Penerjemah: Vaniasajati

Editor: Chu


Peringatan: Seks Eksplisit


Li Ruoqiu pada awalnya tidak mengenali pemuda ini — bagaimanapun juga, He Yu yang merupakan siswa sekolah menengah yang dia kenal di masa lalu telah banyak berubah. Dan kemudian, hanya setelah beberapa saat barulah mendadak ia sadar. “Ah — itu kamu?”

Sedikit kecanggungan muncul di wajahnya.

Namun He Yu tidak tampak canggung sama sekali. Dia tersenyum, “Bibi Li, ini aku. Halo.”

“…” Lidah bajingan kecil ini terlalu tajam. Untuk usia Li Ruoqiu, secara umum seharusnya dia memanggilnya “Jie”.

Tapi dia bersikeras untuk memanggilnya “Bibi,” seolah dia (HY) sengaja mengingatkannya (LR) akan sesuatu.

Li Ruoqiu: “Ka-kamu telah tumbuh besar. Ketika aku bertemu denganmu di masa lalu, kamu masih kecil ….”

He Yu terus tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.

Li Ruoqiu: “Sudah berapa tahun sejak terakhir kali kita bertemu?”

He Yu: “Sudah lama.”

Li Ruoqiu dan anak laki-laki itu saling berpandangan untuk beberapa saat. Dia adalah seseorang yang sangat terbiasa dengan nuansa emosional, jadi dia segera menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dari cara He Yu memandangnya.

Perasaan semacam itu… bagaimana menggambarkannya?

Itu benar-benar terasa sedikit akrab.

Saat dia memikirkannya, dia menyadari — itu sebenarnya agak mirip dengan seorang gadis muda yang muncul di rumahnya untuk memulai perkelahian.

Ketika Li Ruoqiu menyadari hal ini, dia tiba-tiba membeku.

Dia tidak tahu mengapa anak laki-laki ini akan menatapnya dengan cara ini.

“Kamu … kamu tidak merayakan tahun baru dengan orang tuamu malam ini?” Dia bertanya dalam keraguan dengan sedikit bimbang.

“Tidak. Aku merayakannya dengan Xie-ge.”

“Tapi…” Li Ruoqiu ingin menanyakan hal lain, tetapi Xie Qingcheng memotongnya.

Xie Qingcheng: “Ikut denganku.”

Li Ruoqiu hanya bisa menyerah. Xie Qingcheng melihat ke samping selama beberapa detik dan memelototi He Yu sebagai peringatan, lalu berjalan menuju tempat Xie Xue berada.

Meskipun Xie Xue membenci Li Ruoqiu, sama halnya dengan Xie Qingcheng, dia bukan tipe orang yang akan menendang seseorang ketika mereka jatuh. Mengetahui bahwa Li Ruoqiu telah dipukuli habis-habisan oleh bajingan sialan itu, bahkan sampai mulutnya bengkak dan salah satu giginya lepas, dia masih setuju untuk membawa Li Ruoqiu ke hotel terdekat dan merawatnya untuk beberapa hari.

Setelah membuat semua pengaturan yang diperlukan, Xie Qingcheng duduk sendirian di rumahnya dan merokok.

Tidak ada yang datang untuk mengganggunya lagi. Bibi Li adalah orang yang sangat bijaksana, sementara He Yu telah dipanggil oleh bibi dan paman lain untuk mengobrol.

Tersapu dalam keributan yang hangat dan ramah, kerumunan di luar melakukan yang terbaik untuk berpura-pura tidak melihat apa pun, untuk memberinya sedikit kedamaian. Saat malam semakin larut, salju mulai turun lagi dari langit, jendela-jendela berangsur-angsur berkabut dan hanya menyisakan dekorasi merah yang ditempelkan ke kaca dalam definisi yang jelas.

Mata Xie Qingcheng kabur seperti kabut. Dia mematikan rokok terakhir dengan jari rampingnya sebelum bangkit untuk mandi di kamar mandi.

Suasana di dalam ruangan terasa sangat gerah. Dia telah merokok terlalu banyak, dan juga minum anggur. Ditambah lagi, dia benar-benar dalam kondisi mental yang buruk, jadi butuh waktu lama baginya untuk tertidur.

Pada waktu ketika CCTV mulai memutar “Tonight is Unforgettable”1Lagu ini secara tradisional dimainkan pada akhir siaran Tahun Baru tahunan., pintunya terbuka sekali lagi.

Dalam keadaan suramnya, dia mengira Xie Xue telah kembali. Hanya ketika orang itu berjalan melewati tirai dan tiba di samping tempat tidurnya, dia menyadari bahwa itu sebenarnya He Yu.

Xie Qingcheng berbaring di tempat tidur. Dia sedang tidak ingin berbicara, jadi dia hanya membuka mata bunga persiknya untuk menatapnya acuh tak acuh dengan pandangan kosong.

Dia tidak kehilangan kesabarannya di depan Li Ruoqiu, tapi dia benar-benar merasa — sangat terhina.

Sangat malu.

Mungkin Li Ruoqiu tidak terlalu menyadarinya karena dialah yang telah mengkhianatinya, tetapi ketika dia datang untuk menangis kepadanya di depan begitu banyak orang, Xie Qingcheng hanya merasa seperti bekas luka lamanya telah ditelanjangi dan dirobek kembali untuk diperlihatkan pada semua orang.

Termasuk He Yu.

Dia merasa sangat gagal, tidak mampu untuk bahkan hanya mempertahankan istrinya sendiri. Pria jantan mana pun akan merasa sangat terluka oleh ini, tetapi sudah bertahun-tahun berlalu sejak cedera itu tertoreh sehingga dia pikir itu tidak akan berdarah lagi.

Namun, kedatangannya (LR) tidak diragukan telah sekali lagi menyebabkan lukanya mulai bernanah dari dalam.

Itu sakit.

Pria dan si bocah lelaki itu saling memandang diam-diam dalam kegelapan.

Setelah waktu yang lama berlalu, Xie Qingcheng berkata dengan suara serak, “Kamu sebaiknya pulang. Pertunjukannya sudah selesai.”

He Yu berkata, “Xie Qingcheng, kamu jelas bisa menyuruhnya pergi.”

“Dia mantan istriku.”

“Dia hanya mantan istrimu.”

Kesal, Xie Qingcheng menutup matanya. Dia sudah merasa agak linglung, jumlah nikotin dan alkohol yang berlebihan menyebabkan otaknya bekerja dengan ekstra lambat.

Dia berkata, “Berhentilah mencampuri urusanku. Kamu sebaiknya pergi.”

Setelah insiden studio film, He Yu benar-benar berencana untuk kembali memperlakukan Xie Qingcheng dengan dasar rasa hormat.

Tapi keadaan berubah lagi malam ini. Rasanya seperti ketika dia melihat Li Ruoqiu muncul, segala pemikiran tentang “perdamaian”, “pengertian”, dan “persahabatan terhadap kerabatnya” telah dengan sialannya menghilang dalam udara tipis.

Dengan perasaan bergolak di hatinya seperti lubang magma layaknya aspal mendidih, dia menyipitkan matanya. “Xie Qingcheng, aku bertanya padamu, kenapa baru saja kamu berbicara dengan sopan padanya? Kamu tidak benar-benar berencana untuk memaafkannya dan berbaikan dengannya, bukan? Kamu benar-benar tidak punya dasar (pendirian), siapa saja bisa mencintaimu dan pergi meninggalkanmu, kamu—”

“Kapan aku berencana berbaikan dengannya?” Marah, Xie Qingcheng bangun ke posisi duduk. Dalam kegelapan malam yang kelam, dengan rambut acak-acakan, dia memelototinya melalui mata yang terhina. “Kapan aku berencana memaafkannya? Tapi dia seorang wanita! Dan dia pernah menjadi istriku! Memangnya bagaimana lagi seharusnya aku memperlakukannya? Apakah kamu ingin aku mengusirnya ke jalan di tengah musim dingin pada Malam Tahun Baru ini? Aku seorang pria, oke? Aku tidak punya pilihan kalau dihadapkan dengan seorang wanita dalam kondisi seperti itu! Aku tidak bisa melakukannya!”

“Ini tidak ada hubungannya dengan apakah kamu seorang pria atau tidak. Ada benar dan salah dalam segala hal, dan kamu sudah mendekati sikap sok suci untuk tidak memperlihatkan tendon (Marah) dan meminum darah seseorang yang mengkhianatimu. Dan dia bahkan berselingkuh—”

Xie Qingcheng tidak tahan lagi.

Dia tahu bahwa tadi He Yu telah mendengar semuanya ketika dia berdiri di dekat pintu.

Selama bertahun-tahun, dia selalu enggan untuk berbicara tentang mengapa dia menceraikan Li Ruoqiu di depan orang lain dan hanya mengatakan bahwa kasih sayang mereka telah memudar. Lagi pula, tidak ada pria yang mau mengakui bahwa istrinya sendiri berpacaran dengan orang lain—ini bukan masalah benar dan salah, tetapi masalah penghinaan belaka.

Mata Xie Qingcheng sangat merah, sehingga tampak seperti akan meneteskan darah. Dengan emosi, dia berkata, “Apakah kamu puas, mengetahui tentang hal-hal seperti ini?”

“……”

“Tutup mulutmu, He Yu. Kamu tidak akan bisa memahami!”

“Aku sudah memikirkan soal itu dan kupikir aku bahkan tidak seburuk itu, ya kan? Aku tidak seburuk itu kan? Aku memperlakukannya dengan cukup baik saat itu. Dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan—aku mendukungnya dalam segala hal yang dia lakukan. Apakah kamu benar-benar akan mengatakan kepadaku bahwa itu adalah kesalahanku ketika dia berselingkuh?!”

Ekspresi He Yu juga sangat tidak menyenangkan. “Bukan itu maksudku.”

Tapi kelihatannya Xie Qingcheng sudah tidak bisa tenang lagi. Efek dari nikotin dan anggur, tekanan psikologis, dan interogasi He Yu menyebabkan dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan menjadi sangat mudah tersinggung.

Sekarang Ketika He Yu sudah mengetahui bahwa dia (XQC) juga seorang pasien Ebola Psikologis—sekalipun dia bisa menekan gejalanya dengan sangat baik—melihatnya kehilangan kendali gara-gara Li Ruoqiu seperti ini membuat He Yu semakin kesal.

Matanya sedikit merah saat dia merasakan kebencian dan ketidaknyamanan di hatinya berkembang lebih jauh. “Tapi Xie Qingcheng, kamu benar-benar tidak boleh membiarkan jalang seperti itu mempengaruhimu sampai sejauh ini.”

“Jangan mengatakan hal seperti itu di depanku. Kamu tidak memahami seluruh kondisinya (LR), dan ketika semua sudah dikatakan dan dilakukan (bagaimanapun juga), dia masihlah mantan istriku, kamu mengerti?”

He Yu menatapnya lekat-lekat. “Kamu jelas sekali masih peduli padanya ketika kamu mengatakan itu.”

“Persetan (mana mungkin) aku peduli padanya!” Xie Qingcheng mulai gemetar karena marah. Dia juga menyadari bahwa dia tidak bisa terus meledak seperti ini, tetapi penghinaan yang ekstrim membuatnya tidak mungkin untuk berhenti berdebat dengan He Yu.

Memang benar bahwa dia tidak pernah berdebat dengan Li Ruoqiu.

Tetapi saat ini, He Yu yang berdiri di depannya, dan ya, dia memang ingin berteriak padanya, dia memang ingin melampiaskan, mengambil kaki dian2Lampu dengan penyangga kaki. di sampingnya dan melemparkannya ke arah He Yu untuk membuatnya enyah.

Mungkin pada saat ini, dia juga merupakan naga biru yang terluka. Meringkuk di guanya saat dia menjilati lukanya, dia tidak ingin ada kerabatnya yang melanggar batas wilayahnya.

Karena mereka berdua laki-laki—siapa yang tahu jika He Yu akan menusuk lehernya dengan taringnya dan mengambil nyawanya?

Dia ingin melakukannya, jadi dia melakukannya.

Dengan bunyi gedebuk, lampu pecah, suaranya sangat keras.

He Yu lengah, dan ujung kaki dian yang tajam mengenai sisi dahinya, menyayat dagingnya seperti pisau. Darah hangat segera mulai menetes dari lukanya.

“……” Pria muda itu terdiam untuk waktu yang lama. Kemudian, dia mengangkat tangan untuk menyentuh lukanya dengan ringan. Dalam kegelapan, dia menyapu sedikit darahnya dan mengoleskannya di antara bantalan jari-jarinya, menatap diam-diam ke ujung jarinya.

Xie Qingcheng: “Keluar.”

“Enyahlah.”

Pria muda itu melihat darah yang menodai telapak tangannya dan setelah waktu yang lama, diam-diam mulai tertawa. Ketika dia melihat ke arah (xqc) lagi, ada kilatan cahaya merah aneh yang mengalir di matanya.

“Xie Qingcheng …” dia menghela nafas, “Kenapa kamu tidak mau membiarkan aku memperlakukanmu dengan sedikit lebih baik?”

“Baru beberapa hari, namun kamu memperlakukanku seperti ini.”

Dia berjalan ke samping tempat tidur Xie Qingcheng, selangkah demi selangkah, lalu menatapnya dari atas.

He Yu merasa bahwa dia juga akan mengalami gejolak. Hatinya dengan tak terungkapkan merasa sangat jengkel, pengap, dan sakit—namun ketika bercampur aduk, semua perasaan ini juga membuatnya mati rasa, agresif, dan haus darah.

“Jadi beginikah cara berinteraksi yang kamu inginkan denganku di masa depan, Xie Qingcheng?”

“….”

“Wanita itu tidak lain adalah pengkhianat dan pezina yang memalukan. Tidak ada yang perlu dikasihani darinya bahkan jika dia tercabik-cabik menjadi ribuan keping. Tapi aku adalah kerabatmu. Bisa-bisanya kamu menyakitiku seperti ini demi dia?”

“Ini bukan demi dia—”

Tetapi pada saat ini, hampir tidak mungkin bagi kedua orang gila itu untuk berkomunikasi.

Sepertinya mereka masing-masing melampiaskan emosi mereka pada saluran mereka sendiri yang terpisah, dua aliran deras yang tidak pernah bisa melakukan kontak.

He Yu tidak menunjukkan perasaan meluap yang berlebihan, tetapi pada saat ini, dia sebenarnya bahkan lebih tidak rasional daripada Xie Qingcheng. Xie Qingcheng tahu di mana batasan untuk melampiaskan perasaannya dan kapan dia harus berhenti. Dengan demikian, dia tahu cara mengendalikan dirinya sendiri dan menekan emosinya saat dia telah bersentuhan dengan batas kemampuannya.

Tapi He Yu tidak sama.

Sebagai naga yang masih muda, He Yu tidak benar-benar tahu bagaimana cara menanggulangi dirinya sendiri. Meskipun dia tampil seolah dia memiliki kontrol yang lebih baik atas dirinya sendiri, sebagai perbandingan, cahaya di matanya jauh lebih suram.

Dia tiba-tiba mengangkat tangannya yang berdarah dan meraih rambut-rambut liar yang memenuhi dahi Xie Qingcheng, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap pergi (rambut itu) dari wajahnya.

Seolah tengah berbicara pada dirinya sendiri, dia berkata, “Tapi apa gunanya untuk begrsikap begitu baik padanya?”

“Dia masih melihatmu sebagai ban serep3“Ban serep” adalah bahasa slang Cina untuk cadangan., sebagai pusat daur ulang.”

“Dia tidak menghargaimu, Xie Qingcheng.”

“Dia tidak mencintaimu.”

“Aku tidak butuh kamu untuk mengatakan hal sialan itu padaku!” Xie Qingcheng tiba-tiba menjadi marah. Kali ini, dia turun dari tempat tidur untuk mengusirnya. “Kuberitahu kamu, He Yu, kamu cuma seorang anak. Kamu tidak mengerti apa-apa! Kamu benar, dia tidak menghormatiku, aku tidak cukup baik, oke? Aku pantas untuk bercerai, pantas bagiku untuk dilihat sebagai lelucon oleh kalian semua, pantas bagiku untuk—”

Dia tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.

Karena He Yu mencekal dan memutar lengannya ke belakang, setelah itu dia mencondongkan tubuh ke depan, menyebabkan keduanya jatuh ke tempat tidur. Mata Xie Qingcheng terbuka lebar ketika pada saat berikutnya di tengah denting jam dari luar yang mendadak menarik perhatian di tengah malam, anak sekolah itu dengan ganas mencium bibir yang beraroma tembakau milik pria itu.

“Itu benar, Xie Qingcheng. Kamu pantas mendapatkannya.” He Yu berkata, suaranya rendah dari sisa ciuman mereka yang berantakan dan penuh gairah hingga terengah-engah, “Pantas bagimu untuk memprovokasiku.”

“Lepaskan … sialan … lepaskan!” Xie Qingcheng mendesis pelan ke celah di antara ciuman mereka, “Sekarang apa yang kamu lakukan?! Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan melakukan ini lagi padaku!”

Satu tangan besar He Yu berada di sekitar lehernya, dan satunya lagi berada di punggung (milik XQC). Ketika dia mendengar Xie Qingcheng mengatakan ini, dia mundur sedikit, tatapannya tertuju pada wajah Xie Qingcheng.

Dia masih berbaring di atas Xie Qingcheng, bibirnya cuma berjarak setengah inci dari bibir Xie Qingcheng, cukup dekat bagi yang lain untuk merasakan setiap naik turunnya dadanya.

“Kamu bilang kamu tidak akan melakukannya lagi,” kata Xie Qingcheng akhirnya, pelan, sambil terengah-engah.

Tingkat kekedapan suara di kediaman tua ini cukup buruk, dan di luar ada orang di mana-mana. Dia sudah cukup kehilangan muka hari ini.

Argumen mereka telah menjadi sangat jelek, dan suara-suara tadi sudah lebih dari cukup untuk mengundang lirikan dari mata yang ingin tahu. Xie Qingcheng tidak ingin kehilangan muka lebih jauh lagi.

“He Yu, aku harap kamu menepati janjimu.”

He Yu menatapnya diam-diam, bulu matanya turun saat dia mengalihkan pandangannya dari mata Xie Qingcheng ke bibirnya. “Aku memang mengatakan itu. Jangan khawatir, aku tidak akan menarik kembali kata-kataku.”

Tatapan suram yang jatuh ke bibir Xie Qingcheng pindah kembali ke matanya.

Ketika He Yu menatap bibir Xie Qingcheng, tatapannya penuh dengan hasrat, tetapi sekarang setelah dia menatap mata Xie Qingcheng, itu menjadi sangat gelap.

“Tetapi–“

Dia mengusapkan ujung jarinya ke dahi Xie Qingcheng, sedikit demi sedikit.

Dengan mata terpejam, dia mengusap lembut rambut di pelipis Xie Qingcheng menggunakan ujung hidungnya.

Ketika dia tiba-tiba membuka matanya lagi, mata itu terbakar dengan nyala api yang dingin dan panas sekaligus.

“Ada beberapa hal yang bisa menjadi berbeda. Apakah kamu ingin mencobanya?”

Sebelum Xie Qingcheng dapat memahami apa yang dia maksud dengan ini atau apa yang mungkin berbeda, He Yu tiba-tiba menarik sabuk jubah mandinya.

Mata Xie Qingcheng memerah karena marah. “Kamu bersikeras bersikap seperti ini lagi? Kamu akan menjilat ludahmu kembali begitu saja? Kamu mampu menghormati semua orang yang sakit mental, tapi aku satu-satunya pengecualian?!”

He Yu tidak bersuara saat dia menekan (XQC) ke bawah dengan kekuatan yang hampir brutal dan menjejalkan sabuk (baju mandi tadi) di antara gigi Xie Qingcheng, untuk meredam kata-katanya.

Sekarang setelah semua hal buruk telah sampai sejauh ini, Xie Qingcheng tidak bisa menahannya lagi. Dia tidak ingin menggunakan kekerasan, tetapi tampaknya kekerasan adalah satu-satunya pilihannya. Dia mengambil secangkir air di dekatnya dan mulai dengan melemparkan isinya ke wajah pemuda itu. Kemudian, ketika air tidak hanya gagal untuk mengusir He Yu, tetapi juga membuatnya semakin melekat padanya, Xie Qingcheng dengan marah memukulkan cangkir kosong itu langsung ke kepalanya!

Dengan bunyi gedebuk, dahi He Yu yang sudah terluka dan berdarah mulai mengeluarkan lebih banyak darah lagi, darahnya tidak lagi merembes keluar dengan perlahan, tetapi mengalir ke bawah dengan deras.

Darah merah segar dan panas mengalir di wajahnya.

Melewati alisnya yang gelap gulita, dan tiba-tiba tanpa ragu membanjiri salah satu mata yang terbuka milik pemuda itu.

Darah memenuhi tepi matanya.

Dan kemudian—itu meluncur dengan kaku ke bawah.

Seperti air mata berdarah tanpa suara menetes dari sudut mata iblis.

“……” Mungkin karena tatapan He Yu terlalu menakutkan, atau mungkin karena, saat melihat air mata berdarah yang mengalir di wajah basah pemuda itu, Xie Qingcheng menyadari bahwa semuanya sudah terlalu jauh dari batas. Dia tidak bisa benar-benar membunuh seorang manusia di Malam Tahun Baru.

Tangan Xie Qingcheng gemetar dengan seksama bahkan ketika nadinya menonjol karena marah, dan pada akhirnya, tangan itu dipegang oleh tangan He Yu dengan cengkeraman yang kuat. Pria muda itu menenggelamkan jari-jarinya sendiri di antara jari-jari itu, menjeratnya saat dia mengambil cangkir dari tangannya yang terkepal erat…

Xie Qingcheng tertangkap oleh genggamannya yang penuh nafsu, ketika jari-jari He Yu yang berdarah menekan telapak tangan Xie Qingcheng dan tangannya direbut sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa lagi memegang senjata itu, cangkir tersebut akhirnya jatuh dan berguling dari tepi tempat tidur, pecah ke lantai.

Mendengar suara pecahan porselen, Xie Qingcheng segera menutup matanya, ekspresinya sedih, seperti dia telah disiksa sampai gila oleh semua yang terjadi hari ini …

“Xie Qingcheng …”

He Yu perlahan mengangkat tangannya. Tatapannya tampak gila namun tenang, terluka namun marah.

Dia menyentuh wajah sedingin es Xie Qingcheng.

“Kubilang. Beberapa hal bisa berbeda.”

Kemudian dia menundukkan kepalanya—

Dan melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Xie Qingcheng sudah putus asa terhadapnya, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa setelah merobek pakaiannya, He Yu akan menundukkan kepalanya, membungkuk, dan sebenarnya… Dia benar-benar… memasukkan benda panjang Xie Qingcheng ke dalam mulutnya.

“!!”

Mata Xie Qingcheng terbuka saat dia membuat suara teredam dari tercekiknya4Karena kaget, bukan benar-benar tercekik.. Pikirannya menjadi kosong dalam sekejap—dia tidak percaya apa yang sedang terjadi sekarang.

He Yu memberinya seks oral.

Hasrat pemuda itu sama bergairahnya dengan ketidaksabarannya. Di tambah, dia memiliki kecenderungan sedikit kesadisan di tempat tidur, sehingga selama penyatuan mereka sebelumnya, dia hanya peduli tentang memasukkan dirinya ke dalam dan selalu agak kasar. Dia jarang menghabiskan banyak energi untuk mengurus bagian depan Xie Qingcheng—bahkan jika dia mau, dia tidak bisa. Xie Qingcheng cukup dingin, dan dia (HY) tidak memiliki kesabaran untuk melelehkan patung es itu.

Tapi sekarang, He Yu membawanya ke mulutnya.

Keterampilan blowjob He Yu tidak terlalu bagus. Sebenarnya, dia cukup amatir, tapi ini seperti yang sudah diduga. Dia belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya, dia juga tidak pernah berpikir bahwa dia akan melakukan hal seperti itu suatu hari nanti.

Namun, ketika dia melihat Xie Qingcheng mengatakan bahwa ia berhak untuk diceraikan, ditertawakan, ditinggalkan, dia mendapati dirinya diliputi oleh kejengkelan. Samar-samar, dia bahkan merasakan sedikit rasa sakit.

Dia tidak tahu bagaimana menenangkan rasa sakitnya sendiri, dia juga tidak tahu bagaimana menghentikan Xie Qingcheng dari menyiksa dirinya sendiri seperti ini. Tampaknya tidak peduli apa yang dia katakan, dia hanya akan menusuk Xie Qingcheng di tempat yang sakit. Dan mengingat bagaimana dia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri, dia yang bertanggung jawab karena memulai perdebatan dengan Xie Qingcheng lagi dalam beberapa pertukaran penuh.

Jadi begitulah, ini adalah apa yang dia putuskan untuk dilakukan.

Untuk mencegah Xie Qingcheng mengoceh dan memprovokasinya lebih jauh lagi selama proses ini, dia memutuskan untuk membungkam pria tersebut dengan potongan kain itu (ikat pinggang jubah mandi)—jadi, saat ini, Xie Qingcheng tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Pupil matanya berkontraksi sampai terlihat seperti tusukan jarum karena semua yang terjadi di tempat tidur membuat emosinya yang ditumpulkan oleh nikotin dan alkohol menjadi lebih kacau.

Ia tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi.

Terus terang saja, selama bertahun-tahun ini, tidak pernah ada seorang pun yang memberi Xie Qingcheng oral sebelumnya.

Dia adalah tipe pria yang sangat tradisional dan tidak fleksibel. Kembali ketika dia bersama Li Ruoqiu, dia tidak pernah meminta Li Ruoqiu untuk melakukan apa pun demi kesenangannya. Dia berpikir bahwa perempuan harus dihormati dan dilindungi sebagai jenis kelamin yang lebih lemah. Jadi meskipun dia jelas memahami alasan untuk seks oral dari sudut pandang medis, dia masih tidak bisa menerimanya.

Dia merasa itu adalah beban bagi si wanita, dan bahkan dia akan merasa dia telah mempermalukan istrinya hanya dengan menuntutnya (melakukan itu).

Jadi, dia bahkan tidak pernah menyimpan pemikiran tersebut.

Tapi sekarang, saat He Yu mengisap, menjilat, dan menelan penisnya tanpa ragu sedikit pun, sensasi mengerikan yang tidak benar-benar hanya berasal dari seksual saja mulai bertumbuh.

Itu bukan sepenuhnya kesenangan fisik, dan lebih merupakan rangsangan psikologis.

Stimulasi ini berasal dari naluri dasar pria dan diisi dengan keinginan untuk penakhlukkan. Xie Qingcheng belum pernah merasakan sensasi seperti itu sebelumnya dan, menenggelamkan tangannya ke rambut hitam He Yu, mencoba mendorongnya menjauh dengan jari-jari yang sedikit gemetar.

He Yu mengabaikannya, malah menghisapnya lebih dalam.

Tidak tahan, Xie Qingcheng menarik rambutnya, dadanya naik turun saat matanya memerah—

Dia tidak antusias tentang seks, dan setelah pengkhianatan Li Ruoqiu, dia merasa semakin dipermalukan. Akibatnya, ia menjadi muak dengan cinta dan bahkan lebih muak dengan nafsu, sehingga ia menjadi semakin dingin tentang seks.

Kemudian, setelah melakukan hubungan homoseksual dengan He Yu, dia menderita PTSD yang parah sehingga pada awalnya, memikirkannya saja membuatnya ingin muntah, dan hanya melalui kekuatan supernya, dia akhirnya bisa menghilangkan perasaan ini dari dirinya. Sebagai seorang pemuda yang jantan, He Yu tidak pernah puas. Jadi, seiring waktu, Xie Qingcheng disiksa sampai menjadi apatis.

Sampai sekarang.

He Yu benar-benar menahannya di mulutnya, mencoba menyenangkannya. Mulut anak laki-laki itu hangat dan basah saat dia dengan hati-hati menjauhkan giginya dari penis pria itu dan membelai batangnya dengan lidahnya.

He Yu mengisap dengan sungguh-sungguh, seolah dia sekarat karena kehausan. Benar-benar aneh—dia jelas membenci homoseksualitas, tetapi sekarang dia merasa bahwa mengisap baobei Xie Qingcheng bukanlah masalah besar. Bahkan, dia cukup menikmatinya.

Tidak ada pria yang bisa mempertahankan begitu banyak perlawanan terhadap layanan seksual oleh orang lain, terutama ketika layanan itu datang dengan hasrat yang bergolak, dan bukan jenis yang hanya secara mekanis menyelesaikan tindakan bercinta karena kewajiban.

Xie Qingcheng menggertakkan giginya dan melaluinya, jakun naik turun secara sensual, sebelum akhirnya melepaskan kendalinya sedikit dan membiarkan napasnya terengah-engah.

Tetapi dia segera merasa bahwa seharusnya tidak seperti ini.

Selain saat dia meminum Aroma Plum 59, dia tidak pernah merasakan banyak kesenangan saat melakukan hal semacam ini dengan He Yu, karena dia selalu diliputi oleh penghinaan dan jijik. Sebagai seorang pria, dia tidak tahan didorong ke bawah oleh orang lain.

Tapi sekarang, sebagai respons terhadap pelayanan antusias bocah itu, dia merasakan panas kesemutan yang telah lama hilang perlahan-lahan bangkit di dalam tubuhnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat dan lebih cepat, bahkan ketika di kedalaman kesadarannya yang agak jernih dia masih mengenali bahwa semua ini salah.

Bahwa hal itu tidak seharusnya terjadi.

Jari-jarinya terbenam di rambut hitam He Yu, mencengkeram untaian gelap itu saat dia mencoba sekali lagi untuk mendorongnya menjauh.

Namun kepala anak laki-laki itu tetap dengan keras kepala jauh terkubur di antara pahanya. Dia tidak merasa itu kotor atau memalukan sama sekali saat dia menjilat dan memainkannya, ketika dia merasa bahwa Xie Qingcheng terengah-engah saat mencoba mendorongnya menjauh, dia (HY) melangkah lebih jauh seraya memeluknya dengan lebih penuh perhatian. Dia mengangkat mata almondnya, menatap dengan basah saat dia terus mengisapnya.

“……”

Setelah beberapa saat, He Yu perlahan mengangkat mulutnya dari penis Xie Qingcheng, sebelum akhirnya menekan sebuah ciuman ringan ke kepala cantik dan gemetar itu. Bibir si pria muda dan benda panjang pria tersebut sama-sama berkilau dengan sedikit basahan sisa. He Yu dan Xie Qingcheng saling memandang diam-diam di kegelapan malam, napas mereka agak terengah-engah.

Di bawah pelayanannya, kejantanan Xie Qingcheng telah bertambah keras.

Memang benar bahwa Xie Qingcheng tidak pernah memiliki banyak dorongan seks dan masih sangat tidak terbiasa (berhubungan badan) dengan seorang pria, tapi kenyataannya, itu hanya karena dia tidak suka berhubungan seks dan merasa sangat tidak peduli untuk melakukan kegiatan itu. Dengan kata lain, itu tidak berarti bahwa dia tidak memiliki hasrat sama sekali, juga tidak berarti bahwa dia impoten. Xie Qingcheng masih memiliki tubuh yang terbuat dari daging dan darah — dengan He Yu yang menggunakan mulutnya untuk menyenangkannya dalam keadaan ini, dia masih akan merasakan sesuatu.

Ini adalah pertama kalinya dia menunjukkan hasrat di depan He Yu.

“Ge, kukatakan padamu”, kelihatannya He Yu telah didorong. Suaranya rendah, agak serak karena mengisap penis Xie Qingcheng telah menyakiti tenggorokannya. “Beberapa hal bisa berbeda.”

Sambil berbicara, dia mengambil benda keras Xie Qingcheng ke tangannya dan membelainya dengan basah beberapa kali. Kemudian, dengan matanya masih tertuju pada Xie Qingcheng, dia menggerakkan (kepalanya) sedikit dan mencium lagi benda panjang yang gemetar itu. Dia menutup matanya, bulu matanya lembut saat dia menggunakan ujung hidungnya untuk mengusap benda itu dengan lembut. Dia sendiri benar-benar sangat menikmatinya.

“Ge, itu pantas bagimu karena telah memprovokasiku.”

“Sama pantasnya dengan wanita itu yang tidak berhak untuk memilikimu.”

“Kamu seharusnya tidak perlu memperhatikannya.”

“Rumahmu sangat kecil, jadi kalau kamu berencana untuk menerima seseorang, tentu saja orang itu adalah aku.…”

“Hanya aku yang bisa masuk ke sarangmu.”

Pemuda itu mencium kejantanannya saat dia menggumamkan kata-kata ini kepadanya. Kondisi mental He Yu sejujurnya agak patologis saat dia mengoceh seperti orang gila, tetapi selain dari kata-kata gila itu, mata almondnya tampak berkedip dengan emosi yang sangat lemah dan sangat bingung.

Dia menciumnya, membelainya, dan setelah membungkukkan diri untuk mencium dan mengisap penis Xie Qingcheng, dia menegakkan tubuhnya kembali untuk melepaskan strip kain yang menyumbat mulut Xie Qingcheng dan mencium bibirnya.

“Mm…”

Pria muda itu menghela nafas dalam-dalam saat bibir dan lidah mereka terjalin kusut. Dia menjilat selagi masuk, menjulurkan lidahnya ke dalam sampai semuanya dimabuk asmara dan basah, dia menekan bagian belakang leher Xie Qingcheng dengan satu tangan guna memiringkan kepalanya (XQC) saat dia (HY) menggigit bibir Xie Qingcheng, lagi dan lagi, menciumnya, mempermainkannya, menginginkannya.

Setelah mendengar percakapan Li Ruoqiu dan Xie Qingcheng, He Yu menginginkan Xie Qingcheng lebih dari sebelumnya.

Terutama dia ingin meniduri Xie Qingcheng di ranjang di mana dia (XQC) telah membuat Li Ruoqiu menjadi seorang wanita. Dia ingin Xie Qingcheng merasakan hasrat karena dirinya, ingin dia mengeras, ingin dia klimaks. Dia ingin Xie Qingcheng menjadi pria yang sangat menginginkannya, yang gemetar saat dia mencapai klimaks di bawahnya, di ranjang ini.

Kemunculan dari Saozi-nya telah mengocok semua emosi yang membara di hati He Yu untuk muncul ke permukaan. Dia merasa sangat tidak nyaman dan sangat sedih, seperti dia akan dibuat gila oleh emosi ini, jadi, dia terpaksa menyenangkan Xie Qingcheng dengan mulutnya tanpa berpikir dua kali.

Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dia bukan seorang wanita, jadi dia tidak tahu bagaimana dia bisa menang.

Dia hanya bisa dengan kikuk namun antusias menghisap Xie Qingcheng.

Dia berharap api yang membara di dadanya bisa menular ke tubuh Xie Qingcheng malam ini dan menghanguskan setiap jejak yang ditinggalkan Li Ruoqiu di kulitnya.

Di antara setiap ciuman, He Yu menempelkan dahinya ke dahi Xie Qingcheng, dan berbicara pelan, “Wanita itu berkata bahwa segalanya akan berbeda jika dia bisa memiliki anak denganmu.”

“Tapi dia tidak pantas mendapatkannya.”

“Dia tidak pantas mendapatkannya, Xie Qingcheng.”

“Dia tidak mengerti kamu. Di dunia ini, akulah yang paling mengerti dirimu… Aku yang paling bisa merasakanmu…”

Perasaan kesepian itu semakin kuat, perlahan menyatu menjadi lautan di dalam hatinya.

“Aku marah ketika kamu berbicara dengannya. Bagaimana dia bisa begitu tak tahu malu dan mengatakan bahwa dia menginginkan anak darimu?”

“… Bukan itu yang dia maksud.”

“Kamu masih membelanya!”

Orang tidak waras ini menjadi sangat bertele-tele setiap kali dia menggila. Dia tampak seperti berharap dia bisa mencekik Xie Qingcheng, tetapi pada saat yang sama, dia juga sepertinya ingin Xie Qingcheng memujinya dan memanjakannya. Saat dia berbicara lagi dan lagi, intensitas kegilaannya di matanya semakin kuat dan menguat, namun suaranya malah jadi semakin lembut dan ringan.

“Ge, kamu tidak diizinkan untuk membelanya… dia tidak memperlakukanmu sebaik diriku.”

“Apakah dia pernah melakukan ini untukmu sebelumnya?”

“……”

“Tapi aku bisa melakukan ini untukmu, aku bisa memberimu oral.” Saat dia berbicara, dia mencium bibir Xie Qingcheng lagi dan lagi. Ciuman mereka tidak dalam, hanya satu demi satu sentuhan ringan.

“Dia membuatmu begitu apatis terhadap seks, tapi aku bisa menyembuhkanmu.”

“Sungguh.”

“Aku tidak berbohong padamu kali ini.”

“Kamu seharusnya tidak terlalu dingin.”

“Jangan terlalu apatis denganku. Jangan perlakukan aku seperti kamu memperlakukannya.”

Itu seolah dia akan menggila, atau mencoba menggertaknya, atau mungkin mencoba memohon padanya.

Mungkin pada saat ini, bahkan He Yu sendiri pun tidak tahu emosi seperti apa yang tengah mendorongnya. Terlalu banyak perasaan yang terkumpul, mengisi hatinya seperti rawa, menggerogoti dirinya dari dalam. Terperangkap, dia mencari jalan keluar dengan gila-gilaan, dan ketika dia melihat mata Xie Qingcheng hanya beberapa inci dari matanya, dia berpikir bahwa mungkin ini adalah cahaya yang bisa membawanya keluar dari rawa yang ditinggalkan ini.

Xie Qingcheng menutup matanya dan memalingkan wajahnya. Semua emosi He Yu menekan tubuh Xie Qingcheng, terlalu berat untuk ditanggung.

He Yu telah menciumnya di tempat tidur selama ini, dan setelah melihat dia memalingkan wajahnya, He Yu tampak menjadi cemas, marah, dan terluka saat dia tanpa suara menatap ke wajah Xie Qingcheng yang tegas, sedingin es, dan tanpa emosi untuk waktu yang lama.

Kemudian, seolah-olah sebagai pembalasan atau mungkin sebagai permohonan, dia membungkuk untuk membawa milik Xie Qingcheng ke mulutnya sekali lagi.

Xie Qingcheng menjambak rambutnya, menghentikannya.

“Hentikan.” Suaranya sangat rendah, tanpa emosi yang kentara.

Mata He Yu memerah, setengah gila dan setengah terluka. “Aku sudah mengatakannya sebelumnya—aku satu-satunya kerabatmu.”

“… He Yu, milikilah sedikit harga diri, oke.”

“Kalau begitu…” Suara He Yu bergetar dengan seksama, “Kalau begitu, bisakah kamu memberiku sedikit harga diri?”

“……” Xie Qingcheng merasakan sakit yang menusuk pada kata-kata ini.

Pikirannya sudah kacau balau oleh nikotin dan alkohol, jadi rasa sakit ini hanya mendorongnya lebih jauh ke dalam kekacauan total. Xie Qingcheng mengalihkan pandangan berkaca-kacanya ke arah He Yu, menatapnya dengan tenang dalam kegelapan.

“Mengapa kamu melakukan ini. Apa yang akan kamu dapatkan dari ini? Ya, aku kerabatmu, tetapi satu-satunya kesamaan kita adalah bahwa kita memiliki penyakit yang sama. Apa lagi tentang kita yang sama? Aku tahu kamu kesepian, He Yu, tapi kamu…”

Dia tidak bisa melanjutkan.

Karena He Yu telah mengulurkan tangan dan menutup mulutnya.

Dia membanting Xie Qingcheng ke bawah, membungkukkan punggungnya untuk menekan Xie Qingcheng ke tempat tidur saat dia menatapnya dengan tatapan yang sangat kejam.

Xie Qingcheng menutup matanya.

He Yu akan menjadi gila lagi, akan mencabik-cabiknya dengan kasar lagi, dan mencabik-cabik perut dan ususnya dengan cakar naganya.

Tapi kemudian, tanpa peringatan.

Setetes air mata jatuh ke wajah Xie Qingcheng.

Xie Qingcheng membuka matanya, terkejut melihat bahwa, melayang di atasnya, pemuda itu sudah mulai menangis, air matanya tanpa suara menetes dengan hangat di pipinya.

Darah menetes dari dahi dan air mata mengair di wajah seorang anak laki-laki yang telah dia pukul kepalanya dengan kaki dian dan gelas mug, anak laki-laki yang telah dia kutuk dan tolak.

“… He Yu, kamu…”

He Yu berhenti berbicara. Sepertinya dia sangat membencinya, atau terlalu memohon padanya.

Pada saat ini, wajah muda itu, wajah yang memiliki ketenangan abadi itu, tampak sedikit menyedihkan.

Dia menjepit Xie Qingcheng dengan tiba-tiba, ekspresi wajahnya berubah menjadi dungu seraya matanya masih memerah seperti sebelumnya dan air matanya belum kering. Dia menatapnya dari atas, begitu saja.

Dan kemudian, dia membungkuk.

Tidak peduli apakah Xie Qingcheng menolaknya, atau apakah dia mengatakan bahwa ia (HY) tidak memiliki harga diri dan tidak memahaminya, dia dengan keras kepala dan kikuk menghisapnya ke dalam mulutnya sekali lagi.

Kali ini, He Yu memasukkannya ke dalam tenggorokannya, menelan seluruh kemaluannya hingga ke pangkal sampai menekan di pintu masuk tenggorokannya. Ini sangat tidak nyaman baginya, tetapi sangat menyenangkan bagi orang yang menerima pelayanannya.

Tubuh Xie Qingcheng tiba-tiba melengkung. Kewalahan, dia mencakar seprai di bawahnya, buku-buku jarinya memutih saat dia terengah-engah.

Telinga berdenging, penglihatannya memutih.

Xie Qingcheng tidak bisa menahannya—dia mendorongnya sambil berjuang, mencoba melarikan diri dari kesenangan yang benar-benar asing dan menakutkan ini.

“He Yu, hentikan… sudah cukup…”

Tapi pemuda itu terus saja mengisapnya, suara lengket yang basah keluar dari mulutnya.

“… He Yu!”

He Yu mengabaikannya saat dia dengan rajin menghisapnya sampai benda itu menjadi lebih keras. Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, masih ada air mata yang menempel di ujung bulu matanya, tetapi dia menatapnya seolah-olah dia sedang kesal.

Xie Qingcheng: “……”

Dalam keheningan berikutnya, Xie Qingcheng mengalihkan pandangannya lagi.

Masih menolaknya lagi dan lagi.

He Yu mengertakkan gigi. Dia menolak untuk menerima ini, jadi dia akan terus mengangkat permasalahan ini sampai salah satu dari mereka menyerah. Dia berkata pelan, “Apakah kamu yakin tidak menginginkannya?”

“……”

Xie Qingcheng tidak menjawab.

Dia menurunkan kepalanya lagi.

Xie Qingcheng mendorongnya.

Dia mencoba lagi.

Dan didorong menjauh lagi.

Dia menekan lebih dekat lagi.

Hanya untuk didorong pergi lagi.

Dan…

“……” Pada akhirnya, itu berubah menjadi pertandingan dorong-mendorong yang sangat kekanak-kanakan.

Bolak-balik terus berlanjut, menambah kekacauan Xie Qingcheng dalam prosesnya.

Xie Qingcheng mendorongnya menjauh, lagi dan lagi, jadi He Yu dengan keras kepala maju, lagi dan lagi. Sama seperti bagaimana dalam hidup mereka, He Yu berlari ke arah pria yang sebenarnya sangat kesepian ini, lagi dan lagi.

Lagi dan lagi…

Lagi dan lagi.

Mengetuk pintu hatinya.

Xie Qingcheng menatap anak laki-laki ini, yang penuh kebencian, namun menyedihkan, dan bahkan mungkin sedikit keras kepala, dan akhirnya—

Mungkin karena rokok dan anggurnya, mungkin juga karena dia benar-benar kesal, mungkin pikirannya kacau, atau mungkin juga karena dia terlalu kesakitan.

Mungkin karena keinginannya yang terlalu membara, mungkin juga karena orang di hadapannya ini terlalu gigih, atau mungkin karena orang dari masa lalu telah terlalu banyak menyakitinya.

Atau bahkan mungkin cuma karena hal kosong dan bukan bersebab dari hal-hal di atas, tetapi hanya dalam waktu ketika dua pasang mata itu sekali lagi bertabrakan tanpa suara di kegelapan petang, seraya berjalannya malam mereka dapat mencabut seutas tali rapuh yang terlalu tipis di hatinya.

Kali ini, sambil Xie Qingcheng dengan kejam mendorongnya (HY) pergi sekali lagi, dia juga menampar wajahnya.

Kemudian, terengah-engah, dia bertemu mata dengan He Yu.

Keduanya saling memandang dengan tenang.

Dan kemudian, mungkin karena semua “mungkin” itu.

Setelah memberikan tamparan, Xie Qingcheng terdiam beberapa saat sebelum dia tiba-tiba menjambak rambut He Yu dan menyeret binatang buas itu, menyeretnya ke depan wajahnya yang dingin.

Mata He Yu melebar kaget. “Xie Qingcheng, kamu—”

Xie Qingcheng menatapnya. “Apakah kamu akan bersikeras untuk bertindak seperti ini?”

“……”

“Kamu bersikeras untuk tetap menjadi seperti ini?”

“……”

“Bagus sekali, He Yu. Bagus sekali…” Mata Xie Qingcheng menjadi merah karena marah dan terluka. “Hari ini, aku akan membiarkanmu dengan sialannya melakukan hal yang kamu inginkan…!”

Itu praktis merupakan persetujuan yang merusak diri sendiri, pelepasan emosi yang terpendam dengan putus asa.

Xie Qingcheng memenuhi seluruh keinginan murni He Yu dengan mendorong paksa pemuda itu—yang masih belum sadar—dan menjepitnya ke tempat tidur, matanya tajam, bingung, dan kacau.

He Yu berbicara dengan kaget dan khawatir. “Xie Qingcheng …”

Xie Qingcheng mengangkanginya dan menopang dirinya tegak, gumpalan rambut longgar jatuh di dahinya saat dia membungkuk. Dia menatap He Yu sejenak dengan matanya yang tajam, agresif, dan sepenuhnya maskulin, sebelum akhirnya menyerah pada keputusasaan saat dia meraih rahang He Yu dan membungkuk untuk menciumnya dengan ganas.

“……”

“……”

Setelah keterkejutan selama lebih dari sepuluh detik, He Yu tiba-tiba menyadari apa yang baru saja terjadi padanya.

Xie Qingcheng telah mendorongnya ke tempat tidur—untuk pertama kalinya, Xie Qingcheng mengambil inisiatif untuk merespons!

Meskipun timbal balik ini sepenuhnya lahir dari agitasi dan penghancuran diri orang lain, He Yu masih merasa sangat terpengaruh.

Saat dia kembali sadar, dia mulai mencium Xie Qingcheng dengan panik, tangannya menjelajahi seluruh tubuh Xie Qingcheng.

“Xie Qingcheng …”

Dia menggumamkan namanya di antara napas yang terengah-engah saat dia mencium dan membelainya dengan intens, seperti seekor naga yang masih muda tengah memanggil kerabatnya.

“Xie Qingcheng …”

“Diam,” jawab Xie Qingcheng.

Cuma satu pria yang melepaskan dorongan seksualnya berbeda (sensasinya) dengan dua pria yang melakukannya (melepaskan dorongan seksualnya) bersama-sama—mengikuti timbal balik ini, gelombang panas yang mereka timbulkan belum pernah terjadi sebelumnya, karena udara memanas dalam suhu yang hampir menakutkan.

Xie Qingcheng duduk mengangkangi He Yu, dengan lengan He Yu terkunci erat di tubuhnya (XQC), membelainya—bahkan reaksi terkecil dari Xie Qingcheng mampu membuatnya kewalahan dengan kegembiraan.

Dan itu belum lagi dengan seberapa kuatnya Xie Qingcheng saat dia mengambil inisiatif. Dia sangat mendominasi, ciumannya sedalam sorot matanya, sedalam jurang yang dijalin dari hormon pria –rasanya seolah dia akan bertukar tempat dengan He Yu dan malah menidurinya.

Inisiatif sombong seperti itu sangat menggairahkan He Yu, karena ini berarti bahwa tidak peduli berapa kali dia (XQC) ditiduri dan tidak peduli dengan apa yang telah dia derita, selama dia (XQC) menginginkannya, orang yang dia (HY) minati ini akan selalu menjadi orang yang paling sulit dan paling berkemauan keras. 5Dengan kata lain, meski telah melalui banyak hal pun, yang bisa menentukan dan mengatur Xie Qingcheng hanyalah Xie Qingcheng seorang.

Dia membalas dengan antusias, melingkarkan tangannya di belakang leher Xie Qingcheng, saat dia memperdalam ciuman penuh gairah mereka.

Adapun Xie Qingcheng, dia tampak sangat gelisah saat dia terjerat intim bersama He Yu dengan cara yang secara praktis bisa digambarkan sebagai ‘melukai diri sendiri’.

Mungkin dia benar-benar telah terluka. Kata-kata Li Ruoqiu tampaknya merupakan bentuk pengakuan, tetapi pada kenyataannya, itu adalah pisau tajam yang secara tidak sengaja menusuk ke dalam hatinya.

Siapa dia memangnya? Sebuah ban serep? Sebuah pelabuhan di mana dia bisa kembali untuk berlindung dari angin ketika dia tidak lagi diinginkan (oleh orang lain)?

Dia mencium He Yu dengan penuh gairah. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa berhubungan intim dengan He Yu adalah sesuatu yang bisa membendung pendarahan di hatinya. Rasanya seperti ketika dia bersama He Yu, dia akan benar-benar dibutuhkan, dan seolah dia bukanlah sesuatu yang bisa diganti begitu saja — sesuatu yang bisa dilakukan tanpanya.

Setelah menerima respon yang hampir sombong ini, He Yu terengah-engah saat dia dengan penuh semangat menusukkan lidahnya ke dalam mulut Xie Qingcheng agar terjalin dengannya.

Mereka dengan cepat merobek pakaian satu sama lain menjadi berantakan, tangan He Yu mengembara ke atas dan ke bawah saat dia membelai dengan penuh semangat di tubuh Xie Qingcheng.

Pengedap suara di rumah ini sangat jelek, sehingga dia (HY) tetap merendahkan suaranya saat ia memanggilnya lagi, “Xie-ge.”

“……”

“Xie-ge.” Suara yang memanggilnya terdengar sangat pelan, tetapi mata yang menatapnya terlihat sangat dalam.

Xie Qingcheng berhenti.

Dia tiba-tiba teringat bahwa orang lain juga pernah memanggilnya Xie-ge di kasur yang sama ini. Pihak lain yang berbaring di bawahnya itu, yang juga menatapnya dengan emosi yang begitu dalam di matanya.

Lengannya (LRq) pernah melingkari lehernya (XQC) seperti yang dilakukan lengan He Yu padanya barusan, untuk menariknya ke bawah dan menciumnya.

Karena dia tiba-tiba mengingat hal-hal ini, Xie Qingcheng merasakan ledakan rasa jijik dan benci pada dirinya sendiri.

Gerakannya tiba-tiba berhenti, seolah dia tiba-tiba tersadar. Dia memandang He Yu, berpikir bahwa dia benar-benar sudah gila, bahwa ini benar-benar terlalu tidak masuk akal….

Dia terbangun tiba-tiba… dan menarik diri darinya (dari HY).

Dengan wajah pucat pasi, Xie Qingcheng berkata kepada He Yu dengan nada yang hampir putus asa, “Maaf, aku tidak bisa.…”

He Yu sepertinya mengerti apa yang dia pikirkan, tetapi reaksinya adalah menarik Xie Qingcheng ke bawah sekali lagi dan dengan kekuatan serta keinginan yang tidak akan pernah dimiliki oleh seorang wanita dia menekan sebuah ciuman yang membakar ke bibirnya.

Dengan ciuman ini, meskipun Xie Qingcheng masih menjadi orang yang berada di atas dan He Yu masih menjadi orang yang berada di bawah, He Yu tampaknya telah mendapatkan kembali inisiatifnya. He Yu mencengkeram bagian belakang kepalanya dengan erat, menciumnya dan memeluknya dengan penuh semangat, seperti ia takut bahwa dia (XQC) akan melarikan diri atau kemudian menyesalinya, seolah terlepas dari apakah dia (XQC) diciptakan dari es atau dimurnikan dalam api, dia (HY) akan meleburkannya kedalam dadanya, seolah terlepas dari apakah dia (XQC) arsenik atau heroin, dia (HY) akan menyuntikkannya ke aliran darahnya sendiri. 6Jadi, entah apakah XQC adalah sesuatu yang bisa menyakitinya atau bahkan bisa membuatnya gila, HY tetap akan menyatukan dirinya dengan XQC. Kamu tahu, cinta yang tidak waras dan obsesif.

Pada saat ini, obsesinya yang nyaris seperti penyakit menjadi obat yang paling mujarab untuk menggoda Xie Qingcheng.

He Yu memiringkan kepalanya ke belakang saat dia mencium dan membumbuinya dengan ciuman sambil menempelkan dahi mereka bersamaan.

Dia berkata lagi dan lagi ke telinganya, “Xie Qingcheng, aku menginginkanmu.”

“Aku menginginkanmu.”

“Aku sangat menginginkanmu, Xie Qingcheng. Aku sangat menginginkanmu sampai rasanya aku bisa mati.”

Matanya menjadi sedikit merah, dan siapa pun yang melihat mata itu akan mengerti bahwa setiap kata dan setiap suku kata yang dia ucapkan tidak mengandung sedikit pun kepalsuan sama sekali.

Tak henti-hentinya ia mengungkapkan keinginannya terhadap pria yang sudah bercerai ini, pria yang telah ditelantarkan oleh mantan istrinya ini.

Seolah dia tidak peduli sama sekali.

Seolah dia mencintai keunggulan dan ketidaksempurnaannya (XQC), dan mengagumi kekuatan dan kekacauannya (XQC) secara ekstrem.

He Yu berkata, “Ge, lakukan itu denganku, oke?”

“Xie Qingcheng, jangan pikirkan dia lagi. Lakukan itu denganku, aku lebih baik darinya dalam segala hal—aku memahamimu lebih dari dia, aku lebih dekat denganmu, aku tidak akan meninggalkanmu seperti dia. Aku… aku…”

Menjelang akhir, dia menyemburkan segala macam omong kosong untuk digunakan sebagai alat tawar-menawar demi menggoda Xie Qingcheng agar mau tidur dengannya.

Akhirnya, dia bahkan berkata, “Aku lebih muda dari dia, jadi aku bisa membuatmu merasa jauh lebih keenakan. Aku bisa melakukannya beberapa ronde dalam satu malam. Juga, dia bilang dia tidak bisa punya anak denganmu, tapi mungkin aku bisa membuatmu hamil dengan anakku sebagai gantinya…”

Pria muda itu sangat ingin menjual dirinya sendiri sehingga dia akhirnya mengatakan hal-hal yang paling konyol.

Berbicara secara logis, Xie Qingcheng seharusnya memukulinya setelah mendengar kata-kata gila seperti itu, tetapi pada saat ini, ketika dia melihat anak sekolah yang 13 tahun lebih muda darinya ini mengoceh, hatinya rasanya seperti benar-benar kacau. Dia secara naluriah berpikir bahwa mereka seharusnya tidak seperti ini, bahwa ini salah.

Tetapi pada saat yang sama, dia merasa seolah-olah tangan He Yu telah menghentikan pendarahan di hatinya.

He Yu menekan lukanya dengan paksa, telapak tangannya benar-benar basah oleh darahnya.

Jadi pada saat ini, dia tidak bertengkar dengan He Yu seperti biasanya.

Setelah keheningan yang lama, dia perlahan-lahan menekan He Yu ke tempat tidur, menatapnya sebentar, dan kemudian berkata dengan suara rendah dan agresif, “Kenapa bukan kamu saja yang hamil?”

He Yu: “……”

Dia lupa bahwa Xie Qingcheng adalah pria jantan yang murni, jadi jika dia (XQC) benar-benar ingin mengambil inisiatif, dia tidak akan mau berada di bawah.

Bagaimanapun, He Yu merasa bahwa Xie Qingcheng juga sebenarnya tidak ingin menjadi yang dominan (Gong) dalam hubungan homoseksual. Pada akhirnya, ketika semuanya sudah dikatakan dan dilakukan (bagaimanapun juga), Xie Qingcheng adalah seorang pria yang lurus, jadi masih sangat sulit baginya untuk meniduri pria lain.

Dengan demikian, He Yu menarik Xie Qingcheng dari posisinya mengangkangi saat ini menjadi sedikit lebih rendah, sehingga dada mereka bersentuhan dan jantung mereka hampir berdetak secara bersamaan.

Kemudian, ketika jantung mereka berdetak bersama, dia membelai rambut Xie Qingcheng dan berbisik lembut kepadanya, “Aku jauh lebih baik dalam menghasilkan uang dibandingkan kamu, Ge, jadi jika kamu hamil, aku bisa mendukungmu (secara finansial).”

Xie Qingcheng mengutuknya dengan desisan rendah. “Hamil pantatku.”

He Yu menunggunya untuk selesai mengumpat sebelum memiringkan kepalanya lagi, menciumnya dalam-dalam seolah-olah sedang menghukumnya, tetapi juga seolah diliputi oleh keinginan, sambil dengan penuh semangat dan panik menarik ritsleting celana jinsnya sendiri.

Kali ini berbeda dari semua penyatuan mereka sebelumnya—karena Xie Qingcheng telah mengambil inisiatif, He Yu dengan menakutkannya sudah menjadi sangat keras, terlepas dari kenyataan bahwa mereka berdua bahkan belum bercinta. Kondisi Xie Qingcheng juga sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya—He Yu telah menghimpitnya, dan malam ini, hatinya tidak begitu menentang untuk bersama dengan seseorang yang berjenis kelamin sama, jadi pria yang biasanya agak tidak responsif itu juga menjadi keras dan panas.

Mereka berdua saling berpelukan di ranjang tua yang berderit saat mereka berciuman, terengah-engah karena mereka berdua menolak untuk menyerah.

He Yu menekan lidahnya ke mulut Xie Qingcheng, menariknya ke dalam ciuman panas saat dia menyatukan penis mereka berdua di satu tangan dan mulai membelainya bersamaan.

Stimulasi mengerikan seperti itu menyebabkan tepi mata Xie Qingcheng terasa perih saat getaran samar menjalari tulang punggungnya.

Dia memejamkan matanya, bulu matanya sedikit bergetar.

Meskipun mereka berdua telah terjalin satu sama lain untuk waktu yang lama sebelumnya, mereka telah menahan suara mereka sepanjang waktu, tidak berani membiarkan tetangga atau orang-orang di luar sana mendengar tanda-tanda dari aktivitas mereka. Bagaimanapun, gelombang kesenangan melonjak satu demi satu, mengancam akan menenggelamkan mereka saat Xie Qingcheng duduk di atas tubuh He Yu, dahi pemuda itu menempel di dahinya. Pada akhirnya, keduanya berhenti bergerak saat mereka menyaksikan bagaimana tangan He Yu dengan cepat mengelus tempat di mana pusat tubuh mereka ditekan satu sama lainnya dengan erat.

Sambil menyaksikannya, Xie Qingcheng mendapati dirinya berpikir sekali lagi bahwa ini terlalu absurd. Dia mencoba memalingkan kepalanya, tetapi He Yu menyadari gerakan kecilnya itu dan segera mencengkeram tengkuknya dengan tangan yang lain. Kemudian, dia mendorong wajahnya sendiri ke depan, mengeluarkan napas rendah dan sensual saat dia mencium bibirnya, tampak tergila-gila.

“Ge, lihat kita sekarang.”

“Lihat apa yang kita lakukan bersama.”

Akhirnya, Xie Qingcheng yang merupakan seseorang yang belum pernah benar-benar menikmati seks sebelumnya, pada kesempatan kali ini, siksaan He Yu melebihi batas yang bisa dia tanggung. Di bawah pelayanan penuh semangat He Yu, napasnya menjadi semakin mendesak, tapi tetap saja, dia masih sangat terkendali. Berpikir bahwa He Yu yang memasturbasikan mereka bersama-sama seperti ini benar-benar terasa begitu memalukan, dia berkata dengan suara rendah, “Cukup.”

Suara pria dewasa itu hampir terdengar seperti sebuah perintah, sama tinggi dan mengesankannya seperti biasanya. “Berhenti, jangan lakukan ini lagi…”

Tapi bagaimana mungkin He Yu mendengarkannya?

He Yu bukanlah Li Ruoqiu atau bahkan Chen Man—ada saat-saat di mana dia tidak akan menganggap serius pendapat Xie Qingcheng, jadi setelah mendengar perintah Xie Qingcheng, dia cuma menciumnya lebih dalam lagi sebelum membelai penis mereka yang sangat panas dengan semangat yang lebih besar.

Xie Qingcheng menjambak rambut He Yu saat dia mengangkanginya, punggungnya sedikit melengkung, pembuluh darah di punggung tangannya menonjol.

Mengerutkan alisnya yang diwarnai  dengan hitam pekat, dia berkata dengan suara rendah, “Hentikan… He Yu… hentikan…”

“Ge, keluar untukku. Aku ingin melihatmu keluar.”

“Lepaskan … lepaskan aku …!”

He Yu hanya melingkarkan tangan di belakang lehernya (XQC), menjepitnya di atas tubuhnya sendiri. Saat badan mereka yang panas membara saling menekan, keduanya terengah-engah.

Kemudian, He Yu menariknya ke dalam ciuman basah sekali lagi, mengisap bibir dan lidahnya yang terasa agak dingin.

Bibir Xie Qingcheng biasanya sangat dingin, jadi selalu sulit untuk menghangatkannya, tapi saat ini, He Yu sepertinya tidak ambil pusing sama sekali. Sebaliknya, dia mencium Xie Qingcheng dengan kegilaan yang mendalam, seolah mencoba mencuri semua napas dari paru-paru Xie Qingcheng.

Sejujurnya, sebelumnya Xie Qingcheng tidak pernah mengalami hasrat yang begitu kuat dan panik di tempat tidur seperti ini.

Ketika sebuah titik kritis tertentu semakin mendekat, Xie Qingcheng menyadari bahwa dia tidak bisa berjuang bebas dan secara refleks mencoba untuk melarikan diri sehingga dia tidak perlu menghadap He Yu. Namun, dia segera merasa bahwa ini akan menunjukkan terlalu banyak kelemahan, jadi dia tiba-tiba mengangkat tangannya dan menekannya ke mata He Yu untuk mencegah He Yu melihat ekspresinya.

Mata almond He Yu benar-benar tertutup di bawah tangannya—dia tidak bisa melihat apa-apa lagi.

Tapi ini tidak benar-benar mempengaruhi apa pun — meskipun dia tidak bisa melihat wajah Xie Qingcheng saat dia mencapai klimaks, dia bisa dengan jelas merasakan tubuh Xie Qingcheng bergetar samar saat dia membungkuk, dan dengan jelas merasakan kejantanan kaku yang indah itu berkedut di telapak tangannya selagi semburan demi semburan kental datang dan tumpah ke tangan dan perut mereka….

Pada momen itu, He Yu merasakan kegembiraan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Jenis kegembiraan semacam itu secara praktis tidak wajar. Dia menciumnya dan melekat padanya seolah dia telah kehilangan kewarasannya, saat ia secara terus menerus memanggilnya, “Ge… Xie-ge… apakah kamu tahu bahwa ini adalah pertama kalinya bagimu keluar (klimaks) bersamaku… tahukah kamu….”

Terengah-engah pelan, Xie Qingcheng balas membentak seolah tersinggung, “… Diam!”

He Yu tersenyum dan mengulurkan tangan, meletakkan jarinya di pergelangan tangan Xie Qingcheng dan menarik tangan yang menghalangi pandangannya itu. Untuk sesaat, matanya tampak berkilauan seperti bintang jatuh.

Melihat ekspresi terdistorsi Xie Qingcheng dalam pasca-orgasme, dia mencoba yang terbaik untuk menahan senyumnya tetapi gagal, seringainya menjadi lebih jelas saat dia menggenggam pergelangan tangan Xie Qingcheng dan membumbui tatonya dengan ciuman.

“Aku sudah memberitahumu sebelumnya—aku adalah ‘Pria dengan Pengalaman Duniawi dan Teknik tingkat Dewa yang juga Tampan’…”

Xie Qingcheng menyentakkan tangannya dari cengkeraman (HY) sebelum memberinya tamparan yang tidak ringan ataupun berat di wajahnya. “Milikilah sedikit rasa malu.”

He Yu berkata, “Jika aku punya terlalu banyak rasa malu, lalu bagaimana aku bisa punya anak denganmu?”

Xie Qingcheng: “……”

“Ge, aku membuatmu merasakan kenikmatan, tapi bagaimana denganku?” He Yu berhenti tersenyum, menatapnya dengan kegembiraan dan kegilaan di matanya saat dia mengulurkan tangan untuk mengelus penisnya yang dengan berbahayanya mengeras, dia bahkan dengan sengaja menggosokkannya ke perut Xie Qingcheng.

“Xie-ge, maukah kamu memberiku kesenangan? Aku ingin bercinta denganmu, aku sangat ingin berada di dalam dirimu. Aku ingin kamu menerimaku dan melahirkan bayiku.”

“……”

Jelas sekali bahwa kata-kata perpisahan Li Ruoqiu terlalu berat untuk ditangani oleh He Yu, mengingat telah menjadi betapa kacaunya otak bocah ini.

Xie Qingcheng masih belum pulih dari orgasmenya, jadi dia berkata dengan acuh tak acuh, “Kamu tidak memiliki kemampuan untuk itu.”

Sebenarnya, yang seharusnya dia katakan adalah aku tidak memiliki bagian (tubuh) atau kemampuan untuk itu, tetapi Xie Qingcheng memiliki kepribadian paternalistic yang terlalu berlebihan—dia tidak suka mengatakan bahwa dia tidak mampu melakukan sesuatu, bahkan jika kemampuan yang dimaksud adalah sesuatu yang ditentukan oleh biologi dasar dari jenis kelamin.

Akibatnya, He Yu berhenti begitu mendengar ini. Dia menarik Xie Qingcheng ke dalam pelukannya, mencium bibirnya, daun telinganya, lehernya… dan kemudian dia berkata, “Kalau begitu, bisakah kamu memberiku kesempatan untuk melihat apakah aku memiliki kemampuan itu atau tidak?”

Berbicara demikian, dia membawa Xie Qingcheng ke dalam belitan basah dan panas lainnya.

Mereka berdua berguling-guling di tempat tidur model lama, gesekan dari tubuh mereka menarik setengah dari seprai ke lantai. Mereka berpegangan erat satu sama lain sehingga seolah-olah pada saat ini, ketika mereka melebur bersama dalam keinginan, mereka tidak lagi peduli tentang hal lain dan hanya ingin melemparkan semua kekhawatiran duniawi mereka ke belakang pikiran (dikesampingkan).

He Yu merasa seperti butuh satu abad baginya sebelum dia akhirnya berhasil menjepit Xie Qingcheng di bawahnya lagi. Pada saat itu, kedua pria tersebut terengah-engah, sudah basah oleh keringat—Xie Qingcheng tampak seperti harta berharga yang telah diceburkan ke dalam air, dahinya yang halus berkilau lembut dalam kegelapan. He Yu mengangkat tangan untuk menepikan poni basah Xie Qingcheng menyingkir keluar dari wajahnya, menyentuh dahinya dengan lembut dan mengusap bulu matanya. Untuk pertama kalinya, pemuda itu merasa seolah-olah mata pria tersebut begitu dalam sehingga kedalaman itu bisa menyedotnya masuk.

Dia berkata, “Ge, bisakah aku menidurimu?”

Xie Qingcheng mengabaikannya.

Dia bertanya lagi.

Xie Qingcheng masih mengabaikannya.

He Yu terus mengganggunya, menciumnya lagi dan lagi, dengan penuh kasih mendorong pinggulnya ke depan, niat penuh nafsunya terlihat jelas, “Bisakah kamu membiarkanku bercinta denganmu … Xie Qingcheng, bisakah kamu membiarkanku menidurimu …”

Xie Qingcheng benar-benar telah diganggu sampai batasnya—orang ini terus berbicara seolah dia tidak tahu arti dari rasa malu atau terhina. Pada akhirnya, dia menanggapi dengan menjambak rambutnya (HY) dengan kasar dan menjepitnya, menekan tangannya ke belakang kepala He Yu dan menciumnya dengan kuat, seolah-olah dia tengah melepaskan uap panas…

Apa yang terjadi selanjutnya hanyalah apa yang telah diharapkan.

Pada akhirnya, He Yu menang dalam pergumulan mereka dan kemudian, anak laki-laki itu mengambil penisnya yang ereksi dengan rembesan cairan bening di ujungnya dan membawanya ke pintu masuk pria itu, menggosok bolak-balik dengan seksama sebelum menekan sedikit demi sedikit.

“……”

Melalui semua itu, Xie Qingcheng mengertakkan gigi dan menahan diri, menolak untuk mengeluarkan satu suara pun.

Kepalanya agak kacau. Dia tidak tahu bagaimana semuanya kemudian berakhir menjadi seperti ini, bagaimana pemuda itu dengan sembrononya membuka(tubuh)nya sekali lagi, namun dia tidak memiliki kesempatan untuk terlalu memikirkannya. Xie Qingcheng tersentak saat He Yu memasukinya, menekan dalam-dalam sampai dia benar-benar masuk, tamparan dari bolanya ke pantat Xie Qingcheng membuat pria itu mengerutkan alisnya dan mengeluarkan gerutuan teredam.

“Rasanya sangat enak …” kata He Yu, suaranya serak.

Kemudian, menekan ke kedalamannya, dia dengan lembut bergerak ke depan dan ke belakang beberapa kali.

“Ge, kamu terasa sangat nikmat. Sudah lama sejak aku merasakan kenikmatan seperti ini.”

“Diam…”

“Tapi aku tidak berbohong. Aku sangat merindukanmu sampai rasanya aku akan mati. Kamu sangat panas di dalam, aku sangat merindukanmu sampai aku hampir gila.”

Xie Qingcheng tetap diam. Kata-kata dan tatapan anak laki-laki itu begitu tulus sehingga untuk saat ini dia mendapati dirinya tidak mampu untuk mengutuknya.

He Yu memeluknya saat dia dengan lembut menggiling masuk kedalamnya. Kemudian, seperti orang kekeringan yang akhirnya mendapatkan seteguk air hangat setelah sekian lama kehausan, dia mulai mendorong ke dalam dirinya dengan keadaan mendesak yang tak terkendali.

Seluruh tubuh Xie Qingcheng menegang, tidak bisa menerimanya. Itu sangat menyakitkan, karena milik He Yu terlalu besar, dan dia menidurinya terlalu dalam dan tanpa henti. Bocah itu sangat terburu-buru, karena tidak peduli berapa kali dia melakukannya, dia masih bersemangat seperti saat pertama kalinya.

Xie Qingcheng menahan napasnya dengan stabil dan menolak untuk terengah-engah, menjadi pucat dan mencengkeram sprei yang setengah jatuh saat He Yu merentangkan kakinya (XQC) dan dengan memalukannya membawa kaki pria itu untuk membungkus pinggangnya sendiri. Anak laki-lak itu menghimpitnya sambil dia dengan berirama menumbuk masuk, benar-benar menguasai pria tersebut di ranjang pernikahannya saat dia memaksa lubangnya yang sempit untuk melahap batangnya.

Suara dari kulit menampar kulit dan suara basah dari seks bergema di seluruh ruangan. Ranjang kayu kuno berderit pelan di bawah gairah bercinta mereka, dengan naungan kegelapan yang memberikan perlindungan bagi cinta yang tidak biasa ini.

Rumah itu sangat kecil sehingga tempat tidur masa kecil Xie Xue hanya dipisahkan oleh tirai. Pada saat ini, tirai telah ditarik sepenuhnya, seolah-olah Xie Xue muda yang tidak sadar masih tidur di sana.

Dengan dirinya yang sedang ditiduri, di tengah kesenangan dan rangsangan itu, mendadak Xie Qingcheng diliputi oleh rasa malu. Penghinaan yang dia rasakan hari ini bahkan lebih dalam dari penghinaan yang dia rasakan pada malam pertamanya dengan He Yu di klub. Meskipun dia dan Li Ruoqiu juga berhubungan seks setelah mereka menikah, dia (XQC) sejujurnya tidak pernah begitu tertarik padanya (berhubungan seks). Kehidupan seks mereka sesuai dengan standar masyarakat akan sepasang suami istri, dan semuanya telah dilakukan di ranjang ini.

Tapi sekarang, dia ditekan ke tempat tidur ini oleh seorang anak laki-laki berusia sembilan belas tahun, dipaksa untuk menerimanya seperti seorang wanita. Pembalikan posisi yang tiba-tiba begitu menggelegar sehingga dia tanpa henti tidak bisa menahan gemetarnya.

Setelah menyadari hal ini, dia tiba-tiba tidak tahan lagi. Dia mencoba mundur dan melepaskan diri, berkata, “He Yu… lupakan… hentikan, aku tidak suka ini, jangan di sini, jangan.…”

Bagaimana dia bisa menyuruhnya berhenti sekarang?

He Yu hampir mati karena marah, akan menjadi gila karenanya. Gerakannya berhenti sejenak saat dia menarik diri sedikit dan menatap pria yang berbaring di bawahnya.

Dia terengah-engah dan bertanya hampir tidak mengerti. “Kenapa aku harus berhenti? Apakah kamu tidak merasa enak? Aku sudah menidurimu dengan keras lagi, jadi mengapa kamu ingin aku berhenti?”

Pinggulnya terus mendorong masuk ke dalam dirinya (XQC) tanpa berhenti bahkan saat dia berbicara, dorongannya dangkal tapi cepat, sangat sulit untuk ditahan sehingga seluruh tubuh Xie Qingcheng menegang.

He Yu membungkuk untuk menatap wajah Xie Qingcheng di bawah poninya yang berantakan, lalu mengikuti arah tatapan Xie Qingcheng yang hancur—hanya untuk melihat tanda lama di dinding tempat foto pernikahan Xie Qingcheng dan Li Ruoqiu pernah dipajang.

“……” Tiba-tiba, He Yu mengerti.

Pada akhirnya, Xie Qingcheng masih tidak bisa menerima dianiaya dengan kejam oleh seorang anak laki-laki yang masih kuliah, di ranjang ini di mana dia pernah menjadi seorang suami.

Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba muncul di hatinya yang terstimulasi secara berlebihan. Di tengah rasa sakit yang tumpul ini, dia mengangkat tangannya untuk menutupi mata Xie Qingcheng dan membungkuk untuk mencium dan mencumbu bibir serta hidungnya (XQC) bahkan sambil dia masih terus mendorong pinggulnya dengan ritme yang tepat.

“Jangan terlalu banyak berpikir. Masa lalu adalah masa lalu.”

“Dan sekarang, Xie-ge, kamu adalah milikku.”

“Apakah kamu lupa? Kamu masih harus melahirkan seorang anak untukku.”

Mendengar ini, Xie Qingcheng ingin mengambil cangkir dan menghancurkannya lagi di atas kepalanya (HY). “Harus… keparat… ah!” Tanggapan He Yu adalah mendorong pinggulnya maju dengan sangat tajam sehingga pinggang Xie Qingcheng hampir melunak dibuatnya. Dorongan yang tiba-tiba membuatnya (XQC) lengah, menyebabkan dia menangis saat mata bunga persiknya terbuka lebar, praktis enggan untuk percaya bahwa pemuda itu bisa mencapai dengan begitu jauh ke dalam dirinya.

“Karena kamu sudah mengatakannya, kamu tidak bisa menariknya kembali.” He Yu mengelus perut Xie Qingcheng dengan tangan yang kuat sambil dia mendorong masuk, menidurinya begitu dalam dan begitu keras sehingga dia tampaknya mengembangkan kesalahpahaman samar bahwa perut Xie Qingcheng benar-benar akan membengkak karena serangan gencarnya. “Kamu harus mengandung bayiku, Ge. Aku akan menidurimu. Aku akan menaklukanmu.”

Jika Xie Qingcheng tidak dianiaya dengan kejam, dia akan mengutuknya karena bertingkah begitu absurd.

Apa yang sekarang dibahas oleh orang gila ini…

Tapi dia tidak bisa berbicara—dia sedang disetubuhi oleh anak laki-laki ini dengan kekuatan yang berlebihan, hampir seperti sebuah pembalasan sehingga dia tidak mampu merangkai kalimat yang lengkap.

He Yu dengan kejam mendorong pinggulnya ke depan, seolah dia sedang menghukum orang ini, seolah dia sedang memaksanya, seolah dia ingin menghentikan setiap penyesalan yang dimilikinya. Membentangkan kaki Xie Qingcheng lebar-lebar, untuk waktu yang lama dia dengan penuh semangat dan keras mendorong masuk kedalamnya sebelum mengambil napas dalam-dalam dan tanpa memutuskan kontak di antara tubuh mereka, dia mengangkat Xie Qingcheng. Dia berlutut di tempat tidur, menyentak pinggulnya ke atas tanpa jeda dan membuat pria di lengannya memantul-mantul, menidurinya dengan keras, mengirimkan gelombang rasa sakit dan kesenangan kepada Xie Qingcheng ketika dia tersentak ke atas dan ke bawah. He Yu bisa menekan masuk dengan begitu dalam dengan posisi seperti ini, dan mengingat bahwa lokasi prostat Xie Qingcheng terletak begitu jauh di dalam, itu adalah posisi dan sudut yang sempurna untuk merangsang titik tersebut dengan cepat dan keras.

“Apakah itu disini?”

“……”

“Itu di sini, bukan?”

Xie Qingcheng tidak tahan lagi, kewalahan saat dia mengerutkan alisnya, kelembapan berkumpul di bawah bulu matanya yang panjang.

He Yu menidurinya dengan sangat dalam. Dia bahkan mengulurkan tangannya untuk membelai tempat di mana mereka terhubung sambil dia menidurinya. “Sangat basah… Ge, kamu selalu basah setiap kali aku menidurimu di sini … apakah rasanya seenak itu? “

Seraya dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sangat memalukan ini, dia dengan keras dan cepat terus memukul masuk kedalamnya seperti seorang tukang pancang. Dengan cairan tubuh mereka yang mempermudah jalannya, setiap dorongan dan tarikan menjadi begitu kuat, menimbulkan suara basah dari lubangnya yang mengiringi setiap tamparan dari kulit ke kulit.

Meskipun Xie Qingcheng adalah pria yang sangat tangguh dan pantang menyerah, ketika semua telah dikatakan dan dilakukan, dia masih terbuat dari daging dan darah. Jadi, ketika zona sensitif seksualnya dirangsang, dia masih akan gemetar dengan gelombang demi gelombang kesenangan yang hampir terasa mengerikan.

Dia (XQC) mengapit tangannya di kepala tempat tidur, buku-buku jarinya memutih saat dia menggigit bibirnya dengan keras, alisnya menyatu dengan erat, menolak untuk mengeluarkan satu suara pun yang tidak biasa.

Tapi He Yu tidak diragukan lagi merasakan bagaimana lubang kecil itu terus berkedut dan mengepal di bawah serangannya. He Yu terkesiap senang, lalu tiba-tiba menarik keluar seluruh kemaluannya yang licin. Dia mencengkeram rambut Xie Qingcheng, dan memaksanya ke posisi berlutut7Posisi Doggy Style. sebelum sekali lagi menekan kepala penisnya ke lubang kecil yang mengedip dengan cabul itu. Dia menggosoknya dengan basah ke pintu tersebut untuk sementara waktu, tetapi tidak mendorongnya masuk.

Mata Xie Qingcheng sudah agak berkaca-kaca, sementara lubang kecil di bawah itu masih sesak dan mengepal dengan menyedihkan.

Setiap dorongan dari anak laki-laki itu telah mengenai prostat sensitifnya, menyebabkan dinding bagian dalamnya bergidik lagi dan lagi karena kesenangan menakutkan yang belum pernah dia alami sebelumnya. Namun pada saat ini, He Yu tiba-tiba memilih untuk menarik keluar, hanya menyisakan kepala penisnya yang licin dan keras di dalam, menggosok dan menggodanya seperti menggaruk gatal melalui sepatu bot, sebuah perasaan menjengkelkan dalam ketidakberdayaan.

He Yu membungkuk untuk mencium tahi lalat merah di tengkuknya, menggosok pinggangnya dengan tangan besar sebelum mendaratkan tamparan lain di pantatnya. Serangan itu tidak terlalu keras, tetapi itu mengirimkan sentakan ke seluruh tubuhnya, dan menyebabkan Xie Qingcheng menjatuhkan kepalanya dan melengkungkan tulang belikatnya yang indah saat seluruh tubuhnya menegang. Dia menempelkan dahinya ke seprai yang acak-acakan, menolak untuk bersuara.

He Yu berkata, “Ge, apakah kamu ingin aku memasukkannya?”

Xie Qingcheng: “….”

“Kamu terus mengepal di sini, dan kamu sangat keras … kamu merasa sangat nikmat hari ini, bukan?”

Xie Qingcheng: “Jika kamu tidak mau… sialan … melakukannya… maka keluarlah…!”

Tapi suaranya bergetar di setiap suku kata, jadi meskipun kata-katanya cukup mengesankan, sayangnya, itu tidak berhasil mengancam He Yu sama sekali.

Untuk menggodanya, He Yu terus menekan penisnya ke lubang Xie Qingcheng yang mengepal — mendorong sedikit ke dalam lalu menariknya kembali, menusukkan ke dalam dengan dangkal sebelum melepaskannya kembali.

Pikiran Xie Qingcheng menjadi semakin kacau. Dia belum pernah mengalami manuver cabul seperti itu, dan seluruh eksistensinya akan menjadi gila. Stimulasi yang belum terselesaikan semacam itu, perasaan melayang ke awan hanya untuk diseret kembali sebelum mencapai puncak, dengan mantap tumbuh menguat di hadapan teknik canggih yang He Yu pelajari dari entah-siapa-yang-tahu-dari-mana itu. Perlahan-lahan, seluruh tubuhnya mulai gemetar saat He Yu menidurinya seperti ini, tubuhnya yang kokoh dan maskulin bergidik di bawah seorang anak laki-laki yang bertahun-tahun lebih muda darinya.

He Yu berkata, “Ge , mintalah padaku.”

“……”

“Katakan padaku kamu menyukainya. Minta padaku, dan aku akan memasukkannya.”

“……”

“Kamu sangat basah di sini, kamu tahu? Kamu menerimanya dengan lebih baik daripada seorang wanita. ” He Yu menekan kepala besar penisnya kembali ke dalam lubang Xie Qingcheng. (Lubang) itu mengeluarkan bunyi lengket yang bahkan lebih mesum lagi, saat ia masuk ke dalam lubang kecil yang dilumuri dengan cairan tubuh mereka berdua. “Ge, puji aku. Jika kamu memujiku, aku akan membuatmu merasa kenikmatan.”

Ini adalah pertama kalinya Xie Qingcheng merasakan rangsangan yang begitu kuat pada prostatnya, tetapi meskipun demikian, bagaimana mungkin dia mau memuji He Yu? Dia mengatupkan giginya dan menggigit bibirnya sampai itu mengeluarkan darah. Dan meskipun cahaya di matanya sudah menjadi jelas tersebar (memburam/tidak jelas), tetap saja dia menolak untuk melakukan apa yang diinginkan He Yu.

He Yu terus berbicara cabul di telinganya, kata-katanya semakin cabul dan tidak masuk akal. Perlahan-lahan, serangan tanpa henti dari anak laki-laki itu menghancurkan kesabaran dan toleransi Xie Qingcheng sampai menjadi kacau balau.

Lalu–

Sebelum He Yu dapat menyadarinya, Xie Qingcheng secara bertahap tampak sangat marah.

Alih-alih memuji He Yu, dia tiba-tiba mulai berjuang seolah-olah He Yu sedang menyiksanya. Berbalik di atas seprai yang acak-acakan, pertama-tama dia mendaratkan sebuah tamparan keras di wajah He Yu sebelum kemudian mengutuknya dengan suara yang sangat serak. “Kamu dengan sialannya ingin menjadikan ini sebagai kompetisi, huh?”

“Kamu dengan sialannya ingin melihat siapa di antara kita yang memiliki daya tahan lebih hebat, huh?”

Sebenarnya bukan itu yang dimaksud He Yu. Dia tidak seperti Xie Qingcheng—pada dasarnya, sebagai seoang Top (Gong), dia sudah memegang kendali, jadi dia tidak merasakan dorongan yang kuat untuk memenangkan sebuah kemenangan di ranjang.

Tapi dia telah berhasil dengan baik membuat Xie Qingcheng benar-benar sangat marah kali ini.

Sambil He Yu yang masih mencoba memulihkan kesadarannya, Xie Qingcheng menghimpitnya sekali lagi. Kemudian, sebelum He Yu bisa bereaksi, Xie Qingcheng telah menutup mulutnya dengan tangan, mengangkangi pinggulnya, mensejajarkan dirinya dengan penis He Yu dengan perlakuan yang hampir mirip seperti pembalasan, dan mendorong dirinya ke bawah.

“!!” Tubuh He Yu langsung melengkung, begitu banyaknya diliputi dengan kesenangan sehingga dia hampir klimaks di tempat.

Mungkin itulah tujuan yang ingin dicapai Xie Qingcheng.

Napas He Yu teredam di bawah telapak tangan Xie Qingcheng. Tubuh Xie Qingcheng juga gemetar—saat dia duduk di atas penis He Yu atas kemauannya sendiri, pinggangnya melunak dan gemetar, sampai-sampai dia hampir jatuh ke pelukan He Yu. Namun, dia berhasil menahan dirinya sendiri, tatapannya dingin dan ganas serta bibirnya yang berlumuran darah berkibar di sekitar kata-katanya saat dia berbicara kepada He Yu, “Bocah kecil, jika kamu tidak tahan, sebaiknya kamu langsung bilang—atau kamu bisa memohon padaku jika kamu mau.”

He Yu merasa seolah-olah dia akan diejek sampai mati saat Xie Qingcheng menungganginya—pria yang begitu dingin dan kuat itu benar-benar menungganginya seperti ini, menggigit bibirnya saat dia bergerak naik dan turun sedikit demi sedikit.

Xie Qingcheng menatap He Yu dengan mata gelap gulita saat dia menggunakan taktik He Yu sendiri untuk melawannya. Meskipun dia juga merasa sangat sulit untuk menanggungnya, dia mengerutkan alisnya dan melanjutkan gerakannya yang dangkal, merangsang He Yu tetapi tidak memberinya kesempatan untuk memuaskan dahaganya.

“Xie-Xie-ge, kamu …”

Kali ini, He Yu yang tidak bisa mengatasinya. Benda panjangnya terkubur dalam kehangatan licin pria itu, lubang kecil tersebut mengisapnya secara berirama sambil menelan keinginan panasnya, tetapi dorongannya sangat lemah. Jadi, seperti mencoba memuaskan dahaganya dengan racun, kesenangan itu hanya memperburuk keadaannya.

Menonton ekspresi mengigau He Yu, Xie Qingcheng akhirnya menemukan beberapa inisiatif.

Jari-jarinya masuk ke rambut hitam He Yu dan merapikan kembali helaian rambut berantakan yang jatuh di wajah bocah tersebut. Kemudian, dia menatap matanya yang sedang terpesona dan berkata, “Masih berusaha bersikap tegar? Apakah kamu berencana untuk terus menggunakan trik tercela seperti itu?”

He Yu menarik napas kasar, mata hitamnya linglung saat dia menatap Xie Qingcheng. Kemudian, sesaat kemudian, dia tiba-tiba menarik Xie Qingcheng ke arahnya dan menekan ciuman kuat ke bibirnya yang tipis. Dia membuka paksa giginya dan menjilatnya, mengaitkan lidahnya secara sensual dengan lidah Xie Qingcheng. Dia mencium Xie Qingcheng dengan liar seraya dia mencengkeram pinggangnya, suara basah keluar dari mulut mereka saat dia merentangkan kaki Xie Qingcheng lebih lebar sampai dia (XQC) dalam posisi berlutut di atas tubuhnya. Kemudian, dia menatap mata Xie Qingcheng, jakunnya bergejolak dengan kerinduan yang kuat—

“Kamu yang memaksaku untuk melakukan ini.”

“Xie Qingcheng, kamu memaksaku memperlakukanmu seperti ini.”

Saat dia berbicara, dia mengulurkan tangan untuk menjepit pergelangan tangan Xie Qingcheng ke belakang punggungnya sendiri, menyebabkan Xie Qingcheng kehilangan keseimbangan dan secara tak terhindarkan jatuh ke pelukannya. Kemudian, mencengkeram penisnya (XQC) yang setengah terlihat dengan tangannya yang lain, dia (HY) menyesuaikan posisi mereka sebelum menarik keluar benda panjang miliknya yang baru saja Xie Qingcheng masukkan ke dalam dirinya sendiri secara sukarela, kemudian menggosok ringan dalam bentuk lingkaran ke lubang lengket yang tak terkatakan itu.

Lalu–

He Yu mensejajarkan dirinya dan memasukkan kembali miliknya dengan paksa, membanting tepat ke tempat sensitif Xie Qingcheng!

“… Ah!!”

Kali ini, rangsangannya terlalu berlebihan—terperangkap, mata Xie Qingcheng tiba-tiba melebar saat dia berteriak keras. Menjepit Xie Qingcheng sampai tidak bisa melarikan diri di tempat, dengan kaki Xie Qingcheng yang terbentang lebar di mana dia berlutut di tempat tidur dan tubuhnya menutupi tubuh bagian atas He Yu, pemuda itu mulai mendorong dengan liar ke spot tersebut dengan cepat dan kuat, berulang-ulang.

Tempat tidur berderit lebih keras dari sebelumnya saat He Yu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong masuk ke dalam Xie Qingcheng, setiap dorongannya menyebabkan tubuh Xie Qingcheng bergetar karena kekuatan.

He Yu dengan panik dan dendam menidurinya untuk sementara waktu, menggunakan kekuatan pinggulnya yang menakjubkan untuk menumbuk Xie Qingcheng saat dia melihat pria di atasnya itu gemetar dan menggigil dalam rasa sakit dan kesenangan.

Hanya melalui tekadnya yang tidak manusiawi, Xie Qingcheng berhasil menggigit bibirnya sekali lagi. Kenikmatan yang sangat merangsang disertai dengan rasa tabu yang memalukan sehingga, pada saat dia sadar kembali, terlepas dari napasnya yang mendesak, dari dadanya yang sesak, dan air mata yang telah keluar dari matanya, dia masih dengan tegas menutup mulutnya, tidak mau membiarkan suaranya yang kotor dan tidak terkendali meringsut keluar.

Mendaratkan tamparan di pantat pria itu, si pemuda berkata dengan suara serak, “Ayo tukar posisi. Aku ingin menidurimu dari belakang.”

Dia tidak bermaksud untuk memulai sebuah diskusi—lebih tepatnya, dia hanya ingin memberi tahu Xie Qingcheng terlebih dahulu sebelum mulai mengangkatnya tanpa perlu memutuskan hubungan badan mereka, dan membawanya turun dari tempat tidur. Bagaimanapun, si bocah sangat menginginkan orang itu sampai dia tidak bisa menahannya lagi sehingga dia (HY) mulai menusuk masuk kedalam dirinya (XQC) saat dia membopongnya. Dengan demikian, dia berakhir menidurinya dengan kasar sambil dia memeluknya selama beberapa menit sebelum ia mampu untuk menarik benda panjangnya yang sangat panas keluar dari pintu masuk yang licin itu dengan diiringi suara cabul yang lembut.

Pada titik ini, seluruh tubuh Xie Qingcheng mulai tergelitik dari perasaan yang tertinggal setelah bercinta, karena rangsangan yang tidak biasa dan intens itu membuat matanya yang biasanya tajam tidak bisa fokus sama sekali. He Yu menurunkan Xie Qingcheng di tepi tempat tidur dan mengatur ulang posisi anggota tubuhnya (XQC) sehingga dia bertumpu pada tangan dan lututnya (posisi Doggy style), sebelum dia sendiri pindah untuk berdiri di samping tempat tidur. Kemudian, dengan satu tangan mencengkeram benda panjangnya yang panas dan keras, dia perlahan tapi tegas membimbing dirinya untuk masuk kembali ke dalam.

“Ah…”

Dia mendesak masuk begitu tiba-tiba sehingga untuk sesaat, Xie Qingcheng mencoba menjauhkan diri, dilanda kesan palsu bahwa seluruh tubuhnya akan ditusuk hingga hancur oleh anak laki-laki ini.

“Ge… apakah itu cukup dalam? Apakah rasanya enak?”

He Yu berhenti selama beberapa detik setelah miliknya sepenuhnya masuk, dengan sungguh-sungguh mencium punggungnya, lehernya, tulang belikatnya… Dan kemudian, dia mulai menidurinya dengan penuh kekalutan sekali lagi.

“Persetan, kamu benar-benar menggoda. Kuharap aku bisa menidurimu sampai mati seperti ini.”

“……”

“Kamu baru saja meminta untuk ditiduri, Xie Qingcheng. Kamu baru saja memintanya.”

“Dasar bajingan… binatang! Ah!!”

He Yu menanggapi dengan membanting ke arah prostat Xie Qingcheng dengan kekuatan yang hampir gila, memaksanya untuk terkesiap tanpa sadar bahkan saat dia (XQC) sedang memakinya.

He Yu berkata, “Ge, kamu benar-benar tidak patuh. Kamu sama sekali tidak tahu bagaimana harus bersikap… “

Xie Qingcheng menolak untuk memperhatikannya lebih jauh saat dia menggigit bibir bawahnya dan diam-diam menahan sensasi kenikmatan yang intens dari bawah.

Setelah bercinta tanpa henti seperti ini selama lebih dari setengah jam, He Yu merasakan perut bagian bawahnya secara bertahap mengencang. Gelombang demi gelombang kesemutan listrik berubah dari kabur menjadi jelas saat napasnya menjadi semakin mendesak dan matanya menjadi semakin gelap.

Dari belakang, dia melingkarkan lengannya di sekitar Xie Qingcheng, sekali lagi mencium tempat cinnabar yang menawan di tengkuknya saat dia terengah-engah, “Xie Qingcheng, bisakah kamu merasakannya?”

Dia tidak berhenti menggerakkan tubuh bagian bawahnya bahkan hanya untuk sesaat, sensasi dari penisnya (HY) yang berdenyut begitu jelas sehingga membuat kulit kepala Xie Qingcheng mati rasa.

Bagaimana mungkin Xie Qingcheng tidak merasakannya?

Tetap saja He Yu masih bersikeras untuk menekan ke telinganya, dengan penuh semangat menciumi dan mengisapnya saat dia mendorongnya dengan kuat dari belakang sambil berkata dengan suara kasar dan serak, “Aku akan keluar …”

 “Ge, rasanya sangat nikmat. Aku akan segera keluar.”

Xie Qingcheng telah ditiduri hingga hampir pingsan. Baru setelah anak laki-laki itu terengah-engah beberapa kali di telinganya, dia tiba-tiba menyadari sesuatu, pikirannya sedikit jernih.

He Yu tidak diragukan lagi sudah sangat terangsang dengan melihat bagaimana dia telah memeluk dan mencium sambil menidurinya selama ini, dan bagaimana dia secara terus-menerus menyerangnya.

Napasnya juga semakin berat saat dia terengah-engah, “Aku akan mengisimu dengan benihku …”

Wajah Xie Qingcheng memucat. “Tarik… cepat! Bedebah keparat… ka-kau tidak memakai kondom… ah…” Nada dari kata-kata terakhirnya naik sedikit karena takut.

Selain waktu itu di ruang ganti, selanjutnya, He Yu hampir selalu memakai kondom, kebanyakan karena mereka sering bercinta di kampus, dan setelah He Yu selesai bercinta dengannya di ruang kelas yang kosong, Xie Qingcheng masih harus menanggung ketidaknyamanan itu dan mengajar di kelas berikutnya. Jika dalam keadaan seperti itu He Yu masih bersikeras untuk tetap bersikap degil, Xie Qingcheng pasti akan membunuhnya. Bahkan ada beberapa kali waktu ketika He Yu menyadari bahwa dia lupa membawa kondom dalam perjalanannya untuk menemui Xie Qingcheng, sehingga dia harus segera pergi ke supermarket di kampus untuk membeli beberapa buah kondom, karena tidak mungkin Xie Qingcheng akan mengizinkannya untuk ‘membanjirinya dengan sperma’ di ruang kelas.

Situasi saat ini sangat mirip ketika mereka berhubungan seks di kampus, dan Xie Qingcheng akan menolaknya karena dia tidak memiliki kondom.

He Yu berhenti, lalu berbicara seolah-olah dia dengan sengaja mencoba mengejeknya, “Apakah kamu punya kondom di rumahmu?”

Xie Qingcheng: “….”

“Jika kamu punya, aku akan menarik diriku keluar dan memakainya sekarang.”

“……”

“Atau haruskah aku pergi dan meminta tetanggamu untuk meminjamkanku sekotak kondom tepat di depan mantan istrimu?”

“… Minggat sana!”

Karena He Yu sudah hampir klimaks, dia memperlambat gerakannya sambil dia menggoda Xie Qingcheng untuk mengulur kesenangan yang menjengkelkan itu. Dia dengan sengaja membuat setiap tusukan masuknya berlama-lama dan dalam, kemudian berbicara omong kosong kepadanya sepanjang waktu, “Ge, lihat, kenapa kamu bertingkah seolah kamu sebenarnya adalah istriku … Aku akan segera mengisimu dengan benihku, namun kamu masih menginginkanku memakai kondom… mmh…”

Xie Qingcheng: “……”

“Lain kali.” Pemuda itu tampak hampir geli, “Lain kali, istriku. Jika kali ini kamu membiarkanku keluar di dalam dirimu, di waktu berikutnya aku akan menyiapkan kondom dan pil KB. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu sebelum bercinta denganmu secara pantas, oke?”

“Pill KB pantatku… jika kamu terus mengocehi omong kosong sialan seperti ini, aku akan….”

Tapi sebelum Xie Qingcheng selesai mengatakan apa yang akan dia lakukan, He Yu sudah mencondongkan tubuh ke depan untuk mencium bibirnya. Memegangnya di pinggang, dia mulai mendorongnya dengan keras sekali lagi, sehingga Xie Qingcheng segera menggigit bibirnya, wajahnya memerah saat dia memaksakan semua suaranya untuk kembali ke tenggorokannya.

Kali ini, hentakan He Yu semakin ganas dan mendesak. Terlalu sensitif karena penyatuan mereka, Xie Qingcheng bisa merasakan denyutan intens dari penis pemuda itu di dalam dirinya dengan sangat jelas, dia hampir bisa merasakan setiap urat yang menonjol—dia sepenuhnya mengerti tentang apa yang sedang dipertandakan ini.

Dia tidak bisa menahannya lagi dan mencoba untuk melarikan diri, tetapi He Yu menangkap pinggangnya dan menariknya kembali. Seperti binatang jantan yang menahan seekor betina saat mereka kawin, dia menangkap Xie Qingcheng dengan erat, napas terengah-engah yang keluar dari tenggorokannya sangat kasar dan dalam.

Xie Qingcheng tahu bahwa dia (HY) akan klimaks. Benda panjang yang terkubur di dalam dirinya berdenyut dan berkedut, seolah mencoba berdenyut selaras dengan jantungnya. Namun, jantungnya hampir tidak tahan dengan getaran semangat muda dan kuat seperti itu. Jadi, pada saat ini, sebuah pertanda dari kelemahan seksual akhirnya dipaksa keluar dari tubuh maskulin Xie Qingcheng yang kaku. Matanya merah dan basah, dia berkata dengan marah namun tak berdaya, “Lepaskan aku… jangan… jangan… ah…!”

Tetapi semakin dia berbicara, semakin terangsang pula anak itu. Dia menabrak prostat sensitif Xie Qingcheng bahkan ketika dia sendiri akan klimaks, gerakannya begitu kuat dan panik sehingga Xie Qingcheng sekali lagi dibawa ke ambang orgasme dan benar-benar kacau ke dalam delirium8Kondisi kebingungan parah.. Pada akhirnya, tersiksa oleh ketakutannya terhadap He Yu yang masuk ke dalam dirinya sampai-sampai terbelah antara kesenangan yang tidak masuk akal dan keruntuhan mental, dia berteriak.

“Ah… ah… ah, He Yu… pelan-pelan… pelan-pelan… aahhh… hentikan, hentikan itu, cabut, bisa… bisakah kamu cabut dulu sebelum kamu datang… kamu… ah!”

“Xie-ge.”  Mata He Yu memerah karena mendengar bagaimana dia (XQC)  memanggilinya. Tergerak dan tergila-gila, dia membalikkan Xie Qingcheng sehingga mereka saling berhadapan dan memeluknya erat-erat. Kemudian, dia mencium wajahnya yang basah oleh keringat, bibirnya yang gemetar, lehernya yang ramping, dan jakunnya yang cantik. Meskipun, tubuh bagian bawahnya masih tetap menumbuk kearahnya (XQC) dengan intensitas yang lebih besar. “Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Kamu menghisapku terlalu ketat, sampai aku tidak mau menariknya keluar lagi, rasanya terlalu nikmat. Ini juga akan membuatmu merasa nikmat ketika aku keluar di dalam, Ge… Biarkan aku bercinta denganmu … biarkan aku keluar di dalammu … “

“Tidak… jangan… ah… jangan keluar, jangan keluar.…”

Xie Qingcheng benar-benar hancur. Sebagai akibat dari dorongan kuat He Yu, sebagai akibat dari napas panas pemuda itu yang terengah-engah di lehernya, tiba-tiba—untaian benang klimaks dengan paksa menyembur keluar!

“Ah…!!”

Sepenuhnya kewalahan, Xie Qingcheng menjerit dengan keras. Kali ini, He Yu melepaskan klimaksnya tepat di tempat sensitif itu, setiap semburan ejakulasi menarik seluruh tubuh gemetar dan erangan mengigau dari Xie Qingcheng.

“He Yu… ah… ahh…”

Suaranya terlalu indah untuk diperhatikan—secara praktis terobsesi, He Yu memandang pria yang dengan kaki terbuka lebar berbaring dan memohon di bawahnya, menangis dalam kenikmatan sambil masih menyuruhnya untuk menarik diri bahkan saat dia tidak punya pilihan selain untuk tetap menahan diri selama He Yu memenuhinya dengan setiap tetes terakhir dari klimaksnya.

“… Jangan keluar di dalam… aku tidak tahan… kamu… ah…”

Mendengarkan erangannya, rasa kepuasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terbentang di hatinya. Dipenuhi dengan kesenangan dan cinta, dia ejakulasi dalam serentetan yang ganas saat dia terus mendorong dirinya ke pria itu tanpa jeda, memaksa gigilan hebat dan tangisan menyedihkan keluar dari tubuhnya (XQC).

“Kamu tidak bisa menanggungnya? Tapi kamu gemetar karena kenikmatan … Tahukah kamu bahwa kamu becek? Kamu mengisapku begitu ketat sampai kamu gemetaran… Ge, jika sebagai ‘Kaisar Pertama’ kamu mampu memperbaiki tubuhmu, maka mungkinkah tubuhmu juga dapat dilatih untuk menjadi lebih sensitive lagi? Kamu benar-benar sangat hebat dalam menerimaku….”

Mata Xie Qingcheng memerah. “… Ka-kamu sialan…!”

He Yu terus berbicara padanya. “Xie Qingcheng, aku sangat suka menidurimu. Katakan padaku, melihat bagaimana tubuhmu telah berubah… mungkin saja kamu benar-benar bisa dihamili… jika kamu bisa hamil, lalu kenapa kamu tidak benar-benar menjadi istriku saja—aku akan menidurimu setiap hari, dan kamu akan melahirkan anak-anakku….”

“Ge, kamu sangat cantik. Kamu benar-benar sangat cantik.”

Xie Qingcheng secara praktis merasa seolah He Yu sedang menyumpahinya, seperti dia menggunakan serangan kata-kata ini untuk mengutuknya.

Tapi He Yu benar-benar tulus saat dia menatapnya, memeluknya, menidurinya, dan mengucapkan kata-kata yang paling membakar di dalam hatinya itu, ” Ge… Aku ingin menidurimu sepanjang hidupku … Aku ingin menidurimu selama sisa hidupku… aku akan menidurimu seumur hidupku.…”

Dengan demikian, dihadapkan pada cinta berapi-api yang tertulis di seluruh wajah anak laki-laki ini saat dirinya didorong seolah-olah itu berlangsung tiada akhir, ketika pelepasan yang kuat itu melukiskan ke bagian dalam dirinya, dan ketika kesenangan yang memancar dari prostatnya itu berputar tanpa henti, Xie Qingcheng dengan memalukannya ambruk ke tepi (klimaks) mengikuti setelah He Yu.

Dia tidak ingin klimaks dengan cara seperti ini, tetapi tubuhnya tidak bisa tahan ketika dipermainkan seperti ini. Dan akhirnya, di ranjang ini, Xie Qingcheng benar-benar klimaks karena ditiduri tanpa henti oleh He Yu, yang terus mendorong dan melepaskan hasratnya ke tempat sensitif itu sampai akhirnya dia klimaks dengan kaki yang terbuka lebar.

Klimaksnya memercik ke perutnya dan perut He Yu, menggetarkan hati He Yu lebih jauh lagi, bahkan ketenangan yang biasanya mengikuti orgasmenya pun dipenuhi dengan cinta dan kerinduan. Dia (HY) tidak berniat menyerah pada kelelahan sama sekali karena hasratnya perlahan-lahan bangkit kembali di dalam tubuh Xie Qingcheng—dia bahkan tidak menarik diri, menggunakan kelicinan dari pelepasannya untuk sekali lagi meluncur masuk dan keluar dengan mulus di dalam dirinya (XQC).

“Ah…” Xie Qingcheng benar-benar mencapai batasnya, tidak dapat menyembunyikan nada memohon dalam suaranya yang biasanya tenang dan serius, “He Yu, jangan dilanjutkan… hentikan, He Yu… tolong hentikan… aahh… hentikan… hentikan itu… jangan… ah!!”

“Aku tidak mau berhenti sama sekali. Aku ingin menidurimu seumur hidupku.”

 “Ge, aku ingin membuat kakimu tetap terbuka agar aku selalu bisa menidurimu.”

“Aku mau kamu. Aku cuma menginginkan dirimu…”

“Rasanya sangat nikmat… Xie-ge, kamu benar-benar membuatku merasa sangat nikmat…”

Malam itu, He Yu benar-benar gila. Mereka melakukannya di tempat tidur, di kursi, di kamar mandi, sebelum He Yu akhirnya menekan Xie Qingcheng kembali ke tempat tidur yang sangat berantakan dan dengan kasar menusuknya saat dia menutupi mulut Xie Qingcheng dengan tangannya, mencegahnya membuat suara, sementara tubuh bagian bawahnya bergerak dengan penuh gairah.

Xie Qingcheng tidak punya kondom di rumah, jadi He Yu klimaks ke dalam dirinya setiap saat sampai bagian dalamnya benar-benar basah kuyup. Dorongan berulang yang berapi-api tersebut menyebabkan bagian dalam dirinya mulai berbusa, namun dia masih dipaksa untuk membiarkan bocah itu ‘membanjirinya dengan sperma’ lagi, begitu terstimulasi sehingga jari-jari kakinya yang ditekan ke pinggang He Yu melengkung dan gemetar.

Menjelang akhir, He Yu masih merasa itu tidak cukup dan dia perlu berkompetisi (dengannya, XQC). Dengan demikian, terengah-engah, dia tanpa henti bertanya seolah-olah dia kehilangan akal sehatnya, “Ge, pernahkah kamu melakukannya dengan Li Ruoqiu seperti ini? Pernahkah kamu menidurinya sekeras ini? Apa kamu pernah bercinta dengannya berkali-kali dalam satu malam?”

Pada awalnya, Xie Qingcheng menolak untuk menjawab, tetapi kemudian, dia (HY) menjadi terlalu gila dan terlalu kejam— tampaknya selama dia tetap diam, He Yu akan terus mencoba untuk menghentaknya sampai mati, jadi pada akhirnya dia histeris dan menggeram. , “… Ah… bajingan tengik… bagaimana bisa aku… aku tidak seketerlaluan dirimu… Ngh… jangan terlalu keras sialan…! Ah…!”

He Yu menghela napas dan melambat sedikit, menekan ke dalam dirinya dengan dorongan yang samar saat dia memberi Xie Qingcheng waktu untuk mengumpulkan akalnya tentang dirinya (HY).

Kemudian, dia menundukkan kepalanya untuk menciumnya. “Aku tidak keterlaluan.”

“Itu karena kamu memenuhiku dengan rasa lapar yang tak terpuaskan.”

“……”

Xie Qingcheng merasa hatinya tiba-tiba tersiram air panas.

He Yu bisa saja menjadi sangat kasar dan vulgar, karena dia adalah seekor binatang kecil, tetapi dia juga bisa menjadi sangat terpelajar, karena dia adalah orang yang belajar.

Dia membaca puisi, dia menulis cerita. Dia bisa mengatakan “Aku ingin menidurimu sampai mati” tanpa perlu disamarkan sama sekali jika dia mau, tetapi dia juga bisa dengan fasih mengucapkan, “Itu karena kamu memenuhiku dengan rasa lapar yang tak terpuaskan.”

Ini hanyalah tentang siapa He Yu dengan singkatnya, He Yu yang dengan singkatnya telah memberikan seluruh dirinya kepada Xie Qingcheng, memberikan (pada XQC) hasratnya dan tubuhnya, masa lalunya dan masa depannya — memberikan segalanya kepada Xie Qingcheng.

Itu adalah beban panas dan membakar yang belum pernah dirasakan Xie Qingcheng sebelumnya.

Setelah keterikatan yang menghabiskan waktu sepanjang malam, seprai menjadi ternoda oleh bercak-bercak basah yang besar. Memang benar bahwa Xie Qingcheng belum pernah melakukan hubungan seks yang intens dengan Li Ruoqiu selama bertahun-tahun pernikahan mereka. Sebenarnya, dia bahkan tidak pernah membayangkan bahwa seks yang intens seperti itu bisa ada di dunia ini.

Pada akhirnya, He Yu benar-benar berhasil meniduri Xie Qingcheng hingga pingsan—dia (XQC) mengalami rangsangan yang begitu intens dan pemanjaan yang tak terkendali sehingga bocah itu benar-benar berhasil menidurinya hingga hancur. Dia menangis tersedu-sedu sambil menatap tajam ke arah He Yu, “Jangan berani-beraninya klimaks di dalam diriku lagi… kamu… ah…!”

Tapi bagaimana mungkin He Yu mendengarkannya? Keinginan maskulin yang kotor di tulang He Yu membuatnya tidak menginginkan apa pun selain menjadikan Xie Qingcheng sebagai budak seksnya, untuk memborgol pergelangan tangannya dan membelenggu pergelangan kakinya, untuk masuk ke dalam dirinya lagi dan lagi, untuk mengambil pria yang kuat, murni, tampan, dan bertingkah layaknya ayah baptis itu dan kemudian menajiskannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“He Yu, kamu …”

“Aku telah datang berkali-kali untukmu hari ini — sebagai gantinya bisakah ‘Kaisar Pertama’ hamil untukku…”

Pemuda yang bermandikan keringat itu berbaring di atasnya, datang berulang kali dengan kekuatan yang tidak manusiawi ke dalam tubuhnya yang lengketnya sampai tak tertahankan, setiap pelepasannya menyembur ke prostat Xie Qingcheng, mengeluarkan getaran samar dari tubuh Xie Qingcheng yang disetubuhi dan membangkitkan getaran dari matanya yang tidak fokus.

“Bisakah kamu hamil untukku …?”

Xie Qingcheng menolak untuk mengatakan apa pun, tetapi setelah menanggung putaran klimaks berikutnya, di matanya yang kosong akhirnya mengalir air mata refleks, yang mengalir diam-diam di sepanjang ekor mata bunga persiknya dan jatuh ke bantal.

Bagaimanapun, jejak air mata itu dicium oleh bibir hangat He Yu. Bocah itu bergumam sambil menyusup ke lekukan leher pria itu, mengangkat tangannya untuk mengelus perut Xie Qingcheng.

“Sekali lagi. Aku ingin mengisimu dengan benihku… Aku ingin membuatmu merasa jauh lebih baik lagi….”

“Ge, aku benar-benar tidak bisa tanpamu….”

Saat dia berbicara, benda panjang yang masih terkubur di dalam Xie Qingcheng menegakkan kepalanya sekali lagi saat dia mulai dengan penuh nafsu mendorong ke dalam tubuhnya yang licin dan panas.

Xie Qingcheng tidak berpikir bahwa dia (HY) bisa mengeras lagi dengan begitu cepat dan dia (XQC) tertangkap lengah. Lubangnya belum pulih dari orgasme prostat yang intens, sehingga rangsangan menyebabkan lubangnya mengejang dan gemetar — bahkan saat ia masih terjerat dalam sisa-sisa klimaksnya, penis anak itu sudah dengan panik meniduri isi perutnya sampai kembali mengencang. Dia mendadak merajut alisnya, menggalikan jari-jarinya ke seprai di bawahnya saat dia tiba-tiba mengeluarkan erangan serak dan rapuh, “Ah …”

He Yu membungkuk dan menciumnya, menekan bibirnya ke rajutan alis Xie Qingcheng saat dia (HY) meraba-raba tangan yang mencengkeram seprai, mengendurkan jari-jarinya (XQC) satu per satu dan menyatukan jari-jari mereka yang berkeringat bersama.

Tempat di mana mereka terhubung telah menjadi benar-benar basah, setiap dorongan dangkal disertai dengan penindasan cabul. Lubang Xie Qingcheng dipenuhi dengan kekacauan yang lengket, beberapa di antaranya menetes dengan kotor saat He Yu bergerak di dalam dirinya, hanya untuk didorong masuk kembali ke dalam dengan paksa… He Yu tidak ingin setetes pun bocor, gerakannya menjadi semakin panik saat dia meniduri pria di dekapannya dan dia telah dikonsumsi oleh api gairah.

“Mengeranglah dengan keras, Ge, aku ingin mendengarmu mengerang, jadi mengeranglah dengan keras.”

Xie Qingcheng menggelengkan kepalanya, menolak untuk mengeluarkan suara, tetapi bulu matanya yang bergetar sudah benar-benar basah.

“Ge…Aku benar-benar tidak tahan lagi…” Melihatnya seperti ini, He Yu tidak bisa menahan naluri seksual sadis yang terukir di tulangnya, membanting kearahnya secara terus menerus dengan, gerakannya brutal dan mendesak, “Kamu terisi penuh dengan benihku… Kamu sangat basah, lubang kecilmu terasa sangat enak, mengisapku masuk… Kamu tahu, kamu diciptakan untuk disetubuhi oleh seorang pria — dengan tubuhmu, kamu seharusnya diborgol ke tempat tidur dan ditiduri oleh seorang pria siang dan malam.…”

Tidak tahan mendengarkan kata-kata yang tidak jelas seperti itu, Xie Qingcheng berkata dengan suara serak, “Berhenti bicara … berhenti bicara sialan. Ah…! He Yu, pelan… pelan… ah…”

He Yu kembali meniduri Xie Qingcheng saat dia mulai membuka mulutnya, memaksa suku kata terakhirnya naik beberapa nada lebih tinggi sampai (kata-kata) itu menyerupai suara tangisan sedih.

“Jangan… He Yu… tidak seperti ini, terlalu dalam…”

“Ge, Kamu memanggilku. Kamu menyebut namaku…”

“……” Mata Xie Qingcheng benar-benar bingung, telah kacau balau. Dia menahan napas yang mendesak di antara giginya, tidak mau membiarkannya keluar, tetapi tidak mungkin dia bisa menahan suara napasnya yang tajam dan serak ketika mereka merembes keluar dari tenggorokannya, mengiringi erangan berderit dari tempat tidur yang bergoyang, (juga tidak bisa menahan) suara basah yang kotor dari tempat di mana mereka berdua terhubung, dan (suara) tamparan dari bola He Yu yang memukul ke tubuhnya.

“Apakah rasanya enak? Ge?”

“Apakah aku menidurimu dengan baik?”

“……”

Ia meraih wajah Xie Qingcheng dan memaksa agar dia menatap matanya. Melalui matanya yang menjadi kabur karena siksaan, pria itu melihat ekspresi sangat tergila-gila dari pemuda itu yang sedang mengistirahatkan diri di atas tubuhnya—

Xie Qingcheng mulai terkejut.

Ekspresi itu terlalu mempesona.

Itu hampir menyerupai jenis cinta yang terlalu terobsesi dan praktis tidak masuk akal yang tidak pernah dipercayai Xie Qingcheng …

Mungkin karena cinta semacam itu terlalu asing bagi Xie Qingcheng, dia kehilangan ketenangannya pada momen paniknya, menangis tanpa sadar saat He Yu memukul dengan tegas ke tempat sensitifnya itu. “Ah… ahhh…”

He Yu menyukai suara erangannya. Meskipun jumlahnya tidak banyak, bahkan meskipun erangannya tidak dapat didengar dengan jelas sekalipun, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa benar-benar gila. Matanya menggelap, dia dengan cepat menggerakkan pinggulnya ke depan lagi dan lagi, hampir gila, seolah-olah dia ingin meniduri Xie Qingcheng sampai mati di tengah-tengah seprai, gerakan tajam tersebut menyebabkan Xie Qingcheng gemetar dan menangis tanpa henti.

“Ah… He Yu… pelan… pelan-pelan…”

“Ge, sepertinya perutmu membuncit gara-gara aku…”

“Sudah kubilang aku akan menidurimu sepanjang hari… Aku akan menidurimu sampai kamu tidak tahan lagi, sampai spermaku menetes keluar darimu setiap kali kamu bergerak… Aku benar-benar ingin membuatmu hamil… Ge… Aku akan masuk ke dalam dirimu di setiap waktu … masuk ke tempat paling sensitive milikmu … Aku ingin membuatmu merasa nikmat… “

“Aku ingin kamu merasakan kenikmatan juga… Aku ingin kamu keluar lagi dan lagi karena aku…”

“He Yu, kamu… aahh… ahh…!”

Semuanya telah berubah menjadi kacau balau—bahkan kasur telah ke luar dari tempatnya karena hubungan asmara mereka yang intens, seolah-olah tidak dapat menahan gelombang pasang cinta yang begitu kuat.

Ya, itu adalah gelombang pasang cinta.

Melalui seks ini, Xie Qingcheng merasakan sebuah emosi di dalam hatinya yang tidak dapat dia tahan, sebuah perasaan yang telah dikatakan oleh yang lain, tetapi belum pernah dia lihat sebelumnya…

Eros (Gairah seksual) yang muda dan menakutkan yang membakar segala sesuatu di jalannya.

Terseret ke kedalaman cinta erotis ini, dia tidak bisa lagi melarikan diri, karena seolah-olah He Yu ingin memisahkan darah dan tulangnya di tengah emosi yang panas ini dan mencairkannya kembali menjadi satu kesatuan.

Pada akhirnya, He Yu menidurinya hingga pingsan. Namun, sebelum dia pingsan, dia melihat mata He Yu yang sangat bersemangat dan sedikit manik (kalut).

Seolah-olah bahkan jika mereka dibakar menjadi abu.

Bara mereka akan terus terjalin.


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Bar HP-nya hilang!! Bar HP hilang! Bar HP hilang! mengedip!

Teater mini (dari Twitter):

He tersayang: Bagaimana dengan itu! Apakah kalian melihat itu! Aku bilang aku pria dengan trik di lengan bajunya!

Mo Xi: Aku melihatnya.

Mo Ran: Jadi kamu adalah gong penggoda…?

Mo Xi: Bagaimana kamu bisa begitu tak tahu malu sebagai seorang gong.

Mo Ran: Ini pertama kalinya aku melihat gong bertingkah seperti itu. Kamu harus meninggalkan group chat… kamu terlalu memalukan.

Mo Xi: Dia tidak memiliki kebajikan seorang laki-laki.

Mo Ran: Ya, dia benar-benar terlalu tidak senonoh.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments