Penerjemah : Chu


Terdengar bunyi “Klik”. Seketika kegelapan diterangi; layar TV berkedip, dan diikuti gambar yang mulai muncul.

Itu adalah sebuah asrama staf, terletak di gedung yang paling berdesakan di sudut kampus universitas yang berusia berabad-abad. Itu ditempatkan keluar dari jalan; biasanya universitas mengirim pengajar muda dan sigap mereka ke sini.

Eksteriornya tampak sangat cantik, semua terbuat dari bata merah dan memiliki tangga putih, dengan tanaman ivy yang memanjang, itu merambat halus untuk mengelilingi bangunan bergaya Barat lama. Tidak ada orang yang lewat akan bisa menolak untuk melihat lebih lama, tetapi hanya mereka yang beruntung menjadi guru untuk bisa memasuki gedung dan akan menyadari—ternyata, bangunan yang bagus ini kuno, dan telah mengalami perbaikan berulang kali. Dinding interiornya berbintik-bintik dan berlapis-lapis, seperti wajah tua yang dilapisi dengan lapisan riasan yang tak terhitung jumlahnya.

Begitu tua sehingga bahkan tidak memiliki televisi digital; yang dipasok ke setiap asrama di gedung itu adalah TV kabel yang bisa dibilang barang antik.

“Hujan deras berturut-turut jatuh di distrik Dataran Yangtze….”

Seorang pemuda berjalan melewati pintu masuk ke koridor, saat suara program televisi terdengar melalui jendela kaca yang retak di kantor resepsionis. Wanita tua yang sedang bekerja biasanya akan menghentikannya dan mulai berteriak:

“Hei, murid kecil, tidakkah kamu mengerti? Ini adalah kediaman staf, tempat para profesor tinggal.
Kamu seorang mahasiswa, kamu tidak bisa terus-menerus datang ke sini.”

Tapi hari ini, wanita tua itu tidak menginterogasinya. Mungkin karena dia terpinggirkan, atau karena penglihatannya mulai menua, wanita itu tidak menyadarinya, ketika dia lewat di malam yang gelap.

Dia berjalan langsung ke lantai tiga dan mengetuk pintu besi yang sudah dikenalnya itu.

Itu dibuka dengan derit; wanita di dalam menjulurkan kepalanya keluar. “Itu kamu?”

Pemuda itu berkata dengan lembut, “Xie-laoshi.”

Meskipun sudah sangat larut, dan pemuda itu adalah tamu tak terduga. Faktanya wanita itu adalah gurunya, dan orang yang paling dekat dengannya di seluruh universitas. Setelah terdiam sesaat, wanita itu masih menyambutnya di dalam.

Dia menuangkan secangkir teh dan menambahkan irisan jahe ke dalam cangkir. Di luar sedang hujan dan dia bisa merasakan bahwa pemuda itu basah kuyup dan kedinginan; teh jahe panas bisa mengusir hawa dingin.

Xie-laoshi meletakkan cangkir dengan uap mengepul di atas meja di depannya. “Kapan kamu kembali?”

“Hari ini.” Pemuda itu berdiri dengan canggung di depan sofa.

Xie-laoshi berkata, “Kamu bisa duduk.”

Baru setelahnya dia duduk, tangannya meringkuk di atas lututnya. Dia kaku dalam diam, dan tidak menyentuh cangkir teh itu.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya bahwa kamu akan kembali? Apakah ada bus yang datang ke universitas selarut ini?”

“En.”

“Lalu bagaimana urusan keluarga?”

Pemuda itu terdiam beberapa saat, dan menundukkan kepalanya untuk meraih robekan di celana jeansnya.

“Ibuku masih ingin aku keluar….”

Xie-laoshi terdiam.

Dia sudah menjadi mahasiswa; universitas tidak memiliki banyak suara apakah mahasiswa memilih untuk belajar atau tidak. Dia telah berbicara dengan ibu dari pemuda di depannya, berjanji untuk mengurangi biaya universitas bagi keluarga yang mengalami kesulitan keuangan, dengan harapan bahwa ibunya akan mengizinkan putranya menyelesaikan studinya di universitas tempat dia bekerja keras untuk mengujinya.

Tapi ibu itu dengan nyaring menolak—

“Studi apa! Belajar bahasa Cina? Siapa yang tidak tahu bagaimana berbicara bahasa Cina? Kalian semua hanya mencoba menipu uang dariku!”

Dia dengan sabar dan lembut mencoba menjelaskan kepada ibu itu. “Putramu memiliki banyak bakat, lihat, dia sudah di tahun kedua, bukankah sangat sia-sia untuk menyerah di tengah jalan? Terutama karena begitu dia menyelesaikan dua tahun terakhir dan lulus, itu akan lebih mudah baginya untuk mencari pekerjaan di masyarakat. Aku bahkan pernah bertanya kepadanya sebelumnya, dia mengatakan ingin menjadi guru di masa depan. Dengan nilainya, dia tidak akan kesulitan masuk ke departemen pengajaran, ini adalah impian putramu, dan mengajar adalah pekerjaan tetap.”

“Dia tidak punya harapan menjadi guru! Itu seperti kamu belum pernah melihat wajahnya saja!”

Kata-kata ibu itu seperti pisau tumpul yang membelah, membelah di tengah arus tak kasat mata itu.

Xie-laoshi sangat marah, tetapi dia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Aku ingin dia kembali sekarang untuk bekerja! Kita tidak punya uang lagi! Berhenti membuang-buang waktu! Dengan wajah itu—wajah itu, apa yang bisa dia lakukan bahkan jika dia belajar! Sekolah macam apa yang mau menerima guru seperti itu!”

Wajah macam apa itu?

Xie-laoshi menyalakan lampu pijar di kamarnya. Itu adalah bohlam dengan watt rendah, terlihat sangat redup, tetapi masih menyinari wajah pemuda itu.

Xie-laoshi sudah terbiasa melihat wajahnya, tetapi setiap orang yang melihat wajahnya untuk pertama kali akan menarik napas—itu adalah wajah setengah-setengah. Karena beberapa penyakit yang tidak diketahui, tanda hijau dan ungu menutupinya dari dahi hingga tengkuk, seolah menyembunyikan daging yang membusuk.

Itu adalah pemandangan yang mengerikan, begitu jelas sehingga aneh.

“Aneh!”

“Jangan dekat-dekat dengannya, siapa tahu itu menular.”

“Hei! Orang Yin-Yang!”

Apa yang tumbuh di sampingnya dan wajahnya adalah ejekan dan ejekan yang tak terhindarkan.

Karena dia sakit dan sadar tidak bisa menutupinya, karena dia jelek dan tahu tidak dapat untuk bersembunyi, pemuda itu tidak ada habisnya menerima cemoohan sejak dia masih kecil. Tidak peduli seberapa keras dia belajar, tidak peduli seberapa lembut dia berinteraksi dengan orang lain, dia tetap seperti naga jahat yang terbang di langit yang cerah; tidak dapat menerima perlakuan yang sama.

Orang-orang seperti Xie-laoshi—yang hanya dapat menemukan bahwa separuh wajahnya yang normal sangat imut, pintar, dan lembut—sangat langka.

Dia selalu lembut dan mati rasa menanggung ejekan semua orang. Terkadang, dia juga ikut tertawa, seolah-olah dia benar-benar melakukan kesalahan.

Tapi apa sebenarnya yang dia lakukan salah?

Xie-laoshi memperhatikan semuanya; ketika belajar, dia selalu menjadi orang yang paling fokus, dia dengan patuh melakukan bagiannya, dan diam-diam melakukan pekerjaan paling banyak ketika dimasukkan ke dalam kelompok. Ketika orang lain menggertaknya, dia akan selalu menanggungnya dengan temperamen yang baik, tidak banyak bicara.

“Tidak apa-apa, laoshi, aku sudah sangat senang kamu mau mengobrol denganku. Kembali ke desa, semua orang akan berjalan di sekitarku begitu mereka melihatku datang; tidak pernah ada orang sepertimu, yang akan mendengarkan dengan penuh perhatian ketika aku bicara.”

“Teman sekelasku juga sangat baik. Setidaknya, tidak ada yang melempariku dengan batu bata.”

Dia berbicara dengan sangat tenang, tetapi kepalanya selalu tertunduk, bahunya tertekuk. Bertahun-tahun menanggung penghinaan berat telah membuat tulang punggungnya berubah bentuk; tekanan telah membuatnya membungkuk.

Kemudian, dia (Xie-laoshi) berkata kepadanya, “Jika kamu mau, setelah sesi belajar mandiri malam, kamu bisa datang kepadaku untuk les privat. Jika ada sesuatu yang kamu tidak mengerti, atau kamu membutuhkan bantuanku. Cukup beritahu aku.”

Dia tersenyum dalam rasa malu yang dalam, rona merah muncul di bagian wajah normalnya.

Dalam dua tahun dia mengenal pemuda ini, dia sudah terbiasa dengan dia datang untuk mengetuk pintu asramanya sambil membungkuk, membawakannya esai, prosa, dan bahkan puisi atau lagu yang dia tulis, dan meminta saran padanya.

Saat ini, banyak orang suka mengutuk, tetapi sangat sedikit yang suka menulis puisi.

Tapi dia masih keras kepala untuk terus menulis.

Murid-murid lain mengejeknya, menyebutnya orang aneh jelek yang menulis hal-hal jelek, begitu tengik, bahkan lebih tengik daripada wajah anggur busukmu.

Dia akan tersenyum sedikit, dan terus mengerjakan tulisannya.

Tapi sekarang, dia bahkan tidak punya hak untuk melakukan itu lagi.

Saat Xie-laoshi memikirkan peristiwa masa lalu ini, dia merasa sedih, menatap dengan kasihan pada anak laki-laki di depannya.

Pemuda itu berkata, “Laoshi, kali ini, aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku akan pergi besok.”

“Kembali ke rumah?”

“En, kurang lebih.”

Pemuda itu berhenti, “Laoshi, jika penyakit ku tidak ada di wajahku, jika itu adalah suatu tempat yang tidak dapat dilihat orang, mungkin orang-orang akan sedikit lebih baik kepadaku. Betapa menyenangkannya.”

Akhirnya, Xie-laoshi tidak bisa menahan diri lagi, tepi matanya memerah. Pada titik ini, dia sudah melakukan yang terbaik dengan semua yang dia bisa. Tapi dia bukan keluarganya, dia tidak bisa membuat keputusan akhir, dia juga tidak bisa menyelamatkannya. Situasi keluarga pemuda itu semakin memburuk dari hari ke hari; ibunya menyayangkan membiarkan anak ini belajar di luar, apalagi di keluarga ada anak kedua yang sehat, yang baru duduk di bangku sekolah menengah pertama. Jika mereka memanggil yang sakit kembali, mereka bisa melepaskan yang sehat.

Dia merasa bahwa dia (ibu) benar, bahwa, sebagai seorang ibu, dia harus mempertimbangkan pro dan kontra dari situasi keluarga, bahwa dia bersikap sangat adil.

“Kamu… esai yang kamu tinggalkan padaku terakhir kali, yang kamu ingin aku lihat, aku belum
selesai mengeditnya—”

Dengan tergesa-gesa, Xie-laoshi mengubah topik pembicaraan, merasa bahwa dia tidak akan bisa menahan air matanya lagi.

“Tapi aku membaca bagian pertama dengan sangat hati-hati. Mengapa kamu tidak melalui proses penarikan akademik sedikit lagi, tunggu sampai aku mengedit semuanya.”

“Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Begitu pagi tiba, aku harus pergi.”

Dia merasa sangat menyesal; mengapa dia  terus berpikir bahwa masih ada waktu?

Mengapa dia tidak begadang semalaman untuk mengerjakannya?

Dan mengapa dia pergi berbelanja, mengobrol, menghadiri pertemuan yang panjang dan tidak berarti itu?

Ini adalah mimpi seorang siswa yang akan hancur, dan sebuah hati yang akan menyerah. Sebagai guru terakhirnya, dia bahkan tidak bisa memberikan mimpinya buket bunga sebagai ucapan selamat tinggal.

“Maafkan aku….”

“Tidak apa-apa.” Dia berkata, “Tapi aku menulis satu puisi terakhir, bisakah aku memberikannya kepadamu?”

Dia (guru) buru-buru mengangguk.

Setelahnya dia (pemuda itu) mengeluarkannya dari ranselnya dan memberikan kepadanya. Kertas itu sangat tipis, hampir tampak tidak berbobot di tangannya.

Dia membaca setiap kata; itu adalah puisi cinta yang sangat memuja, sangat bersemangat tetapi tentatif dan hati-hati. Dia telah membaca banyak karya master saat mereka berbicara tentang romansa. Dari “kapan cahaya bulan di tempat tidur kita mengeringkan air mata di wajah kita1” di masa lalu, hingga “mataku lebih indah karena ada kamu di dalamnya2” sekarang. Tetapi pada saat ini, tidak satu pun dari mereka yang cocok dengan selembar kertas yang ditawarkan pemuda itu.

Dia tidak mengatakan apa-apa secara langsung, seolah-olah mengatakan sesuatu secara langsung akan menjadi cacat dalam irama puisi itu.

Pemuda itu adalah seorang penyair. Dia tahu bahwa jika cinta antara dua orang dengan perbedaan status menghilangkan kualitas puisinya, yang tersisa hanyalah rasa malu.

“Ini kenang-kenangan untukmu.”

Kelembutan tertulis di sisi jelek dan sisi normal wajahnya.

“Maaf, laoshi, aku benar-benar tidak mampu membelikanmu hadiah.”

“Tidak ada yang lebih baik dari ini.” Dia berbalik, menahan isak tangisnya, “Kamu, kamu harus makan sesuatu, aku akan mencarikan kamu beberapa makanan ringan untuk menemani teh.”

Menggunakan tindakan membolak-balik lemarinya untuk mengendalikan emosinya, Xie-laoshi mengambil sekaleng kue mentega dan meletakkannya di atas meja.

Pemuda itu mengucapkan terima kasih dengan sopan. Di bawah tatapan Xie-laoshi, dia akhirnya menyentuh cangkir teh dengan tangan ragu-ragu, tetapi kemudian menariknya kembali. Dengan lembut, dia berkata, “Ini sangat panas.”

Xie-laoshi juga menyentuhnya. “Hah? Suam-suam kuku.”

Tapi dia masih menambahkan air dingin untuknya.

Pemuda itu mengunyah kue favoritnya, dan perlahan mulai minum.

Dia selesai makan dan selesai minum. Malam masih panjang.

Dia berkata, “Laoshi, bisakah aku membaca di sini sebentar lagi?”

“Tentu saja.”

Pemuda itu tersenyum lagi, dengan sedikit putus asa. “Pada akhirnya, aku sangat merepotkanmu, bahkan ketika aku akan pergi.”

“Tidak apa-apa, kamu bisa tinggal lebih lama jika kamu mau. Ohiya, begitu kamu kembali, kamu harus memberiku alamatmu, aku akan mengirimkan salinan semua buku bagus yang aku lihat. Mengingat seberapa pintar kamu, bahkan jika kamu belajar sendiri… kamu tidak akan terlalu buruk.” Xie-laoshi hanya bisa memberinya sedikit kenyamanan, “Jika kamu memerlukan bantuan apa pun, kamu dapat menghubungiku di WeChat.”

Pemuda itu memandangnya. “Terima kasih.”

Dia berhenti.

“Kalau saja semua orang sepertimu, mungkin saja….”

Dia menundukkan kepalanya, dan tidak melanjutkan.

Apa yang paling dia (Xie-laoshi) miliki di asramanya adalah buku; karena pemuda itu jelek, penyakitnya terekspos sepenuhnya, dia akan menjadi pusat perhatian setiap kali dia pergi ke perpustakaan, jadi dirinya suka mengundangnya ke kediaman staf dan meminjamkan bukunya sendiri untuk dibaca.

Seperti ini, pemuda itu membaca sepanjang malam di dalam kediaman staf, seolah-olah dia ingin membawa semua kata-kata ini kembali ke rumah lamanya menggunakan malam ini.

Sangat jarang dia bertindak begitu bebas. Di masa lalu, dia tidak akan tinggal terlalu larut, selalu khawatir bahwa dia akan mengganggu laoshi dalam pola kerja dan istirahatnya yang biasa. Tapi hari ini adalah pengecualian.

Xie-laoshi tidak menyalahkannya atas kesengajaan terakhir ini. Hanya saja, saat dia begadang dengannya sampai paruh kedua malam, dia memang menjadi lelah, dan perlahan-lahan tertidur di atas mejanya tanpa menyadarinya.

Dalam ketidaksadarannya yang kabur, dia mendengar pemuda itu tiba-tiba memanggilnya, “Xie-laoshi.”

Dia dengan muram membuat suara persetujuan.

“Ada satu hal lagi. Aku ingin meminta maaf padamu.”

“Pencurian yang terjadi di kelas di masa lalu… saat para siswa itu terus kehilangan
barang-barang, dan tidak dapat menemukannya apa pun yang terjadi, lalu menyeretmu ke dalamnya dan membuatmu dikritik juga. Sebenarnya, akulah yang mengambil barang-barang itu.”

Dia mengantuk dan terbangun karena kaget, tetapi tubuhnya terlalu lelah, merasa sangat berat sehingga dia tidak bisa bangun.

Pemuda itu berkata dengan kesedihan yang terdengar, “Tetapi aku tidak menginginkan hal-hal itu, aku tidak mengambil uang mereka. Ketika mereka mengejekku seperti itu, aku sebenarnya membenci mereka…. Aku melemparkan semua tas mereka ke dalam tumpukan jerami, dan membakar semuanya sampai habis. Saat itu, mereka mencurigaiku, tetapi kamu bahkan tidak datang menanyakan hal itu kepadaku, dan memilih untuk menjaminku. Tapi sebenarnya, akulah yang melakukannya.”

“Aku tidak memiliki keberanian untuk mengakuinya. Hanya di mata satu orang aku pernah menjadi orang normal, atau bahkan orang baik.”

“Itu kamu.”

“Laoshi, aku sangat sia-sia, bukan? Tapi jika kamu kecewa padaku, aku tidak akan
tahu apa yang harus dilakukan. Kamu adalah satu-satunya pengakuan yang pernah aku terima.”

Pada akhirnya, suaranya semakin lembut.

Tapi tatapannya jernih, hampir tembus pandang, seolah terbebas dari beban.

“—Ini adalah satu hal yang paling aku sesali… Xie-laoshi, aku benar-benar minta maaf. Penyakitku sepertinya telah berpindah dari wajahku ke hatiku. Jika aku mendapatkan kehidupan selanjutnya, aku benar-benar ingin menjadi orang normal… aku tidak ingin terlalu sakit sehingga aku bahkan tidak memiliki hak untuk dicintai.”

“Xie-laoshi….”

Dengan deru, angin bertiup melalui jendela, membuat kertas-kertas di atas meja berkibar, seperti bendera pemanggil jiwa.

Dan kemudian, semuanya kembali ke keheningan.

Teh di atas meja mendingin.

Ketika Xie-laoshi bangun keesokan paginya, dia menemukan bahwa dia telah tidur semalaman di mejanya. Kamarnya sangat rapi. Pemuda itu adalah orang yang sangat sopan, tetapi kali ini, dia tidak mengucapkan selamat tinggal kepada gurunya sebelum merapikan barang-barangnya dan pergi.

Mau tak mau dia merasa sedikit heran; dia bangkit, pergi ke ruang tamu dengan mata mengantuk.

Ketika dia melihat ke bawah ke meja teh—

Seolah baskom berisi air es dituangkan ke atas kepalanya, matanya tiba-tiba melebar!

Teh yang dia tuangkan untuk pemuda kemarin sudah membeku, tapi ….. tapi …..

Suhu ruangan jelas 27 atau 28 derajat!

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?

Dengan mata hitam melebar dia melihat sekeliling ruangan, melihat semakin banyak tanda-tanda yang semakin mengejutkannya—kemarin, dia jelas melihat pemuda itu memakan kue mentega di kaleng, tetapi melihatnya sekarang, tidak sepotong pun hilang. Teh dalam cangkir teh telah membeku menjadi es, tetapi tingkat cairannya tidak benar-benar turun, dan akhirnya—

Akhirnya, puisi cinta terselubung itu, yang isinya bahkan belum menetap di hatinya, kertas perpisahan yang dia berikan padanya.

Telah menghilang.

Atau, mungkin lebih baik untuk mengatakan, kertas itu tidak pernah ada.

Dia hampir gemetar. Tiba-tiba, dengan bunyi “ding”, ponselnya berdering, membuatnya melompat ketakutan. Dia langsung mengambilnya, dan menemukan bahwa itu hanya email spam. Dia menghela nafas lega, tetapi kemudian, seolah-olah dia memikirkan sesuatu, seolah-olah terbangun dari mimpi, dia dengan cepat menelepon nomor pemuda itu.

Beep. Beep. Beep.

Detak jantung dan nada mekanisnya bergetar bersama.

“Halo?”

Itu berhasil.

Suara di ujung sana adalah suara wanita paruh baya yang familiar. Itu kasar, tetapi sekarang, itu juga dengan air mata. Dia bertukar beberapa kata dengan ibu pemuda itu melalui telepon.

Hatinya dengan kejam tenggelam ke dalam lubang hitam pekat, meluncur ke bawah.

Dia mendengar—

“……”

“Itu kamu! Kamu lagi!! Aku belum sempat menghubungimu! Tapi kamu pasti menghubungi kami dulu!”

Wanita itu membuat tuduhan. Xie-laoshi tidak bisa mengingat apa yang dia katakan di awal lagi, pikirannya hampir tidak ada apa-apanya kecuali kekosongan putih. Yang bisa dia dengar hanyalah teriakan menyedihkan di akhir, terdengar seperti panggilan untuk membangunkan.

“Dia mati! Mati!”

Darah membeku di pembuluh darahnya.

Mati?

“Ini semua salahmu!! Dia bertengkar denganku dan lari keluar, ada badai besar di luar, dan polisi mengatakan, ada bagian kabel listrik yang terbuka….”

Telinga Xie-laoshi berdenging.

Dalam hukuman yang intens dan tangisan sedih, dia hanya bisa mendengar dua baris, hantu dan menakutkan, seperti perpisahan dunia lain.

Wanita di ujung telepon itu memekik memekakkan telinga: “Mengapa repot-repot mencari? Mengapa repot-repot mencari?!”

——

“Kemarin adalah hari ketujuhnya3!!!”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Halo teman-teman, jadwal pembaruan antara jam 9-10 malam, seharusnya sekitar jam 9:30.

Karakternya sedikit berbeda dari apa yang aku katakan sebelumnya, karena aku tidak senang dengan itu dan melakukan hal di mana aku menghapus banyak bab dan menulis ulang semuanya lagi…. Jadi jangan terlalu sangat memperhatikan setting aslinya, hahaha. Juga, aku sangat suka membaca dan menjawab komentar tentang cerita itu sendiri, ini dulu yang paling aku sukai saat menulis cerita, tetapi nanti, aku akan selalu melihat hal-hal yang membuat kepalaku sangat sakit ketika membaca komentar. Sejujurnya, itu benar-benar memengaruhi suasana hatiku, dan aku belum selesai menyelesaikan semua drafku, jadi aku hanya mesin pembaruan tanpa emosi yang hanya online untuk memposting dan offline setelah selesai, aku tidak dapat membalas komentar maaf~

Aku hanya menulis karena aku suka menulis, tidak peduli apakah orang lain percaya atau tidak, ha…, jadi meskipun aku tahu bahwa novel drama adalah yang paling populer saat ini, di mana yang terbaik untuk gong dan shou menjadi cinta pertama satu sama lain, tanpa pihak ketiga, manis dan memanjakan sepanjang jalan, ah…novel memuaskan yang menampar muka, banyak penulis dan pembaca sangat menyukai jenis pekerjaan ini, atau untuk menantang diri mereka sendiri, mereka mencoba jenis ini. Tapi aku tidak suka itu, aku bukan salah satu dari mereka, dan saat ini aku tidak berencana untuk mencoba jenis pekerjaan ini.

Aku suka menulis orang gila yang secara klinis gila, keindahan dingin yang tangguh, bajingan cabul, karya panjang tentang alur hubungan di mana kalian memukulku dan aku membalikkan situasi kalian. Jadi aku akan terus menulis jenis ini, dan aku bersedia menulis untuk pembaca yang menyukai jenis ini. Tidak apa-apa jika tidak banyak yang menyukainya, setidaknya aku akan senang ketika aku menulis, dan dapat menghibur diri sendiri.

Sekarang, menulis telah kehilangan bagian interaksi yang biasa dengan pembaca yang membuat aku sangat bahagia, dan aku menemukan bahwa ada semakin banyak batasan pada apa yang dapat ditulis, cukup untuk menjadi sangat membosankan. Aku benar-benar tidak ingin melalui kekacauan internet lagi, aku hanya bisa online tanpa emosi untuk memperbarui, lalu diam-diam offline untuk menulis. Aku tidak menjawab bukan karena ketidakpedulian, itu karena aku ingin menulis dengan benar, dan aku ingin merasa lebih baik. Terima kasih atas pengertiannya….


Bab Selanjutnya 

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. Dari Moonlight Night, sebuah puisi oleh Du Fu.
  2. Dari puisi karya Yu Guangzhong.
  3. hari ketujuh setelah kematian.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments