak hanya bisa dianggap sebagai teman lamaku, tapi dia juga majikanku. Dan selama aku tidak mengkhianati prinsipku sendiri, pertama-tama aku harus menghormati keinginannya.”

“Lalu bagaimana dengan keinginanku?”

Xie Qingcheng berkata, “Aku hanya seorang dokter.”

“Aku juga majikanmu.” He Yu menatapnya. “Kenapa kamu tidak bertanya apa yang aku inginkan?”

“….” Xie Qingcheng menghela nafas. “Kendalikan dirimu, anak muda. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghormatimu, tetapi kamu masih seorang pelajar. Gajiku bukanlah sesuatu yang bisa kamu bayar.”

He Yu tidak tahu apa yang dia pikirkan. Pada saat itu, dia sudah sangat tenang dan tidak bingung, dan bahkan bisa bermanuver3 di sekitar interaksi orang dewasa tanpa kehilangan ketenangannya.

Tetapi ketika dia memikirkan bagaimana Xie Qingcheng dan Xie Xue akan pergi, dia tiba-tiba merasa sangat tidak berdaya dan berkata, “Aku punya banyak uang saku, aku bisa—”

“Simpan untuk membeli kue.”

“….”

Xie Qingcheng berdebat dengannya. “Aku bukan sepotong kue yang bisa kamu beli hanya karena ayahmu tidak akan membelikannya untukmu. Aku datang untuk memperlakukanmu sebagai bantuan untuknya. Tidak mungkin bagiku untuk melawan keinginannya, mengertikah kamu??”

“Kenapa dia ingin kamu pergi?”

“Dia tidak ingin aku pergi,” kata Xie Qingcheng. “Itu pilihanku sendiri. Bukankah kamu baru saja bertanya padaku apa perpisahan seperti ini, akhir dari hubungan kita, adalah hal yang normal di antara orang-orang?”

Xie Qingcheng menatap mata He Yu.

“Itu benar…”

“Meskipun aku melihatmu sebagai orang normal dengan perasaan, hubungan yang kita jalin di antara kita adalah seorang dokter dan pasiennya. Hubungan antara orang-orang harus selalu berakhir; bahkan orang tuamu, orang-orang terdekatmu, tidak bisa menemanimu seumur hidup.”

Xie Qingcheng berhenti. “Sekarang, hubungan dokter-pasien kita akan segera berakhir, jadi aku harus pergi. Ini adalah kesimpulan yang sangat normal untuk hubungan antara orang normal.”

“….”

“Periode kontrak yang ayahmu dan aku sepakati di awal juga tujuh tahun.”

Setelah mengatakan itu, Xie Qingcheng menatap mata He Yu lagi. “Tidak cocok bagi seseorang untuk terus tinggal bersamamu pada tahap penyakitmu ini. Cepat atau lambat, kamu harus bergantung pada dirimu sendiri untuk keluar dari bayang-bayang di hatimu. Apa kamu mengerti?”

“… Jadi kamu sama saja dengan ibuku, dan berpikir bahwa setelah hari ini, seharusnya tidak ada kontak lain antara kamu dan aku, antara Xie Xue dan aku?”

Xie Qingcheng berkata, “Jika kamu membutuhkan bantuan kami, kamu dapat menghubungi kami kapan saja.”

Berhenti, dia berkata. “Adapun untuk selain itu, itu benar-benar tidak perlu.”

“….”

“Juga, ibumu memberitahuku tentang kamu sering pergi bermain dengan Xie Xue sendirian.” Xie Qingcheng berkata, “Sebagai walinya, aku merasa ini agak tidak pantas.”

Di sini, dia menatap bocah lelaki sekolah menengah itu dan berkata, dengan tenang dan bijaksana, “Aku tahu bahwa kalian berdua memiliki perbedaan usia yang besar, bahwa apa yang kamu rasakan untuknya hanyalah rasa ketergantungan, dan tidak ada yang lain. Tapi seiring berjalannya waktu, tidak dapat dihindari bahwa rumor buruk tertentu akan muncul, dan itu tidak akan baik untuk kalian berdua.”

He Yu tidak mengoreksi cara berpikirnya yang terlalu kuno dan terlalu naif, dan hanya berkata, “Jadi, kamu menyetujui metode dari ibuku.”

“Aku setuju.”

He Yu menatapnya untuk waktu yang sangat lama. Kemudian, dia duduk kembali, bersandar ke kursinya dengan dagu di tangannya saat dia tersenyum sedikit. Senyum itu tampak seperti awan yang menutupi matahari, secara menyeluruh dan sepenuhnya menutupi satu inci emosi asli yang tidak dia ungkapkan dengan susah payah.

He Yu tersenyum sambil berkata, “Dokter, kamu benar-benar… sangat tenang. Itu membuatnya tampak seperti kamu tidak memiliki rasa sakit, kamu bahkan lebih tidak berperasaan daripada aku.”

“Baiklah. Karena sudah begini, kamu boleh pergi.”

“Aku akan mengingat apa yang kamu katakan. Aku akan menyelamatkan diriku, menjadi sangat tenang, dan hidup terus dengan menjadi sangat tenang. Selain itu, aku berharap kamu sukses dan lancar dalam karirmu ke depan.”

“Namun—”

Dia mengalihkan fokusnya.

“Meskipun Xie Xue adalah saudara perempuanmu, dia memiliki hak untuk membuat keputusannya sendiri. Jadi tidak peduli apa yang kamu katakan, aku akan tetap mencarinya.”

Xie Qingcheng mengerutkan kening, matanya tumbuh sangat tajam. “Dia perempuan, dan kamu sudah berumur empat belas tahun. Kamu seharusnya memiliki rasa jarak yang tepat. Kenapa kamu bersikeras untuk tetap berpegang padanya?”

“Karena dia tidak sepertimu.”

Seberkas cahaya memotong dengan tegas di lantai, meninggalkan salah satunya dalam cahaya dan yang lainnya dalam kegelapan, seperti dua pecahan yang pecah di tengah. He Yu berkata, “Dia adalah satu-satunya jembatan yang kumiliki ke dunia luar.”

Xie Qingcheng terdiam sebentar. “Kalau begitu kamu harus mencari jembatan lain.”

Waktunya telah tiba; dia memiliki hal-hal lain untuk dilakukan dan tidak bisa terus berbicara dengan He Yu, jadi dia pergi.

Hari itu, He Yu duduk di kursi tanpa menggerakkan otot.

Dari senja hingga larut malam.

He Yu berpikir, Xie Qingcheng sebenarnya adalah orang yang sangat licik.

Xie Qingcheng selalu sangat masuk akal ketika dia berbicara. Dialah yang mengatakan kepadanya bahwa dia berharap dia memperlakukan dirinya sendiri sebagai orang normal; dialah yang memberitahunya, setiap orang bisa keluar dari bayang-bayang di hati mereka sendirian.

Dia bahkan menyebabkan dia mengembangkan khayalan bahwa tidak peduli seberapa dekat He Yu dengan Xie Xue, Xie Qingcheng, sebagai kakak laki-lakinya, akan tetap menerimanya.

Tetapi pada hari itu, dia menyadari dari tindakan Xie Qingcheng bahwa dia terlalu banyak berpikir. Dalam hal hubungan sosial, hubungan antara majikan dan karyawan adalah yang paling sederhana dan paling jelas dari semuanya. Terlepas dari apakah itu telah dipertahankan selama sepuluh tahun atau dua puluh tahun, ketika hubungan ini berakhir, mereka dapat menyelesaikan semua akun (transaksi keuangan) tanpa ikatan emosional sedikit pun, dan tidak ada yang akan berutang apa pun kepada siapa pun.

Seorang dokter pribadi, setelah dibayar untuk jasanya, bisa pergi karena dia tidak punya alasan untuk tinggal.

Dibandingkan dengan dokter lain di masa lalu, Xie Qingcheng sebenarnya tidak terlalu istimewa. Faktanya, dia bahkan lebih kejam daripada para dokter yang melihatnya sebagai spesies yang berbeda, karena dia telah berbohong padanya paling lama dan paling diuntungkan dari darah dan rasa sakitnya. Dialah yang membuatnya secara keliru percaya bahwa hubungan yang dia bangun bisa bertahan lama; dialah yang membuatnya secara keliru percaya bahwa kasih sayangnya kepada Xie Xue adalah sesuatu yang dapat diterima oleh wali orang tuanya.

Tapi dia salah dalam semua hal.

Memikirkan bagian masa lalunya ini, He Yu menatap wajah Xie Qingcheng.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak saat itu. Xie Qingcheng masih kakak laki-laki dari Keluarga Xie. Pada akhirnya tidak ada yang berubah.

Dia masih tidak mau membiarkan Xie Xue sendirian dengannya, masih berjaga-jaga di depan saudara perempuannya dalam posisi perlindungan yang sangat tirani dan seperti diktator — bahkan kata-kata yang dia katakan untuk menegurnya benar-benar identik.

Xie Qingcheng mungkin seorang dokter yang sangat hebat dengan filosofi medis yang layak dipuji, cara berpikir yang benar, dan rasa tanggung jawab yang kuat terhadap pasiennya.

Tapi sayangnya, dia tidak punya hati.

“Apa kamu masih memikirkan apa yang terjadi di masa lalu?”

Suara Xie Qingcheng menariknya keluar dari ingatannya.

He Yu kembali pada dirinya sendiri dan berkata, “… Kamu menyebutkannya, jadi aku mengingatnya. Memikirkannya dengan hati-hati sekarang, kamu mungkin tidak benar-benar mengingat caraku berbicara di masa lalu.”

He Yu akhirnya tersenyum, “Pada akhirnya, hubungan kita berdua hanyalah hubungan dokter-pasien yang sudah berakhir. Benar kan?”

Sebelum Xie Qingcheng bisa menjawab, seberkas cahaya tiba-tiba berkobar di langit. Segera setelah itu, ada ledakan keras saat kembang api bermekaran di langit malam.

Setiap tahun, menjelang akhir acara eksplorasi kampus ini, kembang api yang cemerlang ini akan menjadi epilognya.

Dengan rentetan ledakan, bunga yang tak terhitung jumlahnya meledak di udara.

Xie Qingcheng berkata, “Benar.”

Di tengah gemerlap yang cemerlang ini, dentuman guntur yang teredam tiba-tiba terdengar — itu adalah hujan. Pada akhirnya, kobaran api lembut yang lahir dari kembang api tidak tahan terhadap dinginnya petir yang ganas, sedingin es, dan dengan cepat menyerah dalam kekalahan. Di kejauhan, para mahasiswa terkikik ketika mereka semua melesat ke ruang kuliah atau asrama untuk menghindari hujan, saat tetesan seukuran kacang kedelai jatuh ke dunia yang ramai di bawah.

Di bawah langit yang gelap, He Yu mempertahankan senyum kecil dan ringan di wajahnya saat dia berkata, “Kalau begitu mari kita bersembunyi dari hujan bersama, Dokter Xie. Jika aku menggunakan gaya penalaranmu yang jernih untuk menganalisis ini, selain dari hubungan dokter-pasien kita, kamu juga kakak guruku sekarang. Jika kamu akhirnya basah kuyup dalam hujan, akan sulit bagiku untuk menjelaskan diriku padanya (Xie Xue).”

Dia berhenti sebentar, nada mengejek memasuki suaranya sekali lagi. “Untuk dua orang yang sudah memutuskan hubungan dokter-pasien mereka, bersembunyi dari hujan bersama-sama harus dianggap sebagai perilaku normal yang tidak melanggar batas kepatutan, kan?”

Xie Qingcheng tahu bahwa dia masih menyimpan dendam padanya.

Tetapi Xie Qingcheng tidak memiliki kesabaran atau kemurahan hati untuk membujuknya lagi. Dia berkata dengan dingin, “Benar.”

He Yu tersenyum, “Ada gua di depan. Dibelakangmu.”

Sementara He Yu dan Xie Qingcheng sedang mencari tempat untuk bersembunyi dari hujan di pulau, senior masih berhati-hati mengurus hal-hal setelah dibayar, menjaga pintu masuk dan mencegah peserta lain di seluruh kampus acara dari mendekat.

Senior itu merenung sedikit; semua orang mungkin sudah bersenang-senang, dan mungkin tidak akan ada orang yang sama sekali tidak memiliki hal yang lebih baik untuk dilakukan seperti datang jauh-jauh ke Neverland untuk mendapatkan cap, jadi dia sedikit santai.

“Aiya, hujan ini benar-benar terlalu deras.” Dia duduk sedih di perahu bebek, menatap bodoh ke arah pulau dengan harapan bisa melihat sekilas sesuatu.

Tapi itu terlalu jauh — sebelumnya, dia hanya bisa samar-samar melihat He Yu dan seseorang dengan sosok yang agak tinggi dan ramping, tetapi dia rabun jauh dan tidak bisa melihat mereka terlalu jelas. Dia hanya merasa bahwa wanita cantik ini cukup tinggi, mungkin hampir 180 sentimeter; mungkin dia memakai sepatu hak tinggi?

Senior merasa bahwa menyukai gadis jangkung, Tuan Muda He benar-benar memiliki selera yang unik, terutama yang setinggi ini.

Ah… kehidupan kapitalis benar-benar sesuatu yang harus diirikan.

Saat dia berpikir, godaan muncul di hatinya — dia benar-benar ingin tahu bagaimana kedua orang di pulau itu berinteraksi di bawah hujan sekarang. Mereka berdua tidak membawa payung, dan hanya ada sebuah gua di Neverland; itu adalah titik buta dalam pengawasan kampus dan mahasiswa jarang pergi ke sana. Senior telah mendengar bahwa beberapa pasangan, suka datang ke gua di tengah malam untuk kencan di luar ruangan. Dia menganggap bahwa He Yu, dengan penampilan dan latar belakang keluarganya, dan setelah berusaha keras mengejar kecantikan 180 cm itu, pasti sudah berhasil sekarang.

Haruskah dia mengirim pesan kepada kapitalis dan mengingatkannya untuk menggunakan perlindungan?

Memikirkan hal ini, senior itu mengeluarkan ponselnya.

Melangkah lebih jauh pada malam pengakuan; hanya itu yang cocok untuk kehidupan serba cepat sekarang, kan?

Maka senior mulai menyusun pesannya, berencana untuk mengirimkannya ke ponsel He Yu yang tidak diblokir, berniat untuk menjilat lebih banyak lagi kepada kapitalis–

“He-laoban, ada kotak P3K di dalam gua di pulau itu, ada kotak kondom di kompartemen kedua. Jika kamu membutuhkannya, kamu dapat mencarinya di dalam kotak. Jika ada, ingatlah untuk mengirimiku paket merah.”4


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Perilaku paling bodoh dari seorang pemuda adalah mencoba menggunakan uang saku untuk mempertahankan seorangn pria yang berusaha keras untuk diundang pergi oleh ayahnya….

Perilaku paling bodoh dari wali orang tua adalah ikut campur dalam kebebasan kehidupan cinta anak-anak muda, memaksa anak laki-laki muda menjauh dari anak gadis di keluarga mereka; hasilnya adalah mereka akan berakhir seperti Xie-ge dan dibenci oleh anak muda itu.

Juga, Dokter Xie merawat He Yu dan dibayar tetapi masih belum memilki uang yang banyak, bukan masalah. Di masa depan, alasan utama akan dijelaskan,tapi alasan sekundernya adalah: perumahan di Huzhou sangat mahal = = bertahun-tahun bekerja sebagai dokter masih belum cukup untuk membeli rumah. (Masalah harga perumahan yang benar –benar realistis??? = =)


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Dipartisi : membagi menjadi beberapa bagian.
  2. Mencius, atau Mengzi, adalah seorang filsuf Konfusianisme terkenal yang dianggap penting kedua setelah Konfusius sendiri dalam ideologi Konfusianisme. Menurut legenda, ibunya, yang berusaha menemukan tempat terbaik untuk membesarkan putranya, pertama-tama pindah ke dekat kuburan, di mana Mencius muda mulai meniru ritual para pelayat. Kemudian, dia pindah ke dekat pasar, di mana dia mulai meniru pedagang yang menjual dagangannya. Akhirnya, dia pindah ke dekat sebuah sekolah, di mana Mencius mulai meniru etiket dan studi para cendekiawan. Legenda ini diangkat sebagai contoh kebajikan feminin ibu Mencius dalam membantu putranya untuk memenuhi potensinya sebagai seorang sarjana, dan ungkapan itu menggambarkan kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka.
  3. Hampir semacam beradaptasi.
  4. Hadiah uang yang dikirim melalui WeChat/Alipay.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments