Penerjemah: Chu


Setelah Xie Qingcheng mengusir He Yu, dia mandi lagi.

Kali ini, apa yang terjadi di kamar mandi adalah urusan yang memalukan. Xie Qingcheng merasa sangat buruk sehingga dia hampir tidak bisa menjaga dirinya tetap tegak. Setelah berjuang untuk membersihkan dirinya sepenuhnya, dia minum obat penurun demam, sepenuhnya berniat untuk mengurung diri di rumahnya dan beristirahat.

Tapi tempat tidurnya benar-benar berantakan. Dia tidak bisa tidur dengan keadaan seperti itu sama sekali.

Xie Qingcheng hanya bisa menguatkan dirinya sendiri dan mengganti seprai; dia bahkan hampir tidak bisa untuk melihat noda pada seprai. Karena hingga sekarang, dia tidak yakin jenis psikedelik1Jenis Narkotika pemicu halusinasi. apa yang dia minum tadi malam yang membuatnya melakukan hal-hal yang keterlaluan dengan He Yu.

Dia tidak rentan terhadap rasa malu. Sebaliknya, dia hanya merasa itu sangat konyol, terutama ketika dia melihat seprai yang kotor — dia bahkan tidak bisa berpikir dua pria bisa berbuat hal seperti itu.

Dia pasti telah dirasuki.

Batuk pelan, Xie Qingcheng melepas seprai dan melemparkannya ke mesin cuci. Kemudian, setelah merapikan tempat tidur dan mengganti seprai, dia mengubur tubuhnya yang sakit di bawah selimut.

Dia terus batuk.

Xie Qingcheng berguling-guling, tetapi demamnya tak tertahankan, dan dia sangat tidak nyaman sehingga dia tidak bisa tidur.

Kondisinya sangat mengerikan. Untungnya, Xie Xue telah pergi bersama Li Ruoqiu dan belum kembali. Dengan demikian, dia tidak perlu memasang fasad untuk siapa pun dan akhirnya bisa melepas topengnya, memperlihatkan wajah yang telah dibuat lemah dan linglung oleh siksaan rasa sakit.

Waktu yang lama berlalu sebelum obat penurun demam akhirnya bekerja.

Mungkin karena ruangan itu masih berbau seperti He Yu, tapi tepat sebelum Xie Qingcheng tertidur, samar-samar dia sepertinya melihat mata He Yu dari tadi malam—

Mata itu dipenuhi dengan semangat, penuh dengan rasa lapar yang terpampang jelas seolah-olah dia membutuhkannya dan tidak bisa berpisah darinya, sebelum mereka diliputi oleh hasrat yang panas…

Sensasi yang agak menyesakkan mencekik hati Xie Qingcheng.

Tenggelam dalam perasaan ini, kesadarannya perlahan menghilang…

Karena obat penurun demam memiliki efek sedatif2Seperti obat penenang., Xie Qingcheng akhirnya tidur sampai pagi keesokan harinya.

Merasa bahwa demamnya sudah agak berkurang, dia bangun dari tempat tidur, mandi, dan berpakaian, lalu memanaskan kembali beberapa pangsit sisa dari lemari es dan makan.

Setelah sibuk seperti ini selama beberapa waktu, Xie Qingcheng duduk dan mulai membaca.

Bagi Xie Qingcheng, membaca itu seperti menonton ubur-ubur — keduanya adalah cara untuk mengalihkan perhatiannya, untuk mencoba melepaskan diri dari keresahan di hatinya.

Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.

Xie Qingcheng, yang akhirnya berhasil membenamkan dirinya di dunia buku dengan susah payah, tiba-tiba tersadar. “Siapa?”

Suara seorang pemuda yang tenang terdengar melalui pintu — He Yu benar-benar kembali untuk mencarinya lagi. “…Ini aku.”

Pena yang Xie Qingcheng gunakan untuk membubuhi keterangan saat dia membaca terhenti sejenak, dan ujungnya yang tajam menusuk halaman.

Dia mendengar pemuda itu berkata dari luar, “Bisakah kamu membuka pintu?”

“……”

“… Aku ingin berbicara denganmu.”

“Tetap di tempatmu,” kata Xie Qingcheng.

“Ge… kenapa kamu mengunci pintu?”

“Karena ada orang sepertimu yang mencoba menggangguku selama jam kerja.”

Orang di balik pintu itu terdiam sejenak sebelum berkata. “…Xie Qingcheng… tidak bisakah kamu membuka pintu….”

“Bisakah kamu buka pintunya? Aku… aku merasa tidak nyaman, di hatiku.”

Akan baik-baik saja jika dia pergi tanpa mengatakan itu, tetapi saat dia melakukannya, Xie Qingcheng tiba-tiba teringat saat He Yu menjadi gila padanya, terengah-engah saat dia mengatakan kepadanya, “Aku merasa tidak nyaman, aku terkena heatstroke3 Heat Stroke merupakan kondisi paling berat pada tubuh akibat cuaca panas karena tubuh tidak dapat mengontrol suhu badan. Tapi yang terjadi pada He Yu tentu bukan panas akibat cuaca panas ya :v, panas sekali.”

“Xie Qingcheng, bantu aku menghilangkan panasnya.”

Suara Xie Qingcheng menjadi lebih dingin. “Tetap di sana.”

Dan pemuda itu terdiam.

Setelah beberapa saat, Xie Qingcheng mendengar suara gesekan melengking dari pintu, seperti paku di papan tulis. He Yu menggaruk pintu seperti kucing dalam upaya untuk membuatnya kesal.

Xie Qingcheng berkata, “Apakah kamu seorang anak kecil?”

“Aku benar-benar merasa tidak nyaman. Aku sangat ingin melihatmu. Apakah demammu sudah turun? Aku ingin menemanimu…. Aku ingin berbicara denganmu.”

Xie Qingcheng tidak mau diganggu untuk memperhatikannya, jadi dia menyalakan pengeras suara yang ada di meja dan memutar musik latar ke level suara tertinggi, menenggelamkan suara mengerikan dari He Yu yang menyeret kukunya di sepanjang pintu.

Dia terus membaca seperti ini untuk sementara waktu, dan secara bertahap, suara dari luar berhenti.

Jadi, Xie Qingcheng mematikan speaker dan selesai menulis bagian yang sedang dia kerjakan. Setelah mencapai halaman terakhir, dia bangkit dan pergi ke meja teh untuk menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Kemudian, setelah memeriksa waktu, dia menduga bahwa He Yu seharusnya sudah pergi. Berpikir bahwa dia harus keluar dan meresepkan obat lagi, dia menyimpan buku-bukunya dan pergi untuk membuka pintu — hanya untuk sebuah tangan yang tiba-tiba mendorongnya terbuka dengan keras!

Xie Qingcheng bukanlah seorang penurut — dengan refleks yang cepat dan kekuatan yang ganas, dia membanting pintu hingga tertutup dengan bunyi gedebuk. Tapi He Yu jauh lebih gila darinya. Jangankan menarik kembali jari-jarinya, dia bahkan tidak berkedip saat pintu keamanan yang berat itu terayun menutup di mana dia mencengkeram kusen pintu.

Bang!

Sebuah tanda merah muncul di mana pintu menabrak tangan He Yu dan merobek kulitnya, darah menyembur dari luka di detik-detik berikutnya.

He Yu tidak merasakan banyak rasa sakit dari ini. Dia melihat melalui celah di pintu yang dia paksa terbuka, menatap lekat-lekat pada Xie Qingcheng dengan mata almondnya.

Kemudian, dia perlahan membuka pintu sedikit demi sedikit, seolah-olah dia sedang membuka cangkang Xie Qingcheng.

Dia masuk.

Dia mencengkeram kerah Xie Qingcheng dengan tangan berlumuran darah itu dan mengunci pergelangan tangannya, menjepitnya ke lemari dengan begitu kuat sehingga lemari itu bergetar dan mengerang. Tabrakan itu menjatuhkan vas jelek yang tidak terpakai di atas lemari, jatuh dan menabrak langsung ke bahu He Yu.

He Yu menahan serangan itu tanpa mengedipkan mata bahkan saat darah mulai menetes dari bahunya dan mengalir melalui lengannya.

Mereka menabrak saklar lampu saat mereka bergumul, mematikan bola lampu pijar dan membuat ruangan menjadi gelap gulita.

Xie Qingcheng menatap mata serigala yang hanya beberapa inci jauhnya dalam kegelapan dan berkata dengan suara rendah, “Kamu benar-benar kehilangan akal sehat. Bukankah aku sudah memberitahumu untuk tidak datang ke sini lagi?”

Suara He Yu juga sangat serak dan lembut. Ditemani oleh suara napasnya, suara itu seolah menempel di dada Xie Qingcheng begitu dia keluar dari tenggorokan He Yu. “Hatiku berantakan.”

Dia melajutkan, “Xie Qingcheng, hatiku berantakan. Ada sesuatu yang sangat ingin aku bicarakan denganmu.”

“Tapi aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan kepadamu.”

Kata-katanya menusuk tajam ke hati He Yu.

Dia menatap wajah Xie Qingcheng — mereka berdua sedikit terengah-engah karena kelelahan, napas mereka bercampur.

“Xie Qingcheng …”

“Keluar.”

Alih-alih keluar, He Yu menekan dahi mereka bersama-sama, merasakan suhu Xie Qingcheng untuk sementara waktu. “Kamu tidak demam lagi… Apakah kamu sudah minum obat?”

Xie Qingcheng mendorongnya.

Menolak untuk melepaskan, He Yu bergumam, “Xie-ge, maafkan aku, aku sudah memikirkannya untuk waktu yang lama — aku memikirkannya sepanjang malam kemarin. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi, aku ingin memberitahumu bahwa aku….”

“Aku tidak tertarik. Silakan keluar.”

He Yu segera merasa lebih tertekan. Setelah beberapa saat hening, dia akhirnya tampak menyerah mencari penerimaan Xie Qingcheng. Dia memeriksa wajah Xie Qingcheng dengan matanya, pupil matanya yang gelap berangsur-angsur fokus saat itu melewati bibir tipis Xie Qingcheng berulang kali. Kemudian, tenggorokannya tercekat.

Dia juga tidak tahu apa yang salah dengan dirinya sendiri — mungkin binatang besar di hatinya bernama “cinta” telah menyihirnya. Meskipun dia tahu bahwa dia seharusnya tidak melakukannya, dia merasa sangat buruk sehingga dia menundukkan kepalanya —

Xie Qingcheng tiba-tiba memalingkan wajahnya.

Tapi posisi ini membuat bibir pemuda itu menekan lehernya, di mana kulitnya tipis, rapuh, dan sangat sensitif terhadap panas. Setelah Xie Qingcheng diprovokasi pada Malam Tahun Baru, reaksinya terhadap sentuhan He Yu sekarang terlihat jelas, terutama dengan bibir He Yu ditekan ke tempat sensitif di lehernya. Dia segera tidak tahan, jari-jarinya diam-diam meringkuk di lemari saat getaran menjalari dirinya.

He Yu mendongak, mengawasinya dengan mata hitam pekat saat dia berkata, “…Bisakah kamu membiarkanku tinggal lebih lama?”

“….”

“Aku benar-benar memikirkan banyak hal kemarin.”

“……”

“A-aku sebenarnya ingin memberitahumu—” He Yu tiba-tiba meraih pergelangan tangan Xie Qingcheng seolah dia tidak bisa menahan emosinya, seolah dia pikir Xie Qingcheng bisa memberinya semacam dorongan.

Saat He Yu menahannya, agresi naluriah yang kuat muncul di dalam diri Xie Qingcheng. Dia membentak, “Apa yang ingin kamu lakukan, He Yu?”

He Yu awalnya ingin mengatakan, aku menyukaimu, Xie Qingcheng. Aku menyadari bahwa aku sangat menyukaimu.

Tetapi pada saat ini, saat dia menatap mata Xie Qingcheng, yang hanya dipenuhi dengan kewaspadaan dan sedingin es tanpa sedikit pun kehangatan, apa yang dia terima bukanlah dorongan Xie Qingcheng, melainkan penolakan dan ketidakpercayaannya.

Akibatnya, dia tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

“Aku…”

Seolah ada tulang ikan yang tersangkut di tenggorokannya, dia hanya bisa menggenggam erat pergelangan tangan Xie Qingcheng, menolak untuk melepaskannya.

Hanya beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaannya secara tidak langsung, mengeluarkan beberapa kata yang gemetar dan sedih, “…Aku… Xie-ge
Apakah… kamu masih ingat foto-foto itu? Itu… foto-foto dari klub?”

Xie Qingcheng berkedip karena terkejut — dia tidak menyangka bahwa setelah berlama-lama, inilah yang ingin dibicarakan He Yu dengannya. Dia tidak bisa menahan amarahnya, “Rencana yang kamu buat setelah berpikir sepanjang malam adalah untuk mengancamku dengan foto-foto itu? Bukankah aku sudah mengatakan, kamu dapat melakukan apapun yang kamu inginkan dengan itu? Bahkan jika kamu mengirim foto itu ke kantor anti-pornografi, aku tidak peduli! Bagaimana kamu masih memiliki keberanian untuk—”

“Aku menghapusnya.”

Paruh kedua dari kata-kata kasar Xie Qingcheng dipotong dengan kaku oleh kalimat yang tidak terduga.

Dia menyipitkan matanya, bingung bagaimana menanggapinya.

“Xie Qingcheng.” Mengontrol getaran dalam suaranya, He Yu mengulangi, “Aku menghapus foto-foto itu.”

“Aku benar-benar telah menghapusnya.”

“……”

“Itu sudah tidak ada.”

Dua pasang mata bertemu saat mereka berhadapan di ruang sempit. Mencengkeram tangan Xie Qingcheng dengan erat, pada saat itu, rasa takut yang tak dapat dijelaskan mencengkeram hati He Yu.

Dia sepertinya takut Xie Qingcheng akan mengusirnya dan kemudian menutup pintu di depan wajahnya, tidak pernah membukanya lagi.

Dia hanya bisa mengatakan berulang kali, “Aku menghapusnya.”

Tidak peduli apa, dia masih tidak bisa mengatakan “Maaf” atau “Aku mencintaimu,” jadi “Aku menghapusnya” seperti sepotong kayu apung yang membuatnya mengapung di atas jurang kehilangan harga dirinya, sementara juga membiarkan tatapan Xie Qingcheng melekat padanya.

Tetapi setelah hening yang lama, Xie Qingcheng masih mengangkat tangannya yang lain dan dengan paksa menarik jari-jari He Yu, satu per satu, dari sekitar pergelangan tangannya yang ramping.

“Benarkah?”

Xie Qingcheng berkata dengan lembut, tatapannya jatuh ke wajah muda He Yu dari jarak beberapa inci.

“Apakah kamu ingin aku berlutut dan menangis karena rasa syukur?”

Setelah menarik jari terakhirnya, Xie Qingcheng melemparkan tangan He Yu ke samping. Dengan ekspresi muram di wajahnya, dia mundur ke samping lemari, menggosok tanda merah di pergelangan tangannya.

Sejak dia menggunakan RN-13 untuk memperbaiki tubuhnya, kulitnya mudah terluka dan memerah, dan He Yu telah mencengkeramnya cukup keras hingga meninggalkan bekas. Area di sekitar tatonya dipenuhi dengan rona merah, pemandangan yang sangat indah.

He Yu berbicara lagi, “Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi.”

“Dan apa hubungannya denganku.”

He Yu membuka mulutnya — hatinya terasa sesak, serta tenggorokannya terasa tercekik, dan dia sebenarnya tidak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya, dia hanya bisa mengambil semua emosinya dan menuangkannya ke dalam nama itu.

“Xie Qingcheng …”

Tapi Xie Qingcheng berkata, “Kamu harus pergi.”

“Xie Qingcheng,” kata He Yu dengan suara rendah.

Semakin dia melihatnya dalam keadaan ini, semakin sedikit keberanian yang dia miliki untuk mengatakan kalimat itu — Xie Qingcheng, aku menyukaimu.

Dia memiliki keberanian yang semakin berkurang.

Karena dia sudah tahu apa reaksi Xie Qingcheng nantinya.

Dia sudah melihat sekilas.

“Apa yang ingin kamu dengar, He Yu.” Pada akhirnya, Xie Qingcheng menatapnya. “Kamu sudah menyebabkan adegan yang begitu besar, jadi apa yang kamu inginkan? — Baik, terima kasih banyak karena telah berbelas kasih hingga akhirnya menghapus foto-foto memalukan itu setelah kamu melakukan begitu banyak hal buruk dengan mereka4Foto-foto.. Terimalah terima kasihku, atas nama seluruh keluargaku. Aku dengan tulus berterima kasih atas kebaikanmu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Sekarang bisakah kamu pergi?”

He Yu tidak pergi. Ada rasa pahit di bagian belakang tenggorokannya, tapi saat dia hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan, langkah kaki terdengar dari kejauhan—

Xie Qingcheng bereaksi lebih cepat daripada He Yu, berbalik sekaligus untuk menarik tirai dengan beberapa jari. Setelah melihat orang yang mendekat, ekspresinya langsung berubah menjadi sangat jelek.

“Itu  Xie Xue!”

Ekspresi He Yu juga menjadi sangat berwarna saat dia tiba-tiba tersadar dari linglungnya yang penuh keinginan, ketenangan barunya diwarnai dengan kebingungan.

Suara langkah kaki semakin mendekat — jelas itu adalah sepasang sepatu hak tinggi.

He Yu langsung tersentak — alih-alih meributkan dirinya sendiri, dia bergegas mengancingkan kerah kemeja Xie Qingcheng yang baru saja dia buat berantakan.

Baru pada saat itulah dia menemukan kancing di baju Xie Qingcheng benar-benar sulit untuk ditutup. Sebelum dia sempat mengancingkan dua yang teratas, siluet Xie Xue sudah melewati jendela dan mencapai pintu.

“Ge, kamu tidak menutup pintu? Aku baru saja mengantar Li Ruoqiu ke stasiun kereta … kenapa tirai ditutup dan lampu padam?”

Dia masuk.

He Yu dan Xie Qingcheng dengan cepat saling menjauh.

Keduanya tidak ingin dia tahu tentang apa pun, jadi meskipun wajah mereka pucat dan rambut mereka berantakan, dan keduanya terlihat sangat buruk karena dua kancing Xie Qingcheng tetap terlepas dan He Yu masih berdarah, mereka tetap menegakkan tubuh dan berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi secara serempak.

Begitu Xie Xue menyalakan lampu dan melihat keadaan mereka yang menyedihkan, dia membeku karena terkejut. “Da-ge? He Yu?… Kalian….”

Tatapannya menyapu kekacauan, melayang di antara dua pria yang tampak acak-acakan.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Xie Qingcheng: “……”

Di tengah keheningan yang memalukan ini, He Yu bereaksi di depan Xie Qingcheng. “…Ahem, karena aku tinggal di sini selama dua hari, aku ingin membantu membersihkan, tapi aku tidak cukup hati-hati dan terluka. Ge-mu, dia … sedang berniat merawatnya untukku, dia harus melepas bajunya, jadi dia menutup tirai.”

“…Kamu harus menyalakan lampu jika kamu menutup tirai,” kata Xie Xue, tatapannya melewati bahu dan tangan He Yu yang berdarah untuk mendarat di vas yang pecah di lantai, matanya langsung terbuka lebar. “Bukankah ini vas pahatan tangan buatanku dan membuatku memenangkan lomba di kelas enam?!! Ya Tuhan! Apa yang terjadi!!! Siapa yang merusaknya!!!”

“Itu karena aku tidak pandai mengerjakan pekerjaan rumah, aku tidak melihatnya dan menjatuhkannya.” He Yu berkata, “… Maaf.”

“Ah!! Kamu tidak seharusnya bersih-bersih pada hari pertama atau kedua tahun baru5Ada takhayul yang mengatakan bahwa bersih-bersih di awal tahun baru akan menyapu bersih semua rejeki.! Kamu Tuan muda bodoh dan tidak tahu apa-apa! Bagaimana bisa kamu tidak tahu ini!” Xie Xue sangat marah — itu adalah vas favoritnya! He Yu hanya tinggal di rumahnya sebentar, namun dia merusaknya! Dia memecahkannya!!

“Aku akan mendapatkan satu lagi untukmu…”

“Bagaimana kamu bisa mendapatkan yang lain? Bagaimana mungkin kamu bisa melakukannya? Bisakah kamu mengembalikanku ke kelas enam untuk membuatkanmu yang baru?! Aku sangat marah! Aku benar-benar sangat marah—!!”

Xie Xue mengumpat panjang lebar, tapi untungnya, dia hanya kesal dengan vas bunganya — jika dia mengetahui bahwa kakaknya telah diperkosa oleh muridnya, dia mungkin akan lari ke dapur, mengambil golok, memotong He Yu menjadi daging cincang, dan membuatnya menjadi pangsit.

Itu benar-benar keberuntungan di tengah kemalangan bahwa bahkan jika dia (Xie Xue) memiliki seratus kali kekuatan otak, Xie Xue tidak akan pernah menduga bahwa selama dua hari dia beristirahat di hotel bersama Li Ruoqiu, patriark keluarganya memiliki beberapa putaran hubungan yang tidak pantas dengan He Yu di rumah ini.

Xie Xue belum selesai memarahinya. “He Yu! Kamu bajingan! Apa yang kamu coba lakukan! Kamu mengutuk Ge-ku dengan sangat kejam sebelumnya, namun sekarang kamu bergantung pada perawatannya, kamu benar-benar tidak bisa dijelaskan.…”

Dia terus mengoceh, seolah-olah dia memiliki kapasitas paru-paru dari seluruh paduan suara yang disatukan, melepaskan semburan kutukan yang panjang ke He Yu. He Yu tidak membalas perkataan Xie Xue lagi, membiarkannya mengutuk sesuka hatinya. Menjelang akhir pidatonya, bahkan Xie Qingcheng hampir tidak tahan untuk terus mendengarkan.

Xie Qingcheng berkata, “Lupakan saja, Xie Xue, itu sudah cukup. Dia akan pergi.”

Berbicara demikian, dia (xqc) menatap He Yu.

Xie Xue: “Tapi dia—”

Xie Qingcheng meletakkan tangannya di bahu Xie Xue dan menggelengkan kepalanya.

Baru saat itulah Xie Xue dengan kesal menutup mulutnya, meskipun sepertinya dia masih ingin melampiaskan semua kemarahannya terhadap Li Ruoqiu kepada He Yu.

Ada apa dengan semua orang ini, yang mengira mereka bisa memperbaiki kesalahan mereka setelah berkata jujur?! Bisakah vas yang rusak dikembalikan ke keadaan semula?!

Xie Qingcheng tidak ingin mendengar argumen ini lagi. Dia menutup dua kancing terakhir di kerahnya dengan cara yang tampaknya linglung ketika dia berkata kepada He Yu, “Jika tidak ada yang lain, kamu harus pulang.”

He Yu tidak bergerak.

“Xie Qingcheng, aku….”

Xie Qingcheng berhenti mengancingkan kancing saat dia menatapnya dengan dingin, tatapannya penuh peringatan. “Pergi.”

“….”

Setelah disuruh pergi seperti ini, tidak mungkin He Yu bisa tinggal, apalagi mengakui perasaannya.

Tidak peduli seberapa berantakan hatinya, dia hanya bisa memprosesnya sendiri.

Menggigit bibir bawahnya dalam diam, He Yu sudah sangat sadar—

Bagi Xie Qingcheng, fakta bahwa dia menyukainya adalah beban, jadi akan lebih baik jika itu tidak diungkapkan.

Xie Qingcheng benar-benar tidak akan menerimanya.

Dia bahkan tidak ingin melihatnya lagi sama sekali.


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Teater mini:

Vas jelek: Aku adalah ciptaan Xie Xue, pencapaian terbesarku adalah mengganggu pelecehan seksual He Yu terhadap saudara tuanku.

He Yu: Tunggu saja, aku akan menghancurkanmu lagi!

Teater mini 2:

Jika He Yu menyukai Xie Xue dan ditemukan oleh Xie Qingcheng.

Xie Qingcheng: Di sini — singkirkan dia.

Jika He Yu menyukai Xie Qingcheng dan ditemukan oleh Xie Xue.

Xie Xue: Ambilkan aku pisau — aku akan mencincangnya!

He Yu: …Kalian berdua memang benar-benar saudara kandung.…


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments