Penerjemah: Chu


Pada saat itu, He Yu merasa sangat ingin membunuh.

Dia memelototi wanita itu, melihatnya memeluk Xie Qingcheng, pria yang bahkan tidak bisa dia sentuh.

Pada saat itu, dia bahkan merasa bingung dan dirugikan.

Meskipun dia (Lrq) juga menyakiti Xie Qingcheng, mengapa dia diizinkan untuk memeluknya dan menempel padanya, sedangkan dia (He Yu) hanya bisa melihatnya dari jauh, untuk dimarahi dan dikutuk segera setelah dia mendekat?

Tapi He Yu bisa langsung menjawab pertanyaan ini untuk dirinya sendiri.

Karena dia adalah seorang pria.

Karena dia juga seorang pasien Ebola Psikologis.

Karena dia telah berjanji pada Xie Qingcheng bahwa dia tidak akan memaksanya atau menyakitinya lagi.

Karena dialah satu-satunya yang mengetahui rahasia Xie Qingcheng; dia tahu semua penderitaan yang telah dialami Xie Qingcheng.

Jadi dia tidak bisa.

Tetapi meskipun demikian, ketika dia melihat Li Ruoqiu memeluk Xie Qingcheng, kebencian menguasainya sampai-sampai dia ingin mematahkan kemudi menjadi dua — pada saat itu, rasionalitasnya terkikis. Dia ingin sekali keluar dari mobil dan mendorong Li Ruoqiu pergi, lalu dengan panik mencium Xie Qingcheng tepat di depannya (Lrq). Dia ingin tanpa mengindahkan menyeret Xie Qingcheng kembali ke Gang Moyu, untuk membuka pakaiannya di tengah jalan dan mulai menidurinya.

Dia bahkan tidak peduli jika Li Ruoqiu melihat—dia bahkan ingin Li Ruoqiu melihatnya.

Seolah-olah menjadi gila, dia ingin memberitahu wanita yang menganggap Xie Qingcheng sebagai ban serepnya — bahwa Xie Qingcheng bukanlah pria yang tidak diinginkan orang lain.

Dia bukan Xie-ge-mu lagi — dia adalah Xie-ge-ku.

Aku sudah menciumnya dan menidurinya di ranjang pernikahanmu. Aku membiarkan dia merasakan kenikmatan saat dia terengah-engah di bawahku, begitu bersemangat sehingga dia mengejang dan gemetar serta berteriak. Aku tahu bahwa dia tidak pernah mengalami ekstasi gila semacam itu ketika dia bersamamu. Dia naik ke atasku dan menggerakkan pinggulnya, dia membungkuk dan menciumku dengan ganas, tetapi kamu tidak pernah memiliki itu—kamu—tidak punya apa-apa—

He Yu berpikir dengan muram, mengabaikan fakta bahwa dia telah menggoda Xie Qingcheng malam itu, dan mengabaikan keputusasaan dan patah hati yang merusak diri Xie Qingcheng lebih jauh. Dia menutup mata dan menutup telinga terhadap alasan Xie Qingcheng mau tidur dengannya dalam kegilaan pada Malam Tahun Baru.

Dia hanya ingin memprovokasi Li Ruoqiu. Dia hanya ingin menunjukkan kepada wanita yang tidak tahu apa-apa ini — bahwa pria yang tidak kamu inginkan adalah pria yang kucintai.

Kamu tidak diizinkan untuk menyentuhnya.

Aku sangat mencintainya, tapi aku bahkan tidak menyentuhnya.

Kamu pikir kamu siapa.

Kamu pikir kamu siapa dengan berani memeluknya dan menempel padanya.

Kamu pikir kamu siapa sehingga dia tidak akan mengutukmu?

Semakin He Yu memikirkan hal ini, semakin marah dan sedih dia, emosinya mengaburkan akal sehatnya. Pada saat dia sadar kembali, dia sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka berdua.

Begitu Xie Qingcheng melihatnya, ekspresinya berubah.

Perasaan diperlakukan dan dinilai secara berbeda ini membuat He Yu merasa lebih buruk. Dia memelototi Xie Qingcheng dengan teguran diam-diam.

“….” Xie Qingcheng membuang muka.

Li Ruoqiu tidak menyangka bahwa anak laki-laki ini akan tiba-tiba keluar dari mobil di sudut jalan dan muncul di hadapan mereka seolah-olah dia jatuh dari langit. Kejutan menariknya keluar dari kesedihannya, dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan melepaskan Xie Qingcheng.

Dia dengan cepat menenangkan diri dan menoleh ke He Yu dengan senyum yang dipaksakan. “Ah –kebetulan sekali.”

“Ya, ini benar-benar kebetulan,” kata He Yu lembut.

Untuk beberapa alasan, Li Ruoqiu menggigil.

Suasana di antara mereka bertiga saat mereka berdiri di pintu masuk longtang (Gang) sangat aneh.

Pengemudi tidak tahan lagi dan menjulurkan kepalanya keluar dari mobil. “Hei! Apa yang sedang kalian lakukan? Apakah kamu akan pergi atau tidak?”

Li Ruoqiu berkata, “Tidak …”

Xie Qingcheng menjawab, “Ya.”

Dia memberi isyarat bahwa Li Ruoqiu harus pergi dulu.

Meskipun wanita itu sangat ragu-ragu, dia akhirnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun tentang perlawanan ketika dihadapkan dengan desakan Xie Qingcheng, seperti di masa lalu.

Setelah dia (Xqc) mengarahkannya ke dalam mobil dengan cara yang tidak menimbulkan perlawanan, dia (Lrq) akhirnya hanya berani menurunkan jendela dan berkata kepadanya dengan terbata-bata, “Xie-ge, kamu, kamu harus jaga diri baik-baik. Jika kamu butuh bantuan, aku bisa…”

He Yu sudah berjalan mendekat, menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Meskipun dia jelas masih muda, auranya bahkan lebih dominan daripada Xie Qingcheng.

Li Ruoqiu segera tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.

Jendela ditutup kembali saat sopir taksi mulai mengemudi, memotong tatapan muram pemuda itu dari mata bingung wanita itu.

Begitu Li Ruoqiu pergi, He Yu menyeret Xie Qingcheng ke gang kosong di dekatnya.

Ada banyak gang kecil (sempit) seperti ini di distrik kota tua Huzhou. Banyak rumah bergaya barat telah dibangun di daerah ini ketika diduduki oleh Inggris seabad yang lalu, dan rumah-rumah itu dikemas sedemikian rupa sehingga ada banyak gang sempit yang hanya cukup lebar untuk dilewati dua atau tiga orang.

He Yu segera mendorong Xie Qingcheng ke dinding yang tidak rata, menjepitnya.

Pola pikir pemuda itu tidak normal — sifatnya yang mendominasi sangat dalam dan kecemburuan telah menjalar ke kepalanya, jadi dia kehilangan kendali atas kekuatannya. Ketika dia membenturkan punggung Xie Qingcheng ke dinding, Xie Qingcheng mengerutkan alisnya dan mengerang pelan, terkejut karena rasa sakitnya.

Suara itu serak dan memikat, namun juga diwarnai dengan kerapuhan. He Yu tidak bisa tidak mengingat saat-saat di klub, di ruang ganti, dan pada Malam Tahun Baru, ketika dia menyiksa Xie Qingcheng sampai-sampai dia tidak bisa lagi menahan tangisan serak itu.

Hati He Yu tiba-tiba berkobar dengan kehangatan.

Dia menarik Xie Qingcheng mendekat (posisi memeluk), mengulurkan tangan untuk menggosok titik benturan yang menyakitkan saat dia dengan lembut bergumam kepadanya, “Xie Qingcheng… tidak apa-apa… biarkan aku menggosoknya untukmu… aku akan menghilangkan rasa sakitnya…”

“Lepaskan aku…!” Xie Qingcheng menyatukan alis lurus pedangnya, menggertakkan giginya saat dia meraih tangan He Yu. “Lepaskan. Kamu–!”

Xie Qingcheng berhenti di tengah kalimatnya.

Karena saat He Yu memeluknya, pinggul mereka menyatu, dia (He Yu) menundukkan kepalanya, bulu matanya bergetar saat itu terangkat, dia membenamkan hidungnya di bawah dagunya untuk menghirup aroma dalam-dalam.

Xie Qingcheng terlalu sibuk untuk perawatan diri yang rutin beberapa hari terakhir ini. Ada sedkit janggut di sana — yang hanya terlihat pada jarak sedekat itu, dan He Yu bahkan bisa mencium aroma khas di lekukan leher pria itu.

Itu adalah aroma yang unik untuk tubuh pria ini, perpaduan antara tembakau yang kuat dan desinfektan yang dingin, dengan bau hormonal dari pria dewasa.

Sepertinya kotak Pandora telah menyihir He Yu. Setelah mengangkat matanya dan diam-diam menatap mata Xie Qingcheng semenatara waktu, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menekan lebih dekat ke pria yang sangat memikat ini sehingga dia seperti terhipnotis.

“Xie Qingcheng….”

He Yu menahan tangannya ke dinding di sebelahnya1Kabedon., wajahnya beringsut ke depan saat matanya beralih di antara hidung dan bibirnya. Akhirnya, dia menutup jarak di antara mereka sampai rahang mereka saling bersentuhan, dan ujung hidung mereka juga praktis bersentuhan.

Dia menatapnya dengan saksama, seolah bibir Xie Qingcheng memberikan gaya magnet padanya.

Pada saat ini, api kecemburuan dan kemarahan melahap pemuda itu, membuatnya tidak mungkin untuk mengendalikan keinginannya untuk menciumnya, untuk terjerat dengan gila di sini.

Sampai Xie Qingcheng mengulurkan tangan untuk perlahan menekan ujung jari yang agak dingin ke bibir hangat He Yu.

“Ingat apa yang kamu janjikan padaku, He Yu.”

Pria jangkung dan tegap itu kembali sadar ketika dia (He Yu) menatapnya, tanpa terasa suaranya bergetar karena takut He Yu akan melakukannya di gang lingkungan ini. Namun, dia masih berusaha untuk mempertahankan ketenangannya yang biasa saat dia berkata dengan suara rendah, “Lepaskan aku.”

“Jangan membuatku memandang rendah dirimu.”

Keheningan mendadak.

Seolah dia telah dibangunkan dari hipnosis.

Seolah-olah mimpi itu telah berakhir.

Mata He Yu masih terpana, tetapi kata-kata Xie Qingcheng tidak diragukan lagi telah menusuknya.

Dia menegakkan tubuh, kabut menghilang, pupil matanya kembali fokus.

Setelah berdiri di sana membeku selama beberapa detik, dia perlahan menjauh dari Xie Qingcheng.

Setiap inci dari dirinya ingin menciumnya, untuk mendominasinya dengan penuh nafsu dan kekalutan; dia ingin melebur ke dalam air yang bergelombang, terjun ke lumpur yang kotor, dan menuju ke dalam api yang menghanguskan bersamanya, di sini, di gang sempit ini.

Dia sangat merindukannya sehingga dia ingin mencabik-cabiknya.

Tapi He Yu berhenti di tengah jalan.

Tatapan Medusa melemparkan mantra iblis padanya.

Mata merah naga iblis itu menatap kerabatnya yang tangguh namun lemah, akhirnya menahan diri untuk tidak mencakar sisik terbaliknya.

He Yu berkata, “…Kamu salah paham, aku tidak berencana untuk menciummu.”

Mencoba menutupi rasa malunya, dia melanjutkan dengan lembut.

“Aku hanya ingin mencium aroma tidak pantas apa pun yang ada di tubuhmu — yang sangat menarik bagi orang lain. Mungkinkah kemampuan khusus Kaisar Pertama dari Ebola Psikologis adalah rayuan?”

“Kaisar Pertama unik di antara pasien Ebola Psikologis—aku tidak memiliki kemampuan khusus.”

Xie Qingcheng menenangkan diri dan melanjutkan dengan ekspresi muram, “Selain itu, Li Ruoqiu hanya datang untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi karena dia menghubungi Xie Xue, tetapi Xie Xue tidak pernah membalas pesannya. Keluarkan pikiranmu dari selokan—berhenti berbicara omong kosong dan menyeret nama polos seorang gadis ke lumpur.”

“Gadis apa? Dia sudah menikah, bagaimana dia masih gadis? Aku memberitahumu, Xie Qingcheng—wanita itu datang ke sini untuk kembali bersamamu. Cara dia memeluk dan menggodamu serta sorot matanya saat dia melihatmu sama sekali tidak polos.”

“…Lalu penampilan seperti apa yang kamu sebut polos?”

He Yu berkata setelah memikirkannya, “Cara aku memandangmu.”

Xie Qingcheng benar-benar menatap matanya untuk sementara waktu.

Saat dua pasang mata bertemu, binatang aneh di lubuk hati He Yu itu mulai melolong dalam ketidakpuasan, ingin menancapkan giginya ke Xie Qingcheng dan menyeretnya ke bawah kanopi kain kasa merah.

Mendesaknya untuk mengubah Xie Qingcheng menjadi tulang yang memutih di guanya, tidak pernah menghilang atau pergi.

Untuk menggerogoti dia sampai dia dilucuti dari daging.

Xie Qingcheng mendorong kepalanya menjauh.

“Jangan berdiri terlalu dekat denganku.”

He Yu berkata dengan murung, “…Kenapa kamu tidak berbicara dengannya seperti ini ketika dia memelukmu?”

“Karena dia seorang wanita.”

“Pernahkah kamu mendengar tentang kesetaraan gender? Kenapa kamu perlu mendiskriminasi laki-laki?”

“……” Mendiskriminasi pantatku.

“Dia mantan istriku.”

“Aku juga mantan pacarmu.”

“……”

“Xie Qingcheng, kamu benar-benar tidak bertanggung jawab sama sekali. Kamu memperlakukanku seperti ini hanya karena aku tidak bisa hamil, karena aku laki-laki, karena kita tidak memiliki akta nikah.”

Xie Qingcheng sudah mengerutkan kening. Dia merasa bahwa kata-kata He Yu benar-benar tidak masuk akal dan tidak logis—apanya pembicaraan tentang kehamilan, akta nikah, dan tanggung jawab… He Yu memutarbalikkan hal-hal sampai-sampai Xie Qingcheng bahkan memiliki kesalahpahaman yang samar-samar bahwa dialah yang telah merayu dan mencampakkan He Yu.

Tapi bukankah He Yu yang pada akhirnya memprakarsai hubungan semacam ini di antara mereka?

Dan kembali ke topik argumen mereka sebelumnya—jika seseorang hamil pada suatu saat melalui hal-hal yang telah mereka lakukan di tempat tidur, apakah orang itu akan menjadi He Yu?

Tipuan licik macam apa ini?

“Katakan sesuatu.” He Yu menatapnya, bersandar ke dinding. “Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa.”

“…Aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan kepadamu.”

Lagi pula, Xie Qingcheng adalah pria dewasa berusia tiga puluh tahun — apakah dia benar-benar akan menarik muka dan memperdebatkan secara spesifik siapa yang mendapat akhir yang lebih buruk dari kesepakatan dengan He Yu?

Sebagai seorang paternalistik dengan kanker pria lurus, dia tidak bisa melakukannya.

Jika He Yu mengira dia adalah orang yang tidak tahu malu, tidak bertanggung jawab, dan tidak masuk akal, maka biarlah. Bagaimanapun, “bertindak seperti sampah terhadap seorang bocah lelaki berusia sembilan belas tahun” terdengar lebih terhormat daripada “diperkosa oleh seorang bocah lelaki berusia sembilan belas tahun,” jadi jelas sedikit lebih mudah bagi Xie Qingcheng untuk menerimanya.

Xie Qingcheng benar-benar berbalik dan mulai berjalan pergi saat dia berbicara, seperti bajingan yang telah melecehkan mahasiswi.

Tapi di tengah jalan, “mahasiswi” He Yu meraih pergelangan tangannya, jari-jarinya menutup tatonya.

Sejujurnya, sudah cukup lama sejak mereka berdua melakukan kontak fisik. Saat telapak tangan He Yu bertemu dengan pergelangan tangan Xie Qingcheng pada saat ini, mereka berdua menggigil. Namun, ketika Xie Qingcheng menegang dari ujung kepala sampai ujung kaki, ingin melepaskan tangan He Yu, He Yu merasakan arus listrik mengalir di tulang punggungnya, ingin menarik Xie Qingcheng ke dalam pelukannya.

Xie Qingcheng berbalik tanpa ekspresi. “Lepaskan.”

He Yu menggertakkan giginya, mengerahkan seluruh tekadnya untuk menahan dorongan agar tidak menarik Xie Qingcheng dan menjepitnya ke dinding gang, mencium bulu matanya, bibirnya, tahi lalat di tengkuknya. Dia menenangkan dirinya dengan usaha, bahkan berhasil mengeluarkan senyum yang sangat tidak sedap dipandang. “…Apakah kamu… apakah kamu benar-benar berpikir aku sangat menginginkanmu?”

“……”

“Xie Qingcheng, dengan posisi dan statusku, bukankah kamu tahu bahwa aku bisa mendapatkan siapa pun yang aku inginkan? Pria dan wanita semua mengejarku. Aku tidak membutuhkanmu.”

“Aku hanya mempermainkanmu. Ini hanya lelucon, jangan dianggap terlalu serius.”

Xie Qingcheng menarik pergelangan tangannya dari telapak tangan He Yu dan memperbaiki manset lengan bajunya.

Dia menatapnya. “Bagus sekali. Aku sangat mengagumi kepercayaan dirimu. Tapi menurutku leluconmu tidak terlalu lucu.”

Setelah berbicara, dia pergi lagi.

He Yu tidak menyentuhnya lagi kali ini. Pemuda itu masih bisa merasakan kehangatan yang ditinggalkan lelaki itu di telapak tangannya, bersama dengan kelembutan kulit di pergelangan tangannya.

Dia menikmati sensasi ini di tangannya, menyimpannya untuk memberi makan pada binatang yang terluka dan berdarah di dalam hatinya.

Dia tidak ingin dia pergi begitu saja, jadi dia tidak punya pilihan selain berhenti membuat keributan.

Bersandar ke dinding dan menekan api di dalam hatinya, dia berkata kepada pria itu, “Jangan pergi dulu, sebenarnya ada beberapa urusan penting yang ingin aku bicarakan denganmu hari ini.”

Setelah mendengar dia mengatakan ini, Xie Qingcheng berhenti.

Dia menoleh di gang untuk melihat wajah He Yu, sosoknya diterangi oleh seberkas cahaya sempit yang datang melalui celah di antara gedung-gedung tinggi. Sinar itu membuat kecerahan dan bayangan pada tubuh Xie Qingcheng menjadi sangat jelas, tapi saat dia menatap He Yu dengan cahaya di punggungnya, He Yu tidak bisa dengan jelas melihat ekspresinya.

“Aku benar-benar punya urusan yang layak untuk didiskusikan,” tambah He Yu, menghapus ekspresi sinis dari wajahnya.

“Aku menemukan seseorang yang mungkin bisa memberi kita petunjuk untuk diikuti malam ini. Apa kamu mau ikut denganku untuk menemuinya?”

.

Di dalam Penjara Pertama Huzhou.

Sha Hong sedang menyiapkan makan malam di kafetaria.

Seorang sipir telah mengatur “wawancara” dengan He Yu setelah makan.

Ketika Sha Hong menjadi pengedar narkoba, atasannya akan selalu dengan hati-hati menilai kualitas barang dagangan mereka, menyortirnya berdasarkan nilai dari A+ sampai ke bawah. Akibatnya, Sha Hong memiliki kebiasaan yang sama, dan telah dengan jelas memilah-milah dan menilai kecerdasan yang akan dia “jajakan” kepada He Yu. Meskipun dia telah menghabiskan beberapa tahun terakhir terjebak di penjara, dia dapat memahami sejumlah peristiwa yang terjadi di luar melalui menonton TV, berbicara dengan narapidana yang baru tiba, dan mendengarkan percakapan para sipir.

Ada beberapa orang yang sangat penting dalam daftar namanya.

Orang-orang itu sama seperti kebanyakan kapitalis—di depan umum, mereka menyemburkan cita-cita besar, tetapi secara pribadi, mereka lebih kotor daripada kotoran di bawah penutup lubang got. Saudara-saudara Liang sudah mati, tetapi orang-orang lain itu masih berkembang di masyarakat sebagai “selebriti”, “orang sukses/kelas atas”, dan “warga teladan.”

Sha Hong mencibir saat dia memotong sayuran.

Orang-orang yang menampar wajahnya di Bund mungkin sudah lama melupakan keberadaannya—apa pentingnya seorang sopir bagi mereka? Mereka bahkan tidak bisa mengingat namanya, dan mungkin mereka merasa tidak pantas untuk mengingatnya.

Tetapi bahkan tidak ada yang bisa berperan dalam menggulingkan pendirian yang paling tangguh.

Cepat atau lambat, pembalasan akan datang.

Dia melirik jam—sudah hampir waktunya. Dia tidak punya waktu untuk disia-siakan.

Dia memasukkan sayuran dan daging cincang ke dalam wajan dan mulai menumisnya. Dikelilingi oleh aroma masakan sederhana, matanya yang baru saja memancarkan kebencian berangsur-angsur menjadi basah—ia memikirkan ibunya.

Liang Jicheng telah memecatnya setelah mempermalukannya saat itu. Alasan yang dia berikan untuk pemecatannya sangat memuakkan—dia mengatakan bahwa dia adalah seorang penjahat berjari ringan yang telah mencuri uang majikannya.

Antara Eksekutif Liang dan pengemudi kecil, kata siapa yang lebih berbobot? Siapa yang akan dipercaya semua orang?

Reputasinya benar-benar ternoda, dan dia tidak dapat menemukan pekerjaan yang cocok di mana pun. Ibunya sakit parah dan membutuhkan uang untuk pengobatan, tapi dia bahkan tidak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari—bagaimana mungkin dia bisa membeli obat itu dengan harga setinggi langit?

Dia melamar pekerjaan di mana-mana hanya untuk ditolak berulang kali. Akhirnya, seorang temannya yang mengaku bisa menghasilkan banyak uang dengan sedikit risiko menemukannya dan berkata bahwa mereka bisa menjual “sirup obat batuk” bersama…

Dia ingin menyelamatkan ibunya, tetapi dia perlahan-lahan disesatkan oleh uang yang mengalir begitu mudah, menjadi pria yang berubah total. Pada akhirnya, jaring keadilan yang luas turun, menangkapnya dalam cengkeramannya. Beberapa bulan kemudian, dia mengetahui kematian ibunya saat dia berada di penjara. Pada saat itu, dia berlutut dan menangis tersedu-sedu kepada sipir, tetapi petugas itu mengatakan kepadanya bahwa tidak mungkin mereka membiarkan dia mengirim ibunya pergi dalam perjalanan terakhirnya.

Bahkan sekarang, dia masih belum pergi ke pemakaman umum itu untuk mengambil abu ibunya dari gudang penyimpanan.

Saat Sha Hong memasak, dia ingat bagaimana ketika dia masih kecil, ibunya menjalankan gerobak makanan jalanan ilegal sendirian, menghindari pengawasan manajemen kota setempat tepat di bawah hidung mereka. Menjual semangkuk bubur atau mie beras, dia mengumpulkan cukup uang receh untuk membesarkannya melalui kerja keras yang pahit. Dia melewati masa kecilnya dengan makanan sederhana namun hangat yang berbau seperti ini.

Dia mengulurkan tangan untuk menghapus air matanya.

Di tengah sulur-sulur uap yang naik, dia bergumam pelan, “Bu, aku datang untuk membawamu pulang.”

“22104, cepat dan bersiaplah, waktu kunjunganmu hampir tiba.” Seorang petugas di dekat pintu dapur memanggilnya. Sha Hong setuju dan mulai memasak lebih cepat.

Cairan dalam wajan hampir surut—bumbu dengan kecap asin adalah langkah terakhir.

Saat Sha Hong membuka tutupnya untuk menuangkan kecap ke dalam wajan besi yang beterbangan dengan percikan api, dia berhenti dalam kebingungan: mengapa kecap ini bening? Dan kenapa baunya seperti alkohol?

—Ini akhirnya menjadi pemikiran terakhirnya.

Hanya ada ledakan keras!!

Alarm mulai meraung.

“To-tolong! Api—selamatkan kami!!”

“Matikan apinya!! Semuanya terbakar!!!”

Nyala api melonjak seketika saat ledakan besar meraung di dapur, sirene memekakkan telinga menembus api yang membara. Sha Hong bahkan tidak sempat berteriak sebelum dia tersedot ke dalam api yang menjulang tinggi, ditelan dalam sekejap mata….


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

He Yu: Xie Qingcheng, apa kemampuan khususmu sebagai Kaisar Pertama?

Xie Qingcheng: Aku tidak memiliki kemampuan khusus. Jika aku harus menyebutkanya, aku kira kemampuan belajarku meningkat… Aku dapat dengan mudah memperoleh keterampilan baru, tetapi umurku berkurang… jadi bukankah aku memilih untuk dirawat nanti? Sekarang, aku tidak memiliki kemampuan khusus lagi.

He Yu: Benarkah? Kenapa kamu berbeda dari kami semua.

Xie Qingcheng (menyalakan rokok seperti seorang bos): Karena aku adalah ayah kalian. Panggil aku ayah.

He Yu: ……


KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments