Penerjemah: Willow

Editor: Chu


Beberapa hari kemudian, Zhuang Zhiqiang meninggal dunia.

Pria tua itu tidak dapat bersatu kembali dengan putrinya yang telah lama hilang sebelum dia meninggalkan dunia, tetapi setidaknya, dia menerima sedikit kenyamanan, dan teman.

Setelah He Yu dan Xie Qingcheng menyelesaikan urusan Zhuang Zhiqiang, mereka bersiap berangkat ke kampung halamannya.

“Desa Keluarga Zhuang di Kabupaten Qingli.”

Meskipun mereka berdua tahu tentang tempat kelahiran Zhuang Zhiqiang sebelumnya, mereka belum menelitinya secara detail. Sekarang, setelah melihat lebih dekat, mereka berdua merasa agak terkejut mengetahui bahwa Zhuang Zhiqiang sebenarnya dari Kabupaten Qingli.

“Lu Yuzhu dulunya adalah sekretaris di daerah sana,” Xie Qingcheng berkomentar.

“Apakah kamu pikir itu kebetulan?”

Xie Qingcheng menggelengkan kepalanya.

“Menurutku tidak sesederhana itu,” kata He Yu. “Ayo lakukan dengan mengambil langkah demi langkah, tetapi kita harus bergerak lebih cepat. Kita tidak bisa membiarkan ini berakhir seperti yang terjadi pada Sha Hong—kita tidak bisa membiarkan musuh menghancurkan bukti lebih dulu.”

He Yu tidak butuh mengatakan apapun lagi. Setelah keduanya meminta izin cuti, mereka naik pesawat menuju ke tujuan mereka malam itu juga.

Setelah pesawat mendarat dua jam kemudian, mereka menyewa sebuah mobil dan pergi menuju Desa Keluarga Zhuang di Kabupaten Qingli.

Pada waktu mereka sampai di desa, langitnya berkilauan dengan sinar pertama dari fajar. Keduanya menemukan sebuah rumah tamu lokal untuk ditinggali, tetapi ketika memasuki ruangan, He Yu masih menerima kejutan yang mengerikan meskipun telah berupaya untuk mempersiapkan diri secara mental.

Dia belum pernah melihat hotel selusuh itu sebelumnya. Kamar berbau seperti lumut, dan karpet bahkan belum dipasang secara merata. Ubin di lantai itu murah, meja riasnya dimekari jamur, dan cermin ditutupi bercak. Bahkan seprainya tidak bersih—mereka dipenuhi dengan noda cokelat muda yang tampak mencurigakan.

HeYu berbalik untuk pergi dengan koper di belakangnya.

“…Apa yang kamu lakukan,” Xie Qingcheng bertanya.

“Aku tidak sanggup menangani ini.”

“Bertahanlah untuk satu malam.”

“Aku tidak mau.”

“Lalu kamu akan tinggal dimana?”

“Aku lebih suka tidur pada tumpukan jerami di luar daripada tinggal di tempat seperti ini.”

Awalnya, Xie Qingcheng tidak mau repot dengannya—dia terlalu lembut, seperti wanita muda manis yang telah dimanjakan. Namun, setelah dipikir-pikir, He Yu hanya mengikutinya ke daerah terpencil ini untuk melacak petunjuk yang akan membawa mereka ke obat yang diminum Xie Xue.

Jadi, dia lebih baik membiarkannya.

“…Oke, cukup ributnya,” Xie-ge membujuk wanita muda yang manis itu. ”Aku akan memikirkan cara lain.”

Pada akhirnya, Xie Qingcheng menemukan rumah pertanian pedesaan yang tampak relatif bersih dan memberi keluarga itu seribu yuan untuk tinggal selama dua malam. Melihat ketampanan dan perilaku sopan mereka, dipadu dengan uang, keluarga itu dengan senang hati memenuhi permintaan mereka. Meski ruangan yang mereka siapkan tidak terlalu besar dan hanya ada satu tempat tidur, setidaknya bersih dan rapi. Pemilik wanita secara khusus meletakkan dua kasur katun empuk dari lemari, dan kemudian dengan sangat sopan membawa dua cangkir teh ke kamar.

He Yu berdiri di kamar, masih merasa agak tidak nyaman. “Duduklah dan minum tehnya,” kata Xie Qingcheng.

He Yu berjalan mendekat dan mengintip tehnya—airnya tidak jernih dan mengeluarkan bau tanah bahkan setelah diseduh. Dia berjalan pergi lagi, seperti anak kucing bangsawan yang lebih baik mati kehausan daripada minum ini.

Untungnya, Xie Qingcheng telah membawa dua kotak susu Shuhua di dalam kopernya. Dia memberikannya kepada He Yu.

Sembari memelototinya, He Yu mengambilnya. “Hanya ini yang kamu berikan padaku?”

Kesabaran Xie Qingcheng telah habis. “Aku membawanya hanya untukmu. Jika kamu tidak menginginkannya, kembalikan.”

He Yu memutar matanya, dengan enggan mengeluarkan sedotan untuk menyesap sedikit susu olahan yang diremehkannya karena tidak cukup murni.

Setelah menetap dan mengurangi kelelahan mereka dari perjalanan, mereka berdua berangkat lagi untuk menyelidiki kasus Zhao Xue.

Mereka pertama kali pergi ke sekolah menengah1Dalam sistem pendidikan Cina, sekolah dasar adalah enam tahun, sekolah menengah adalah tiga tahun, dan sekolah menengah atas adalah tiga tahun; kelas satu sampai sembilan adalah wajib. tempat Zhao Xue pernah belajar, tetapi sekolah itu sudah ditinggalkan, halamannya ditumbuhi rumput liar. Gerbang besi utama sekolah ditutup, dengan rantai tebal yang berkarat di sekelilingnya tampak seperti kulit meranggas yang ditinggalkan oleh ular.

“Sekolah Menengah Kemanusiaan? Sudah ditutup selama bertahun-tahun sekarang. Pendukung keuangan menarik dana mereka—ada keributan besar pada saat itu karena banyak siswa tidak punya tempat lain untuk belajar.” Setelah mendengar mereka bertanya tentang sekolah, penjual di toko kecil di dekatnya memecahkan kulit kacang selagi dia berbicara kepada mereka. “Benar-benar kerugian yang cukup besar.”

He Yu bertanya, “Apakah kamu tahu siapa kepala sekolahnya, dan di mana mereka sekarang?”

“Kepala sekolah? Pada awalnya, ada seorang kepala sekolah perempuan yang pergi setelah hanya beberapa tahun. Kepala sekolah setelah dia berasal dari kota, tetapi setelah sekolah tutup, dia pergi juga. Dia tidak banyak berbicara dengan orang lain di desa selama dia di sini—dia adalah orang yang berpendidikan, kalian tahu, agak kaku. Kami tidak bisa benar-benar memahami dia. Tapi kalian bisa pergi ke Desa Keluarga Yi di depan dan bertanya-tanya—ada sekolah dasar dan menengah sembilan tahun terintegrasi di sana yang dulunya memiliki kemitraan dengan Sekolah Menengah Kemanusiaan. Ada kemungkinan bahwa orang-orang di sana akan memiliki informasi yang lebih jelas.”

Setelah mendengar kata-kata “Desa Keluarga Yi,” perasaan gelisah yang samar muncul di hati Xie Qingcheng, seolah mengantisipasi sesuatu.

Mengikuti arahan penjaga toko, mereka berdua berjalan satu kilometer ke desa kecil lainnya di Kabupaten Qingli. Di bawah pohon yang menjulang tinggi di pintu masuk desa, beberapa lelaki tua keriput sedang bermain kartu. Suara ubin mahjong yang dikocok dan dadu yang dilemparkan ke dalam cangkir terdengar dari bangunan berlantai dua dengan genteng tanah liat di dekatnya—itu jelas merupakan sebuah kasino bawah tanah.

Dan di sebelah kasino ini, ada sebuah tablet batu dengan tiga kata besar yang diukir di atasnya—

“Desa Keluarga Yi.”

Dari pemandangan ini saja, He Yu dapat dengan mudah mengetahui bahwa desa ini memiliki masalah perjudian. Dia dengan dingin menilai orang-orang tua ini, yang masih bertaruh dengan sangat serius meskipun faktanya mereka sudah setengah terkubur di tanah berpasir. Kemudian, dia kembali ke Xie Qingcheng dan berkata dengan jijik, “Tempat ini benar-benar…”

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, dia melihat wajah Xie Qingcheng.

He Yu berhenti berbicara.

Dia melihat wajah Xie Qingcheng tiba-tiba menjadi sangat pucat.

Menjadi secerdas biasanya, setelah beberapa detik terdiam tercengang, He Yu tiba-tiba menyadari—Desa Keluarga Yi, nama keluarga Yi, daerah terpencil, kecanduan judi, kasino kecil di pintu masuk desa…

Satu nama tiba-tiba muncul dari pikirannya—

“Yi Beihai.”

— —

Di sinilah pembunuh Qin Ciyan tinggal!

Xie Qingcheng telah melihat foto-foto Desa Keluarga Yi di koran sebelumnya. Setelah kematian Qin Ciyan, beberapa jurnalis bergegas untuk memotret rumah tua Yi Beihai. Bahkan sekarang, rumah bata-lumpur itu belum diruntuhkan—pintu depan penuh sarang laba-labanya hanya disegel, tampak benar-benar bobrok.

Xie Qingcheng berjalan ke rumah tua itu, menatap setiap bata dan ubin.

Tepi matanya perlahan memerah.

Sulit untuk mengatakan apakah itu karena kebencian atau sakit hati.

Tepat ketika dia kehilangan dirinya dalam adegan itu, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan tangannya— itu adalah He Yu.

“Kamu—” Xie Qingcheng membentak.

“Ayo pergi—betapa jeleknya gubuk itu, jangan melihatnya lagi. Sungguh sial untuk melihatnya terlalu banyak.”

He Yu menutupi mata Xie Qingcheng dengan tangannya yang lain saat dia berbicara, dengan paksa memalingkan wajahnya dari rumah itu. Dia melanjutkan dengan sikap tanpa perlawanan, “Cepat, ikut aku ke sekolah itu.”

“….”

Sikap He Yu entah bagaimana tampak menghibur dan sama sekali tidak masuk akal.

Xie Qingcheng benar-benar tidak bisa menjelaskan perilakunya—He Yu bertingkah terlalu aneh akhir-akhir ini, selalu berbicara dengannya sangat kasar, seolah-olah Xie Qingcheng berutang lima juta yuan padanya.

Tapi He Yu juga tidak melakukan hal memalukan itu lagi.

“Ayo pergi,” kata He Yu.

Xie Qingcheng terdiam sejenak, menarik pergelangan tangannya dari genggaman He Yu. Dia benci diberitahu apa yang harus dilakukan oleh orang lain, terutama ketika orang yang dimaksud adalah anak laki-laki yang bertahun-tahun lebih muda darinya, tetapi dia tahu bahwa He Yu benar. Jadi, dia hanya meluruskan kancing mansetnya dan menenangkan dirinya sebelum berkata, “Tidak apa-apa. Aku bisa berjalan sendiri.”

Dia ingin dirinya berpaling dari rumah lama Yi Beihai. Memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya dengan ekspresi serius, dia berjalan di depan He Yu.

He Yu memperhatikan siluetnya—

Meskipun ekspresi pria itu tidak enak dilihat ketika dia berbalik, sosoknya tetap tegak, tinggi, dan teguh seperti biasanya, seolah-olah tidak ada yang bisa menghancurkannya selain kematian itu sendiri.

Xie Qingcheng…

Diam-diam melafalkan namanya untuk dirinya sendiri, He Yu menyusulnya.

Mereka berdua tiba di Sekolah Harapan Desa Keluarga Yi.

Ketika Zhao Xue masih menjadi siswa di sekolah ini, itu masih disebut Sekolah Dasar Harapan dari Desa Keluarga Yi. Kemudian, bergabung dengan sekolah lain untuk menjadi sekolah dasar dan menengah terpadu yang terdiri dari siswa kelas satu hingga kelas sembilan, sehingga memperoleh namanya saat ini.

Begitu Xie Qingcheng melihat kepala sekolah yang menyambutnya, dia tahu tidak ada alasan untuk optimis.

Kepala sekolahnya masih sangat muda, mungkin belum genap tiga puluh tahun, dan jelas bukan orang yang sama yang membantu Zhao Xue saat itu. Setelah melakukan percakapan yang sangat sederhana dengan kepala sekolah baru, hati He Yu dan Xie Qingcheng semakin jatuh—kepala sekolah yang pertama telah meninggal bertahun-tahun yang lalu, dan tingkat pergantian guru lain juga sangat tinggi.

Sebagian besar guru yang datang untuk mengajar di daerah pedesaan tidak akan bertahan lama—hanya segelintir yang telah tinggal selama lebih dari lima atau enam tahun, dan dari ini, tidak ada yang pernah bertemu dengan orang yang bertanggung jawab atas Sekolah Menengah Kemanusiaan.

“Apakah ada cara untuk mengakses berkas-berkas lama?” He Yu bertanya.

“Dulu ada perpustakaan arsip di desa, tapi terbakar beberapa tahun yang lalu. Bahan-bahan untuk Sekolah Menengah Kemanusiaan semua berada di sana, jadi tidak ada yang tersisa sekarang…”

—Perpustakaan arsip yang terbakar.

Setelah mendengar ini, He Yu dan Xie Qingcheng menjadi lebih yakin bahwa masalah ini terkait erat dengan kasus Rumah Sakit Jiwa Cheng Kang dan Menara Penyiaran Huzhou. Metode yang digunakan dalam rangkaian kasus ini terlalu mirip, sampai-sampai hampir tidak bisa disebut kebetulan.

Tapi masalahnya sangatlah jelas: lawan mereka tidak meninggalkan jejak apa pun untuk diikuti.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang familiar dengan kasus ini seperti pasir yang tersapu oleh deburan ombak, tidak mungkin untuk dilacak lagi.

Xie Qingcheng dan He Yu pada dasarnya kembali dengan tangan kosong setelah seharian penuh. Saat malam tiba, mereka berdua kembali ke rumah pertanian.

Keluarga itu telah menyiapkan beberapa hidangan bagi mereka. Setelah makan sedikit, Xie Qingcheng kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.

Hanya dari melihat profilnya yang lelah, He Yu dapat mengetahui bahwa ada banyak hal yang membebani hatinya.

Dia berpikir sejenak dan kemudian bertanya kepada wanita yang rumahnya mereka tinggali, “Bibi, apakah ada restoran yang lebih bagus di sekitar sini?”

“Ada satu tempat yang cukup bagus, tapi agak jauh–dibutuhkan lebih dari setengah jam untuk berjalan ke sana.” Wanita itu agak khawatir. “Apakah makan malam tidak sesuai dengan seleramu?”

“Ah, tidak sama sekali. Aku sangat menikmatinya,” He Yu tersenyum. “Hanya saja temanku sedang tidak enak badan—aku tidak ingin mengganggumu, jadi kupikir aku akan keluar dan membelikan lebih banyak makanan untuknya.”

Setelah mengerti, wanita itu bertanya, “Apakah pria itu kakak laki-lakimu?”

“… Bisa dibilang begitu, ya.”

“Kamu sangat baik padanya–lihatlah kalian berdua, penuh kasih sayang persaudaraan.”

He Yu tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Wanita itu sangat ramah, dan suaminya kebetulan sedang melakukan perjalanan ke ladang dan berkata dia bisa membawa He Yu, yang dengan senang hati dia setujui.

Ternyata, pria itu sedang mengemudikan traktor.

He Yu: “ …… ”

Dia tidak bisa terlalu pilih-pilih di daerah terpencil seperti ini—bagaimanapun, mengendarai traktor akan lebih baik daripada berjalan setengah jam sendirian di jalan yang gelap ini di malam hari.

Dengan demikian, He Yu menjadi CEO yang mengendarai traktor–yang menempuh perjalanan panjang dan sulit untuk membeli makanan bagi Dokter Xie-nya.

Untungnya, hidangan restoran itu benar-benar enak. Meskipun tempatnya agak kecil, untungnya itu bersih dan rapi. He Yu memesan beberapa hidangan tumis untuk dibawa pulang, dan kemudian, mengingat bagaimana Xie Qingcheng selalu batuk akhir-akhir ini, dia meminta bos untuk menyiapkan pir rebus dengan gula batu2obat batuk tradisional. Kemudian, dia kembali ke traktor.

Setelah kembali ke kamar, dia melihat Xie Qingcheng sudah tertidur.

Karena hanya ada satu kasur di kamar itu dan Xie Qingcheng jelas tidak ingin tidur dengannya, dia telah menyiapkan tempat tidur untuk dirinya sendiri di lantai.

Suara kedatangan He Yu membangunkannya dari tidur nyenyaknya .

“Kamu pergi kemana?”

He Yu berjalan ke meja dan mengeluarkan wadah take-out satu per satu dari kantong plastik, langsung memenuhi ruangan dengan aroma makanan.

“Aku tidak terlalu suka makan malamnya, jadi aku membeli sesuatu dari restoran terdekat. Mau?”

“…Tidak,” Xie Qingcheng menjawab.

Tangan di mana He Yu memegang sumpitnya berhenti sejenak. Dia berkata dengan agak murung, “Aku memesan terlalu banyak, jadi jika kamu tidak makan, aku harus membuangnya.”

“Bisakah kamu tidak membuang begitu banyak makanan?”

“Kalau begitu bangun dan makanlah denganku.”

Xie Qingcheng tidak punya pilihan selain mengenakan jaket, bangkit, dan duduk di depan meja, batuk sepanjang waktu.

Tetapi ketika dia melihat piring di atas meja, dia sedikit mengernyit, tatapannya beralih ke wajah He Yu.

“Ada apa? Apakah tidak sesuai dengan seleramu?”

“Tidak.”

Bagaimana itu tidak sesuai dengan seleranya? Jelas-jelas, itu terlalu cocok untuk seleranya.

Ayam lada, tahu mapo, sup brisket daging sapi tomat, tumis daun ubi jalar.

Itu hanya tumis kecil ala rumahan, tapi semua ini adalah hidangan yang disukai Xie Qingcheng.

Dan bukan hidangan yang He Yu sukai.

He Yu sangat istimewa—bulu babinya harus dari Sardinia, tiramnya harus dari Irlandia, dan dia bahkan tidak mau makan daging sapi Australia—harus Jepang. Dia tidak makan makanan pedas atau yang membuat mati rasa, dan dia juga tidak suka sayuran.

Tetapi menurut pemahaman Xie Qingcheng tentang He Yu, sepertinya He Yu tidak akan berusaha keras untuk membelikannya makanan tambahan.

Ide ini bertahan sampai He Yu mengambil sebotol pir rebus dengan gula batu dari kantong kertas dan mendorongnya di depan Xie Qingcheng dengan ekspresi canggung.

Xie Qingcheng : “……”

“Apa yang kamu lihat?” He Yu berkata. “Aku takut kamu akan membuatku terjaga sepanjang malam dengan batuk-batukmu.”

Xie Qingcheng adalah orang yang lugas dan tidak suka bertele-tele. Melihat He Yu memang mendapatkan ini khusus untuknya, dia meliriknya dan berkata dengan jujur, “Terima kasih.”

Di sisi lain, niat He Yu tidak begitu murni. Memalingkan kepalanya, dia berkata, “Luangkan waktumu untuk makan, aku akan mandi.”

Hanya dengan melihat kamar kecil rumah pertanian yang sangat kasar membuat He Yu merasa tidak nyaman dan cemas. Setelah menguatkan dirinya melalui mandi cepat, dia segera berpakaian lagi dan kembali ke kamar. Xie Qingcheng sudah membersihkan semuanya dan berdiri di dekat jendela, dengan lemah meminum pir rebus sambil melihat pemandangan mendung di luar.

Selagi He Yu berjalan ke arahnya, ada saat dimana dia sangat ingin melingkarkan lengannya di pinggang rampingnya dari belakang dan mencium tahi lalat merah di tengkuknya dan pembuluh darah kebiruan mengalir di lehernya. Dia ingin menurunkan matanya untuk menjatuhkan ciuman di sepanjang garis rahangnya yang tajam sampai akhirnya menciumnya di bibir tipisnya.

Dia ingin menciumnya, dia ingin memilikinya, sepuluh ribu kali lagi.

Tapi He Yu tahu bahwa dia seharusnya tidak melakukannya.

Dia mencintai Xie Qingcheng, tetapi dia tidak ingin kehilangan rasa kepercayaannya, dan dia benar-benar tidak ingin cinta ini menyakiti Xie Qingcheng lagi. Beban emosional Xie Qingcheng sudah cukup berat, dan He Yu takut jika dia dengan ceroboh menuangkan lebih banyak beban ke dalam tubuh Xie Qingcheng, dia akan runtuh di bawah beban, hancur berantakan sepenuhnya.

Seolah-olah dia merasakan tatapan He Yu, Xie Qingcheng balas menatapnya, terbatuk pelan, memancarkan perpaduan kekuatan dan kerapuhan yang tak dapat dijelaskan. “Sudah larut, kamu harus tidur. Kita akan melanjutkan penyelidikan besok.”

He Yu hampir setuju ketika dia melihat tangan Xie Qingcheng yang lain, bersandar pada bingkai jendela. Tertegun sejenak, wajahnya tiba-tiba jatuh.

—Sulit dipercaya! Xie Qingcheng masih merokok!

Tidak hanya itu—dia merokok sambil minum pir rebus!

Orang-orang muda mungkin pergi clubbing sambil minum teh goji berry, tetapi lelaki tua menopause ini tidak mau kalah—dia bisa minum obat batuk sembari dia mencurahkan energinya bagi industri rokok nasional.

He Yu benar-benar terkejut dan marah dengan kejenakaannya.

Dia berjalan ke jendela dan mengambil rokok itu langsung dari tangan Xie Qingcheng.

“Apa—apa yang kamu hisap?”

“Marlboro.”

“Bukan mereknya! Maksudku—apakah kamu benar-benar merokok?!”

He Yu mematikan rokok di dinding dengan desisan dan melemparkannya ke luar jendela, merasa muak tak terlukiskan dengan Xie Qingcheng. “Kamu bau tembakau. Kamu tidak boleh merokok lagi.”

Xie Qingcheng tidak ingin membuat keributan dengannya, jadi dia mendorong He Yu menjauh. “Baiklah, aku tidak akan merokok lagi. Aku akan tidur.”

“Untuk apa kamu tidur di lantai—ini adalah ranjang ganda.” balas He Yu.

“……” Xie Qingcheng berpikir anak muda zaman sekarang terlalu bebas.

Apakah dia benar-benar perlu bertanya mengapa dia tidur di lantai?

Meskipun dia telah tidur dengan He Yu berkali-kali, tidak satu pun dari pertemuan rahasia3literal: trysts, artian bahasa indonesia: kencan. aku mengubah katanya menjadi makna agar sesuai dengan konteks itu berarti apa-apa baginya—kecuali yang terakhir kali. Saat itu, terlibat dengan He Yu telah memberinya kesenangan yang belum pernah dia ketahui sebelumnya, kesenangan yang nyata dan tulus—dengan kata lain, dia belum pernah mengalami perasaan seperti itu di masa lalu, baik dengan Li Ruoqiu atau saat menyelesaikan sendiri.

Ketika dia memikirkan apa yang telah dia lakukan dengan He Yu malam itu, terutama bagaimana dia mengambil inisiatif sendiri, itu tampak terlalu tidak masuk akal—dan terlalu berbahaya.

Dia hanya merasa bahwa He Yu pasti telah menyihirnya.

Bagaimana lagi hal itu bisa terjadi sampai ke titik ini?

Ketika dia bangun keesokan paginya dan mengisap sebatang rokok setelah berhubungan seks, melihat anak laki-laki itu tidur nyenyak di lekuk lehernya, bel alarm berbunyi di dalam hatinya. Dia tahu bahwa dalam keadaan apa pun dia tidak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi lagi antara dia dan He Yu.

Dan metode pencegahan terbaik adalah dengan mengurangi kontak yang tidak perlu.

Xie Qingcheng memandang He Yu dengan tenang dan serius. “Tidak cocok bagi kita untuk tidur di ranjang yang sama. Adapun alasannya, kamu sudah cukup pintar untuk mengetahuinya.”

He Yu : ” …… “

“Kamu lebih muda, jadi aku akan membiarkanmu tidur di kasur. Sudah waktunya bagiku untuk istirahat. Terima kasih untuk makan malamnya.”

Xie Qingcheng baru saja akan berbaring, tetapi anak muda itu lebih cepat darinya dan mengambil tempat tidur di lantai terlebih dahulu.

“Aku tidak akan berebut ranjang dengan paman,” kata He Yu dengan ekspresi muram. “Sebagai ketua organisasi mahasiswa, aku harus menghormati yang tua dan menghargai yang muda. Silakan ambil tempat tidur—kamu terus bertambah tua, aku tidak ingin kamu melukai punggungmu.”

Melihat betapa keras kepala He Yu bertahan, Xie Qingcheng tidak ingin membuang waktu lagi.

Terutama mengingat beratnya semua yang ada di pikirannya, dia benar-benar tidak punya energi untuk bertengkar dengan He Yu.

Jadi, setelah mengambil selimut lain dari tempat tidur dan memberikannya kepada He Yu, dia menghela nafas dan melepaskan jaketnya, berbaring di tempat tidur ganda yang luas dan kosong.

“Tidurlah, aku matikan lampunya.”

“Oke.”

Namun, dalam keheningan malam, tak satu pun dari mereka tidur.

Ini adalah hal biasa untuk He Yu—seperti anak muda lainnya, dia biasanya tidur larut malam dan memang tidak banyak tidur sejak awal. Adapun Xie Qingcheng, dia memiliki terlalu banyak hal untuk dilakukan dan terlalu banyak pikiran di benaknya, jadi dia berbolak-balik dalam kegelapan, mendesah pelan pada dirinya sendiri, tidak bisa tidur nyenyak.

Meskipun penyakit Xie Xue tidak menimbulkan hambatan besar untuk saat ini, ada kemungkinan kondisinya dapat memburuk kapan saja sementara obat baru tetap tidak diketahui. Karena itu, dia tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.

Dan ada masalah Yi Beihai juga … Ini adalah kampung halaman Yi Beihai, serta kota asal Lu Yuzhu… Fakta bahwa karakter biasa-biasa saja yang menimbulkan gelombang berbahaya seperti itu semua lahir di Kabupaten Qingli yang terpencil ini—mungkinkah itu benar-benar kebetulan?

Kemudian, dia memikirkan Qin Ciyan lagi.

Hati Xie Qingcheng mulai sakit tak terkendali.

Dia menutup matanya, tetapi mustahil untuk tertidur.

Di tengah malam, hujan mulai turun di luar jendela, turun dengan derasnya saat angin bertiup membawa hawa dingin yang lembab ke dalam ruangan.

Selimutnya terlalu tipis, jadi batuk Xie Qingcheng semakin parah sampai dia tidak bisa berhenti sama sekali. Dalam keadaan linglung, dia mendengar gerakan tidak jelas dari belakangnya. Kemudian, sebelum dia bisa bereaksi, dia merasakan kehangatan yang familiar—

He Yu telah naik ke tempat tidur dan memeluknya dari belakang.


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Aku telah menepati janji yang aku buat di catatan penulis ketika aku menulis 2ha… Aku menuliskan tentang CEO yang mengemudikan traktor…

He Yu: Aku tidak pernah berpikir bahwa CEO tolol itu akhirnya adalah aku…


KONTRIBUTOR

Willow
Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments