Penerjemah: Chu


Xie Qingcheng dan He Yu duduk di mobil dalam diam.

Sebelum mereka tiba di penjara, hati mereka penuh dengan harapan.

Tetapi mereka tidak pernah berpikir bahwa hal-hal akan menjadi seperti ini pada akhirnya.

“Sha Hong baru-baru ini menjadi sasaran,” kata He Yu kepada Xie Qingcheng dengan ekspresi muram, tangannya terlipat di kemudi. “Tidak ada hal seperti ini yang pernah terjadi ketika aku datang menemuinya sebelumnya. Seseorang pasti mengikutiku….”

Xie Qingcheng bersandar di kursi penumpang, menyaksikan pemandangan malam hari di luar.
Sepertinya kegelapan tidak akan pernah terangkat.

“Aku tahu ada peluang bagus jika mereka mengikutiku, jadi aku sangat berhati-hati dan bahkan mengatakan aku mengunjungi Sha Hong untuk wawancara penulisan skenario. Aku terus mendesak sipir untuk memajukan waktu kunjungan keduaku, tapi….”

“Tidak ada gunanya,” kata Xie Qingcheng. “Mereka hanya perlu melihat sekali masa lalu Sha Hong untuk mengetahui bahwa dia adalah ikan yang lolos dari jaring mereka. Kamu terlalu menonjol dalam insiden menara penyiaran, jadi kamu pasti akan diawasi dengan ketat. Aku pikir kamu seharusnya memberi tahuku tentang ini sebelumnya.”

He Yu membentak dengan kesal, “Tapi aku tidak ingin menarikmu ke dalam ini sejak awal.”

Hendak mengambil sebatang rokok, tangan Xie Qingcheng terhenti di udara. Untuk beberapa alasan, dia memandang He Yu.

He Yu tahu bahwa lidahnya terpeleset. Dia terbatuk dan kemudian berkata dengan ekspresi muram, “Kupikir kamu akan menahanku—dan bisakah kamu berhenti merokok?”

Xie Qingcheng mengintip ke dalam kotak, melihat bahwa hanya ada satu batang rokok yang tersisa, dan memutuskan untuk melepaskannya.

Dia memasukkan kotak itu kembali ke sakunya, menggosok dahinya dengan tangannya, dan menghela nafas lelah alih-alih membalas.

He Yu bertanya, “Bagaimana kabar Xie Xue akhir-akhir ini?”

“Demamnya tidak teratur – kadang turun dan naik, tetapi tidak pernah berhenti lama,” Xie Qingcheng menutup matanya dan menyandarkan kepalanya ke belakang, menghela nafas, “Tidak ada masalah serius saat ini, tetapi akan merepotkan jika terus seperti ini….”

Dia terdiam sejenak, mencuri pandang ke arah He Yu di balik bulu matanya yang panjang dan terkulai. “…Aku pikir kamu tidak begitu peduli dengan Xie Xue. Aku pikir setelah kamu bertengkar dengannya, kamu tidak ingin berinteraksi dengannya lagi.”

Sejujurnya, He Yu tidak berniat untuk berinteraksi banyak dengan Xie Xue lagi, tetapi pada akhirnya, dia masih seorang teman lama dan, yang lebih penting, dia adalah adik perempuan Xie Qingcheng. Bahkan jika ini tidak ada hubungannya dengan RN-13, dia tidak akan mengabaikannya begitu saja.

Jadi setelah diam, dia berkata, “Itu normal untuk peduli padanya karena kami sudah saling kenal selama bertahun-tahun.”

Xie Qingcheng meliriknya.

Sorot matanya menunjukkan sentuhan kejutan.

He Yu tidak memperhatikan tatapannya. Untuk meringankan suasana yang tiba-tiba suram, dia mengusap layar dasbor untuk menyetel musik.

Tapi dia tidak mengantisipasi bahwa lagu pertama adalah lagu yang dia mainkan berulang-ulang baru-baru ini—“My Heart Will Go On.”

“Every night in my dreams i see you, i feel u…”

Lagu ini langsung membawa mereka kembali ke dalam studio film yang kebanjiran dan menusuk tulang, dan suasana tiba-tiba menjadi sangat aneh.

Saat dia mendengarkan lagu itu, pikiran He Yu teralihkan dan berhenti memikirkan masalah Sha Hong yang membuatnya cemas.

Saat musik dimainkan, Xie Qingcheng terdiam beberapa saat sebelum dia berkata, “Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi dengan Sha Hong. Terkadang hal-hal di luar kendali kita.”

“Adapun Xie Xue, sepertinya dia masih sangat penting bagimu. Terima kasih telah berkomitmen untuk membantunya.”

He Yu: “……”

Nada bicara pria itu agak menghangat ketika dia mencoba menghiburnya, “Dia ada di rumah sakit yang sangat andal, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang dia untuk saat ini.”

“……”

He Yu mendengarkan kata-kata penghiburannya tanpa mengatakan apa-apa, tetapi di dalam hatinya, dia merasa sengsara.

Dia bertanya-tanya—mengapa Xie Qingcheng tidak bisa memahami hatinya?

Mengapa Xie Qingcheng tidak bisa mengerti bahwa semua yang telah dia lakukan dan keengganannya untuk melepaskan Xie Xue bukan karena Xie Xue sendiri—itu karena kakaknya….

My heart will go on, my heart will go on.

Pikirannya kacau, dia tiba-tiba ingin menoleh ke Xie Qingcheng dan menciumnya, untuk menceritakan segalanya padanya.

Sama seperti Jack, seperti Heart of the Ocean1Kalung di titanic., hatinya ditakdirkan untuk tenggelam.

Saat dorongan itu muncul lagi di dalam dirinya, dia menendang bagian dalam kokpit dan mengumpat pelan.

Sejujurnya, yang sebenarnya diinginkan He Yu adalah menjepit Xie Qingcheng di kursi penumpang, melepas pakaiannya, dan mulai bercinta dengannya di dalam mobil. Tetapi pada akhirnya, dia dengan kesal meraih segenggam poni dan memalingkan wajahnya yang pucat.

Untuk meringankan kesuraman di hatinya, dia memutuskan untuk membuka jendela.

Cuaca awal musim semi masih berubah-ubah, bergantian antara panas dan dingin, dan udara malam yang masuk sangat dingin.

Tidak mengerti seperti apa suasana hati He Yu karena lagu itu, Xie Qingcheng mengulurkan tangan untuk menutup jendela.

Ini hanya membuat He Yu semakin kesal. “Apa yang kamu lakukan?”

“Menutup jendela.”

“Tapi aku baru saja membukanya.”

“Apakah kamu tidak merasa kedinginan?”

“……” He Yu begitu terhina dan kepanasan sehingga dia bisa mati, dan pelakunya adalah pria yang saat ini berada di atasnya, ingin menutup jendela.

Dia tidak punya pilihan selain bersandar sejauh mungkin agar Xie Qingcheng tidak menyentuh dadanya. Xie Qingcheng jelas berusaha menghindarinya, tetapi ruang di dalam mobil dibatasi sedemikian rupa sehingga jarak di antara mereka praktis menghilang.

He Yu memelototi pria ini, keinginannya yang haus darah dan dorongan brutalnya berulang kali muncul.

Dia diam-diam mengepalkan tangannya, kukunya menancap di telapak tangannya begitu keras hingga hampir mengeluarkan darah.

Jika dia tidak melakukan ini, dia mungkin akan tiba-tiba berubah pikiran, membuang ketenangannya dan merobek penyamarannya untuk menjepit Xie Qingcheng dengan kasar. Lagipula, pria itu sudah duduk di kursi pengemudi—sepertinya tidak ada yang salah dengan hanya menekannya.

Ketika dia akhirnya tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, dia mendorong Xie Qingcheng menjauh, melontarkan tatapan tajam dan menghina ke arahnya. “Jika kamu kedinginan, tidak bisakah kamu mengenakan beberapa pakaian lagi? Aku baru dua puluh tahun, aku hanya merasa terlalu panas!”

Xie Qingcheng tidak tahu apa yang salah dengannya — mengapa dia tiba-tiba kehilangan kesabaran setelah semuanya baik-baik saja?

Tapi terlalu banyak hal yang terjadi malam ini.

Dia tidak ingin bertengkar dengannya, dia juga tidak punya energi.

Pria itu hanya menatap anak itu dengan tenang untuk beberapa saat sebelum dia berkata, “…Lupakan saja. Jika tidak ada yang lain, aku akan turun dari mobil.”

“Mau kemana?”

“Menelepon taksi untuk pulang.”

Ini membuat He Yu sangat marah sehingga dia benar-benar hampir menangis.

“Pergi … pergi! Silakan pergi dan panggil taksi! Maaf telah membuang-buang waktumu hari ini, perlukah aku mengganti ongkosnya?” Dia benar-benar merogoh kompartemen penyimpanan saat dia berbicara, menyerahkan setumpuk uang kertas lima dan sepuluh yuan—mungkin uang receh yang ditinggalkan sopirnya.

Dia menyerahkan semua uang ke tangan Xie Qingcheng dan mengamuk, “Pergi, keluar dari mobilku sekarang.”

“Bisakah kamu tenang?” Xie Qingcheng bertanya.

“Aku tidak bisa!” He Yu membalas.

Xie Qingcheng tidak ingin berkelahi dengannya, jadi dia memasukkan uang itu kembali ke kompartemen dan mencoba keluar dari mobil.

Tapi ternyata He Yu telah mengunci pintu samping penumpang bahkan saat dia menyuruhnya keluar.

“……” Xie Qingcheng benar-benar harus menyerah padanya. Berbalik, dia bertanya, “Apa yang kamu coba lakukan?”

He Yu membuka mulutnya, dadanya naik-turun—dia jelas sangat marah, tapi dia tidak tahu bagaimana dia harus melampiaskan emosinya. Setelah dia bersumpah untuk tidak mengganggu Xie Qingcheng lagi, sepertinya dia tidak lagi punya alasan untuk menentangnya. Ketika Xie Qingcheng bertanya kepadanya apa yang sebenarnya dia pikirkan, hal pertama yang muncul di benaknya adalah dia ingin menciumnya.

Tapi dia tidak diizinkan.

Jadi naga jahat itu melolong sedih, tidak tahu bagaimana menghadapi harta karun yang begitu berharga baginya ini, namun juga membakarnya dengan sangat menyakitkan.

Akhirnya, He Yu membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia memelototi Xie Qingcheng dengan ganas dan keras kepala melalui jendela dengan mata memerah, seolah ingin menunjukkan betapa tangguhnya dia.

Tetapi pada akhirnya, dia berkata dengan semua “kekerasan” yang bisa dia kerahkan, “Aku sudah muak denganmu, hanya melihatmu membuatku kesal. Pergi saja dengan mobil itu, aku akan memanggil taksi untuk diriku sendiri! Tentunya kamu tidak memiliki masalah dengan itu kan?”

Xie Qingcheng: “……”

Pada saat dia sadar kembali, He Yu sudah pergi.

Tetapi dalam proses pergi, bocah ini benar-benar mengambil batu dari tanah dan berbalik untuk melemparkannya ke mobil seolah-olah melepaskan uap — untungnya dia hanya menggores sedikit cat dari mobil enam juta yuan miliknya.

Tentu saja, Xie Qingcheng tidak akan membawa pulang mobil enam juta yuan milik He Yu. Jika dia menggores atau merusaknya dan tidak mampu menanggung kerugiannya, bukankah dia akan membiarkan He Yu mengacaukannya?

Jadi dia juga turun dari mobil.

Setelah melihat Xie Qingcheng keluar, He Yu meraung ke arahnya saat dia berdiri di angin malam yang dingin, “Untuk apa kamu keluar dari mobil!”

“Aku sudah bilang aku akan pulang naik taksi.”

He Yu berdiri terpaku di tempat, menggertakkan giginya dan merengut sampai matanya memerah. Pada akhirnya, dia dengan marah bergegas ke Xie Qingcheng dan melemparkan mantelnya ke atas kepalanya.

“Baik! Baik! Ambil ini! Cepat dan pergi! Aku tidak tahan melihatmu!”

Xie Qingcheng merasa bahwa orang ini benar-benar tidak masuk akal. Apa yang dia inginkan? Suatu kali, dia berbicara dengan cara yang sangat sopan; berikutnya, dia tiba-tiba meraih batu dan melemparkannya ke arahnya, hanya untuk meninggalkan mobil untuknya juga.

Terkadang, dia mencoba memanfaatkan kelemahannya; berikutnya, dia meminjamkan mantelnya.

“Apakah kamu tidak takut aku akan menjual mantelmu?”

“Kalau begitu—jual saja!” He Yu bermaksud mengatakan ini dengan nada yang sangat tinggi, tetapi kemudian embusan angin awal musim semi yang dingin bertiup, membuatnya bergidik dan terbata-bata karena itu mengeringkan warna dari bibirnya dalam sekejap.

Menggigil, He Yu berkata dengan putus asa, “Jual saja! Itu tidak seperti kamu be-belum pernah menjual barang-barangku sebelumnya….”

Xie Qingcheng menatap pemuda yang gemetar di depannya. Meskipun dia pikir bocah itu tidak masuk akal, dia juga menganggapnya sedikit lucu dan menyedihkan.

Pasti orang ini adalah orang gila.

…Lagi pula, dia benar -benar orang gila.

Xie Qingcheng mengambil mantel yang masih memancarkan kehangatan He Yu dan melemparkannya kembali ke anak itu.

“Pakailah! Jangan sakit, lalu menggangguku dengan meneleponku.”

“Kalo aku telpon kamu, kamu angkat gak?”

Xie Qingcheng mengabaikannya — dia merasa ini mungkin tidak akan pernah berakhir jika dia merespon.

Ada terlalu banyak kekhawatiran yang membebani pikirannya saat ini sehingga dia tidak bisa membuang begitu banyak waktu untuk bertengkar tentang mantel dengan He Yu.

Setelah mengembalikan mantelnya, dia berbalik dan pergi.

He Yu memanggilnya, “Xie Qingcheng! Aku bertanya padamu! Kali ini, apakah kamu akan mengangkatnya ketika aku meneleponmu!”

“Xie Qingcheng!”

Xie Qingcheng menutup telinga terhadap auman naga jahat. Malam yang dingin telah membekukannya setengah mati, dan dia baru saja akan melambaikan tangan untuk menghentikan taksi kosong di kejauhan ketika dia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki di belakangnya.

Dia berbalik hanya untuk menabrak wajah He Yu karena jarak yang terlalu dekat.

Kemudian, He Yu meraihnya di sekitar pinggangnya dan menariknya kembali ke dalam mobil.

“…Bajingan. Lepaskan aku!” Xie Qingcheng berteriak.

Kali ini, He Yu terlalu marah hingga dia tidak bisa mendengarnya lagi.

Kekuatan dan keterampilan Xie Qingcheng awalnya cukup untuk menghadapi He Yu, tetapi saat ini, kondisi fisiknya telah memburuk sampai-sampai dia tidak lagi cocok untuk seorang pemuda di puncak kebugarannya.

He Yu dengan paksa memasukkannya kembali ke dalam mobil, membanting pintu hingga tertutup, dan masuk ke kursi pengemudi dengan ekspresi muram.

Xie Qingcheng sangat marah hingga kepalanya mulai sakit.

Dia sudah cemas dari kematian mendadak Sha Hong, dan sekarang, kejahatan He Yu membuat pembuluh darah di pelipisnya berdenyut lebih keras.

Adapun He Yu, ketidakpedulian Xie Qingcheng telah membuatnya menderita. Dengan emosinya menjadi liar dan telinganya berdengung, dia menginjak gas dan meluncur ke depan.

Dia sebenarnya bahkan tidak tahu kemana dia ingin membawa Xie Qingcheng. Bertindak berdasarkan insting, dia memarkir mobil di depan hotel murah dan menyeret Xie Qingcheng ke dalam dengan ekspresi dingin.

Resepsionis yang mengantuk. “…Hah? Hei! Hei! Apa yang sedang kamu lakukan!”

He Yu melemparkan KTP dan dompetnya di depan karyawan dan berkata dengan kasar, “Berikan aku kamar.”

Xie Qingcheng tersentak dari cengkeraman He Yu. “Apakah kamu gila!”

He Yu tidak menjawab, hanya menatapnya dengan mata merah sebelum mengalihkan pandangannya yang menakutkan ke resepsionis. “Kamar dengan tempat tidur ganda.”

Resepsionis telah melihat pria gay yang tidak sabar sebelumnya, tetapi tidak pernah sampai tingkat ini. Saat dia melihat ekspresi yang tidak sedap dipandang dari pria yang berdiri di sebelah anak muda yang tampan ini, dia bertanya-tanya — mungkinkah ini serangan seksual? Apakah dia perlu memanggil polisi?

“Cepat!”

Resepsionis itu tergagap, “K-K-KTPmu, dan kami juga perlu melihat KTP pria lain….”

He Yu menjawab, “Tidak perlu mendaftarkan namanya. Aku tinggal sendiri, dia tamu.”

Resepsionis: “……”

Tapi sorot mata Tuan Muda He terlalu kejam, dan resepsionisnya bukanlah orang yang berani, jadi pada akhirnya, dia masih memeriksa He Yu dan menyerahkan kartu kuncinya.

He Yu menarik Xie Qingcheng menuju kamar.

Pintu terbuka dengan bunyi bip. He Yu mendorong Xie Qingcheng ke dalam ruangan gelap tanpa menyalakan lampu, mengunci pintunya dengan bunyi klik yang tajam.

Sekarang, mereka berdua sendirian di sini.

Di pintu masuk yang redup, He Yu menatap wajah Xie Qingcheng dari dekat.

Dia belum pernah tinggal di hotel kecil yang murah dan kotor seperti ini sebelumnya. Sebenarnya, dia bahkan tidak tahu mengapa dia berhenti di tempat yang buruk saat dia melaju di jalan.

Dia bahkan tidak tahu apa yang dia rencanakan setelah dia menyeret Xie Qingcheng ke sini.

Menurut pemikiran orang normal, apa lagi yang bisa dilakukan setelah mendapatkan kamar? Mungkin juga melakukan apa yang perlu dia lakukan.

Di lubuk hatinya, inilah yang dirindukan He Yu.

Dia sangat merindukan versi Xie Qingcheng dari Malam Tahun Baru untuk kembali, bersama dengan kekerasan dan semangat yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya. Xie Qingcheng tampaknya memiliki semua inisiatif, namun Xie Qingcheng sendiri adalah milik He Yu sepenuhnya.

Bagaimana dia bisa tahu bahwa ini akan menjadi makanan terakhirnya.

He Yu memeluk Xie Qingcheng di pinggangnya, menatapnya dengan mata merah saat dia menekannya ke rak mantel, tonjolan tenggorokannya terombang-ambing.

Bagi mereka berdua, suasana hati mereka malam ini agak mengingatkan pada Malam Tahun Baru.
Karena kematian Sha Hong, emosi mereka bergejolak.

Terakhir kali, karena hati Xie Qingcheng berantakan, He Yu berhasil menggodanya untuk pertama kalinya. Mungkin karena kesamaan ini, He Yu memiliki harapan samar bahwa Xie Qingcheng akan mengandalkannya lagi saat dia merasa sedih.

Tapi Xie Qingcheng tidak melakukannya.

Kesedihan He Yu tak tertahankan, bernanah dan membengkak saat mereka bertengkar, sampai akhirnya, dia tanpa berpikir menyeret Xie Qingcheng ke hotel termurah di daerah itu dan mendapatkan kamar.

Sayang sekali bahwa mendapatkan kamar jauh lebih mudah daripada benar-benar mengurus perkara. Saat He Yu menatap mata Xie Qingcheng yang jernih dan dingin, dia ingat bagaimana penampilan Xie Qingcheng keesokan paginya, duduk di dekat jendela dan dengan tenang merokok di Hari Tahun Baru.

Saat itu, Xie Qingcheng pasti benar-benar putus asa, merasa sedih dan gelisah karena apa yang telah mereka lakukan.

Pola pikir patologis He Yu masih mengandung satu utas rasionalitas yang menarik tubuhnya kembali terkendali seperti tali boneka, mencegahnya bertindak berdasarkan dorongan hati dan secara kasar menyakiti Xie Qingcheng.

Tapi dia sudah mendapatkan kamar—terlalu sulit untuk menerima pikiran untuk tidak melakukan apa-apa.

Namun, jika dia benar-benar melakukan sesuatu, dia akan menindas kerabat satu-satunya dan melukainya baik secara fisik maupun mental.

He Yu berdiri di sana, mengobarkan perang melawan dirinya sendiri sampai akhirnya, dia sangat marah, dan dengan sedih membenturkan dahinya ke dinding dengan mata tertutup.

Xie Qingcheng: “……”

Dalam posisi ini, tubuh He Yu menempel di tubuh Xie Qingcheng, dan tangan pemuda itu mencengkeram pergelangan tangannya di sekitar tato halus itu.

Bagi orang luar, siluet mereka akan terlihat seperti tumpang tindih di pintu masuk, seolah-olah mereka berbagi ciuman intim yang berlama-lama.

Tapi Xie Qingcheng tahu bahwa He Yu tidak menciumnya.

He Yu hanya menekan kepalanya ke dinding di sebelahnya, sangat dekat dengan lekukan lehernya. Dia bisa dengan jelas merasakan napasnya yang panas menyapu kulitnya.

Setelah beberapa lama, He Yu tiba-tiba berdiri tegak.

Keengganan, kemarahan, dan keinginan membuat matanya memerah sampai diliputi oleh cahaya kemerahan.

“Lupakan saja,” Suara He Yu serak. “Kita tidak akan melakukan apapun. Aku tidak akan melakukan apapun. Aku pergi.”

Xie Qingcheng: “……”

“Sebaiknya kamu tidak menghentikanku.”

Xie Qingcheng benar-benar bingung. “Tidak ada yang menghentikanmu.”

He Yu tampak seolah-olah Xie Qingcheng telah menendangnya. Wajahnya berubah pucat karena marah, dan dia bahkan sedikit tergagap. “Oke. Se-selamat tinggal kalau begitu.”

Karena CPU emosional Xie Qingcheng adalah Windows 98 Straight Dude Edition2Secara harfiah adalah laki-laki lurus besar., dia tidak mengerti maksud He Yu sama sekali.

He Yu berbalik dan berjalan pergi.

Jika dia bertahan lebih lama lagi, dia takut dia akan benar-benar menyakiti kerabatnya. Sikap kerabatnya mungkin sedingin es, tetapi setiap gerakannya mengipasi api di hatinya.

Dia sangat ingin jatuh ke dalam mimpi indah lainnya bersamanya.

Jadi dia tidak punya pilihan selain pergi.

Xie Qingcheng benar—manusia berbeda dari binatang buas, karena manusia bisa mengendalikan diri.

Tapi begitu He Yu meninggalkan Xie Qingcheng di kamar sendirian, pria itu menemukan bahwa bocah itu telah mengacaukan pikirannya yang biasanya jernih. Dia tidak bisa menyimpulkan maksud dari seluruh permainan He Yu.

Sosoknya yang tinggi masih bersandar di dinding, mata bunga persiknya agak bingung, kurang tajam seperti biasanya. Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, menggigit filter dan menyalakan rokok terakhir dengan gerakan yang terlatih.

Saat dia menghembuskan napas asap, dia tiba-tiba menyadari bahwa dia masih mengenakan mantel He Yu.

Dia tidak suka mengenakan pakaian orang lain, dia juga tidak ingin He Yu membeku kaku di malam musim dingin yang dingin.

Jadi, begitu dia sadar kembali, dia berlari mengejarnya.

He Yu sedang melakukan prosedur penyelesaian di meja depan.

Resepsionis itu menatap He Yu dengan tatapan yang sangat halus.

Sudah berapa lama—tidak sampai lima belas menit, dan setelah dikurangi waktu yang dibutuhkan untuk menanggalkan pakaian, mandi, dan berpakaian lagi, tidak sampai tiga menit tersisa, adik kecil.

Aura anak muda ini cukup menakutkan, tampan dan bersemangat, tetapi dia hanya bertahan tiga menit pada akhirnya.

Jadi, saat resepsionis melihat Xie Qingcheng dengan ekspresi beku di wajahnya, dia (resepsionis) tidak terkejut sama sekali—

Siapa yang bisa mendapatkan kesenangan dari itu?

“Mantelmu,” kata Xie Qingcheng.

Tidak memedulikannya, He Yu menandatangani formulir dan berbalik.

Xie Qingcheng tidak punya pilihan selain berjalan mendekat dan menyampirkan mantel itu ke bahu bocah itu.

Setelah melihat sikap kebapakan yang menyeluruh ini, resepsionis hotel memiliki pemikiran yang sama dengan resepsionis Klub Skynight—terkejut, pemuda di belakang meja depan memandang He Yu, dan kemudian ke Xie Qingcheng, berpikir bahwa asumsi sebelumnya salah.

Orang yang hanya bertahan tiga menit mungkin bukan pria yang lebih muda, melainkan pria tampan yang mengejarnya.

Kali ini, cerita di kepala resepsionis muda itu berubah total—paman yang lebih tua ini mungkin adalah Sugar Daddy anak kuliahan yang cantik ini, dan karena dia tidak berhasil membuat pengalaman itu cukup menyenangkan, anak itu pergi dalam keadaan marah, seperti selir yang kesal.

Paman tampan itu sekarang mengikuti di belakang selirnya, menyampirkan mantel di bahunya.

He Yu berbalik untuk menatap Xie Qingcheng. Mungkin karena dia sangat marah, nada suaranya benar-benar berbahaya. “Paman, apa kamu berencana menyeretku untuk waktu yang lama hanya karena mantel?”

Xie Qingcheng bahkan tidak peduli bahwa ini adalah pertama kalinya He Yu memanggilnya “Paman”, hanya mengisap rokoknya dalam diam. Kemudian, mungkin karena dia melihat tidak ada gunanya berbicara dengan selir yang keras kepala ini, dia berjalan ke meja depan dan berkata, “Aku akan membayar tagihannya.”

Resepsionis itu melontarkan tatapan celaan yang mendalam pada pria yang tidak hanya mengikat seorang mahasiswa, tetapi bahkan membuatnya membayar tagihan. “Pemuda itu sudah membayarnya.”

Sangat kesal, Xie Qingcheng berbalik menghadap He Yu. Berbicara dengan rokok di antara giginya, kata-katanya tanpa ekspresi namun agak kacau. “Buka akun Alipaymu. Aku akan mentransfer uang kepadamu.”

Xie Qingcheng benar-benar memprovokasi He Yu sampai batas kemampuannya.

Dia mengutuk pelan, tidak tahan lagi — dia tiba-tiba meraih Xie Qingcheng dan menariknya keluar, gerakannya sama kasarnya seperti ketika mereka tiba. Mereka berdua menghabiskan sepanjang hari dengan cekcok bolak-balik, dari gang ke mobil, dari mobil ke hotel murah—lalu yang mereka lakukan hanyalah bertengkar di hotel, berakhir di mobil lagi.

Hanya beberapa orang gila yang bisa melakukan ini.

He Yu dengan kasar mendorong Xie Qingcheng ke kursi belakang Cullinan yang luas dan naik ke atasnya dengan mata merah. Mencengkeram pergelangan tangan Xie Qingcheng dengan satu tangan, dia mengulurkan tangan yang lain untuk menyisir beberapa helai rambut longgar di pelipis Xie Qingcheng, membelai dahinya yang lebar dan alisnya yang elegan.

Karena keinginan yang kuat dan pengendalian yang ekstrem, tangannya sedikit gemetar.

Di bawah cahaya remang-remang mobil, mata mereka bertemu dari jarak dekat. Tatapan He Yu bingung dan tergila-gila, tampaknya tersihir saat dia menyelidiki kedalaman mata bunga persik Xie Qingcheng. Kedap suara Cullinan sangat bagus sehingga mereka tidak bisa mendengar apa pun dari luar—semua yang bergema di telinga mereka hanyalah suara napas dan detak jantung mereka.

He Yu membelai tulang alis dan dahi Xie Qingcheng lagi dan lagi, seolah-olah menangkupkan segenggam mata air manis untuk binatang di dalam hatinya yang sekarat karena kehausan, tapi itu jauh dari cukup…sangat jauh dari cukup.

Semakin dekat He Yu mendekatinya, semakin panas yang dia rasakan — dia adalah ambrosianya
dan opiumnya, baik racunnya maupun penawarnya.

Melihat ke bawah pada pria di bawahnya, dia tidak bisa tidak mengingat gairah yang telah dilepaskan pria ini padanya pada Malam Tahun Baru. Bahkan jika hasrat semacam itu lebih merupakan jenis penghancuran diri….

Di tengah suasana ini, Xie Qingcheng menemukan untuk pertama kalinya bahwa dia tidak dapat menatap mata He Yu. Dia memalingkan wajahnya.

He Yu meraih wajahnya pada detik berikutnya, memaksanya untuk berbalik dan menatapnya lagi. Meskipun tatapan Xie Qingcheng dingin, dia menemukan jejak kekacauan di tengah kedinginan itu.

Kekacauan itu membuat hati He Yu membengkak dan bergidik kegirangan. Darah panas mengalir ke seluruh tubuhnya, dia diam-diam menatap mata Xie Qingcheng selama beberapa detik, napasnya berangsur-angsur menjadi berat dan mendesak. Kemudian, dia tiba-tiba membenamkan tangannya di rambut hitam Xie Qingcheng, sambil memegangi kepalanya. Melalui bulu mata yang diturunkan, dia membungkuk untuk menciumnya—


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Kemarin aku mengobrol dengan temanku tentang bagaimana jadinya jika He Yu dan Xie-ge memiliki seorang anak… Jadi…

Teater mini:

Xie Qingcheng: Berapa kali aku katakan bahwa kamu harus pulang sebelum jam 10 malam? Ini sudah 10:30, menurutmu itu bisa diterima?

Anak pemberontak: Kamu bukan bosku! Kamu sangat kuno! Jika aku mendengarkanmu, aku bahkan tidak akan punya teman!

Xie Qingcheng: Sebaiknya kamu berhenti bergaul dengan orang-orang yang tidak berguna itu! Jangan terlibat dengan mereka!

Anak pemberontak: Kamu sama sekali tidak mengerti persahabatan kami!

Xie Qingcheng: Pergilah ke kamarmu dan renungkan dirimu sendiri!

Anak pemberontak: Waahhhhh… Hiks… Hiks….

He Yu: (masuk ke kamar diam-diam) Berhenti menangis, ayo kita menyelinap keluar melalui jendela dan bermain di luar!

Anak pemberontak: Benarkah? (menangis)

He Yu: Sungguh, tapi jangan biarkan ayahmu mengetahuinya, jika tidak, kita berdua akan berakhir….

Xie Qingcheng: (menjulang di belakang mereka seperti awan badai, meretakkan buku-buku jarinya dengan keras) Jangan khawatir. Ini sudah berakhir untuk kalian berdua.


 

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments