Penerjemah: Chu


Hari berikutnya.

Pusat kesehatan masyarakat Kabupaten Qingli.

He Yu duduk di samping ranjang rumah sakit Xie Qingcheng dengan kepala tertunduk, diam-diam mengupas apel.

Meskipun Yi Awen bukanlah wanita misterius yang dilihatnya malam itu, He Yu dan Xie Qingcheng telah belajar banyak tentang Kabupaten Qingli, selain menyaksikan akhir dari sebuah drama keluarga.

Yi Awen telah dibawa pergi, dan polisi menemukan tubuh Yi Qiang yang sudah membusuk di loteng salon. Yi Lulu saat ini berada di kantor polisi menerima konseling psikologis dan menjalani interogasi.

He Yu tetap berada di sisi Xie Qingcheng sepanjang waktu. Dia sebenarnya tidak tahu cara mengupas apel—hasil kupasannya berantakan, dengan separuh dagingnya berakhir di tong sampah bersama kulitnya. Tapi dia masih menyelesaikan kupasannya dan memotong buah dengan mata merah dan menyerahkannya kepada Xie Qingcheng.

Sekarang, dia tidak lagi menyerupai calon pembunuh yang menakutkan di pegunungan itu.

Meskipun Xie Qingcheng sudah bangun, dia tidak punya banyak energi untuk makan, dia juga tidak mau orang lain memberinya makan (menyuapinya).

“Aku memotongnya menjadi potongan-potongan kecil untukmu….” kata He Yu ragu-ragu.

Xie Qingcheng memiliki satu tangan terhubung ke infus dan tangan lainnya ditutupi perban—bahkan jika apel telah dipotong-potong, dia masih akan kesulitan memakannya. Batuk pelan, dia berkata kepada He Yu, “Aku akan memakannya sendiri.”

He Yu hendak menjawab ketika tiba-tiba dokter memasuki ruangan.

Keberuntungan Xie Qingcheng bahkan bukan E—tetapi itu F1Referensi game gacha yang berasal dari Fate/stay night—Keberuntungan peringkat-E adalah nilai terendah.. Ketika sepeda motor itu terbang ke udara dan terlempar ke tebing, kepala dan tubuhnya terbentur keras. Dia mengalami gegar otak ringan dan batuk darah, belum lagi luka tembak di lengannya. Dia jauh lebih sial daripada He Yu—

“Otot dan tulangmu telah rusak.” Setelah melihat-lihat buku rekam medis, dokter menjelaskan kondisinya kepada mereka. “Bahkan setelah perawatan, lengan ini tidak akan pernah sekuat sebelumnya. Dan kesehatanmu….”

Setelah mendengar ini, Xie Qingcheng tiba-tiba menyela dokter.

“Aku tahu,” kata Xie Qingcheng. “Kamu tidak perlu melanjutkan.”

“……” Dokter meliriknya dengan tatapan rumit di matanya.

“Aku sendiri dulu adalah seorang dokter,” kata Xie Qingcheng.

Dokter itu terdiam sejenak. “Kalau begitu, tolong jaga dirimu sendiri.”

“Ya, terima kasih.”

He Yu tidak mengira percakapan mereka akan berakhir begitu tiba-tiba, tetapi tidak mungkin dia akan membiarkan dokter itu pergi begitu saja. Sebelumnya, dia tidak punya masalah menyampaikan kata-kata kutukan yang tajam dan dingin itu dengan cara yang logis tanpa berkedip. Tapi sekarang, begitu dia mendengar dokter memberi tahu Xie Qingcheng tentang lengannya, dia tiba-tiba berdiri, pikirannya campur aduk ketika kata-kata keluar dari mulutnya tanpa berpikir:

“Apa maksudmu? Apa maksudmu lengannya tidak akan pernah sama seperti sebelumnya? Aku juga pernah tertembak di bagian yang sama dan aku baik-baik saja sekarang, jadi kenapa dia tidak bisa sembuh? Apakah ini masalah dengan kualitas perawatan di sini atau—”

“He Yu.” Suara Xie Qingcheng penuh dengan teguran.

He Yu tiba-tiba berhenti bicara. Dia menggertakkan gigi dan dengan paksa menahan suasana hatinya yang semakin marah, tepi matanya memerah dan dadanya naik turun.

Dokter tidak marah. “Diagnosisnya akan sama meski kamu ke rumah sakit kota. Bahkan jika kamu terluka di area yang sama, lokasi spesifik akan menghasilkan hasil yang berbeda. Ditambah, sejujurnya, dia jauh lebih tua darimu, jadi kemampuannya untuk pulih tidak akan sebaik milikmu. Aku mengerti bagaimana perasaanmu, tapi aku harap kamu bisa tenang.”

“….”

“Jika tidak ada yang lain, aku akan pergi sekarang. Jika kamu memerlukan bantuan apa pun, jangan ragu untuk menekan tombol panggil kapan saja.”

Setelah dokter pergi, tak satupun dari mereka berbicara.

Akhirnya, He Yu mengambil apel lagi dan duduk. Dia mulai mengupas buah, tetapi gerakannya tidak teratur dan gelisah, tidak berdaya dan putus asa.

Akhirnya, dia dengan kesal melemparkan apel itu ke tong sampah.

Itu berdebam keras di bagian bawah.

Dan menjatuhkan sampah ke sisinya.

Xie Qingcheng mengangkat kepala dan meliriknya. “Apa yang kamu lakukan?”

He Yu mengabaikan pertanyaannya. Menatap Xie Qingcheng dengan mata memerah, tampak marah namun penuh dengan kesedihan, dia berkata setelah beberapa saat, “Katakan, Xie Qingcheng, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

“…Itu hanya satu tangan, dan itu tidak seperti tidak akan berguna sama sekali.” Xie Qingcheng tampak sepenuhnya acuh tak acuh. “Mencari kebenaran secepat mungkin lebih penting. Dan—tolong rapikan kembali tong sampahku.”

“Hanya satu tangan?” He Yu tidak peduli tentang tong sampah saat dia mengulangi kata-kata Xie Qingcheng kembali kepadanya, suaranya menjadi aneh.

Pria di ranjang rumah sakit tidak menjawab.

He Yu mencoba menahan diri, tetapi pada akhirnya dia gagal. “…Xie Qingcheng, kamu selalu menyuruhku untuk menghargai diriku sendiri, tapi bagaimana denganmu?” Melompat berdiri, dia berteriak, “Apakah kamu berhasil melakukan itu?”

“Apa saranmu?” Meskipun Xie Qingcheng cukup tidak sehat, auranya yang kuat sangat mengesankan saat dia melihat ke atas.

He Yu sangat marah sehingga dia mulai menyumpahi. “Aku tidak akan pernah berani sialan!”

“Kamu seorang mahasiswa, jangan gunakan bahasa seperti itu di depanku. Lagipula, situasimu tidak sama denganku.”

He Yu tergagap marah, “Ya? Dan bagaimana itu?”

Xie Qingcheng menutup matanya dan tidak segera menjawab. Sepertinya dia ingin memberikan jawaban asal-asalan dan membiarkan topik ini pergi.

Tapi He Yu tidak mengizinkannya.

“Xie Qingcheng, jawab aku!” dia menggerutu. “Bagaimana tepatnya kamu dan aku berbeda?!”

“……”

“Kita berdua manusia, bukan?”

“……”

“Kita berdua pasien Ebola Psikologis, bukan?”

“……”

“Jadi jangan beri aku omong kosong ‘Aku sakit jiwa, hidupku tidak berharga’, karena… karena ketika kamu merendahkan diri sendiri, kamu juga merendahkanku!”

He Yu menjadi semakin bersemangat saat dia berbicara. Dia menatapnya dengan mata merah untuk waktu yang lama sebelum melanjutkan. “Xie Qingcheng … aku mohon padamu… tolong anggap dirimu sendiri serius (berharga)…”

“Tahukah kamu, di belakang sana di pegunungan… jika peluru itu mendarat di jantungmu, bukan di lenganmu, kamu akan mati begitu saja, tepat di depanku. Aku benar-benar….”

Aku benar-benar akan kehilangan kendali.

Membunuh, membantai, memotong-memotong (mayat), bahkan membakarnya—aku bisa melakukannya.

“Aku harap kamu tidak akan menyalahkan diri sendiri untuk ini,” kata Xie Qingcheng dengan sungguh-sungguh. “Kamu datang ke sini bersamaku, jadi aku harus melindungimu.”

“.…”

“Selain itu, jika seseorang dalam bahaya maut tepat di depanku, aku tidak akan pernah diam dan tidak melakukan apa-apa.”

“Tapi kamu akan menukar hidupmu dengan hidupku!” He Yu menangis.

“…Lalu kenapa? Aku adalah penatua, merupakan tugasku untuk menyelamatkanmu. Cukup tentang ini—bagaimanapun juga, aku tidak mati.”

Dengan setiap kalimat yang dia ucapkan kepada Xie Qingcheng, He Yu merasa seperti segenggam garam dituangkan ke dalam hatinya.

Samar-samar dia merasakan bahwa ada sesuatu tentang kepribadian Xie Qingcheng yang bahkan lebih menakutkan daripada dirinya sendiri (He Yu)—seolah-olah dia memperlakukan hidupnya sendiri sebagai objek yang bisa dia hancurkan untuk suatu tujuan atau ditukar dengan sesuatu yang lain, selama dia merasa cocok.

He Yu berkata dengan suara serak, “Kamu benar-benar mengabaikan hidupmu….”

Pada akhirnya, dia masih berhasil mengganggu Xie Qingcheng. Dia menatap He Yu dan berkata, “Tidak. Aku tahu persis apa yang aku lakukan—aku tiga belas tahun lebih tua darimu, dan aku adalah pasien Ebola Psikologis pertama yang dapat mengendalikan gejala emosionalnya dan menaklukkan penyakitnya. Memangnya kamu siapa beraninya memberitahuku bahwa aku mengabaikan hidupku sendiri?”

“—Jadi sekarang lenganku terluka dan tidak akan pernah sekuat sebelumnya—begitulah adanya. Sudah kubilang sejak lama bahwa kita tidak bisa mengubah hal-hal yang sudah terjadi, jadi kita perlu belajar bagaimana menerimanya.”

Dia berbicara dengan sangat tenang, hampir secara mekanis.

“Aku baru saja menerima fakta ini, itu saja. Aku harap kamu akan berhenti membuat asumsi ceroboh tentang perasaanku, He Yu. Kamu masih terlalu muda, dan selain itu, kita berdua hanya memiliki penyakit yang sama—kita tidak menempuh jalan yang sama. Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar memahamiku.”

Setelah mendengar kalimat terakhirnya, wajah He Yu tiba-tiba berubah pucat saat dia terdiam.

Hanya setelah beberapa lama dia dengan sedih berbicara lagi. “…Xie Qingcheng, bisakah kamu tidak berpikir bahwa aku tidak bisa memahamimu?”

“Kamu dan aku… kita berdua unik. Sejak aku mengetahui tentang kebenaran, aku telah mencoba yang terbaik untuk lebih dekat denganmu. Aku ingin mengerti apa yang kamu rasakan, aku ingin tahu bagaimana pemikiranmu….”

“Tapi kamu terus-menerus mengatakan padaku bahwa aku terlalu muda, bahwa aku tidak cukup tenang. Kamu bahkan… kamu bahkan ingin menggunakan peluru di bahumu untuk membayarku kembali.”

“Xie Qingcheng, seberapa besar kamu tidak menginginkanku? Berapa banyak yang kamu inginkan untuk menyelesaikan skor di antara kita?”

He Yu mulai agak tersedak.

“Kamu… kamu tidak ingin berhutang apapun padaku, jadi kamu bersikeras untuk mengambil langkah ini. Dan sekarang kamu mengatakan bahwa aku tidak dapat memahamimu, kamu mengatakan ‘kita tidak berjalan di jalan yang sama’ untuk mengabaikan semua usahaku—bukan begitu?”

Xie Qingcheng tertegun sejenak, tidak mengantisipasi bahwa dia akan memiliki reaksi yang begitu sedih.

“…Bukan itu maksudku… Kenapa kamu membuat keributan besar seperti ini?”

Tanpa diduga, ini memprovokasi He Yu hingga batasnya. Seketika dikuasai oleh emosinya, mustahil baginya untuk menerima kata-kata Xie Qingcheng.

Dia menatapnya dengan mata merah. “Dengar, sekarang kamu telah membayarku kembali sepenuhnya, jadi kamu bisa berbicara denganku seperti ini! Bahkan jika aku benar-benar mengkhawatirkanmu, kamu akan meremehkanku dan mengatakan aku membuat keributan.”

“……”

Xie Qingcheng sudah merasa pusing sejak awal karena gegar otak ringannya. Sekarang, sakit kepalanya hanya bertambah parah.

“Kenapa kamu tidak duduk, kita akan melakukan percakapan yang tepat.”

“Aku tidak mau duduk! Tidak peduli apa, kamu hanya berpikir aku kekanak-kanakan, kamu berpikir kita tidak berjalan di jalan yang sama, dan kamu berpikir aku tidak bisa mengerti kamu—apa gunanya duduk?”

“……” Xie Qingcheng merasa kepalanya akan terbelah. “…Kalau begitu kamu bisa pergi.”

Tepi mata He Yu menjadi merah karena marah. “Tuhkan kamu mengusirku lagi! Sekarang kamu tidak berhutang apapun lagi, jadi aku harus pergi kalau kamu ingin aku pergi. Aku bahkan tidak punya hak untuk tinggal, kan?”

Xie Qingcheng berpikir bahkan wanita paling cerewet yang pernah dia temui tidak bisa dibandingkan dengan tingkah He Yu. “…Lalu apa sebenarnya yang kamu inginkan?”

Marah dan sedih, He Yu hanya memelototinya untuk waktu yang lama sebelum tiba-tiba menundukkan kepalanya dan menguatkan cengkraman tangannya di ranjang rumah sakit. Setelah beberapa saat, dia melihat ke bawah dengan mata berkaca-kaca dan mencium bahu Xie Qingcheng yang diperban.

“Aku tidak tahu …” Suara He Yu telah melunak, diwarnai dengan suara yang serak.

“Aku tidak ingin kamu membayarku kembali.”

“……”

“Tapi… tapi sekarang… kamu sudah membayar ku kembali untuk semuanya.”

“……”

“Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa sekarang… Xie Qingcheng, aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang.”

Dia mencium bahunya, lalu akhirnya leher dan bibirnya, mencengkram seprai Xie Qingcheng di tangannya saat air mata mengalir di pipinya.

Dia tiba-tiba merasa sangat sedih.

“Xie Qingcheng, kenapa kamu harus memperlakukanku seperti ini?”

“……”

“Kenapa kamu tidak bisa sedikit lebih baik padaku? Kenapa kamu tidak mau berhutang apapun padaku….”

Saat dia terus menciumnya, akhirnya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan dan menariknya ke pelukan erat.

“Kenapa kamu tidak bisa melihatku sebagai seseorang yang berbeda dari orang lain?”

Tapi Xie Qingcheng merasa sangat tidak nyaman saat He Yu memeluk dan menciumnya. Dia tidak tahu apa yang He Yu coba lakukan—lagi pula, keterikatan diantara mereka terjadi karena pergantian peristiwa yang tidak terduga, dan sekarang setelah hubungan semacam ini berakhir, mereka hanyalah dua penderita sial dari penyakit yang sama. Dia merasa bahwa ketergantungan He Yu padanya berlebihan, dan keintiman fisik He Yu dengannya seperti kereta pelarian yang tidak bisa dihentikan.

Akhirnya, di antara ciuman, He Yu bertanya dengan sedih, “Xie Qingcheng… bisakah kamu mengakuiku? Bisakah kamu… bisakah kamu memelukku? Sama seperti caraku memelukmu.”

“……”

“Bisakah?”

He Yu terus menunggu, dan menunggu….

Tapi tentu saja, pada akhirnya, dia tidak mendapatkan pelukan dari Xie Qingcheng.

Bocah itu membenamkan wajah mudanya di lekukan leher pria itu. Saat dia menunggu, matanya perlahan tertutup karena kecewa.

….Tidak apa-apa.

Tidak apa-apa—dia sudah tahu akan jadi seperti ini, bukan?

Xie Qingcheng telah membayar kembali semua hutangnya—mengapa dia masih harus memanjakannya? Mengapa dia masih harus menenangkannya dengan pelukan….

Itu baik-baik saja. Dia sudah terbiasa. Sebenarnya, dia bahkan tidak memiliki harapan seperti ini sejak awal.

Selama Xie Qingcheng tidak membuangnya, itu sudah cukup.

Yang bisa didengar di kamar rumah sakit yang sunyi hanyalah bunyi bip samar dari instrumen medis dan suara napas mereka.

He Yu menempel padanya dengan keras kepala untuk waktu yang sangat lama. Xie Qingcheng tidak mengerti mengapa He Yu memintanya untuk memeluknya sekarang, tetapi dia merasakan bahwa keadaan emosi He Yu sangat rapuh dan tidak ingin membuatnya kesal lebih jauh.

Karena itu, dia tidak mendorongnya dan hanya berkata kepadanya setelah beberapa saat, “Kenapa kamu tidak melepaskanku sekarang.”

“Aku tidak mau.”

“…Ini terlalu panas. Lepaskan aku.”

“Tidak. Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi.”

“……”

He Yu benar-benar melakukan apa yang dia katakan, dia tidak melepaskan—rupanya, dia bisa bertahan dalam memberikan pelukan satu sisi untuk waktu yang cukup lama. Dia bahkan memeluknya lebih erat dari sebelumnya, seolah-olah ini bisa menebus upaya yang tidak dilakukan pria lain dalam pelukannya.

“Xie Qingcheng, kamu tidak berhutang padaku lagi,” gumamnya.

“Tapi bukankah aku berhutang padamu?”

“Apa yang harus aku lakukan? Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?”

Xie Qingcheng bisa merasakan detak jantung kuat pemuda itu menekan dadanya. Permintaan yang sungguh-sungguh, bahkan sikap keras kepala itu pada akhirnya membuatnya merasa agak bingung.

Perasaan disorientasi itu membuatnya semakin gelisah. Dia mencoba menggunakan lengannya yang tidak terluka untuk mendorong He Yu menjauh. “He Yu, tidak ada yang bisa dilakukan… Di antara kita berdua, kita telah membuka lembaran baru. Selama kamu tidak mengganggu kehidupan pribadiku, selama kamu tidak menarikku ke dalam lebih banyak omong kosong, aku tidak akan terikat dengan hal-hal dari masa lalu denganmu lagi. Sekarang, lepaskan aku, oke? Kamu sangat berat, dan begitu panas. Kamu seperti….”

Kamu seperti anjing besar.

Anjing besar yang sangat menyebalkan.

“Kamu pikir aku berat….” Rengek He Yu.

Xie Qingcheng: “……”

Persetan. Oke, bisakah dia berhenti bicara?

Meskipun ide ini benar-benar terpikirkan padanya, Xie Qingcheng pada akhirnya tidak bisa menahan lidahnya, karena pemuda itu benar-benar berhasil mengacaukan pikirannya. “Tidak, He Yu—aku masih tidak mengerti apa yang kamu inginkan dariku. Aku tidak berencana untuk menyelesaikan skor lama kita, jadi apa yang membuatmu tidak puas? Aku mengambil peluru untukmu karena terlepas dari apa yang mungkin dipikirkan orang lain, aku sendiri tidak ingin berhutang apapun kepada siapapun. Tidak ada yang lebih dari itu—bukannya aku ingin memutuskan kontak denganmu atau menyingkirkanmu dari hidupku. Saat ini, kamu sangat… kamu laki-laki, tapi kamu selalu menempel seperti perempuan—apa yang kamu coba lakukan?”

Sebenarnya, jika itu adalah seorang gadis di tempat He Yu sekarang, Xie Qingcheng akan segera mengerti bahwa perasaan He Yu terhadapnya disebut “cinta.”

Sayang sekali He Yu adalah laki-laki.

Bukan hanya itu, tetapi dia adalah anak laki-laki yang berbeda dengan Xie Qingcheng, seperti api dengan air. He Yu terus-menerus mengganggunya, menyiksanya, dan bahkan mempermalukannya, sehingga Xie Qingcheng tidak akan pernah berpikir ke arah cinta ketika mempertimbangkan perasaan He Yu. Selain itu, anak laki-laki berusia sekitar dua puluh tahun ini ingin tahu tentang seks, jadi masalah fisik seperti itu secara alami tidak bisa dianggap serius.

Akibatnya, Xie Qingcheng bertanya kepadanya apa yang dia coba lakukan.

Dihadapkan dengan pertanyaan ini, He Yu tidak punya cara untuk memberikan jawaban jujur ​​kepada Xie Qingcheng karena dia tahu apa tanggapan Xie Qingcheng.

Dengan demikian, dia hanya bisa menelan kata-kata “Xie Qingcheng, aku menyukaimu” dan dengan sedih memasukkannya ke dada dan tenggorokannya, membekapnya sampai matanya dipenuhi dengan gairah dan kekecewaan, tidak pernah diucapkan dengan keras.

Akhirnya, dia hanya bisa berkata dengan murung, “Kamu satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar bisa aku ajak bicara dan mengatakan apa yang ada di pikiranku. Jadi aku tidak ingin kamu mati.”

“Xie Qingcheng, bisakah kamu berjanji padaku… bisakah kamu berjanji padaku bahwa di masa depan, kamu tidak akan pernah menyakiti dirimu sendiri untuk orang lain lagi?”

“Bahwa kamu tidak akan pernah mengorbankan dirimu untuk orang lain lagi?”

“Karena… karena hidupmu juga adalah kehidupan.” Dia berhenti sejenak. “Qin Ciyan menukar hidupnya dengan hidupmu. Jadi pikirkanlah… pikirkan itu, oke?”

Xie Qingcheng mendengarkan dengan acuh tak acuh, tetapi ketika dia mendengar kata-kata ini, sedikit getaran menjalari dirinya.

He Yu jelas merasakannya juga. Dia melanjutkan—

“Xie Qingcheng, kamu seharusnya tidak… kamu tidak boleh menyia-nyiakan hidup yang dia berikan padamu.”

“……”

Semua otot di punggung Xie Qingcheng menegang, dan butuh waktu lama sebelum dia bisa perlahan rileks lagi. Kali ini, dia tidak mencoba membantah kata-kata He Yu lagi.

Akhirnya, He Yu melepaskannya. Duduk, dia menatap mata Xie Qingcheng. “Kalau begitu, aku akan menganggap ini sebagai janjimu.”

“……”

Melihat bahwa dia tidak menjawab, He Yu terus berbicara. “Mulai sekarang, kamu tidak bisa melakukan ini pada dirimu sendiri lagi. Xie Qingcheng, kamu adalah Kaisar Pertama, dan juga murid Qin Ciyan. Aku percaya bahwa ada banyak hal yang masih perlu kamu lakukan di bumi ini. Tangan dan anggota tubuhmu, organ vital mu, dan hidupmu sendiri adalah semua hal yang tidak boleh kamu anggap enteng.”

“Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan dirimu untuk siapa pun.” Meskipun He Yu tahu bahwa racun darah tidak berguna untuk melawan Xie Qingcheng, dia masih menggigit bibirnya sendiri dan membungkuk untuk bertukar ciuman berlumuran darah dengan Xie Qingcheng. Dia berkata pelan, “Kamu harus patuh dan dengarkan. Itu perintahku.”

Xie Qingcheng menutup matanya. Setelah ciuman beraroma tembaga itu berakhir, dia mengulurkan tangan dan menepuk pipi He Yu.

Dia berkata sambil menghela nafas, “Iblis kecil, kamu benar-benar delusional2中二病 - kata pinjaman dari chuunibyou Jepang, mengacu pada delusi muluk yang dipendam oleh siswa kelas delapan (tvtropes). Penerjemah ingin mengungkapkan keterkejutan pada Xie Qingcheng yang mengetahui istilah ini—betapa kerennya dia (dia mungkin menggunakannya hanya untuk He Yu awww).”

Meskipun itu hanya kalimat sederhana, jantung He Yu berdebar kencang—dia tiba-tiba menegakkan tubuh dan memalingkan wajahnya agar Xie Qingcheng tidak melihat sorot matanya.

“Apa yang salah?” Xie Qingcheng bertanya.

“…Tidak ada.”

Tidak ada—hanya saja kamu sudah lama tidak memanggilku iblis kecil.


KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments