Penerjemah: Chu


Jika iblis jahat kehilangan belenggu yang diberikan kepadanya oleh dewa, apa yang akan dia lakukan?

Belenggu He Yu adalah Xie Qingcheng—dia adalah kerabat naga iblis yang bisa mengikatnya dan menahan kegilaannya.

Tapi Xie Qingcheng telah tumbang.

Terluka parah dan berlumuran darah, dia jatuh ke pelukan He Yu begitu saja.

Darahnya berubah menjadi cahaya api yang berkelap-kelip yang membuat naga iblis tersesat. Belenggu yang menahan He Yu tiba-tiba hancur, hancur menjadi debu—

Pupil mata He Yu sudah berwarna merah darah.

Dia tidak ingat bagaimana tepatnya dia menjatuhkan Xie Qingcheng.

Dia hanya ingat bahwa Xie Qingcheng sangat berat — tergeletak di lengannya, kehangatannya yang kuat memancar ke dada He Yu yang terluka.

Tetapi pada saat dia membaringkannya di bebatuan, sedikit kehangatan anestesi itu sudah hilang.

Itu hilang…

Hilang!!

Dia dengan dingin berjalan ke arah Yi Awen. Sebelumnya, Yi Awen menyerupai roh pendendam, tetapi di hadapan He Yu sekarang, dia lebih terlihat seperti domba yang tumbuh mendengarkan nyanyian seruling surgawi.

“Apa… apa yang akan kamu lakukan?!” Yi Awen tergagap. “Kamu—“

Seolah-olah sayap naga, taring, dan ekor berduri tiba-tiba muncul dari tubuhnya, dia melemparkan dirinya ke arahnya (Yi Awen) tanpa sepatah kata pun—sebelum dia (Yi Awen) berhasil mengangkat senjatanya lagi, dia (He Yu) telah menjepitnya di bebatuan dengan keganasan yang mengerikan!

Tendon menonjol dari tangan yang menahannya, dia langsung melemparinya dengan pukulan dan tendangan yang ganas! Pupil matanya berkontraksi menjadi titik-titik tinta hitam, mencerminkan wajah Yi Awen yang babak belur saat dia menyiksanya menjadi penderitaan yang tak tertahankan.

Dia (Yi Awen) menjerit dan mengumpat, tak henti-hentinya mencoba melepaskan diri.

Tapi sepertinya dia (He Yu) tidak bisa mendengar apa-apa.

Dia telah kehilangan akal sehatnya.

Darah Xie Qingcheng telah memurnikannya, tubuh dan jiwanya, menjadi roh jahat.

Pada saat itu, yang bisa didengar oleh naga iblis hanyalah kalimat terakhir yang diucapkan kerabatnya kepadanya.

Tampak lega, naga biru itu berkata kepadanya, He Yu, aku telah membayarmu kembali untuk peluru itu.

Sebenarnya, tidak peduli apa yang mungkin dikatakan Xie Qingcheng, di lubuk hatinya yang terdalam, dia masih ingat apa yang telah dilakukan He Yu untuknya…

Itulah sebabnya dia tidak meninggalkan klub saat itu, dan setelah semua absurditas yang mengikutinya, dia menahan diri untuk tidak benar-benar membunuh He Yu. Ketika He Yu mengganggunya berulang-ulang di tengah keterikatan mereka yang tak ada habisnya, dia memilih untuk berhenti berkelahi dan mengorbankan tubuhnya sendiri, dengan mati rasa terikat dengan He Yu daripada menggunakan tindakan ekstrem untuk mengakhiri hubungan patologis ini.

Xie Qingcheng membenci semua aspek perilaku He Yu, tapi mungkin, di alam bawah sadarnya, dia selalu merasa berhutang sesuatu padanya.

Karena hal itu ada hubungannya dengan kematiannya, itu menekan jiwa Xie Qingcheng dengan beban yang mencekik. Selain itu, Xie Qingcheng sudah menjadi seseorang yang sangat tidak mau berutang apa pun kepada siapa pun.

Mungkin selama ini dia mencari kesempatan untuk membayar kembali nyawa yang dia miliki.

Hanya dengan begitu Xie Qingcheng dapat dengan damai dan sepenuhnya memutuskan hubungan dengannya.

Apakah itu sebabnya….

Pasti itu sebabnya.

Mata He Yu tidak terfokus pada Yi Awen lagi—dia (He Yu) tidak bisa melihatnya. Penjahat ini (Yi Awen) bisa menangis, mengutuk atau berteriak sekuat tenaga, tapi bagaimanapun juga, dia (He Yu) tidak bisa mendengarnya.

Darah beterbangan ke udara saat hujan turun.

Di tengah pertarungan sengit mereka, dia merebut pistolnya dan mengambil pisau yang dia (Yi Awen) gunakan untuk menikamnya. Dengan membalik bilahnya, senjata mematikan itu jatuh ke tangannya. Mencengkeram gagangnya, dia tanpa berkedip mengarahkan pedangnya ke telapak tangannya (Yi Awen)!!

“Aahhh!!!!”

Penjahat itu mengeluarkan jeritan yang sepertinya berasal dari neraka itu sendiri.

Darah memercik ke wajah He Yu. Meskipun wajahnya yang berlumuran darah tanpa ekspresi, tapi dia lebih terlihat seperti roh pendendam daripada penampilan Yi Awen sebelumnya.

“Tikaman ini,” katanya dengan nada mengancam, “adalah untukmu yang menginjak tanganku.”

Klik. Mencengkeram Yi Awen dengan satu tangan, dia menggunakan tangan lainnya untuk membuka magasin pistol dan mengeluarkan semua peluru.

Pembunuh ini pasti benar-benar memiliki hati yang kejam sehingga membawa sesuatu seperti ini.

Sekarang, pisau dan pistol adalah miliknya. Dia harus memilih satu untuk mengakhiri hidup wanita yang telah menyakiti Xie Qingcheng—!!

Dia akan membunuhnya…

Membunuhnya!!!

Dia tidak mengambil pistolnya. Setelah membongkarnya, dia melemparkan pistolnya ke lumpur.

Benda itu telah melukai Xie Qingcheng—dia tidak ingin menyentuhnya lagi.

Lebih penting lagi, akan terlalu mudah untuk membunuhnya jika menggunakan pistol.

Tapi dia ingin menyiksanya sampai mati tanpa henti.

He Yu memperhatikan dengan tidak tertarik bahwa perjuangannya (Yi Awen) telah berubah dari sengit menjadi lemah, dari penuh harapan menjadi putus asa.

Dia seperti ngengat yang mengepakkan sayapnya di tangannya.

Dia mengira ngengat itu ingin terbang ke nyala apinya dan memadamkan cahayanya, jadi dia menangkapnya. Setelah memberinya rasa sakit yang menyiksa, dia akan mengakhiri hidupnya, seolah-olah dia telah menghakiminya atas kejahatannya. Tidak masalah jika cairan ngengat terciprat ke mana-mana, menutupi tangannya dengan kotoran.

Dia menekan pisau berlumuran darah itu ke leher Yi Awen.

“Tikaman ini,” katanya lembut, “aku akan mengirimmu ke neraka.”

Matanya bahkan lebih merah dan lebih tajam dari pisau berdarah itu sendiri.

“Sudah berakhir,” geramnya.

Dengan kilatan cahaya dingin!

Pisau itu hendak mengiris tenggorokannya!!

Tapi kemudian—

Tepat pada saat itu, suara serak yang lembut dan ringan menerobos penghalangnya, membubung langsung ke gendang telinganya.

“He Yu.”

He Yu terdiam.

Tiba-tiba, ada jeda singkat di tengah monsun kekacauan yang melanda kepalanya.

“—He Yu!”

Belenggu naga iblis mulai terwujud lagi. Potongan-potongan yang hancur itu berubah menjadi rantai brilian yang menyatu di udara untuk menahan pemuda yang akan melompat ke neraka.

Suara yang memanggil namanya tiba-tiba membangunkan kesadaran He Yu.

Dia memutar kepalanya dengan tiba-tiba.

Pada titik tertentu, Xie Qingcheng telah sadar kembali. Dia bersandar di dinding batu, berlumuran darah dan terbatuk pelan saat dia menekankan tangannya ke lengan kirinya yang terluka.

“He Yu…” Xie Qingcheng terengah-engah. “…Jangan bunuh dia….”

“Dia tidak bisa melawan lagi… Kamu akan berlebihan jika terus menyerangnya. Jangan jadi pembunuh. Jangan seperti dia.”

“……” 

“Kemarilah… Dengarkan aku… Serahkan pada hukum untuk menghukum orang atas kejahatan mereka…”

Xie Qingcheng mengernyitkan alisnya dan terbatuk keras sebelum mengangkat kepalanya, dadanya naik turun dengan setiap napas yang terengah-engah.

“Kamu sudah berlumuran darah.”

“……” 

“He Yu, letakkan pisaunya. Kemarilah.”

“Panggil polisi. Biarkan polisi membawanya pergi. Jangan….” Saat luka Xie Qingcheng terasa sakit lagi, dia mengerutkan alisnya. “Jangan menggunakan tanganmu lagi.”

Saat dia berbaring di genangan darah, mata Yi Awen setelah mendengar kata-kata ini menjadi lebih menakutkan daripada ketika dia menghadapi kematian.

“Jangan… jangan panggil polisi! Aku lebih suka kamu membunuhku sekarang! Jangan panggil polisi!!!”

Dia benar-benar panik.

Terbukti bahwa kemampuannya pada akhirnya jauh di bawah ibunya. Lu Yuzhu telah berhasil memaksa mereka ke dalam kesulitan, tetapi Yi Awen gagal melakukannya.

Seperti senjata mentah yang diperolehnya secara diam-diam, dadanya dipenuhi bubuk mesiu, tetapi pada akhirnya, dia hanyalah seorang penduduk desa yang melanggar hukum.

Jadi, meskipun dia tidak mengatakan apapun dengan keras, Xie Qingcheng tahu bahwa Yi Awen bukan bagian dari organisasi itu—dia tidak ada hubungannya dengan kasus kriminal RN-13 yang mereka selidiki.

“He Yu, cepat… kemarilah,” kata Xie Qingcheng serak.

He Yu tidak bergerak.

Xie Qingcheng ingin melanjutkan, tetapi meskipun dia sudah sadar sekarang, karena dia telah mengalami benturan di bagian belakang kepala dan tulang rusuknya di musim gugur. Sekarang, ketika mencoba berbicara panjang lebar membuatnya terbatuk-batuk begitu keras sehingga dunia menjadi gelap di depan matanya saat dia meludahkan seteguk darah.

“Xie Qingcheng…” He Yu bergumam, perlahan-lahan kembali sadar.

Perintah Xie Qingcheng tidak bisa membuat He Yu patuh, tapi kelemahannya bisa.

Taring berdarah naga jahat akhirnya menarik diri dari leher manusia.

He Yu berlumuran darah, tapi dia masih terhuyung-huyung berdiri dan tersandung menuju ke arah Xie Qingcheng.

Langkah demi langkah.

Pisau tajam terlepas dari tangannya, jatuh ke tanah.

“Xie Qingcheng…!!”

Naga besar itu melipat sayapnya dan mendarat di sebelah Xie Qingcheng. Seolah terbangun dari mimpi, dia dengan cemas membantunya duduk dan menariknya ke pelukan. “Apakah kamu merasa sakit? …Apakah kamu merasa sakit?”

Xie Qingcheng menggelengkan kepalanya, menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, dengan parau dia berkata, “Panggil polisi.”

“Jangan panggil polisi… Kamu tidak bisa memanggil polisi!!”, wanita itu menangis. “Bunuh aku—bunuh saja aku! Jangan panggil polisi….”

Xie Qingcheng berkata, “Yi Awen, kamu membunuh seseorang…!”

“……” 

Dengan mata tajam dan pipi yang berlumuran darah dia melanjutkan. “Orang di dinding di belakang rak buku di loteng itu—itu ayahmu, bukan?”

“……” Cahaya di mata Yi Awen segera berubah. Dipasangkan dengan darah di seluruh wajahnya, penampilannya menjadi lebih menakutkan.

“Dia pantas untuk itu…” gumamnya.

“Kamu tidak akan mengerti!! Dia pantas untuk dibunuh!!!”

Suara guntur menggelegar.

Saat suara guntur bergema di lembah yang terbuka lebar, itu terdengar seperti suara kereta hijau1[1]Kereta api tua, lambat, murah, dan biasanya digunakan oleh pekerja..

—-

Suara guntur itu sepertinya mengirimnya kembali ke lima tahun yang lalu.

Di peron stasiun kereta Kabupaten Qingli.

Bel berbunyi, dan kemudian mesin kereta meraung.

Membawa dua tas jinjing compang-camping, Yi Awen berlari menuju kereta hijau larut malam dari desanya tanpa menoleh ke belakang. 

Matanya menyimpan semua ketidakbahagiaan dan penghinaan terhadap masa lalu, serta kegembiraan dan antisipasinya yang meluap-luap untuk masa depan.

Yi Awen, yang putus sekolah, mengikuti jejak ibu tirinya.

Dia melarikan diri dari desa ini yang seperti tempat daur ulang untuk sampah umat manusia.

Dia pergi ke kota, ke dunia keajaiban yang makmur.

Yi Awen adalah wanita yang sangat rajin. Karena masih muda, pekerja keras, dan berpenampilan menarik, dia tidak khawatir mencari pekerjaan di kota mana pun.

Dia juga tidak khawatir tentang menemukan seorang pria.

Dia bekerja sebagai pramuniaga di pusat perbelanjaan yang menjual sprei dan selimut. Dengan gaji dua ribu yuan per bulan ditambah komisi, dia sering kali bisa mendapatkan sedikit lebih dari tiga ribu tanpa berusaha terlalu keras. Banyak penduduk kota akan menganggap gaji ini sangat kecil, tetapi bagi seorang gadis pekerja seperti Yi Awen yang baru saja melarikan diri dari desa, itu sudah cukup.

Mal menyediakan tempat tinggal dan makanannya, jadi Yi Awen bisa menggunakan tiga ribu ini untuk memenuhi mimpinya sendiri.

Ada sebuah kafe bergaya Amerika di pusat kota, yang sebelumnya hanya pernah dilihat Yi Awen di TV. Secangkir kopi seharga tiga puluh yuan sedikit pahit, tetapi ketika dia menyesapnya di tengah kerumunan anak muda yang mengetik di laptop mereka, dia bisa membayangkan dirinya sebagai pemeran utama wanita dari sebuah drama urban. Tiga puluh yuan bukanlah harga yang terlalu mahal bagi seorang gadis miskin untuk membeli mimpinya.

Di lantai atas gedung pencakar langit, ada restoran sushi ban berjalan yang harganya sedikit lebih dari dua ratus yuan per makanan. Orang-orang yang menghasilkan lebih banyak uang daripada Yi Awen akan memandang rendah tempat semacam ini—mereka lebih suka makan di restoran vegetarian yang tenang dan elegan yang terletak di dalam longtang, di mana mereka dapat menikmati hidangan prix fixe (harga tetap) yang murni dan alami dari sayuran yang bebas polusi, yang lebih dari seribu yuan. Tetapi untuk anak muda seperti Yi Awen yang baru saja menyenangkan diri sendiri, restoran sushi semacam itu memberinya kesempatan untuk melihat ke bawah dari atas gedung ke cahaya terang kota yang sibuk, menyihir mereka untuk menapakkan akar dan mengorbankan tubuh muda mereka ke tanah kebanggaan ini, mendorong mereka untuk terus mendaki dan berjalan ke depan.

Ada juga hotel kelas melati yang terang benderang.

Kurang dari tiga ratus yuan per malam, kalian bisa memiliki kamar yang menyimpan cinta di dalam dindingnya. Tentu saja, Yi Awen iri pada wanita-wanita cantik yang tersenyum yang keluar masuk hotel mewah dengan Jimmy Choo mereka di lengan “pria sukses,” terbungkus bulu tebal dengan bahu halus mereka mengintip di atas pinggang ramping mereka. Ketika dia berjalan melewati pintu masuk hotel-hotel itu, dia pikir bahkan udara yang keluar dari mereka sangat harum.

Meskipun dia tinggal di hotel dan hostel murah, dia merasa puas.

Bukannya dia tidak mendambakan kehidupan mewah, tetapi ketika dia melihat wanita-wanita cantik yang tak tertandingi dengan pria gemuk dan biasa saja, dia merasa bahwa dia lebih baik, karena—

Prianya berprestasi dan tampan.

Memang, segera setelah Yi Awen tiba di kota, dia segera mendapatkan pacar—seorang mahasiswa yang tampan. Pertama kali dia pergi ke salon rambut, dia terlalu malu untuk mengatakan bahwa dia tidak bisa mengeluarkan beberapa ribu yuan untuk kartu keanggotaan ketika penata rambut tanpa lelah mencoba untuk menjualnya. Klien yang duduk di sebelahnya datang untuk menyelamatkannya, dengan tulus mengatakan kepadanya, “kamu tidak perlu membuat rambutmu bergelombang, rambut lurusmu sudah terlihat sangat bagus.”

Dengan demikian, mereka bertukar kontak WeChat dan akhirnya bersama.

Dia adalah penduduk asli kota, seorang mahasiswa jurusan akuntansi di X University. Ibunya berada di manajemen menengah di sebuah perusahaan milik negara, dan ayahnya adalah seorang perwira polisi.

Banyak gadis tidak akan menganggap latar belakangnya sangat mengesankan, dan mereka pasti tidak akan merasa tidak aman atau takut. Tapi Yi Awen berbeda — setelah ciuman pertama mereka, saat dia menatap wajahnya yang cerah dan tampan sambil mengenakan mantel wolnya, rasa malu yang tak tertahankan membengkak.

Dia memikirkan orang tuanya, tempat kelahirannya, semua yang dia alami, dan menangis tersedu-sedu.

Bingung dan kaget, dia bertanya apa yang salah. Apakah teknik ciumannya benar-benar seburuk itu?

Dia (Yi Awen) menyeka air matanya, menarik dirinya sekuat yang dia bisa. Bukan itu, katanya.

Bukan itu—ini hubungan pertamaku. Aku sangat bahagia.

Pada akhirnya, dia masih menyembunyikan identitasnya darinya. Dia tidak berani memberitahunya bahwa dia telah melarikan diri dari desa termiskin dan paling kecanduan judi di Kabupaten Qingli, dengan seorang ayah yang suka berjudi, dan seorang adik perempuan dari ibu lain. Salah satu ibunya melarikan diri ke ujung bumi tanpa niat untuk kembali; yang lainnya adalah penjahat yang dipenjara karena menerima suap.

“Putri Lu Yuzhu! Putri penjahat! Yi Awen, ibu kandungmu ada di balik jeruji besi! Ibu tirimu adalah placur kecil!”2[2]simpanan om-om atau pelakor kalau di indo :v

Bahkan penduduk desa lainnya akan memandang rendah dan menghinanya.

Bagaimana dia bisa memiliki keberanian untuk menjelaskan kisah hidupnya kepada pacarnya?

Jadi, dia berbohong padanya.

Di depannya, dia menggambarkan dirinya sebagai mahasiswi di kampus sebelah Universitas X yang bekerja paruh waktu. Agar kebohongannya lebih bisa dipercaya, dia bahkan melakukan perjalanan ke kampus dan meminta satu set materi kursus kepada lulusan. Ketika mereka pergi berkencan, dia sering memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya agar terlihat seperti baru saja keluar dari kelas.

Dia tidak pernah curiga—hubungan antar mahasiswa seringkali sangat sederhana dan bersih, jadi dia tidak pernah menyelidiki masa lalunya.

Tetapi mahasiswa tidak akan tetap menjadi mahasiswa selamanya.

Pacarnya lulus. Pada hari dia mendapatkan ijazahnya, dia membawanya ke restoran sushi ban berjalan di lantai atas di lingkungan yang tidak murah untuk seorang mahasiswa dan dengan sungguh-sungguh bertanya padanya, Apakah kamu mau ikut pulang bersamaku dan bertemu keluargaku?

Dia terkejut dan senang—dan juga khawatir.

Pada saat itu, dia merasa seperti balon bengkak yang akan melayang ke langit. Tetapi dia juga khawatir bahwa dia akan meledak atau meletus—dengan letupan, semua orang akan mengetahui bahwa dia kosong, tanpa apa pun di dalamnya; maka, semuanya akan berakhir.

Sebenarnya, jika dia berterus terang kepada pacarnya pada saat ini, situasinya mungkin belum melewati titik tidak bisa kembali.

Tapi Yi Awen berkepribadian tidak tegas dan pemalu. Dia mencintainya—dia sangat mencintainya sehingga dia terlalu takut kehilangannya dan tidak berani mengatakan apa-apa.

Pada akhirnya, dia menggunakan tabungan empat bulan untuk membeli pakaian yang terlihat rapi di mal—bagaimanapun juga, dia mengatakan kepada pacarnya bahwa dia berasal dari keluarga sastra dan orang tuanya adalah reporter surat kabar, jadi meskipun mereka tidak terlalu kaya, setidaknya mereka juga bisa dianggap kaya.

Dia berencana untuk terus melanjutkan kebohongannya.

Jadi, dia berusaha untuk berdandan di depan orang tuanya, seperti penjaga toko yang tidak jujur ​​yang membungkus apel yang dimakan cacing dengan kertas warna-warni, mencoba menyembunyikannya di keranjang buah untuk menipu pelanggan yang lalai. 

Pada hari dia bertemu orang tuanya, dia mengenakan gaun midi putih bersih dengan blazer casual dan sepasang sepatu kulit domba yang diimpor dari Spanyol, dengan kuncir kuda yang tinggi dan riasan ringan yang elegan. Dia bahkan membeli satu set perlengkapan mandi impor khusus karena ingin meninggalkan kesan baik pada ibu pacarnya itu.

Orang tuanya membawa mereka ke restoran bergaya Barat terdekat.

Restoran ini benar-benar tempat yang mewah. Sebelum ini, tempat paling mewah yang pernah dia kunjungi adalah rantai restoran steak yang lumayan.

Saat dia menghadapi etiket rumit meja makan dalam keadaan bingung, dia mendongak untuk melihat ibu pacarnya menatapnya dengan termenung.

Jantung Yi Awen berdetak kencang saat firasat samar muncul.

Dia tahu bahwa wanita duniawi ini telah melihat lubang di apel.

Setelah acara makan itu, pacarnya tidak menghubunginya selama beberapa waktu.

Sepertinya dia sudah tahu apa yang sedang terjadi. Meskipun hatinya dipenuhi dengan rasa sakit, dia menolak untuk menjangkaunya, seolah-olah mereka telah mencapai titik saling pengertian.

Sampai suatu hari, ketika dia demam—berbaring di ranjang baja reyot di kamar yang dia tinggali bersama teman sekamarnya, dia mulai menangis saat memikirkan pria itu. Pada akhirnya, dia tidak bisa menahan diri untuk mengiriminya pesan.

“Sayang, maukah kamu mendengarkan jika aku menjelaskan?” dia mengetik.

Kekasihnya tidak membalas.

Dia menekan ponselnya ke dadanya, tetapi sebelum dia tertidur karena kantuk yang tak tertahankan, dia tidak menerima satu pesan pun darinya. Tidak mengherankan, keesokan paginya, masih belum ada pesan baru darinya.

Terkadang perpisahan itu tenang seperti ini, tanpa ada drama jelek, seolah menyelamatkan muka bagi kedua belah pihak.

Tapi dia masih menangis, meratap keras saat dia berbaring di ranjang kamar asramanya. Dia merasa seolah-olah topeng yang dia kenakan dengan sangat hati-hati telah hancur seketika itu juga, memperlihatkan wajah yang masih menjadi milik gadis dari desa miskin itu—putri seorang penjudi dan penjahat biasa.

Kemudian, dia bertemu dengannya di jalan.

Meskipun hampir tidak ada waktu berlalu, dia (mantan Yi Awen) sudah bersama seorang gadis baru. Gadis itu mengenakan syal yang mungkin seharga lebih dari satu tahun tabungan Yi Awen, memperlihatkan mulut penuh gigi putih salju yang rapi saat dia tersenyum. Keanggunan yang lembut, dan keeleganan yang tidak pernah bisa dibuat Yi Awen untuk berpura-pura tergambar di seluruh wajahnya.

Mereka tidak melihatnya, tetapi dia mendengar sedikit percakapan mereka ketika dia lewat saat mereka menghadap ke jendela pajangan dengan membelakangi dia.

Dia mendengarnya berkata, “Aku tahu aku kehilangan kesabaran dengan teller bank sekarang, tapi jangan berpikir aku memiliki prasangka buruk terhadap orang-orang dari pedesaan. Aku benar-benar tertipu sebelumnya — aku memberitahumu apa yang terjadi dengan mantan pacarku. Ayahku meminta seseorang dari stasiun untuk menyelidikinya, ternyata dia berbohong padaku tentang segalanya. Dia adalah seorang pekerja dari desa—ayahnya memiliki hutang lebih dari dua ratus ribu dan ibunya adalah seorang tahanan. Memikirkannya saja sekarang masih membuatku jijik, aku tidak tahu bagaimana seseorang bisa begitu jahat….”

Hari itu, dia benar-benar hancur.

Apakah dia benar-benar jahat?

Dia tahu bahwa apa yang telah dia lakukan tidak diragukan lagi salah, tetapi dia tidak pernah berusaha untuk mendapatkan apapun darinya selain cinta.

Ketika mereka bersama, dia benar-benar lebih banyak menghabiskan uang daripada dia—baik karena dia lebih tua darinya dan sudah menghasilkan uang sendiri, dan karena dia bersungguh-sungguh dan tulus mencintainya.

Karena dia mencintainya terlalu dalam, terlalu khawatir dan tidak aman, dia menjadi bingung — begitu dia mengatakan satu kebohongan, dia tidak punya pilihan selain mengatakan kebohongan yang lebih besar dan lebih besar untuk melengkapi cerita.

Membuat pilihan semacam ini adalah naluri yang telah tertanam dalam dirinya—setiap kali dia dengan jujur ​​memberi tahu orang lain tentang keadaannya yang sebenarnya, mereka akan memberinya kata-kata penghiburan yang kosong atau tanpa malu-malu memandang rendah dirinya. Dia sudah muak dengan tatapan itu saat tumbuh dewasa, sampai-sampai dia benar-benar membenci ibu dan ayahnya.

Mengapa orang lain tidak bisa menilai seseorang hanya berdasarkan siapa dia?

Mengapa mereka selalu perlu memasukkan keluarganya, orang tuanya, akta di lacinya, saldo di rekeningnya?

Yi Awen tidak bisa mengerti.

Selama bertahun-tahun, keluarganya tidak pernah menunjukkan sedikit pun bimbingan atau perhatian biasa padanya.

Dia melihat bagaimana ayahnya yang buruk, kejam, dan pengangguran. Dia tidak dapat mengingat ibu kandungnya, tetapi orang lain selalu mengatakan kepadanya bahwa dia korup, jahat, dan kejam…

Dia adalah anak mereka, jadi kelahirannya pasti merupakan tindakan pembalasan.

Dia tidak pantas mendapatkan masa depan yang cerah.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya


 

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments