Penerjemah: Chu


He Yu adalah orang yang sangat pintar.

Tetapi ada juga saat-saat dia terlalu keras kepala dan terjebak di jalannya.

Misalnya, dia pernah yakin bahwa dia adalah pria lurus. Akibatnya, dia dengan keras kepala percaya bahwa ini adalah jawaban yang benar dan menganggap Xie Qingcheng tidak lebih dari kesalahan kecil di sepanjang jalan menuju jawaban yang benar itu.

Baru sekarang dia menyadari bahwa mungkin Xie Qingcheng adalah jawaban yang benar selama ini.

Dan dia telah membuat kesalahan.

Karena fakta yang mencengangkan ini, He Yu masih duduk membeku karena syok di tempat tidur ketika Xie Qingcheng melemparkan pakaiannya ke arahnya.

“Bangun lah!.”

“……” Dalam keadaan benar-benar linglung, He Yu dengan patuh memakai pakaiannya seperti yang diperintahkan, tatapannya sepenuhnya kosong.

Setelah mengenakan kembali pakaiannya, dia bangkit dari tempat tidur dan menatap kosong pada Xie Qingcheng begitu lama sehingga Xie Qingcheng mulai merasa tidak nyaman. “Xie-ge… Bisakah … bisakah aku tinggal sedikit lebih lama….”

Tidak menyadari fakta bahwa hati He Yu telah terbalik barusan, Xie Qingcheng menganggap permohonan tulus anak laki-laki itu sebagai tampilan kemauannya sendiri.

Karena itu, dia menjawab, “Tidak.”

“Xie Qingcheng …”

Xie Qingcheng sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengakui atau mengingat hal-hal menggelikan yang telah mereka lakukan pada Malam Tahun Baru. Dia bertekad untuk mengusirnya dan terus melakukannya sampai wajahnya mulai pucat dan bibirnya menjadi sedikit biru.

“Jika kamu benar-benar ingin aku beristirahat dengan benar, maka kamu harus pergi.”

“He Yu, kamu hanya akan menyiksaku jika kamu tinggal di sini.”

“Kamu sebaiknya pergi.”

“Tapi …” He Yu juga tidak tahu apa yang ingin dia katakan. Di tengah kepanikannya, dia mencoba meraih tangan Xie Qingcheng, seolah-olah itu akan membuatnya lebih mudah untuk memikirkan inti masalahnya.

Namun, saat dia menyentuh jari Xie Qingcheng yang panas, Xie Qingcheng segera menariknya menjauh secara naluriah.

He Yu: “……”

Karena Xie Qingcheng menekan ketidaknyamanan dan demam fisiknya, ketika dia melihat He Yu, mata bunga persiknya diwarnai dengan kemerahan yang menyakitkan.

Dia mendorong He Yu keluar.

“Kita tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini bersama lagi. Pulanglah dan tenanglah.”

“Tapi Xie Qingcheng, aku ingin bersamamu….”

“Biarkan aku tenang juga.”

Berbicara demikian, Xie Qingcheng hendak menutup pintu ketika Bibi Li kebetulan lewat.

“Ah, Xiao-Xie, kamu dan temanmu bangun pagi-pagi sekali di Hari Tahun Baru!”

Xie Qingcheng secara naluriah menarik kerahnya.

Tapi bekas cupang di lehernya masih terlihat jelas, dengan beberapa bintik merah samar yang menyembul keluar.

Saat melihat Li Miaoqing mendekat, He Yu tiba-tiba menarik syal berwarna krem yang melingkar di lehernya dan melingkarkannya di leher Xie Qingcheng sebagai gantinya, syal kasmir lembut segera membungkus kulit di atas kerahnya (Xqc).

Xie Qingcheng tidak mengerti tujuannya, dan hendak berjuang bebas, tetapi He Yu segera meraih syal dan menariknya (xqc) lebih dekat.

“Jangan melepasnya. Aku menutupi bekas cupangmu untukmu.”

Baru saat itulah Xie Qingcheng menyadari seberapa jauh tanda itu diperpanjang. Terperangkap antara kesal dan jengkel, dia tidak punya pilihan selain membiarkan syal He Yu di lehernya dan berhenti bergerak.

Li Miaoqing berhenti di depan mereka, matanya mengantuk. “Ah, apakah kalian berdua bertengkar tadi malam? Kami semua mendengar beberapa suara barang pecah.”

“…Kami tidak bertengkar,” kata Xie Qingcheng.

He Yu menjelaskan, “Bibi Li, kami sedang menonton film. Film perang.”

“Oh…” Setelah mendengar jawaban mereka, Li Miaoqing tidak memikirkannya lagi dan menguap.

Xie Qingcheng berkata, “Kamu bangun pagi sekali hari ini.”

“Ya, aku tidak tahu apa yang terjadi tadi malam, tapi aku terus bermimpi rumahmu sedang direnovasi. Terdengar suara gedoran dan dentuman, sangat realistis… jadi aku bangun lebih awal.”

He Yu: “……”

Xie Qingcheng: “……”

“Karena kalian sudah bangun, kenapa kalian berdua tidak datang ke tempat Bibi Li untuk sarapan?”

“Kami harus melewatkannya,” kata Xie Qingcheng. Dia merasa sangat tidak nyaman sekarang — sejujurnya, dia hanya punya waktu untuk bergegas mandi pagi ini, jadi ada beberapa hal yang belum bisa dia bersihkan sepenuhnya. Selain itu, demamnya masih mengirimkan kilatan panas ke seluruh tubuhnya. Dia hanya ingin membuat He Yu pergi agar dia bisa mandi dengan benar, minum obat, dan tidur siang sementara Xie Xue masih keluar dengan Li Ruoqiu.

Karena itu, dia berkata kepada Bibi Li, “Dia memiliki beberapa hal mendesak untuk diurus. Dia harus pulang.”

Bibi Li: “Aiya, Xiao-He sudah mau pulang?”

He Yu tidak ingin pergi.

Tapi Xie Qingcheng berkata, “Itu benar.”

Melihat bahwa He Yu masih terpaku di tempat, kaku dan linglung tanpa niat untuk pergi, dia berkata, “Aku akan mengantarnya pulang.”

Berbicara demikian, dia mengambil kunci mobilnya dan menarik He Yu keluar dari Gang Moyu. Setelah memasukkan He Yu ke dalam mobilnya, dia duduk di kursi pengemudi.

Setelah agak sadar kembali, He Yu menatapnya dengan mata merah samar, “Xie-ge, kamu tidak enak badan. Kenapa tidak aku saja yang menyetir….”

“Berhenti mengoceh.”

Xie Qingcheng mengencangkan sabuk pengamannya, menyalakan mesin, dan diam-diam mengantar He Yu ke tempat parkir otomatis terdekat.

Sulit untuk menemukan tempat parkir di distrik kota tua, jadi He Yu biasanya parkir di sini jika dia perlu tinggal lebih lama.

Xie Qingcheng berkata, “Keluar.”

Sebelumnya, He Yu pasti tidak akan mempertimbangkan perasaan Xie Qingcheng — dia akan tetap tinggal saat dia ingin tinggal dan pergi saat dia ingin pergi, karena perasaannya sendirilah yang paling penting.

Tetapi pada saat ini, dia merasa khawatir.

Kepala He Yu dipenuhi dengan suara mendengung. Akhirnya, di bawah tatapan lelah namun pantang menyerah Xie Qingcheng, dia turun dari mobil.

“Tunggu,” kata Xie Qingcheng.

Mata He Yu bersinar, seolah diterangi oleh mercusuar harapan.

Xie Qingcheng melanjutkan, “Ini syalmu.”

“……”

Cahaya di mata He Yu padam lagi.

Dia membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi bahkan sebelum dia berhasil mengeluarkan sepatah kata pun, Xie Qingcheng telah melemparkan syal padanya dan menutup jendela. Kemudian Xie Qingcheng menginjak gas, menahan rasa tidak nyaman di perutnya, pinggangnya… seluruh tubuhnya, saat dia memutar mobil untuk pulang, meninggalkan He Yu berdiri di sana sendirian dengan linglung.

He Yu berdiri di sana untuk waktu yang lama sebelum dia berhasil menemukan mobilnya dan masuk.

Itu adalah Lamborghini yang sangat mewah dan nyaman, tetapi duduk di dalam, tidak terasa senyaman duduk di kursi penumpang Xie Qingcheng.

Dia sama sekali tidak punya keinginan untuk pulang… Dia tidak ingin kembali ke makam itu… Jadi, dia mulai mengemudi dengan berputar-putar di sekitar dan di sekeliling distrik kota tua itu.

Dia terus memikirkan hal-hal yang telah terjadi semalam dan di masa lalu, memikirkan binatang besar di dadanya yang namanya baru saja dia pelajari, memikirkan tentang… “cinta” yang bahkan dia sendiri berjuang untuk mencernanya dengan segera.

Hatinya benar-benar kacau.

Tidak banyak orang di jalan pada Hari Tahun Baru. He Yu terus mengemudi sampai hari berganti malam, akhirnya parkir di sisi jalan yang sepi dan menyalakan stereo. Dengan “My Heart Will Go On” diputar sebagai latar belakang, dia bersandar di kursinya dengan mata terbuka. Saat dia memikirkan semua yang telah terjadi, masa lalu menyelimuti hatinya seperti gelombang pasang.

Apakah dia benar-benar menyukai Xie Qingcheng?

Sejak kapan?

Apakah dia mencintainya?

Tapi dari mana datangnya cinta itu?

Apakah dia menyukainya karena tubuhnya? Apakah itu daya tarik yang lahir dari kekerabatan? Atau apakah dia tanpa sadar telah jatuh cinta dengan seluruh keberadaan Xie Qingcheng?

Lelah, bingung, dan gelisah, He Yu mencoba dengan hati-hati merenungkan semua yang telah terjadi.

….

Dia memikirkan Xie Qingcheng dari tadi malam, menjepitnya ke tempat tidur saat dia mengambil inisiatif untuk menciumnya.

Dia memikirkan Xie Qingcheng di studio yang kebanjiran, berbaring telentang di atas air dan mengatakan yang sebenarnya saat musik diputar.

Dia memikirkan Xie Qingcheng di bawah pohon berbunga itu, berakting dalam sebuah adegan untuk satu-satunya kesempatannya mengenakan seragam polisi yang tidak pernah bisa dia kenakan secara nyata.

Dia memikirkan Xie Qingcheng di gua di Neverland, menyalakan sebatang rokok ketika dia berkata dengan acuh tak acuh bahwa dia tidak bisa lagi mengingat apa mimpinya.

He Yu memikirkan penampilan keras kepala Xie Qingcheng di klub, masih bertahan, masih menatapnya dengan keras kepala bahkan setelah anggur yang diberi obat mulai bekerja. Dia telah berkata—

“He Yu, kembalilah bersamaku. Aku akan memberitahumu semua yang ingin kamu ketahui.”

Tapi pada hari itu… menjadi malam dia dan Xie Qingcheng pertama kali membangun hutang cinta dan kebencian mereka, malam di mana Xie Qingcheng berusaha mati-matian untuk membawanya kembali… dia menuangkan segelas anggur merah ke seluruh kerah putih salju Xie Qingcheng dengan maksud merendahkan dirinya.

He Yu ingat bagaimana dia meletakkan gelas dan, dari seberang meja yang lebar dan remang-remang, menggunakan janji kelingking untuk menipunya, membelai wajahnya sambil tersenyum kecil.

Dan kemudian dia berkata, “Kamu telah menipuku dengan sangat lama. Apa kamu pikir aku masih akan mempercayaimu?”

Ya, Xie Qingcheng telah menipunya dan meninggalkannya.

Tapi dia tidak tahu bahwa saat kesehatan Xie Qingcheng sudah begitu hancur dia bahkan tidak bisa menahan beban emosinya sendiri… dia masih memberikan suar cahaya terakhirnya kepadanya.

He Yu ingat bagaimana Xie Qingcheng selalu menyuruhnya untuk tenang, untuk menaklukkan iblis batiniahnya sendiri, untuk mengandalkan dirinya sendiri untuk keluar dari bayang-bayang di dalam hatinya.

Ini adalah satu-satunya hadiah, dan hadiah terakhir, yang bisa diberikan Xie Qingcheng kepada kerabatnya sebagai pasien Ebola psikologis #0.

Dialah yang memberi tahu He Yu bahwa orang yang sakit jiwa tidak boleh diperlakukan secara berbeda.

Dialah yang menyuruh He Yu untuk menemukan jembatan yang akan menghubungkannya sekali lagi dengan masyarakat.

Dialah yang memberi tahu He Yu, Iblis kecil, kamu harus kuat.

Karena itu, He Yu berusaha menjadi pemuda yang tidak terlalu berbeda dari orang normal. Dia bahkan ingin berbagi prinsip ini dengan pasien lain di kedalaman penderitaan.

Semua karena Xie Qingcheng pernah berkata bahwa kehidupan orang sakit jiwa sama sekali tidak berbeda dengan kehidupan orang normal.

Keluarga He memiliki fasilitas kesehatan mental yang merupakan bagian yang sangat kecil dari perusahaan besar mereka. He Jiwei tidak mempermasalahkannya, membiarkan He Yu menjalankannya sebagai pengalaman belajar, dan He Yu telah mengubah sebagian fasilitas menjadi amal untuk memaksimalkan dampaknya pada semua pasien dengan masalah psikologis yang datang untuk mencari bantuan.

Semua karena Xie Qingcheng pernah berkata bahwa kurungan adalah untuk penjahat, bukan untuk pasien yang sudah menderita terlalu banyak rasa sakit.

Setelah Xie Qingcheng pergi, dia pernah terhuyung-huyung di ambang kehancuran, tetapi kemudian, dia terhuyung berdiri, berusaha untuk berintegrasi kembali ke masyarakat normal. Dia bahkan berhenti melukai diri sendiri untuk waktu yang lama, bekerja keras untuk mengendalikan emosinya saat dia membuang pisau utilitas yang pernah dia tekan ke pergelangan tangannya di masa lalu.

Semua karena Xie Qingcheng pernah bertanya padanya, Iblis kecil, apa tidak sakit…?

Bukankah itu…

sakit…?

Apakah benih kekaguman telah ditanam sejak saat itu?

Apakah dia mencintai lebih dari tubuh Xie Qingcheng — apakah dia juga jatuh cinta pada jiwa pria itu?

Seperti apa jiwa pria itu…? Dia pernah mendengarnya di masa lalu, tetapi tidak pernah benar-benar mengingatnya.

Pada saat ini, napas He Yu terengah-engah. Kata-kata yang dia tato di pergelangan tangannya dalam upaya untuk meniru Xie Qingcheng tampaknya telah menjadi pita hitam, membimbingnya dengan tak terhindarkan ke depan … Dia mengikuti pita itu dan bergerak maju.

Pita itu berkibar, kabut menghilang, dan yang terbentang di hadapannya adalah siluet Xie Qingcheng.

Pada saat ini, He Yu melihatnya dengan kejelasan yang tak tertandingi.

Di sini terletak seseorang yang namanya tertulis dalam air…

Pemuda itu akhirnya mencoba berempati dengan pria itu dan pada akhirnya, dia akhirnya menemukan siluet Xie Qingcheng di dalam hatinya sendiri… Orang yang dia lihat adalah seseorang yang telah memberinya keyakinan, memberinya dukungan, memberinya semua pengalaman berlumuran darah sebagai orang yang telah menang atas Ebola Psikologis.

Dia melihat orang itu menekan rasa sakitnya dan berkata dengan tenang, kejam, dan tegas, “Bagaimana mungkin nyawa orang yang sakit jiwa lebih penting daripada nyawa seorang dokter?”

Apakah itu contoh dari pengkhianatan?

Tidak.

Itu tidak.

He Yu sudah tahu bahwa itu adalah keputusasaan yang paling menusuk tulang.

Rasa bersalah yang paling dalam.

He Yu akhirnya mengerti bahwa Xie Qingcheng yang sangat dia benci di klub sebenarnya telah bertanya kepada Qin Ciyan — Laoshi, bagaimana mungkin hidupku lebih penting daripada hidupmu?

Dia hampir bisa mendengar Xie Qingcheng berkata—

Aku hanya seorang pasien.

Aku hanya mayat yang disusun kembali yang dikeruk dari genangan darah.

Kamu adalah seorang sarjana terkemuka di negara ini dan dokter yang brilian. Kamu memiliki seorang istri dan seorang putri. Kamu masih memiliki tulisan untuk diselesaikan dan impian untuk diwujudkan.

Kenapa kamu memberi tahu orang-orang itu bahwa jika sesuatu terjadi, mereka harus datang kepadamu terlebih dahulu?

Kenapa kamu melindungiku di belakangmu?

Tiba-tiba, He Yu mengerti segalanya. Dia bisa melihat semuanya…

Dari sudut pandang orang ketiga, dia melihat lelaki tua itu menatap Xie Qingcheng, tanpa berkata-kata dan tersenyum dalam penerimaan diam, seperti yang dia lakukan setiap kali Xie Qingcheng mengungkapkan keraguan atau kebingungan.

He Yu ingat bagaimana Xie Qingcheng memberitahunya di studio yang kebanjiran bahwa hati lelaki tua itu menjadi lebih lembut dan emosinya menjadi lebih lembut seiring bertambahnya usia.

Jika pisau Yi Beihai tidak menusuk dagingnya, dia akan menjalani hari-harinya dengan damai bersama istrinya, dan ketika Xie Qingcheng pergi untuk mengunjunginya, dia bisa saja membawa sebuket bunga lili untuk dimasukkan ke dalam keranjang anyaman di ruang kerjanya.

Tetapi kemudian, Xie Qingcheng bahkan tidak memiliki hak untuk meninggalkan karangan bunga di makam lelaki tua itu.

Karena Xie Qingcheng akan diusir oleh shidi dan shimei-nya dan hanya bisa memandangi batu nisannya dari jauh.

Tapi He Yu tahu bahwa dia tidak pernah menyesalinya.

–Ini adalah jiwa Xie Qingcheng.

Ketika pria itu meludahkan kata-kata pemotong itu seperti mesin, dia telah mendorong dirinya sendiri ke dalam jurang.

Dia membenci orang-orang yang disebut pihak lemah, yang mengeksploitasi dokter dan ingin mereka mati demi pasien mereka, dan dia khawatir bahwa shidi dan shimei yang naif, sembrono, dan terlalu baik tidak tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri.

Atau lebih tepatnya, bahwa mereka tidak akan berani mengatakan, “Bukankah dokter juga layak dilindungi? Karena kehidupan dokter juga kehidupan, dan dokter juga manusia — kami memiliki keluarga, kami memiliki istri dan anak, kami adalah anak perempuan, dan juga seorang ibu. Bisakah kalian tidak memuji kami sambil memaksa kami untuk menumpahkan darah kami agar layak menerima pujian ini?”

Dia berpikir bahwa hal-hal tidak harus seperti ini.

Oleh karena itu, ia mengorbankan reputasinya sendiri dan mengubur karirnya sendiri untuk beristirahat.

–Ini adalah jiwa Xie Qingcheng.

Sama seperti bagaimana Qin Ciyan telah melindunginya, dia (xqc) membayar harga untuk melindungi para idealis yang lelah, kewalahan, dan berdedikasi dengan jas putih di belakangnya.

Selama ini, He Yu mengira Xie Qingcheng membenci pasien sakit jiwa, bahwa dia takut pada mereka.

Tapi orang yang dia benci sebenarnya adalah dirinya sendiri.

He Yu selalu menghormati orang yang sakit jiwa dan berusaha melindungi mereka yang tersiksa baik tubuh maupun pikiran, tetapi dia tidak tahu bahwa Xie Qingcheng juga salah satu dari mereka.

Bahwa dia adalah orang yang paling dekat dengannya.

–Ini adalah jiwa Xie Qingcheng.

Apakah dia mencintainya…

Apakah dia mencintainya…

Orang seperti ini, hati seperti ini, jiwa seperti ini…

Binatang besar di dadanya yang sekarang memiliki nama itu dengan panik mengelilingi hatinya.

Seolah-olah melihat melalui mata makhluk aneh itu, dia melihat ke bawah dan melihat pria itu berdiri di rumah sakit, menghadapi kerumunan wajah cemberut dan menunjuk jari. Dia melihat pria itu bertemu dengan mata jiwa Qin Ciyan yang jauh dan tembus cahaya, dikelilingi oleh ubur-ubur kuno yang mengambang yang telah berenang dari tahun-tahun di Brooklyn hingga hari ini.

Kemudian, Qin Ciyan berbalik dan, memasukkan tangannya ke dalam saku jas putih panjangnya, perlahan berjalan pergi. Sosoknya yang bungkuk tua diluruskan menjadi kepercayaan diri yang tenang dari puncak hidupnya sebelum akhirnya kembali ke penampilan masa mudanya yang cerah — seorang mahasiswa muda yang belajar di luar negeri di Amerika, membawa setumpuk buku tebal di bawah lengannya dan tersenyum sambil menatap ke atas langit yang dipenuhi ubur-ubur. Akhirnya, dia menoleh untuk menyeringai cerah pada Xie Qingcheng, yang tidak bisa mengejarnya.

“Xiao-Xie, aku tidak butuh alasan untuk menyelamatkanmu, karena aku tahu kamu akan melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan. Selama kamu masih hidup, aku akan terus hidup melalui kamu.”

“Kamu adalah orang kepercayaanku, anakku, muridku, rekan seperjuanganku — kamu adalah harapan yang kutinggalkan. Aku sudah tua, dan yang tua akan selalu pergi — karena memang benar daun-daun tua jatuh untuk melindungi tunas-tunas baru. Mentorku sendiri juga mengorbankan waktu dan energi mereka dan kemudian ada aku sendiri.”

Matahari terbenam di Brooklyn menyinari sosok pemuda itu. Mengenakan setelan bergaya Eropa, dia berseri-seri saat dia melambai ke Xie Qingcheng sebelum memudar menjadi cahaya keemasan yang cemerlang.

He Yu melihat saat Xie Qingcheng terhenti.

Dia berhenti mengejarnya.

Langkahnya terhenti.

Dokter Xie menyaksikan Dokter Qin menghilang sedikit demi sedikit, seperti dia sedang memandangi tubuh orang tuanya yang sedingin es di malam hujan itu. Sinar matahari itu seperti panah, seperti badai hujan, seperti kembang api, seperti kecemerlangan yang telah dipancarkan orang itu selama hidupnya, menyinari wajahnya pada saat ini. Ekspresinya tiba-tiba hancur dalam sekejap saat dia berdiri membeku di tempat untuk waktu yang lama.

He Yu tahu bahwa Xie Qingcheng tidak bisa pergi ke Brooklyn.

Dia harus kembali. Dia harus berbalik.

Maka, mengangkat tangannya, Dokter Xie diam-diam dan dengan kejam mengenakan topeng berlabel “pengkhianat,” “pengecut,” dan “pembelot,” dan berbalik. Dia menghadapi yang lain sekali lagi dengan tatapan sedih, pantang menyerah, dan penuh tekad yang memandang keluar dari balik topeng.

Dia berjalan kembali, menjauh dari Qin Ciyan.

Menuju malam gelap yang tak berujung.

Membiarkan api yang mengamuk menghanguskan tubuhnya dan pedang tajam menembus jantungnya, dia mengambil langkah demi langkah dengan tekad yang tak tertandingi.

He Yu menyaksikan … melalui mata binatang aneh itu, dia akhirnya melihat semuanya dengan sangat jelas saat setiap langkah Xie Qingcheng seolah menghantam jantungnya.

–Ini adalah Xie Qingcheng yang asli.

Xie Qingcheng yang He Yu kenal.

Itu adalah cinta. Dia mencintainya.

Dia menyukai tubuh dan hati orang ini. Dia menyukai bekas luka dan daging terkoyak orang ini. Dia mencintai tubuhnya yang sakit-sakitan dan lelah.

Dia mencintainya.

Dia mencintainya…

Binatang besar itu membiarkan dia melihat semuanya dengan sangat jelas — semua tentang dirinya sendiri, segala sesuatu tentang Xie Qingcheng–

Jadi, saat malam yang panjang berakhir, sebelum fajar tiba.

Pemuda itu akhirnya menghadapi cahaya fajar yang rapuh dan cerah.

Dan dengan serak menggumamkan realisasi yang terlambat. “Xie Qingcheng …”

“Bukankah itu… sakit…”

Xie Qingcheng, apa tidak sakit…?

Semua tahun-tahun ini.

Bukankah kamu sudah kesakitan?

Bukankah kamu… kesepian….


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Ada semacam masalah dengan JJWXC, aku mendapat beberapa umpan balik yang mengatakan bahwa setiap malam sekitar jam 10 atau 11 malam beberapa pembaca tidak dapat mengakses novel — bahkan halaman tidak bisa dibuka sama sekali — masalah berlanjut hingga pagi hari. Sudah seperti ini selama tiga hari dan itu membuatku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Penulis memperbarui tepat waktu, tetapi kemudian situs web mencegah pembaca membaca bab baru, dan bahkan jika penulis menemukan ada beberapa kesalahan ketik, dia tidak dapat masuk ke bagian latar belakang untuk mengedit bab — itu membuatku benar-benar kehabisan kata-kata, aku akan memeriksanya lagi… ini benar-benar sangat membingungkan….

Teater mini:

Bibi Li: Mimpi kemarin benar-benar sangat realistis… semua suara benturan ini, bergetar selama berjam-jam…

He Yu: Bibi, mereka sedang merenovasi, itu sangat normal.

Bibi Li: Benarkah? Kenapa aku merasa bahkan dindingnya bergetar…

Xie Qingcheng: ……

He Yu: Itu adalah film perang, film perang, speaker yang aku modifikasi di ponselku benar-benar luar biasa, getarannya disebabkan oleh suara surround...


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments